Ibu Guru Kesayangan CEO

Ibu Guru Kesayangan CEO
IGKC 22 Kamu yang Menyembuhkan Lukaku


__ADS_3

Melihat bayangan dirinya sendiri dalam versi yang berbeda, membuat kepala Austin berdenyut-denyut. Dia langsung tersentak kaget dan membuka kedua matanya. Ternyata dirinya masih berada di atas ranjang pasien.


Anehnya, dia melihat bayangan dirinya tadi seolah begitu nyata. Padahal dia sendiri tak mengenal siapa itu Dylan.


Austin sungguh tak mengerti kenapa nama Dylan tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Semuanya terasa bagaikan film dengan dirinya sebagai pemain utama. Austin pun mencoba mengingat kejadian. Namun setiap kali dia berusaha, seolah ada sengatan listrik yang menyerang kepalanya.


Sambil menahan rasa sakit di kepalanya, Austin menekan tombol merah untuk memanggil perawat. Tak lama seorang perawat pun datang untuk memeriksa keadaannya.


“Ada apa, Tuan Austin?”


“Kepalaku sakit, Suster!” ringis Austin memegang kepalanya.


“Sebentar, Tuan, akan saya panggilkan dokter,” ujar perawat tersebut.


Tak lama kemudian, perawat itu kembali bersama dokter. Mereka melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Austin. Tekanan darah, denyut jantung dan pupil mata Austin tampak baik-baik saja. Namun, mulut lelaki itu masih berdesis menahan rasa sakit.


“Tuan masih pusing?” tanya dokter melihat titik keringat di dahi Austin.


“Rasanya seperti ditusuk jarum, Dok. Tidak tahu kenapa tiba-tiba muncul potongan adegan di kepala saya. Saya melihat diri sendiri di suatu tempat yang berbeda, tetapi saya tidak bisa mengingatnya,” jelas Austin.


Dokter itu tersenyum tipis.


“Itu adalah pertanda bagus, Tuan. Artinya ingatanmu sedikit demi sedikit akan pulih. Mungkin yang muncul tadi adalah salah satu kenangan masa lalu,” jelas dokter.


Dokter itu menurunkan stetoskopnya kemudian memberikan wejangan kepada Austin.


“Reaksi yang Tuan alami sangat wajar dialami oleh pasien amnesia. Tuan harus tetap beristirahat dan rajin minum obat. Apabila potongan adegan kembali muncul, biarkan saja. Jangan terlalu memaksakan diri untuk menggali lebih dalam. Nanti seiring berjalannya waktu, kenangan masa lalu Tuan akan kembali dengan sendirinya. Pada akhirnya, Tuan akan mengingat semua.”


“Terima kasih, Dokter.”


“Semoga lekas sembuh, Tuan Austin,” ucap dokter itu sebelum meninggalkan Austin.


Austin pun mengangguk lalu berbaring lagi di tempat tidur. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan memejamkan mata. Lambat laun sakit kepalanya berangsur menghilang.


Setelah kondisinya membaik, Austin duduk bersandar dengan bantalnya. Sesungguhnya ia menunggu kedatangan Ramona. Namun hingga petang hari, sang ibu guru tidak menjenguknya.


Demi membunuh waktu, Austin mengambil salah satu buku dongeng yang dibawakan Ramona. Ia memilih buku dongeng tentang Pinokio lantas membacanya halaman per halaman.


Ketika Austin hampir menyelesaikan buku itu, pintu kamarnya mendadak terbuka. Austin mendongakkan kepala dan bertemu pandang dengan Ramona.

__ADS_1


“Austin,” panggil Ramona lemah.


Austin terkejut melihat wajah Ramona yang nampak kelelahan. Penampilannya juga sedikit berantakan. Namun yang paling memprihatinkan adalah mata Ramona yang sembap. Sepertinya, ia baru saja menangis.


Secara refleks, Austin meletakkan bukunya kemudian menatap Ramona.


“Mona, kenapa kamu menangis? Apa ada yang berbuat jahat lagi kepadamu?” tanya Austin cemas.


Ramona tak lantas menjawab. Namun langkah kakinya kian mendekat ke tempat tidur Austin.


“Austin, bolehkah aku meminjam bahumu sebentar? Aku membutuhkan tempat sandaran,” tanya Ramona dengan wajah sendu.


Austin langsung mengangguk dan mengizinkan Ramona meminjam bahunya.


“Boleh,” jawab Austin.


Tanpa pikir panjang, Ramona menyandarkan kepalanya di bahu Austin. Ia merasa sangat letih dengan semua yang terjadi. Dimulai dari rumahnya yang hampir dirampas rentenir, terlukanya Austin, sampai ke perubahan sikap Edgar yang membuatnya kecewa.


Mengingat itu semua membuat Ramona terisak pelan. Selama beberapa menit, wanita itu mencurahkan kesedihannya di bahu Austin. Ia meresapi semua akar permasalahan yang tengah menghimpitnya.


Hati Austin ikut teriris. Ia yakin Ramona sedang mengalami masalah berat, hanya saja wanita ini belum mau bercerita.


Sesekali, Austin mengusap pelan helaian rambut Ramona dengan tangannya yang tidak diinfus. Ingin sekali ia menghukum orang yang telah membuat Ramona bersedih. Sungguh dia tidak tahan melihat ibu guru yang disayanginya menderita begini.


Puas menangis di bahu Austin, Ramona pun mengangkat kepalanya.


“Terima kasih banyak, Austin. Kamu sudah membiarkan aku menangis di bahumu,” ucap Ramona menghapus air matanya.


Austin belum menanyakan apapun kepada Ramona. Namun mendadak Ramona menanyakan sesuatu yang ganjil.


“Austin, apakah menurutmu Edgar tulus menyayangi aku?” tanya Ramona dengan suara serak.


“Sayang bagaimana maksudnya, Mona?” tanya Austin membulatkan mata.


Pertanyaan Austin menyadarkan Ramona. Dia lupa bahwa Austin berpikiran seperti anak-anak. Pastilah Austin tak mengerti soal percintaan orang dewasa.


“Seharusnya Mona yang paling bisa merasakan kasih sayang Edgar. Tulus atau tidak bisa kita rasakan lewat hati. Tanyakan pada hatimu, Mona,” sahut Austin.


Austin tiba-tiba merasa curiga kepada Edgar.

__ADS_1


“Apa Edgar membentakmu lagi?”


Ramona menggeleng pelan. Tidak sepantasnya dia mengumbar masalah percintaannya kepada Austin.


Benar juga yang disarankan Austin. Lebih baik ia bertanya kepada diri sendiri apakah Edgar sungguh mencintainya. Pria itu memang romantis, tetapi Edgar memiliki banyak sisi yang tidak terduga.


Entah mengapa Ramona semakin merasa jarak antara dirinya dan Edgar kian melebar. Ada rasa tidak nyaman di hatinya untuk berdekatan dengan lelaki itu. Sebaliknya, ia malah merasa damai dan tenang setiap kali di samping Austin. Terkadang Ramona merasa Austin adalah sosok yang bisa memahami dirinya.


Melihat Ramona yang masih bersedih, Austin tergerak untuk menghiburnya.


“Mona, tolong berikan aku buku dan pulpen,” pinta Austin.


Ramona mengambilkan secarik kertas dan pena dari tasnya lalu memberikan kepada Austin.


“Kamu ingin menulis sesuatu atau menggambar?” tanya Ramona penasaran.


“Tutup matamu, Mona. Jangan membukanya sebelum aku minta.”


Ramona pun menutup mata sesuai perintah Austin. Dengan cepat, tangan Austin bergerak lincah membuat coretan di atas kertas.


“Ramona, buka matamu,” pinta Austin.


Ramona terkesiap saat melihat hasil gambar Austin. Tampak seorang wanita cantik dengan gaun pengantin mirip Snow White dan veil panjang yang menutupi wajahnya. Ternyata Austin memiliki bakat menggambar yang luar biasa.


“Gambar siapa ini?” tanya Ramona penasaran.


“Itu adalah kamu saat menjadi pengantin,” ujar Austin dengan ekspresi polosnya.


Hati Ramona berdesir mendengar penjelasan Austin.


“Aku yakin Mona sangat cantik di hari pernikahan. Maka dari itu, Mona tidak boleh menangis lagi. Berjanjilah untuk tersenyum, Mona,” tambah Austin.


Ramona semakin terharu oleh usaha Austin dalam menghiburnya. Entah mengapa ia merasakan kasih sayang Austin lebih besar dari Edgar. Sementara Edgar sebagai calon suaminya malah memaksakan kehendak. Edgar juga tidak segan berlaku kasar dan membentak demi mencapai keinginannya.


“Iya, aku berjanji tidak akan cengeng lagi,” jawab Ramona mengulas senyum tipis.


Di luar, mobil Edgar sudah tiba di rumah sakit. Ia yakin seribu persen bahwa Ramona sedang bersama dengan Austin. Ia tidak akan membiarkan Ramona mengadukan perbuatannya kepada lelaki amnesia itu.


‘Seharusnya aku tidak boleh bertindak gegabah. Aku tidak boleh membiarkan Ramona semakin dekat dengan Austin,’ batin Edgar.

__ADS_1


Malam ini, dia telah menyiapkan rencana cadangan untuk memisahkan Austin dan Ramona.


__ADS_2