
Eiza langsung membaringkan diri di atas kasur begitu sampai di rumah. Rasanya sungguh menyenangkan sekali bisa menyelesaikan wawancara plus urusan dengan calon suaminya yang menyebalkan. Yang diinginkan Eiza saat ini hanyalah beristirahat lalu menonton web series kesukaannya.
Eiza pun membersihkan diri dulu di kamar mandi lebih dulu. Sesudah memakai piyama tidur, Eiza hendak bersiap untuk tidur. Namun, ia terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar. Sedikit terburu-buru, Eiza pun membuka pintu kamarnya dan langsung melihat sang keponakan Dewa sedang menangis. Di samping Dewa, ada Suster Nila, pengasuh baru yang disewa Opa Yogi.
"Dewa kamu kenapa, Sayang? Bukannya kamu sudah tidur?" tanya Eiza langsung memeluk keponakannya itu.
"Aku mau bobok sama Tante," ucap Dewa sambil sesenggukan.
Eiza lantas menatap kepada Suster Nila untuk bertanya apa yang terjadi, hingga Dewa terbangun dari tidurnya sambil menangis.
"Suster Nita, ada apa dengan Dewa?"
"Begini, Bu, tadi Dewa tiba-tiba menyebut Mama dan Papa. Setelah itu, dia menangis dan bangun dari tempat tidur."
Mendengar cerita sang pengasuh, sontak Eiza merasa kasihan terhadapa keponakannya itu. Pastilaj saat ini Dewa sedang merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang telah tiada.
__ADS_1
"Udah, cup, cup, jangan nangis lagi, Dewa. Yuk, bobok lagi di kamar Tante Eiza sambil Tante bacain dongeng, ya."
Dewa hanya mengangguk pelan sembari mengucek matanya. Sementara itu, Eiza memberi isyarat kepada Suster Nila untuk meninggalkan Dewa. Biarlah malam ini, Dewa tidur bersamanya hingga bocah kecil itu merasa tenang.
Eiza lalu menggendong Dewa dan membaringkannya perlahan di tempat tidur. Setelah itu, Eiza turut berbaring di samping Dewa dan menarik selimut untuk menghangatkan bocah kecil itu.
"Setiap kali Dewa kangen Mama, Dewa bisa mendatangi Tante Eiza. Mulai sekarang, Tante Eiza adalah Mamanya Dewa, karena Mama Kaylin sudah ada di surga," ucap Eiza sambil membelai lembut punggung Dewa.
Bocah kecil itu menatap wajah Eiza dengan seksama, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Eiza.
"Kalau Tante Eiza jadi mamanya Dewa, lalu siapa yang jadi papanya Dewa. Bukankah Papa juga sudah tinggal di surga bersama Mama?"
"Hmmm, yang akan jadi papanya Dewa adalah...Om Arion," kata Eiza dengan sangat terpaksa. Sebenarnya, ia enggan mengakui kebenaran itu. Akan tetapi, pada kenyataannya memang Arion yang diberikan mandat oleh Denis untuk mengasuh Dewa. Dengan kata lain, Arion yang akan menjadi ayah pengganti bagi Dewa.
"Oh, Om Arion yang tinggi dan mirip Papa, ya?"
__ADS_1
"Iya, Dewa."
"Kalau begitu, aku mau Om Arion boboj di sini juga, Tante. Bisa, kan?"
"I-iya, bisa, kalau Tante dan Om Arion sudah menikah," jawab Eiza ragu-ragu.
"Menikah itu apa, Tante?"
"Menikah artinya laki-laki dan wanita dewasa berjanji di hadapan Tuhan untuk menjadi suami istri. Hari Sabtu nanti Dewa akan melihatnya."
"Hore! Aku akan punya Mama dan Papa lagi!" seru Dewa kegirangan.
Eiza ikut tersentum meski di dalam hati dia menangis. Jika Dewa kelihatan bahagia menantikan pernikahannya dengan Arion, dia justru sangat menderita. Karena dia akan dinikahi oleh pria menyebalkan yang tidak mencintainya sama sekali. Bahkan mereka menikah karena paksaan Opa Yogi dan demi menjalankan amanat terakhir kakaknya. Namun, apa mau dikata mungkin semua ini adalah bagian dari takdirnya.
"Dewa sekarang bobok, ya, besok pagi harus sekolah. Tante ceritakan dongeng Cindelaras," ucap Eiza.
__ADS_1
Tak berapa lama, Dewa sudah terlelap. Melihat betapa damainya wajah sang keponakan, Eiza pun membelai pipi Dewa penuh kasih sayang.
'Dewa, Tante rela berkorban menikahi duda gila itu demi kamu. Doakan Tante supaya bisa menjadi ibu yang baik untukmu,' gumam Eiza.