
“Kamu benar-benar cantik, Ramona,” puji pria itu.
Mendengar suara Edgar, Ramona baru tersadar bahwa pria yang memandangnya dari balik cermin bukanlah Austin.
Ramona segera menepis pikirannya sendiri. Pada saat seperti ini semestinya ia berkonsentrasi kepada Edgar sebagai calon suaminya. Namun justru bayangan Austin yang selalu muncul di benaknya.
Mungkinkah sosok Austin yang polos berhasil mencuri sebagian hatinya? Jika benar begitu, artinya apa yang dituduhkan Edgar telah menjadi kenyataan. Mungkinkah dia telah menduakan Edgar di dalam pikirannya. Tidak, dia tidak boleh mengingat pria mana pun selain Edgar.
“Gaun ini sangat cocok untukmu, Sayang. Aku setuju jika kamu mengenakannya di hari pernikahan kita,” kata Edgar dengan tatapan kagum.
Christie yang melihat kemunculan Edgar secara mendadak langsung menegur pria itu.
“Edgar, alihkan pandanganmu sekarang dari Ramona. Tidak baik bagi seorang pengantin pria melihat calon istrinya mengenakan gaun pengantin sebelum hari pernikahan,” tegur Christie.
Edgar malah terkekeh geli mendengar teguran dari mulut Christie. Ia menganggap Christie layaknya nenek tua yang sangat percaya pada takhayul.
“Apa yang kamu katakan itu hanyalah takhayul yang tidak terbukti kebenarannya. Mana mungkin aku bisa mengalihkan pandanganku dari kecantikan Ramona,” bantah Edgar.
Edgar pun berjalan mendekati Ramona. Dia hendak bertanya mengenai tuxedo yang akan dia kenakan, apakah cocok atau tidak.
“Sayang, apakah tuxedo ini bagus untukku?” tanya Edgar seraya menunjukkan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya.
“Bagus,” jawab Ramona singkat.
Mendapat persetujuan dari Ramona, Edgar pun mantap untuk menjatuhkan pilihannya pada tuxedo tersebut.
“Nyonya Christie, kalau begitu saya ambil gaun dan tuxedo ini. Saya akan membayarnya lunas sekarang,” kata Edgar.
“Oke, Edgar. Asistenku akan membantumu melakukan pembayaran.”
Dengan membusungkan dada, Edgar berjalan menuju kasir. Ia ingin Ramona tahu bahwa ia adalah pria yang memiliki banyak uang. Tidak bisa dibandingkan dengan Austin yang bodoh dan tidak memiliki apa-apa.
Setelah menyelesaikan urusan busana pernikahan, Edgar mengajak Ramona ke toko kue untuk memilih kue tart pernikahan mereka. Terakhir Edgar memilih hotel yang akan dipakai untuk menghabiskan bulan madu mereka.
Di rumah, Julie sedang berkutat dengan setumpuk undangan pernikahan yang ditinggalkan Edgar. Para tamu yang diundang adalah tetangga, saudara, dan rekan kerja Ramona dan Edgar, termasuk juga para orang tua murid di sekolah Ramona.
Untuk menyingkat waktu, Julie memutuskan mengirimkan sebagian undangan lewat pos. Sedangkan untuk tetangga sekitar rumah akan dia antarkan sendiri dengan berjalan kaki.
Ketika sedang memilah undangan tersebut, Julie teringat bahwa Ramona tidak memiliki wali pengganti ayahnya. Padahal pengantin wanita harus diantarkan oleh ayah kandungnya untuk menemui pengantin pria. Ya, dia harus mencarikan seseorang yang tepat untuk menghantarkan Ramona ke altar.
Sosok yang muncul di pikiran Julie adalah Levon. Pria paruh baya itu adalah sahabat baik Reagan, suaminya. Mereka telah berteman sejak kecil dan selalu saling mendukung. Bahkan Levon yang menjadi pendamping Reagan di hari pernikahannya dengan Julie.
‘Bagaimana kabar Levon. Sebaiknya aku berkunjung ke rumahnya dan meminta Levon menjadi wali Ramona,’ celetuk Julie.
__ADS_1
Dengan mengendarai mobil tuanya, Julie menuju ke rumah Levon yang berjarak lumayan jauh. Cukup lama ia tidak bertemu Levon setelah kematian Reagan. Julie tidak enak hati mengganggu Levon, karena pria itu disibukkan dengan usaha kafe dan toko kue miliknya.
Sesampainya di rumah Levon, Julie langsung mengetuk pintu.
“Julie, tumben kamu datang mengunjungiku,” ujar Levon senang.
Ia segera mempersilakan istri mendiang sahabatnya itu masuk.
“Levon, aku ingin memberikan undangan pernikahan Ramona kepadamu.”
Ujung alis Levon terangkat. Ia merasa terkejut sekaligus bahagia dengan berita pernikahan Ramona.
“Ramona akan menikah?” tanya Levon.
“Iya, aku juga ingin memintamu untuk menjadi pengganti ayah bagi Ramona di hari pernikahannya. Apa kamu bersedia, Levon?” tanya Julie penuh harap.
Levon mengangguk senang dan langsung menyetujuinya.
“Tentu saja aku bersedia. Aku akan menggantikan peran Reagan untuk membimbing Ramona ke altar,” ujar Levon.
“Terima kasih banyak, Levon,” ujar Julie.
“Tidak usah berterima kasih padaku. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus Ramona seperti putriku sendiri.”
“Bagaimana dengan kondisi kehidupanmu sekarang, Julie?” tanya Levon.
Julie menunduk sedih. Ia merasa Levon adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita.
“Aku sedang mengalami musibah, Levon. Sebenarnya ini akibat kesalahanku sendiri. Selama Reagan dirawat di rumah sakit, aku berhutang pada rentenir untuk membiayai pengobatannya. Rentenir itu bernama Tuan Lucas. Aku tidak bisa membayar lalu mencoba bermain judi. Nyatanya aku kalah dan utangku pada Tuan Lucas semakin banyak. Kemarin dia datang untuk menyita rumahku karena aku tidak sanggup melunasi pinjamanku,” ujar Julie apa adanya.
Levon sangat terkejut mendengar penuturan Julie. Ia tidak menyangka Julie terjerat oleh seorang rentenir berbahaya.
“Astaga, Julie, kenapa kamu tidak meminta bantuanku saja dan malah meminjam uang kepada Lucas.”
“Aku tidak ingin merepotkanmu, Levon.”
“Aku tidak pernah merasa direpotkan. Lalu bagaimana denganmu dan putrimu? Apakah kalian terluka?” tanya Levon cemas.
Julie pun menceritakan semua yang terjadi dengannya, termasuk Austin, pria amnesia yang dirawat Ramona. Austin yang telah berjasa mencegah perbuatan kejam Lucas dan anak buahnya.
“Aku khawatir Lucas akan kembali untuk mengambil rumahku. Dan lagi aku dan Ramona masih harus menanggung biaya operasi dan perawatan Austin,” jelas Julie sedih.
Melihat ekspresi wajah Julie yang begitu tertekan, Levon merasa iba.
__ADS_1
“Tenang saja, Julie. Aku akan membebaskanmu dari semua kesulitan keuanganmu. Aku akan menemui Lucas besok dan melunasi utangmu. Sedangkan biaya rumah sakit Austin, aku akan mentransfernya hari ini,” ujar Levon.
Pria paruh baya itu berusaha untuk menghibur Julie agar tidak bersedih.
“Aku juga berniat untuk menjual tanahku di Detroit dan akan menyerahkan hasil penjualannya kepadamu. Kamu bisa memakainya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambah Levon dengan tulus.
“Tidak, jangan seperti itu, Levon. Aku tidak mau menyusahkanmu,” tolak Julie.
“Kamu jangan merasa berhutang budi padaku, Julie. Setelah Reagan meninggal, kamu dan Ramona adalah bagian dari tanggung jawabku,” bujuk Levon.
“Biarkan aku membalas budi baik Reagan. Aku masih ingat bagaimana dia telah menolongku saat aku berada di ambang kebangkrutan. Dia juga yang telah membebaskan aku dari kecanduan alkohol dan menghibur hatiku yang hancur karena kepergian Anna.”
Bulir bening membasahi pipi Julie. Dia sangat terharu dengan niat baik Levon.
“Suamiku begitu beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu. Terima kasih banyak Levon,” ujar Julie menangis haru.
Saat mereka sedang berbincang, seorang wanita muda membuka pintu. Dia memandang Julie dengan tatapan tidak suka.
“Julie, perkenalkan ini Carla putriku. Dia baru saja pulang dari Boston. Selama ini dia bekerja sebagai staf di kantor pengacara di Boston,” ujar Levon.
“Wah, Carla bekerja di kota yang sama dengan calon menantuku. Halo, Carla, aku Julie. Senang bisa melihatmu, kamu sangat cantik,” puji Julie tersenyum.
Carla membalas dengan senyuman tipis. Melihat sebuah undangan di meja, tangannya pun meraih undangan tersebut.
“Undangan siapa ini, Dad?” tanya Carla.
“Undangan pernikahan, Ramona, anak Julie dan Reagan. Aku akan menjadi pendamping Ramona di hari pernikahannya,” jawab Levon.
“Ramona?” ulang Carla.
Tangannya mendadak gemetar. Dengan perasaan campur aduk, Carla membaca nama yang tertera di undangan tersebut. Hatinya remuk redam ketika mendapati nama Edgar sebagai calon mempelai pria.
Tidak tahan dengan kenyataan pahit ini, Carla beranjak dan meninggalkan ayahnya bersama Julie. Carla mengurung dirinya di dalam kamar lalu menangis tersedu-sedu.
“Sial!” teriak Carla histeris.
Untuk melampiaskan rasa frustasinya, Carla mengobrak-abrik semua barang-barang di dalam kamarnya.
“Edgar berengsek! Dia benar-benar membuangku!” umpat Carla mengacak rambutnya.
Carla menjatuhkan dirinya di kasur sambil berurai air mata. Dalam kondisi patah hati, ia melihat kalender untuk memastikan tanggal pernikahan Edgar dan Ramona. Namun tanggal yang tertera justru mengingatkan Carla akan sesuatu.
‘Aku belum datang bulan sampai sekarang. Apa mungkin aku hamil anak Edgar?’ batin Carla.
__ADS_1
Bersambung