
Lama menunggu dalam ketidakpastian, lampu operasi akhirnya padam. Dokter pun keluar dari ruang operasi.
“Dokter, bagaimana operasinya? Apa Austin selamat?’ tanya Ramona.
“Operasinya berjalan lancar, Nona. Kita tinggal menunggu pasien sadar. Setelah itu kami akan melakukan observasi lagi,” ujar sang dokter.
Ramona dan Julie pun menarik napas lega. Doa mereka untuk keselamatan Austin telah dikabulkan.
“Apakah kami bisa menemui Austin sekarang?” tanya Ramona cemas
“Bisa, Nona, pasien akan dipindahkan ke ruang transisi,” ujar dokter tersebut.
Selepas dokter pergi, pintu ruang operasi terbuka. Dua orang perawat mendorong ranjang Austin untuk membawanya berpindah ruangan.
Mata Austin masih terpejam rapat. Entah karena pengaruh obat bius atau karena ia memang belum sadar dari pingsan.
Melihat Austin terbaring tak berdaya, Ramona menitikkan air mata. Ia mengikuti Austin sampai pria itu dimasukkan ke ruang transisi.
Ramona duduk di kursi sambil menggenggam tangan Austin. Ia ingin Austin segera membuka mata lantas bermanja-manja kepada dirinya. Ia juga ingat bahwa Austin belum menagih dua hadiah darinya.
“Ramona, lepaskan saja tangan Austin. Dia masih dalam pengaruh obat bius,” pinta Julie.
Ramona mengangguk dan melepaskan tangan Austin. Ia tak bergeming sama sekali. Ramona bertekad akan menunggui Austin sampai dia sadar.
Di sampingnya, Ramona melihat Julie yang terkantuk-kantuk. Ibunya yang sudah setengah baya itu pasti kelelahan menanggung semua peristiwa hari ini.
“Lebih baik Mommy pulang ke rumah dan istirahat. Mommy kelihatan letih,” ucap Ramona.
“Kamu tidak apa-apa sendirian menjaga Austin?”
“Aku bisa sendiri, Mom. Nanti seandainya Edgar datang ke rumah, tolong jelaskan kepadanya mengenai kondisi Austin. Dia harus tahu alasannya kenapa aku menunggu Austin di rumah sakit. Edgar sudah salah paham kepadaku,” pinta Ramona.
“Iya, Mona, aku akan menjelaskan bahwa kita berhutang budi kepada Austin. Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa makan dan istirahat, Mona. Aku tidak ingin kamu ikut sakit,” ujar Julie.
“Kabari aku kalau Austin sudah sadar,” tambah Julie.
***
‘Austin, aku tidak akan membiarkanmu merampas Ramona. Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikinya selain aku,’ geram Edgar mengeratkan giginya.
Sepanjang jalan, Edgar terus merutuk. Ia marah kepada Ramona dan Austin secara bersamaan. Edgar pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berencana akan menunggu kepulangan Ramona, lalu memaksanya ikut menyebarkan undangan.
__ADS_1
Edgar menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Ramona. Rumah itu tampak sunyi seperti tak berpenghuni. Pastilah Ramona dan ibunya saat ini masih berada di rumah sakit.
Edgar membuka pintu mobilnya dengan kasar. Ia tidak mengerti mengapa semua orang sangat mengistimewakan Austin. Padahal pria itu sangat bodoh dan tidak berguna. Austin sangat jauh levelnya bila dibandingkan dengan dirinya.
Edgar mengedarkan matanya ke kanan dan kiri. Ia terpaksa duduk sendirian di depan teras sambil menunggu Ramona kembali.
Ketika Edgar asyik memainkan ponselnya, mobil Ramona mendadak datang. Edgar mengira itu adalah Ramona, tetapi yang keluar dari mobil ternyata Julie.
“Edgar, kamu menunggu Ramona?” sapa Julie.
“Mom, kenapa Mona tidak pulang bersamamu?” tanya Edgar penuh selidik.
“Ramona masih dirumah sakit menunggu Austin.”
Paras Edgar menjadi merah padam. Ramona bahkan tidak pulang demi menjaga pria bernama Austin itu.
“Ramona selalu saja mendewakan Austin,” gumam Edgar dengan nada tinggi.
Melihat sorot kemarahan di mata Edgar, Julie segera memberikan penjelasan.
“Edgar, kamu tidak perlu marah seperti ini. Alasan Ramona merawat Austin karena dia ingin balas budi. Austin telah menyelamatkan kami dari para bodygurad Lucas,” jelas Julie.
“Aku tidak peduli, Mom. Aku merasa diabaikan Ramona gara-gara dia terlalu mengurusi pria asing itu. Seharusnya Ramona menjaga perasaanku. Tidak lama lagi kami akan menikah.”
“Mom, urus semua undangan ini. Aku sudah tidak berminat untuk menyebarkannya. Tolong bantu aku!” perintah Edgar dengan nada marah.
Julie kebingungan menerima setumpuk undangan tersebut. Baru kali ini dia melihat Edgar sangat marah kepada Ramona.
“Aku akan pergi menyusul Ramona ke rumah sakit,” tegas Edgar.
Julie yang mendengar keinginan Edgar langsung cemas. Dia khawatir akan terjadi pertengkaran hebat antara Edgar dan Ramona. Julie sungguh tidak mau rencana pernikahan putrinya berujung pada kegagalan.
“Baiklah, Edgar, aku yang akan mengirimkan semua undangan ini. Namun, aku minta kamu jangan bertengkar dengan Ramona. Bicarakan semuanya dengan kepala dingin.”
Edgar tak lagi menjawab. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju dengan kencang. Ia harus mencegah Ramona berduaan dengan Austin di rumah sakit.
***
Ramona masih setia menunggu Austin. Ia memandangi wajah pria itu yang masih belum terbebas dari pengaruh obat bius.Jika dilihat dari dekat, wajah Austin sangat tampan.
Ketika sedang mengamati Austin, jemari pria itu mendadak bergerak. Berikutnya kelopak matanya juga bergerak. Ramona pun beranjak untuk memanggil perawat.
__ADS_1
“Suster, jari tangan dan kelopak mata Austin sudah bergerak. Tolong periksa kondisinya,” pinta Ramona.
“Baik, Nona, saya akan memeriksanya.”
Perawat itu berjalan bersama Ramona menuju ruangan Austin. Saat mereka sampai, Austin sudah membuka matanya. Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, ia menatap Ramona.
“Mona,” panggil Austin.
“Tuan, saya akan mengecek kondisi Anda,” ujar perawat.
Perawat itu memeriksa bola mata Austin. Setelahnya ia melakukan pengecekan pada tekanan darah dan detak jantung Austin. Semuanya terpantau normal.
“Bagaimana, Suster?” tanya Ramona cemas.
“Kondisi pasien sudah membaik. Tidak ada reaksi alergi. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat.”
“Terima kasih, Suster.”
Perawat itu pergi dan tak lama kembali lagi dengan membawa rekannya. Mereka memindahkan Austin ke ranjang yang lain, kemudian membawanya ke ruang perawatan di lantai tiga.
“Austin, bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Ramona setelah mereka tinggal berdua saja.
“Kepalaku sangat pusing. Aku ingin muntah, Mona,” keluh Austin.
“Muntahkan saja, Austin, jangan ditahan.”
Ramona segera mengambil baskom berukuran sedang yang tersedia di atas nakas. Ia mendekatkan baskom itu ke mulut Austin, lalu membiarkan Austin muntah. Sambil mengusap punggung Austin, Ramona membiarkan pria itu mengeluarkan sisa cairan obat bius dari tubuhnya.
Melihat Austin sudah berhenti muntah, dengan telaten Ramona mengelap bibirnya dengan tissue. Kemudian ia membantu Austin berbaring di ranjang dengan hati-hati.
“Terima kasih, Mona,” ucap Austin lirih.
Entah mengapa Ramona merasa ada yang berbeda pada sinar mata Austin. Begitu pula dengan bahasa tubuh pria itu. Mungkinkah perubahan ini hanya sekadar perasaannya semata?
“Mona, apa kamu menunggui aku sejak tadi?” tanya Austin.
“Iya, aku juga mendoakanmu selama kamu dioperasi, Austin.”
Austin menyunggingkan senyum di bibirnya yang pucat. Tiba-tiba saja ia menyentuh tangan Ramona dengan lembut.
“Aku bahagia karena kamu peduli padaku,” ucapnya dengan tatapan redup.
__ADS_1
Pandangan Austin membuat hati Ramona bergetar. Lagi-lagi ia merasa Austin sangat berbeda dengan sebelumnya. Sorot mata dan tatapan syahdu ini bukanlah milik seorang anak laki-laki, melainkan milik seorang pria dewasa yang sedang jatuh cinta.