
Pagi-pagi, Eiza sudah bangun untuk mengurusi Dewa. Dia sudah berjanji pada diri sendiri untuk belajar menjadi ibu yang baik bagi keponakannya itu. Ya, salah satu caranya untuk bisa membuat Dewa melupakan kesedihannya.
"Hari ini Tante anterin Dewa ke sekolah," ucap Eiza sembari menggandeng tangan keponakannya itu.
"Apa Tante akan menjemputku juga?" tanya Dewa.
"Iya, nanti sekalian kita mampir beli es krim."
"Hore."
Dewa langsung melompat kegirangan. Dengan wajah ceria, bocah kecil itu menggandeng tangan Eiza menuju ke mobil. Sepanjang perjalanan, Eiza memutar lagu anak-anak dan mengajak Dewa bernyanyi bersama. Alhasil, Dewa pun bisa melupakan kesedihannya. Keponakannya itu kembali ceria seperti anak seusianya.
"Bye, Dewa, belajar yang rajin. Dengarkan kata Miss," ucap Eiza sebelum Dewa masuk ke kelas.
Dewa memeluk leher Eiza, lalu melambaikan tangan sebelum ikut bersama gurunya. Dengan senyuman, Eiza lantas pergi menuju ke mobil. Eiza berencana untuk mampir dulu ke toko buku guna membeli referensi bacaan untuk persiapan mengajar. Jika nanti dia tidak diterima di Smart School, maka Eiza akan coba melamar di sekolah yang lain.
Ketika Eiza baru memarkirkan mobilnya di depan toko buku, ia mendapat telepon dari Smart School. Eiza pun menerima telepon tersebut dengan jantung yang berdebar-debar.
"Good morning, Miss Eiza, saya Vita dari Smart School. Apakah Miss Eiza bisa datang sekarang ke Smart School? Miss dinyatakan sudah lolos seleksi dan diterima sebagai homeroom teacher."
__ADS_1
"Benarkah, Miss Vita? Terima kasih banyak," jawab Eiza begitu bahagia. Dia tidak percaya bila dalam waktu singkat bisa diterima di sekolah favorit itu.
"Iya, Miss. Kebetulan Miss Anya pagi ini melahirkan dan tidak bisa masuk ke kelas, maka Anda akan langsung bertugas di Grade 1 C. Hari ini Anda akan mengajar dibantu oleh wakil kepala sekolah. Apa Anda bisa datang?"
"Bisa, Miss, saya akan ke sana sekarang."
Senyum tak lepas dari bibir Eiza setelah mendapat telepon tersebut. Buru-buru ia menyalakan mesin mobil lagi, lalu memutar balik ke jalan raya. Beruntung dia mengenakan pakaian setelan formal sehingga tidak perlu pulang ke rumah. Tak lupa, Eiza menelepon Suster Nila agar menjemput Dewa ke sekolah untuk menggantikannya.
Sekitar lima belas menit berkendara, Eiza pun tiba di gedung sekolah yang megah itu. Oleh bagian resepsionis, Eiza langsung diarahkan ke ruang wakil kepala sekolah. Wajah Eiza pun tampak sumringah karena ia tahu siapa yang ada di balik ruangan tersebut.
"Selamat pagi, Sir," sapa Eiza.
"Pagi, Za, jangan memanggilku 'Sir', aku jadi merasa tua. Panggil saja namaku," kata Radit langsung beranjak dari kursi.
"Terima kasih, Dit. Di sekolah ini kamu adalah atasanku, jadi aku harus memanggilmu Sir Radit."
"Oke, terserah kamu saja. Tetapi saat kita berdua saja tidak usah memakai bahasa yang terlalu formal. Apa kamu sudah tahu kalau aku akan mendampingimu hari ini?"
"Iya, aku sudah tahu."
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya Radit berjalan menghampiri Eiza.
"Siap," jawab Eiza sembari menghela napas.
"Kalau begitu kita ke kelas sekarang. Yakinlah, kamu pasti bisa," ucap Radit menyemangati Eiza.
Eiza pun mengikuti langkah lebar Radit menuju ke koridor sekolah. Ruangan kelas satu terletak di lantai dasar, sehingga dalam waktu singkat mereka sudah sampai.
Begitu masuk, Eiza melihat anak-anak berseragam kotak-kotak yang duduk memperhatikan papan tulis. Saat itu, kelas 1C sedang diajar oleh asisten guru pendamping. Melihat kedatangan Radit dan Eiza, asisten guru tersebut segera menyingkir dan mempersilakan mereka mengambil alih.
"Good morning, children!" seru Radit untuk menyela perhatian anak-anak.
"Morning, Sir."
"Hari ini akan ada Miss baru yang akan menggantikan Miss Anya, namanya Miss Eiza. Silakan memperkenalkan diri, Miss Eiza."
Eiza mengangguk lantas berdiri di depan kelas. Sembari mengembangkan senyum, Eiza pun menyapa murid-muridnya.
"Good morning, mulai hari ini kalian akan belajar bersama Miss Eiza. Jangan takut bertanya atau meminta bantuan Miss, bila kalian mengalami kesulitan. Sekarang Miss akan memanggil nama kalian satu per satu, supaya kita saling kenal."
__ADS_1
Radit pun menyerahkan daftar nama murid kepada Eiza. Tatkala Eiza membaca, matanya terbelalak mendapati nama Nania di sana. Secara refleks, Eiza pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelas. Dan benar saja, dia menemukan sosok gadis kecil berbando biru yang duduk di deretan paling belakang. Gadis kecil itu tak lain dan tak bukan adalah calon anak sambungnya, Nania.