
"Radit, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Eiza keheranan.
"Karena aku bekerja sebagai wakil kepala sekolah Smart School," kata Radit tersenyum tipis. Sungguh, Eiza masih tidak percaya jika dirinya bisa mendapatkan hal sebaik ini. Kakak kelasnya di SMA yang pernah ia sukai secara diam-diam ternyata bekerja di sekolah ini, yang artinya mereka akan menjadi rekan kerja.
"Kamu sendiri kenapa ke ruang kepala sekolah? Apa kamu akan melakukan wawancara kerja?" tanya Radit menaikkan alisnya. Pria itu masih saja tampan dan mempesona seperti dulu. Bahkan tatapan matanya serasa bisa mengalihkan dunia Eiza.
"I-iya, aku melamar sebagai home room teacher yang baru," kata Eiza gugup.
Radit kembali melempar senyum manis yang membuat jantung Eiza serasa cenat-cenut.
"Baiklah, Eiza, semoga wawancaramu sukses dan kamu bisa diterima bekerja di sini. Aku ingin sekali kita bisa menjadi rekan kerja."
DEG!
Lagi-lagi Eiza dibuat salting setelah mendengar kata-kata yang diucapkan Radit. Mungkin saja pipinya juga sudah memerah layaknya kepiting rebus. Beruntung resepsionis segera mengajaknya pergi, hingga wajah merahnya tidak terlihat oleh Radit.
"Silakan masuk, Miss. Bu Lala sudah menunggu di dalam," ujar resepsionis.
__ADS_1
"Baik, terima kasih, Miss," jawab Eiza.
Setelah mengetuk pintu dua kali, Eiza masuk ke dalam. Dia melihat seorang wanita berusia empat puluhan yang sedang duduk menghadap laptop. Wanita berkacamata itu langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap Eiza.
"Selamat pagi, Bu," sapa Eiza.
"Pagi, silakan duduk, Miss Eiza," jawab Bu Lala.
Eiza pun duduk berhadapan dengan wanita itu sambil menganggukkan kepala.
"Miss Eiza belum pernah mengajar sebagai guru sebelumnya?" tanya Bu Lala.
"Tetapi di sini Anda akan menjadi homeroom teacher, Miss. Anda akan menghandle kurang lebih 25 murid di kelas. Apa kira-kira Anda sanggup?" tanya Bu Lala.
"Saya sanggup, Bu."
Bu Lala lantas menanyakan sejumlah pertanyaan mendasar kepada Eiza. Setelah itu ia memberikan sebuah materi dan meminta Eiza untuk melakukan simulasi mengajar di depannya.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri, Eiza menunjukkan penampilan terbaiknya sebagai guru.
"Miss Eiza dari hasil review saya cara mengajar Anda cukup baik, walaupun masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Tetapi itu bisa diperbaiki seiring dengan jam terbang Anda sebagai pengajar. Dan nanti Anda juga akan mengikuti training secara berkala untuk meningkatkan kemampuan Anda."
Bu Lala kemudian menelepon staffnya agar datang menjemput Eiza.
"Miss Eiza sekarang Anda bisa ikut dengan Miss Rika untuk mengikuti psikotest. Jika Anda lolos, maka kami akan menghubungi Anda paling lambat tiga hari setelah hari ini."
"Baik, Bu Lala, terima kasih."
Tak lama kemudian, seorang wanita muda masuk ke ruangan itu dan mengajak Eiza untuk ikut dengannya. Eiza pun berpamitan kepada Bu Lala, lalu mengikuti wanita itu ke ruangan psikotest. Eiza hanya berharap agar semua bisa berjalan lancar sehingga dia bisa diterima bekerja sebagai guru di Smart School.
***
Di kantor, Arion sedang pusing karena dia harus mempelajari banyak hal. Ya, mulai hari ini pria itu harus mulai mengambil alih perusahaan agar tidak terjadi kekosongan di tingkat pimpinan. Bagaimanapun sebuah perusahaan membutuhkan sosok pemimpin agar tetap berjalan. Sepeninggal Denis, maka mau tak mau ia yang harus menjalankan usaha milik keluarganya ini.
"Tom, apa bisa kita istirahat dulu? Otakku belum terbiasa menangani pekerjaan kantor sebanyak ini. Lebih baik aku memeriksa puluhan pasien daripada memeriksa berkas sebanyak ini."
__ADS_1
Tomi hendak menjawab, tetapi tidak jadi karena melihat seseorang berjalan masuk.
"Kamu tidak boleh istirahat dulu, Arion. Karena sore nanti kamu akan pergi bersama Eiza," sahut Opa Yogi.