
‘Rasakan itu! kamu akhirnya mendapatkan pelajaran karena sudah mendekati calon istriku,’ batin Edgar penuh kemenangan.
Ketika hendak memejamkan mata, Edgar teringat akan sesuatu. Ia harus membuat Austin semakin putus asa dan menyerah untuk mendekati Ramona.
Edgar sangat yakin setelah mendengar semua hasutannya, Austin tidak akan berani lagi mengganggu hubungannya dengan Ramona.
“Austin, kamu sudah tidur?”
“Belum,” jawab Austin singkat.
“Aku lupa memberitahumu bahwa setelah pernikahanku dengan Ramona, kami akan berbulan madu di Milan. Aku ingin Ramona lekas hamil dan melahirkan anak pertama kami. Pulang dari bulan madu, aku akan mengajak Ramona ke Boston untuk tinggal bersamaku,” ujar Edgar bangga.
Edgar sengaja mengatakan ini supaya Austin merasakan patah hati yang berlipat ganda. Padahal sebenarnya, ia belum berdiskusi dengan Ramona mengenai kepindahan mereka di Boston. Lagi pula Ramona belum tentu setuju karena ia menyukai pekerjaannya sebagai guru.
“Kalau aku boleh memberi saran, kamu harus belajar mandiri mulai sekarang, Austin. Karena setelah pernikahan kami, kamu akan jarang sekali bertemu Ramona. Atau bisa jadi kalian tidak akan pernah bertemu lagi. Sebaiknya kamu juga mencari tempat tinggal yang baru,” lanjut Edgar.
Austin semakin sedih mendengarkan kenyataan pahit itu. Ternyata mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki itu sangat menyakitkan. Apalagi mereka mungkin akan berpisah untuk selamanya.
Mengingat Edgar yang akan memiliki hak penuh atas Ramona, tentu dia tidak mampu berbuat apa-apa. Austin menyadari bahwa posisinya hanyalah sebagai pria hilang ingatan yang ditolong oleh Ramona. Berbeda dengan Edgar yang akan menjadi suami sah Ramona.
“Ramona dan aku memang ditakdirkan untuk bersama. Sekarang tidurlah, Austin. Selamat malam,” kata Edgar membuka kasur lipatnya.
Edgar mengulas senyum miring. Sorot kelicikan tampak jelas terpancar dari kedua netra hitamnya . Segala usahanya merendahkan harga diri di depan Ramona tidaklah sia-sia. Dia yakin malam ini Austin pasti tidak bisa tidur dengan pulas karena patah hati terhadap Ramona.
Tidak butuh waktu lama, Edgar segera pergi ke alam mimpinya. Ia tertidur dengan sangat pulas setelah berhasil menipu Austin.
Sementara Austin mengubah posisi tidurnya beberapa kali. Perasaannya kacau balau karena Ramona akan segera pergi dari hidupnya. Tahu begini dia memilih untuk tetap menjadi kanak-kanak supaya tidak menderita, karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
‘Mona, semoga kamu bahagia bersama Edgar. Rasa sakit ini biar aku sendiri yang menanggungnya,’ batin Austin menekan perasaannya.
***
Angel pulang dalam keadaan mabuk setelah bersenang-senang di klub. Dengan tubuh sempoyongan, dia diantar pulang oleh Jake.
“Astaga, Angel, berjalanlah dengan benar. Tubuhmu lumayan berat juga. Kamu membuatku kewalahan,” keluh Jake.
Dalam kondisi setengah sadar, Angel melihat Jake memapahnya ke dalam rumah. Kemudian, pria itu membawanya menuju ke kamarnya di lantai dua.
“Jake, kepalaku pusing sekali. Lebih baik kamu pulang saja karena aku ingin tidur,” ujar Angel memegang kepalanya.
Jake mendengus kesal karena Angel mengusirnya pulang. Padahal, ia ingin menghabiskan malam panas bersama janda sepupunya itu.
“Baiklah, aku pulang. Lain kali jangan minum sebanyak tadi,”
__ADS_1
Sambil menahan rasa kecewanya, Jake meninggalkan Angel di atas tempat tidur.
Berada sendirian di kamar, Angel berjalan dengan tertatih menuju ke dalam toilet. Kepalanya yang terasa pening membuatnya ingin muntah. Detik berikutnya Angel memuntahkan cairan kuning dari mulutnya.
Cukup lama Angel membiarkan sisa alkohol keluar dari perutnya. Usai merasa lebih baik, ia membasuh wajah dan bibirnya dengan air. Kemudian, ia mengguyur tubuhnya di bawah shower, untuk menghilangkan bau minuman keras yang masih melekat.
Selesai mandi, Angel memakai kimono lalu berjalan kembali ke kamarnya. Tangannya meraba-raba semua laci untuk mencari obat penghilang sakit kepala. Ia merasa kesal karena obat itu selalu lenyap bak ditelan bumi saat dia membutuhkannya.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Angel mengeluarkan isi laci lemarinya. Hingga tanpa sadar dia menjatuhkan beberapa benda ke lantai. Salah satunya adalah buku tebal yang warnanya sudah menguning.
“Ish, apa ini?” keluh Angel.
Dia memungut benda berbentuk kotak itu dari lantai. Ternyata itu adalah buku harian miliknya semasa kecil. Angel pun membuka buku itu sembari membaca beberapa kisah yang ditulis olehnya sendiri.
Tangannya berhenti bergerak, tatkala melihat foto-foto masa kecilnya yang ditempel di buku itu. Mendadak sekujur tubuhnya gemetaran saat melihat foto gadis kecil yang duduk bersebelahan dengannya. Mereka sedang meniup lilin ulang tahun. Wajah mereka begitu mirip bak pinang dibelah dua.
“Audrey....” lirih Angel.
Angel mengusap foto itu dengan bibir bergetar. Tak terasa bulir sebening kristal jatuh membasahi pipinya.
“Maafkan aku, Audrey,” lirih Angel dengan suara parau.
***
Terus terang Ramona merasa was-was. Dia takut Edgar dan Austin tidak akur semalam. Atau mungkin malah terjadi perkelahian di antara mereka.
Ketika tiba di rumah sakit, Ramona langsung membuka pintu. Namun, ia terkejut karena tidak menemukan keberadaan Edgar. Yang ada di ruangan itu hanya Austin.
“Austin, dimana Edgar?” tanya Ramona.
“Edgar pulang ke rumahnya pagi-pagi sekali. Dia mengeluh badannya sakit dan tidak nyaman karena tidur di lantai,” jelas Austin.
Ramona pun duduk di samping Austin. Dia membuka kotak makan yang dibawanya untuk pria itu. Kotak makan tersebut berisikan sandwich dan telur yang dibuat sendiri oleh Ramona.
“Kamu belum sarapan, kan?” tanya Ramona melihat bubur kentang yang masih utuh di atas meja.
Austin menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak menyukai makanan rumah sakit. Aku ingin makanan yang dibawa Mona,” ujar Austin.
“Oke, aku akan menyuapimu.”
Ramona pun menyuapi Austin pelan-pelan. Saat jarak mereka begitu dekat, Austin menatap kedua mata Ramona tanpa berkedip.
__ADS_1
“A-ada apa Austin?” tanya Ramona salah tingkah.
Ramona menangkap sorot kesedihan yang berpendar dari mata Austin. Iris mata birunya seolah tertutupi oleh kabut gelap.
“Boleh, aku bertanya sesuatu, Mona,?” tanya Austin memberanikan diri.
“Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu tanyakan?”
Austin terlihat ragu-ragu. Sayangnya sebelum dia membuka suara, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Tak lama dokter dan perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin kepada Austin.
“Selamat pagi, Tuan Austin. Apa Anda merasa lebih baik hari ini?” tanya dokter dengan ramah.
“Iya, Dokter. Kepala saya tidak pusing sama sekali.”
“Bagus, saya akan mengecek kondisi Anda.”
Ramona langsung bergeser untuk mempersilakan dokter melakukan pemeriksaan kepada Austin. Selang beberapa menit, dokter itu berbicara kepada Austin dan Ramona dengan wajah senang.
“Kondisi Tuan Austin sudah stabil. Tekanan darah dan denyut jantungnya juga normal,” terang dokter.
“Apa saya boleh pulang hari ini?” tanya Austin.
“Sebenarnya, Anda perlu tinggal satu hari lagi untuk memastikan tidak adanya keluhan di kepala. Namun jika ingin pulang hari ini, saya persilakan. Jangan lupa minum obat secara teratur. Saya permisi dulu Tuan dan Nona," jawab dokter itu berpamitan.
“Baik, Dokter, terima kasih.”
Ramona pun menatap Austin dengan rasa ingin tahu.
“Austin, kenapa kamu ingin pulang hari ini? Aku rasa lebih baik kamu beristirahat satu hari lagi di rumah sakit.”
“Aku ingin melihat acara gladi resik pernikahanmu di Gereja, Mona,” jawab Austin jujur.
“Kamu yakin tidak apa-apa ikut denganku di Gereja?”
“Iya, aku sudah merasa sehat.”
“Kalau begitu aku akan menghubungi Mommy sebentar.”
Ramona segera memberikan kabar gembira tentang kepulangan Austin kepada Julie.
“Halo, Mom, hari ini Austin sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Dia minta ikut ke Gereja untuk melihat persiapan prosesi pernikahanku. Bisakah Mommy menemani Austin?”
“Bisa, Mona, aku akan ke rumah sakit sekarang,” balas Julie.
__ADS_1