
Di saat yang bersamaan, Edgar telah tiba di depan kamar rawat Austin. Ketika membuka pintu, dia sangat terkejut melihat Austin menyentuh tangan Ramona. Sontak rahangnya menegang. Dengan langkah cepat, Edgar bergegas meluapkan amarahnya kepada Austin.
“Austin, jauhkan tanganmu dari Ramona!”
“Edgar?!” Ramona terkesiap melihat calon suaminya itu sudah ada di kamar Austin.
Dengan kasar, Edgar menghempaskan tangan Austin yang masih lemah dari Ramona.
“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh calon istriku!” sentak Edgar.
Tangan Austin langsung terkulai di atas ranjang. Ramona yang melihat tindakan kasar Edgar segera memberikan teguran.
“Edgar, jangan bicara dan berbuat kasar pada Austin. Dia baru saja sadar usai menjalani operasi. Tubuhnya masih lemah dan belum pulih sepenuhnya.”
Edgar mengepalkan kedua tangan. Api kebenciannya semakin berkobar, karena Ramona malah memarahinya demi membela Austin.
“Diam Ramona! Jangan membela Austin di depanku. Kamu harus menghormatiku sebagai calon suamimu,” sentak Edgar pada Ramona.
Baru kali ini Ramona mendengar Edgar membentaknya dengan kasar. Padahal, dia sekadar memberikan peringatan supaya Edgar tidak semakin memperparah keadaan Austin.
“Aku hanya mengingatkanmu supaya tidak melukai orang yang sedang sakit, tetapi kamu malah membentakku. Aku tidak menyangka kamu sepicik ini, Edgar,” balas Ramona merasa kecewa.
“Kamu mengatakan aku picik? Aku melihat pria kurang ajar ini menyentuh tanganmu dan kamu membiarkannya saja. Lalu aku harus diam melihat kalian berselingkuh, begitu?” tanya Edgar dengan mata nyalang.
“Austin menyentuh tanganku untuk mengucapkan terima kasih. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami. Tega-teganya kamu menuduhku berselingkuh,” ujar Ramona. Hatinya sakit mendengar tuduhan sepihak dari Edgar.
“Buktinya kamu lebih mementingkan pria ini daripada persiapan pernikahan kita. Apa kamu sadar bahwa pernikahan kita tinggal menghitung hari? Aku mengajakmu menyebarkan undangan, tetapi kamu memilih menemani Austin di rumah sakit,” sentak Edgar menyalahkan Ramona.
Mata Ramona mulai dipenuhi cairan bening. Rasanya sulit dipercaya bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah Edgar.
“Aku tidak bermaksud mengabaikan persiapan pernikahan kita, Edgar. Apa kamu tahu kalau Austin telah menolongku? Saat kamu tidak ada di sisiku, Austin telah mempertaruhkan nyawanya untuk membela aku dan Mommy. Dia bahkan bertarung dengan anak buah Tuan Lucas sampai terluka,” ujar Ramona dengan suara parau.
“Baru segitu saja kamu sudah membanggakan Austin. Aku bisa berbuat lebih baik darinya berkali-kali lipat. Lagipula wajar jika Austin membantu kalian karena dia menumpang hidup di rumahmu,” balas Edgar tidak terima.
Austin yang terus menatap pertengkaran itu merasa iba kepada Ramona. Karena membela dirinya, Ramona terus disudutkan oleh Edgar. Ingin sekali Austin memukul Edgar supaya berhenti membentak Ramona. Namun, ia sadar bahwa saat ini dirinya tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Austin hanya bisa diam menyaksikan Ramona diperlakukan tidak adil oleh kekasihnya. Sungguh pria egois dan kasar seperti Edgar tidak pantas menikahi wanita sebaik Ramona.
__ADS_1
“Dengar, Mona, jika pernikahan kita sampai gagal, itu semua karena salahmu,” tambah Edgar.
Melihat Ramona tak henti-hentinya disalahkan, Austin akhirnya angkat bicara. Ia nekat menyela perdebatan antara Ramona dan Edgar.
“Mona, kamu pulang saja dengan Edgar. Kepalaku sudah tidak pusing lagi. Tidak masalah jika aku sendirian di rumah sakit ini,” ujar Austin.
Austin memutuskan untuk merelakan Ramona pergi bersama Edgar. Dia tidak ingin hati Ramona terus tersakiti.
“Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu, Austin?” tanya Ramona cemas.
“Tidak akan ada hal buruk yang menimpaku. Lagipula ada dokter dan perawat yang akan menjaga aku di sini. Aku tidak akan sendirian, Mona. Kamu bisa pergi dengan Edgar,” jawab Austin meyakinkan Ramona.
Ucapan Austin yang bijaksana membuat Ramona tercengang. Tutur bahasanya begitu indah bahkan terkesan lebih dewasa dari Edgar. Ramona semakin yakin bila Austin telah berubah.
“Kau jangan sok dewasa!” bentak Edgar kepada Austin.
Edgar merasa geram melihat tingkah Austin yang bersikap bijaksana di depan Ramona. Ia yakin pria amnesia ini sedang berusaha menarik perhatian calon istrinya dengan berbagai macam cara. Namun, Edgar segera memanfaatkan peluang emas ini untuk membawa Ramona pergi.
“Mona, Austin mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja bersama perawat dan dokter. Sekarang, ayo kita pulang,” ajak Edgar menarik tangan Ramona.
“Mona, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu kembali dekat dengan Austin. Aku tahu selama ini dia berpura-pura bodoh supaya kamu bersimpati kepadanya. Kamu tidak boleh terhanyut oleh permainannya karena kamu akan menjadi istriku,” pinta Edgar sambil mengemudikan mobil.
Ramona hanya diam saja. Tenaganya sudah habis untuk melanjutkan pertengkaran dengan Edgar. Kini yang ia cemaskan hanyalah kondisi kesehatan Austin.
Melihat sikap dingin Ramona, Edgar merasa jengkel setengah mati. Namun, ia berusaha meredamnya sedapat mungkin sampai urusan mereka selesai.
Mobil Edgar pun membawa Ramona pergi ke salon dan butik, tempat mereka akan memilih gaun pengantin.
“Turunlah dulu, Mona. Kamu bisa memilih gaun pengantin kesukaanmu,” ucap Edgar melembutkan suaranya.
Tanpa bicara, Ramona turun dari mobil. Ia melangkah ke salon megah berpintu kaca itu. Pemilik salon itu adalah Christie, perias dan perancang gaun pengantin yang juga berteman dengan Julie.
Kedatangan Ramona langsung disambut hangat oleh Christie dan asistennya.
“Selamat datang, Ramona. Kamu semakin cantik saja,” puji Christie.
“Terima kasih, Nyonya.”
__ADS_1
“Halo, Edgar, senang bertemu denganmu lagi,” sapa Christie melihat Edgar menyusul di belakang Ramona.
“Nyonya tolong bantu Mona memilih gaun yang paling bagus untuknya. Berapapun harganya tidak masalah untukku. Aku juga akan memilih tuxedo,” ucap Edgar menyombongkan diri.
“Tentu saja, Edgar. Nancy, bantu Tuan Edgar memilih tuxedo,” perintah Christie kepada asistennya.
Kemudian ia berbalik menggandeng tangan Ramona.
“Ramona, ayo ikut aku. Aku punya koleksi gaun pengantin terbaru.”
Ramona mengikuti Christie ke ruangan luas yang berisi gaun pengantin dari berbagai warna dan model. Christie menunjukkan gaun itu satu per satu. Namun, anehnya tidak ada yang menarik perhatian Ramona.
“Kamu mau yang mana, Ramona? Yang terbuka begini atau yang tertutup di bagian punggung?” tanya Christie.
Saat melihat gaun serba putih Ramona malah teringat dengan dongeng Snow White yang pernah dibacakannya untuk Austin. Entah mengapa dia merasa model gaun yang dipakai Snow White sangat cocok untuk hari pernikahannya.
“Nyonya Christie, apa Anda punya gaun model klasik seperti gaun para putri dalam cerita dongeng?” tanya Ramona. Ia tidak peduli bila Christie menertawakan permintaannya yang terkesan konyol dan kekanak-kanakan.
Tak disangka Christie justru menyambut keinginan Ramona dengan antusias.
“Tentu saja ada, tunggu sebentar,” ujar Christie.
Wanita itu masuk ke sebuah ruangan, kemudian muncul kembali dengan membawa gaun putih. Gaun itu panjang dengan model mengembang di bawah seperti kelopak bunga. Lengan gaun tersebut mekar dan dihiasi dengan renda putih.
“Bagaimana dengan yang ini? Kamu mau coba, Mona?” tanya Christie.
“Cantik sekali gaunnya, Nyonya,” puji Ramona terpukau.
“Kalau begitu kita ke ruang fitting sekarang.”
Christie menggiring Ramona ke dalam ruang fitting. Dengan bantuan para asisten Christie, Ramona berhasil mengenakan gaun yang indah itu. Ukurannya terlihat sangat pas di tubuh Ramona.
“Wah, cocok sekali untukmu,” puji Christie terpesona.
Ramona pun berputar sejenak untuk mengamati penampilannya di depan cermin. Di saat bersamaan, tirai yang menutupi ruang fitting tersibak dari luar. Ramona pun terkesiap tatkala melihat pantulan sosok seorang pria dari cermin.
“Austin,” lirih Ramona.
__ADS_1