Ibu Guru Kesayangan CEO

Ibu Guru Kesayangan CEO
IGKC 9


__ADS_3

"Apa maksudnya, Opa?" tanya Arion menoleh.


"Kamu akan mencoba jas pengantin bersama Eiza jam lima nanti?"


Arion mengusap wajahnya kasar. Dia sungguh tidak mengerti mengapa Opa Yogi selalu memaksanya untuk melakukan ini dan itu. Pertama mengharuskan dia untuk mengelola perusahaan properti yang bukan tugasnya, dan kedua memaksa untuk menikahi gadis labil bernama Eiza.


Memang kalau dipikir lagi Eiza adalah gadis yang cukup cantik, tetapi sifatnya yang galak dan kekanak-kanakan membuat dia tidak cocok menjadi seorang ibu. Ya, dia tak hanya membutuhkan istri tetapi juga ibu untuk Nania. Pasalnya, sejak bayi Naina tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu."


"Opa, apa itu harus?" tanya Arion merotasikan bola matanya.


"Tentu saja harus, karena kalian akan menikah."


"Ck, kenapa Opa sangat memaksakan kehendak?"


"Karena Opa ingin supaya hidupmu yang berantakan ini menjadi lebih teratur. Dengan menikahi Eiza, maka Dewa, Nania, dan perusahaan akan terselamatkan. Sudah tidak usah banyak protes, sekarang Opa akan memeriksa pekerjaanmu hari ini. Setelah itu kamu boleh pergi ke butik."


Arion hanya mendengus sebal. Jika sudah begini, maka dia tidak akan bisa lagi membantah kemauan Opa Yogi. Namun tiba-tiba Arion mendapatkan sebuah ide. Di butik nanti, dia akan meminta Eiza untuk bekerja sama karena mereka sama-sama enggan untuk menikah.


***

__ADS_1


Dengan malas, Eiza memarkirkan mobilnya di halaman butik. Saat dia melangkah masuk, seorang perempuan muda langsung menyambutnya.


"Apa Anda Nona Eiza?"


"Iya, saya akan memilih gaun pengantin."


"Kalau begitu mari ikut saya, Nona," kata perempuan muda itu."


Dengan wajah lesu, tanpa semangat sedikitpun Eiza melangkah mengikuti wanita itu. Dia langsung diantar ke sederetan gaun pengantin yang berjajajar di sana. Karena pada dasarnya Eiza memang malas, maka tidak ada satu pun gaun pengantin yang menarik perhatiannya.


"Hai, Eiza, aku Vivian, teman kakekmu," sapa seorang perempuan paruh baya yang mendekati Eiza.


"Halo, Tante Vivian."


"Apa sudah ada gaun yang menarik perhatianmu?"


"Belum ada, Tante," ucap Eiza menggelengkan kepala.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkan beberapa koleksi yang baru. Siapa tahu kamu menyukainya. Ngomong-ngomong di mana calon suamimu? Kenapa dia belum datang?" tanya Vivian.

__ADS_1


"Hmmm, dia sedang sibuk, mungkin tidak jadi datang," jawab Eiza sekenanya.


Jujur, dia ingin mengatakan kepada Vivian bahwa lebih baik bila Arion tidak akan pernah datang karena ia alergi melihat wajah lelaki itu. Atau ia berharap agar Arion berhasil membujuk Opa Yogi sehingga mereka berdua tidak perlu menikah. Namun keinginan Eiza itu musnah saat ia mendengar suara derap langkah kaki di belakangnya.


"Siapa bilang aku tidak datang. Bukankah mempelai pria juga butuh memilih jas pengantin? Memangnya kamu ingin aku tampil di depan altar dengan kaos oblong?" timpal Arion dari belakang.


Sontak Eiza pun membalikkan badannya, dan melotot tajam kepada Arion. Sedangkan Vivian justru terkekek geli mendengar perkataan cucu laki-laki dari temannya itu. Nampaknya Arion menuruni sifat Opa Yogi yang kocak dan senang bercanda.


"Arion, selamat datang. Kamu bertambah tampan dan gagah sekarang. Kalian berdua cocok sekali, pasangan serasi," puji Vivian dengan tatapan berbinar. Padahal kedua insan yang dipuji itu saling berdecih di dalam hati. Sungguh mereka sama-sama muak mendengar perkataan itu.


Vivian lantas memanggil salah satu pegawainya untuk mengantar Arion menuju ke bagian jas dan tuxedo. Namun anehnya, pria itu malah menolak.


"Maaf, Tante Vivian, aku akan di sini dulu untuk memilihkan gaun bagi Eiza."


Kedua mata Eiza pun membola dengan sempurna.


"Kau mau memilih gaun untukku?" tanya Eiza membeo.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan turun tangan sendiri supaya kita tidak perlu membutuhkan waktu lama di sini. Tante, tolong tunjukkan gaun-gaun untuk calon istri saya ini," ucap Arion dengan santai.

__ADS_1


__ADS_2