Ibu Guru Kesayangan CEO

Ibu Guru Kesayangan CEO
IGKC 20 Pergi ke Tempat Misterius


__ADS_3

Sepanjang malam Austin selalu memperhatikan wajah Ramona, dia menatap lekat wajah cantiknya dengan beranda-andai bahwa dirinya yang akan menikahi Ramona. Hingga tak terasa, Austin ikut tertidur di samping Ramona.


Keesokan paginya, Ramona terbangun lebih awal dari Austin. Dia melihat Austin yang masih tertidur dengan pulas. Saat tertidur begini, wajah Austin tampak begitu damai dan polos.


‘Lucu sekali dia,’ gumam Ramona tersenyum sendiri.


Ramona turun dari ranjang dengan perlahan-lahan. Dia tidak mau membangunkan Austin karena pria itu masih membutuhkan banyak istirahat. Setelah turun dari tempat tidur, Ramona bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.


Sebenarnya Ramona ingin cuti mengajar supaya bisa menemani Austin di rumah sakit. Namun mengingat hari ini ada tes matematika, Ramona tidak mungkin membatalkannya secara mendadak.


“Austin, bangun,” bisik Ramona perlahan.


Austin menggeliat pelan lalu mengerjapkan matanya. Dengan pandangan yang masih samar, ia menatap Ramona. Dengan penampilannya yang rapi sebagai guru, Ramona terlihat semakin mempesona.


“Mona, kamu mau berangkat ke sekolah?” tanya Austin dengan suara serak khas bangun tidur.


“Iya, aku harus mengajar karena hari ini ada tes matematika. Aku akan meminta kepada perawat untuk menjaga kamu, Austin. Selesai mengajar aku langsung menemanimu lagi,” ujar Ramona.


“Jangan cemaskan aku, Mona. Semangat ya,” jawab Austin dengan mata berbinar.


Ramona meletakkan buku-buku dongeng yang dibawanya di atas nakas.


“Austin, kalau kamu bosan, baca saja semua buku-buku ini.”


“Oke, sampai jumpa Mona. Terima kasih, Mona.”


“Jangan lupa makan dan minum obatmu, Austin.”


Ramona melambaikan tangannya kepada Austin kemudian keluar dari kamar itu. Sebelum benar-benar pergi, dia menemui seorang perawat yang bertugas pagi itu.


“Permisi, Suster. Bolehkah saya meminta bantuan? Hari ini saya harus pergi bekerja sampai siang. Tolong Suster mengawasi pasien bernama Austin di kamar 307. Dia sendirian, Suster,” pinta Ramona.


“Baik Nona. Saya akan mengecek kondisinya nanti.”


“Terima kasih banyak, Suster.”


Setelah menitipkan Austin kepada perawat, Ramona pergi ke sekolah untuk mengajar murid-muridnya.


Setibanya di kelas, Ramona disambut oleh murid-muridnya.


“Miss Mona, bagaimana kabarmu?” tanya Kate.


“Aku baik, bagaimana kabarmu, Kate?”


“Aku sangat bahagia dan sehat, Miss,” jawan Kate nyaring.


“Wah itu bagus. Kalau begitu, ayo kita mulai tes matematika.”

__ADS_1


Ramona berdiri di depan kelas lalu menatap murid-muridnya. Sebagian dari mereka nampak lesu karena akan menghadapi tes matematika. Pelajaran itu memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian anak-anak.


“Anak-anak, apa kalian sudah siap mengerjakan tes?”


“Siap, Miss,” jawab sebagian anak.


“Bagus. Jangan takut ya. Soal yang Miss berikan tidak sesulit yang kalian pikirkan. Kalau kalian belum yakin, berdoalah dulu minta pertolongan Tuhan.”


“Baik, Miss.”


“Miss Mona, apakah kami boleh melihat buku?” tanya Daniel.


“Tidak boleh, Daniel. Kamu harus mengerjakan tes dengan kemampuanmu sendiri. Berapapun nilai yang kamu dapatkan nanti, jangan pernah berkecil hati. Yang penting kamu jujur,” kata Ramona memberikan nasehat.


“Oke, Miss, aku mengerti.”


Ramona pun mengambil tumpukan lembar tes dari atas mejanya lalu membagikan kepada seluruh murid.


“Sekarang, kalian kerjakan tes ini dengan baik. Waktu kalian enam puluh menit.”


“Miss, aku ingin bertanya,” ujar Gwen mengangkat tangannya tiba-tiba.


“Ada apa, Gwen? Soal mana yang tidak kamu pahami?” tanya Ramona.


“Bukan soal, kami semua ingin bertanya tentang Austin? Kenapa dia tidak masuk sekolah hari ini?”


“Iya Miss, kenapa Austin tidak datang ke sekolah? Apa dia takut dengan tes matematika?” timpal Jason.


“Austin sedang sakit. Miss minta tolong kalian semua untuk mendoakan Austin agar cepat sembuh. Maukah kalian semua mendoakan Austin?” tanya Ramona.


“Mau, Miss,” jawab mereka serempak.


“Teman-teman, ayo kita bersama-sama mendoakan Austin sebelum kita mengerjakan tes matematika,” ajak Gwen.


Ramona yang melihat reaksi murid-muridnya tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka Austin sangat disayangi oleh teman-teman sekelasnya.


Kurang lebih lima menit mereka mendoakan Austin dengan khidmat. Kemudian mereka mulai mengerjakan tes matematika.


Sambil mengawasi murid-muridnya, Ramona melirik ke jam dinding yang terpasang di kelas. Dia berharap waktu cepat berlalu sehingga dia bisa menemani Austin di rumah sakit.


***


Begitu bangun di pagi hari, Carla segera mengambil test pack dari laci lemarinya. Carla memegang alat tes kehamilan tersebut lalu pergi ke toilet. Jantungnya bertalu dengan kencang, berharap hasil yang diperoleh akan sesuai dengan harapannya.


Beberapa menit menunggu, Carla akhirnya mengambil test pack tersebut. Tampaklah dua garis merah yang terpampang jelas di matanya. Perasan Carla menjadi campur aduk, antara senang dan sedih bersamaan.


‘Hasilnya positif, artinya aku sedang hamil anaknya Edgar. Aku akan memaksa Edgar untuk segera menikah denganku. Aku tidak akan membiarkan pria brengsek itu lolos dan meninggalkan tanggung jawabnya,’ pikir Carla mengepalkan tangan.

__ADS_1


Carla kembali menatap dua garis merah tersebut seraya mengambil ponselnya. Ingin sekali dia memotret dua garis merah tersebut lalu membagi fotonya kepada Edgar. Namun, Carla membatalkan niatnya tersebut.


Jika dia menghubungi Edgar sekarang, sudah pasti pria itu akan menyangkal bahwa anak yang dikandung Carla adalah miliknya. Oleh karena itu, Carla memutuskan mencari cara lain agar Edgar mau bertanggung jawab.


“Daddy, aku pergi,” pamit Carla kepada Levon.


“Kamu mau kemana lagi, Sayang?” tanya Levon yang sudah bersiap ke kafe.


“Aku akan memeriksakan diri ke dokter, Daddy. Aku tidak enak badan. Tadi saat bangun kepalaku pusing dan aku ingin muntah,” ujar Carla berbohong.


“Daddy akan menemanimu, Carla.”


“Tidak usah, Dad, aku bisa pergi sendiri. Lebih baik Daddy mengawasi kafe.”


“Baiklah, kabari Daddy jika kamu sudah pulang. Minta dokter itu untuk memastikan apa penyakitmu.”


“Iya, Daddy.”


Hati Carla merasa miris karena ia telah membohongi Levon. Andai saja sang ayah tahu bahwa dirinya akan memeriksakan kehamilan, mungkin dia akan jatuh pingsan.


***


Saat jam pelajaran usai, Ramona langsung keluar dari kelas. Namun ia terkejut karena Edgar telah menantinya di pekarangan sekolah.


“Edgar, kenapa kamu datang ke sekolah? Kamu menjemputku?” tanya Ramona keheranan.


Edgar menunjukkan setumpuk undangan pernikahan yang dibawanya kepada Ramona.


“Aku datang untuk memintamu membagikan undangan ini, Sayang. Tolong kamu bagikan kepada kepala sekolah, staf, dan semua guru di sekolah. Aku akan menunggumu di mobil,” pinta Edgar.


Tanpa membantah, Ramona membagikan undangan tersebut kepada semua rekan kerjanya.


“Wah, Miss Mona selamat ya, sebentar lagi kamu akan melepaskan masa lajang,” ujar Mr. Stanley.


“Miss, Mona, selamat untukmu. Saya pasti akan hadir,” tambah Mr. Henry, sang kepala sekolah.


“Terima kasih, Mr. Henry.”


Ramona tersenyum senang karena semua teman kerjanya memberikan ucapan selamat.


Setelah berhasil menyebarkan semua undangan yang diberikan oleh Edgar, Ramona menuju ke mobil Edgar.


“Edgar, aku naik mobilku saja. Aku akan ke rumah sakit,” pinta Ramona.


“Tidak, Sayang, kamu naik mobilku saja. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang menyenangkan,” jawab Edgar menyeringai.


Dengan terpaksa, Ramona masuk ke mobil Edgar. Namun perasaan Ramona mulai gelisah tatkala Edgar mengarahkan mobilnya ke jalan yang sepi. Sepertinya mereka sedang menuju ke pinggiran kota.

__ADS_1


“Edgar, sebenarnya kamu mau mengajakku kemana?”


Edgar tidak menjawab. Pria itu malah menyunggingkan senyum misteriusnya kepada Ramona.


__ADS_2