
Arion mengangkat bahunya sembari melengkungkan bibir ke bawah. Ekspresi terkejut yang ditunjukkan Eiza justru membuatnya ingin mempermainkan gadis muda itu. Salah sendiri gadis itu terlalu angkuh dan selalu menyebutnya sebagai lelaki tua. Padahal di luaran sana banyak sekali wanita cantik yang berlomba untuk mendapatkan dirinya.
"Betul sekali, tetapi tenang saja aku tidak akan menyentuhmu layaknya suami istri. Aku tidak bisa melakukannya dengan wanita yang tidak aku cinta, kecuali wanita itu yang memohon kepadaku," ucap Arion sembari menaikkan alisnya.
"Jangan bermimpi! Lebih baik aku menjadi perawan tua daripada disentuh olehmu. Aku kira kita akan membuat perjanjian yang menguntungkan ternyata tidak. Jadi lebih baik, aku pergi," ucap Eiza hendak beranjak dari kursi. Tetapi lagi-lagi, Arion menahannya.
"Jangan pergi dulu, kali ini kita akan bicara serius. Dua hari lagi, pengacaraku akan datang untuk membuat perjanjian. Isinya antara lain, aku akan memberikan tujuh puluh persen sahamku di perusahaan untukmu. Itu sebagai wujud terima kasihku karena kamu bersedia menjadi ibunya Dewa dan Nania. Dan sebagai syaratnya, kita akan menjalankan kehidupan masing-masing, tidak boleh saling mengganggu, dan tidak ada kontak fisik."
Mata Eiza langsung membola saking senangnya. Tetapi di sisi lain ia merasa sebal karena pihak wanita yang seharusnya mengajukan syarat semacam itu.
"Bagus, justru itulah yang aku tunggu-tunggu. Pemikiran kita berdua sama. Tanpa kamu berikan saham pun, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhku seujung jari pun. Aku masih segel dan kamu sudah terjamah oleh banyak wanita," decih Eiza.
Wajah Arion segera memberengut mendengar cibiran Eiza.
"Enak saja, kamu pikir aku ini pria gampangan? Aku berkencan bukan berarti berakhir di tempat tidur. Aku hanya melakukannya dengan mendiang istriku," tandas Arion.
__ADS_1
"Ck, aku tidak peduli. Aku juga akan mengajukan satu syarat tambahan, yaitu tidak boleh ada cinta," tandas Eiza.
"Bagus, aku juga tidak menginginkan cinta. Jadi pernikahan kita nanti hanya sebatas status formal. Aku akan melepaskanmu saat aku melihat ada pria yang kuanggap cocok menjadi ayahnya Dewa."
Mata Eiza kembali berbinar saat mendengar ucapan Arion.
"Kamu mengizinkan aku berhubungan dengan lelaki lain?"
"Bukan seperti itu. Bagaimanapun pernikahan harus dihormati. Kita berdua tidak boleh berselingkuh. Hanya saja aku mengizinkanmu untuk mengenal pria lain, begitu pula sebaliknya," pungkas Arion.
Jujur, Eiza merasa pusing untuk mencerna perkataan Arion yang berbelat-belit. Namun, dia mengiyakan saja selama itu menguntungkan dirinya. Siapa tahu ia bisa benar-benar mendapatkan calon ayah yang ideal bagi Dewa dan terlepas dari jerat si duda gila.
"Deal," balas Arion menggenggam erat tangan Eiza.
Sementara itu di rumahnya, Opa Yogi sedang menelepon Vivian. Setelah mendapat laporan bahwa Arion dan Eiza sudah melakukan fitting baju, Opa Yogi merasa bahagia. Senyuman pun tak henti terbentuk di ujung bibirnya.
__ADS_1
Pria tua itu kemudian menutup telepon dan duduk di depan layar televisi. Seperti biasa dia akan memutar serial drama Asia kesukaannya tentang CEO dan pernikahan kontrak. Akhir-akhir ini Opa Yogi memiliki hobi baru, yaitu menonton drama romantis agar jiwa mudanya kembali muncul.
"Teki, kemari sebentar!" panggil Opa Yogi kepada pembantu setianya.
"Iya, Tuan, ada apa?" tanya Teki datang tergopoh-gopoh.
"Menurutmu apa cucuku, Arion, dan Eiza akan bisa menjadi pasangan romantis seperti drama ini?"
Mendapat pertanyaan aneh, laki-laki paruh baya itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ee...saya rasa bisa, Tuan. Tuan Arion ganteng dan Nona Eiza cantik."
"Tapi ganteng dan cantik saja tidak cukup. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah. Aku harus menemukan cara supaya mereka saling jatuh cinta," ucap Opa Yogi sambil terus mengamati adegan di hadapannya.
"Bagaimana caranya, Tuan? Apa kita perlu membuat mereka mabuk lalu tidur bersama seperti itu?" tanya Teki dengan kepolosannya. Maklumlah Teki sudah lama menduda dan tidak ingat lagi bagaimana rasanya bermesra-mesraan.
__ADS_1
Sontak Opa Yogi memajukan kepalanya agar bisa menatap layar TV lebih jelas. Setelah mengamati selama lima menit, pria tua itu menepuk keras bahu Teki.
"Idemu bagus sekali, Teki! Kamu telah memberiku inspirasi. Di malam pengantin mereka nanti, aku akan turun tangan untuk membuat mereka berdua saling mengingingkan. Mereka harus diberi pancingan sedikit supaya lebih berani," ucap Opa Yogi tersenyum simpul.