Ibu Guru Kesayangan CEO

Ibu Guru Kesayangan CEO
IGKC 19 Tidurlah di Sampingku


__ADS_3

Sepulang dari melakukan pemesanan kamar hotel, Ramona terus memikirkan keadaan Austin di rumah sakit. Dia begitu cemas karena tak ada orang yang menemani Austin. Meskipun memang ada dokter dan perawat, tetapi mereka tidak bisa melihat keadaan Austin selama 24 jam.


Edgar melirik ke arah Ramona yang memandang ke jendela sejak tadi.


“Sayang, kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?”” tanya Edgar.


“Tidak ada,” jawab Ramona.


“Benar, tidak ada? Jangan-jangan kamu merindukan si Austin bodoh itu?” tanya Edgar curiga.


“Tolong Edgar, jangan mulai lagi,” jawab Ramona sambil menghela napas.


Edgar memicingkan matanya sembari memberikan peringatan kepada Ramona.


“Kalau begitu kamu jangan pernah memikirkan pria lain. Nikmatilah waktu kebersamaan kita.”


“Aku sudah menuruti keinginanmu. Tolong berhenti cemburu kepada Austin.”


Setelah percakapan singkat itu, Ramona kembali bungkam sampai Edgar mengantarkannya pulang ke rumah.


“Terima kasih, Edgar,” ujar Ramona turun dari mobil.


“Tunggu, Sayang, aku meminta salam perpisahan darimu.”


Edgar menunjuk bibir dan pipinya kepada Ramona. Walaupun enggan, Ramona mengecup singkat bibir dan pipi dari calon suaminya itu. Namun, Edgar justru membalas dengan ciuman yang lebih intens.


Seperti orang yang kesetanan, Edgar tidak mau berhenti sehingga Ramona mulai kehabisan napas. Ia pun melepaskan tautan bibir mereka.


“Mona, aku belum selesai,” protes Edgar.


“Maaf, Edgar, aku lelah. Aku ingin masuk ke dalam dan istirahat.”


“Baiklah, aku pulang, Sayang. Kamu harus cepat tidur malam ini supaya terlihat cantik di hari pernikahan kita.”


“Iya, kamu juga istirahatlah,” jawab Ramona.


Ramona menunggu sampai mobil Edgar keluar dari pekarangan rumahnya.


Ketika masuk ke dalam, ia melihat Julie sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton TV. Julie pun menoleh saat mendengar langkah kaki Ramona.


“Mona, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu? Apa semua sudah selesai?”


“Sudah, Mom. Aku mengunjungi salon, toko kue, dan hotel.”


“Lalu kenapa wajahmu kelihatan sedih begitu? Apa ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu?” tanya Julie mencemaskan putrinya.


“Persiapan pernikahan kami berjalan lancar, Mom. Aku mencemaskan Austin. Dia sendirian di rumah sakit.”


Julie nampak berpikir sebentar. Mengingat kondisi Austin yang baru selesai menjalani operasi, memang seharusnya pria tersebut ada yang menjaga.

__ADS_1


“Mom, bolehkah aku menginap di rumah sakit untuk menemani Austin? Aku takut dia kesakitan atau tiba-tiba muntah.”


“Baiklah, kamu bisa menemani Austin di rumah sakit. Tetapi bagaimana kamu berangkat ke sekiolah besok?” ujar Julie.


“Aku akan berangkat dari rumah sakit, Mom. Sekalian aku harus menanyakan biaya operasi dan perawatan Austin.


Julie memegang bahu Ramona untuk memberikan rasa tenang kepada putrinya itu.


“Mona, kamu tidak perlu memikirkan tentang biaya rumah sakit. Levon sudah membayarnya,” ujar Julie.


“Paman Levon, sahabat Daddy?” tanya Ramona terkejut.


“Iya, aku menemuinya tadi untuk memintanya menjadi pendampingmu di hari pernikahan. Levon menanyakan kepadaku soal kehidupan kita, dan aku menceritakan yang sebenarnya. Levon berjanji melunasi utang kita kepada Lucas dan juga membayar biaya perawatan Austin,” jawab Julie.


“Mom, apa kita tidak merepotkan Paman Levon?”


“Tadinya aku juga berpikir begitu, tetapi dia bersikeras untuk menolong kita. Levon adalah orang yang sangat tulus, Mona.”


“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih padanya besok. Mom, aku akan mengemasi barang bawaanku dulu,” pamit Ramona lekas pergi ke kamarnya.


Ramona segera memasukkan bajunya dan membawa beberapa buku dongeng untuk Austin. Ia tahu bahwa Austin pasti bosan jika berdiam diri saja di rumah sakit.


“Mom, aku pergi,” pamit Ramona.


“Iya, Sayang, hati-hati,” ucap Julie mengantarkan Ramona ke depan pintu.


Usai memasukkan barang bawaannya, Ramona mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Karena di malam hari jalanan tidak terlalu ramai, Ramona bisa sampai di rumah sakit lebih cepat.


“Austin!” panggil Ramona panik.


“Austin, kamu di mana?” panggil Ramona berulang kali.


Mendengar teriakan Ramona, Austin keluar dari dalam toilet dengan memegang tiang selang infusnya.


“Mona, kenapa kamu berteriak?” tanya Austin.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Austin. Aku sangat cemas,” ujar Ramona langsung memeluk tubuh pria itu.


Austin membiarkan Ramona memeluknya. Ia mengulum senyuman bahagia, karena Ramona sangat peduli kepadanya.


“Aku hanya ke toilet sebentar, Mona. Perutku mendadak mulas,” ujar Austin


Ramona menangkup wajah Austin dan bertanya dengan nada suara yang lembut.


“Kenapa kamu tidak meminta tolong perawat untuk membantumu ke kamar mandi?”


Austin menggeleng pelan.


“Aku bisa pergi sendiri. Lagipula aku juga tidak merasa pusing lagi. Selama aku bisa, aku ingin melakukan apapun sendiri,” ujar Austin.

__ADS_1


“Kamu baru saja sembuh, Austin, jangan terlalu memaksakan diri. Ayo, kembalilah ke ranjangmu."


Dengan hati-hati, Ramona membantu Austin berbaring di tempat tidur.


“Mona, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?” tanya Austin.


“Semuanya berjalan dengan lancar.”


“Apa kamu sudah memilih gaun pengantin?”


“Sudah, aku memilih gaun yang mirip kepunyaan Snow White. Dari kecil aku menyukai gaun model putri kerajaan.”


Wajah Austin berubah menjadi ceria ketika ia mendengar Ramona memilih gaun yang mirip dengan dongeng kesukaannya.


“Benarkah? Aku sudah tidak sabar melihatmu memakai gaun Snow White. Kamu pasti akan kelihatan cantik. Nanti aku akan mengajak teman-teman menjadi kurcacinya,” ujar Austin terkekeh.


Ramona kembali tersenyum mendengar ucapan Austin. Berada di dekat Austin selalu membuatnya lebih rileks dan nyaman, berbeda jika dia bersama Edgar.


Austin mulai menguap karena pengaruh obat yang diminumnya.


"Austin, kamu harus tidur sekarang,” ujar Ramona menyelimuti Austin.


“Baiklah, tetapi jangan tinggalkan aku, Mona,” pinta Austin merengek.


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Malam ini, aku akan menginap di sini untuk memastikan kamu baik-baik saja.”


Ramona pun menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi, berusaha mencari posisi yang nyaman. Melihat Ramona memejamkan mata di kursi, Austin menjadi tidak tega.


“Mona, bagaimana kalau kamu tidur di sampingku? Aku tidak mau tubuhmu pegal karena tidur sambil duduk seperti itu. Takutnya besok badanmu sakit dan kamu tidak bisa mengajar di sekolah,” ujar Austin memberikan ide.


“Tidak, ranjangmu kecil, Austin. Jika aku tidur di sebelahmu, pasti pergerakanmu akan terganggu,” tolak Ramona.


Austin memikirkan cara agar Ramona mau menyetujui tawarannya. Dia berpura-pura melihat ke jendela kamarnya kemudian bergidik ngeri.


“Mona,” lirih Austin memegang erat tangan Ramona.


“Kenapa, Austin? Ada yang sakit?” tanya Ramona cemas.


“Lihat ke jendela! Ada bayangan hitam. Itu pasti hantu. Dia akan memakanku ketika aku tidur,” ujar Austin berpura-pura ketakutan.


“Tidak ada hantu yang akan mendekatimu, Austin. Tidak ada bayangan sama sekali di jendela.”


“Ada, Mona. Kumohon, temani aku supaya hantu itu tidak memakanku. Kalau kamu tidak mau tidur di sampingku, aku akan begadang sepanjang malam,” ujar Austin bersikukuh.


“Baiklah, aku akan tidur di sampingmu. Geserlah sedikit,” jawab Ramona mengalah.


Ramona akhirnya naik ke atas ranjang dan tidur di samping Austin. Melihat sikap Austin yang kembali seperti anak-anak, Ramona merasa lega.


“Aku sudah menemanimu, sekarang tidurlah, Austin,” ujar Ramona.

__ADS_1


Austin berpura-pura memejamkan matanya. Ia tidak bergerak sampai Ramona tertidur lebih dulu. Setelah Ramona tidur nyenyak, Austin membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


‘Mona, jika Tuhan memberiku satu kesempatan untuk memohon, aku akan memintamu menjadi pengantinku,’ batin Austin.


__ADS_2