Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang

Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang
Episode 12


__ADS_3

“hey hey, apa yang kau lakukan pada Kotori-ku...! yah, pertama-tama maaf karena aku terlambat, bocah.”


Akira terlihat seperti manusia 29 tahun pada umumnya, tidak lebih tua ataupun lebih muda daripada itu. Tapi dibalik penampilan itu adalah kenyataan bahwa Ageless turut berperan di dalamnya-- yang menghentikan penuaan Akira begitu kolom level pada statusnya menunjukkan angka 200—bahkan lebih. Umur Akihara Karasu yang sebenarnya bahkan sudah lebih dari 2000 tahun.


“jangan memanggilku ‘bocah’, dan coba baca situasinya, bedebah.”


Meskipun usianya jauh lebih tua, dibandingkan dengannya aku juga sudah melewati level 200 dalam statusku. Jadi paling tidak aku sebanding dengannya dalam hal ini, dan aku juga tidak akan suka jika orang seperti dia memanggilku dengan ‘bocah’.


“ahaha~!” dia tertawa dan merangkulku. “kalau soal itu, aku sudah tahu dari Ciel!”


Aku melirik Feyrish yang bertukar sapa dengan Kotori yang sedang mengelus-elus telinga kelincinya dengan mata berseri-seri.


“maksudmu?” tanyaku.


“maksudku, aku sudah tahu situasinya, termasuk kenapa perang yang seharusnya jadi seperti ini.”


“jadi apa yang kau pikirkan tentang itu?”


“jadi kupikir akan bagus jika kami membantu.”


“.... maaf, akan kuganti pertanyaanku— apa ada benda di kepalamu yang berwarna merah muda dan biasa orang pakai untuk berpikir?”


“hmm... apa volumenya sekitar 1.350 cc?”


“ya.”


“apa benda merah muda itu terdiri dari 100 juta sel saraf atau neutron?”


“ya.”


“terakhir, apa itu disebut otak?”


“ya.”


“seperti yang kau tahu, aku memilikinya, begitu juga denganmu, Feyrish, dan yang lain... nah, apa kau tahu? Untuk otak android seperti Kotori, itu sebenarnya—duk!”


Tiba-tiba muncul benjolan di kepala Akira, dan Kotori sudah berada di belakangnya.


“master, kita setuju untuk tidak membicarakan itu beberapa hari yang lalu!”


Telinga kelincinya jadi lesu dan pipinya menggembung seperti anak kecil yang cemberut. Dalam beberapa alasan, itu imut, atau mungkin lucu.


“ahaha, maaf maaf, Kotori, belakangan ini aku jadi mudah lupa.”


Meskipun sifatnya seperti ini, penampilan Akira adalah 180% seorang berandalan dan -80% seorang jenius. meskipun begitu Akira adalah petualang rank SSS dan satu-satunya pemilik class “Relix Crafter” dalam sejarah enfinity. Dia ahli dalam alkemia sekaligus pengguna scared ability yang disebut “Material Combiner”.


Akira adalah manusia yang dipanggil ke dunia ini sama seperti Kazuhiro dan aku, tapi dengan waktu yang jauh berbeda.


Dengan kemampuan yang dia miliki Akira menciptakan tak terhitung relix termasuk helikopter dan berbagai senjata api yang dia lihat di dunia asalnya.


“nah, pokoknya dengarkan aku dulu, Aria... kau juga, Dwarf king, dengarkan dulu alasanku.”


“pada akhirnya itu cuma alasan, huh...” gumamku.


“hahah~, kau benar. Pak tua ini akan mendengarkan.”


“yah, ekhm... jadi, alasan kenapa aku menyerangmu adalah—duk!”


Sekali lagi, muncul benjolan baru di kepalanya. “—Kotori, kali ini tidak ada hubungannya denganmu kan?”


Kotori memalingkan wajahnya. “meskipun itu bukan aku, hmph~.”


Setelah itu, terdengar keributan. Bersama benda-benda keras dan tumpul yang dilempar dengan Akira sebagai targetnya.


“Bangsat, apa yang kau lakukan pada raja kami!!!”


“mati saja kau, bedebah!!!”


“Akiraa!! Apa yang tiba-tiba kau lakukan!!!”


“aku tidak percaya ini. orang itu benar-benar gila.”


Dan semacamnya.


Tapi orang itu hanya menggaruk kepala belakangnya seperti orang bodoh, dan dengan tenang berkata:


“ahahah~ yah~ sudah kuduga akan jadi begini... kalau begitu kuserahkan padamu, Aria.”


*clik


Dengan satu jentikkan jari, dua pohon besar tumbuh membentuk cabang-cabang mirip jaring yang melindungi kami dari amukan penonton.


“nice.” Dia acungkan jempolnya padaku. “sankyuu”


Akira melanjutkan.

__ADS_1


“nah, waktu itu ketika aku bertanya, Ciel menjawab... ekhm~.... .... .... apa ya?”


.... Kau lupa? sudahlah, tidak akan gunanya mendengarkan orang ini.


Tapi kemudian terdengar suara kecil, yang dalam beberapa alasan itu imut, atau mungkin lucu.


“kak Ciel bilang begini: ‘perangnya telah jadi pertarungan antar para raja dan petualang rank SSS. Tapi untuk raja dwarf pertarungannya jadi dua lawan dua dengan satu petualang rank SSS. Dan diperbolehkan bergabung dengan sekutunya jika pertarungannya sendiri selesai’, begitu katanya.”


“nah, itu dia.”


“jadi, apa yang kau pikirkan tentang itu?”


“jadi kupikir akan bagus jika kami membantu.”


“maaf, kuganti pertanyaanku. Apa di kepalamu ada benda merah muda---”


Tidak, tidak.


Kugelengkan kepalaku satu, dua kali dan melanjutkan.


“ekhm~ apa benda merah muda di kepalamu yang volumenya sekitar 1.350 cc dan terdiri dari 100 juta sel saraf atau neutron bisa dipakai untuk berpikir?”


“nah, biarkan aku bicara dulu sampai selesai. Jangan menyelaku oke?”


“jangan menyelamu, katamu? Jadi kau mau bilang kau punya alasan yang bisa membantumu, huh?”


“ekhm~... peraturannya adalah raja elf melawan satu petualang rank SSS sedangkan raja dwarf melawan satu petualang rank SSS ditambah satu orang yang bukan rank SSS, dan diperbolehkan bergabung dengan sekutunya jika pertempurannya selesai, apa aku salah?”


Tidak ada satupun dari aku, Feyrish, Zack, Yuna ataupun Kotori yang memberi persetujuan atau penyangkalan langsung atas pernyataan Akira, tapi aku menyetujuinya dalam hatiku.


“kalau begitu tidak ada yang akan menyalahkan jika aku dan Kotori bertarung menggantikan kalian. Dengan kata lain, di saat itu juga pertempuran kalian berakhir... yang berarti...”


Aku dan Feyrish bisa bergabung dengan Kazuhiro, begitu?


Tidak, tidak tidak.


Dilihat dari manapun ini tidak adil. Bahkan jika Zack atau Arthur akan entah bagaimana setuju jika kami terus memaksakan argumen ini pada mereka... meski begitu, ini tetap saja bukanlah cara yang kami inginkan.


Tapi... jika aku menolaknya, kemungkinan Zack dan Yuna mengalahkan kami sangat besar. Dan jika mereka berdua membantu raja elf melawan Kazuhiro, kemungkinan besar—tidak, tidak salah lagi, Kazuhiro tidak punya pilihan selain menerima kekalahan.


Yah, pertama-tama mari kita lihat reaksi pihak yang dirugikan— sebagai raja dwarf, Zack Pentacraft.


“hh--” dia menahan perasaan ingin tertawa, dan melepaskannya dengan bebas.


‘hnh~’ Akira mendengus, menaikkan rambut depan dengan tangannya, dan mencoba berkata dengan keren.


“jadi kau mengenalku, pak tua...”


Benar-benar, orang ini, melihatnya sebagai teman seperjuangan membuatku merasa aneh dalam berbagai hal.


“ini adalah hari keberuntunganmu karena bisa melihatku sedekat ini. Ya, aku adalah seseorang yang terkenal sebagai penggila tantangan, tak ada seorangpun yang tidak mengenalku di benua ini, dengan kekuatan dan kemampuanku yang tak seoranpun pernah miliki, seorang petualang rank SSS, Akihara Karasu!”


.... ..... .... huh, aneh, tidak ada apapun yang terjadi, bukankah barusan dia habis membaca suatu mantra atau semacamnya? Atau itu cuma imajinasiku? Jadi kata-kata aneh apa yang baru saja dia ucapkan?


Aku hampir saja melihat ledakan di belakang Akira setelah mantranya diucapkan, tapi aku sadar itu tak lebih dari sekedar imajinasi.


“hey, Kotori, bukankah kau bilang akan menyalakan ledakannya kali ini? aku jadi terlihat seperti orang bodoh.”


“aku ingin melakukannya, tapi... setelah melihat master yang seperti orang bo—sangat keren, aku jadi tidak yakin apakah aku masih ingin melakukannya.”


“ya ampun. Ini sudah ke-13 kalinya. Tapi jika kamu bilang begitu, aku yakin orang lain juga menganggapku seperti itu—sangat keren, huh...”


Sangat keren, hah... bukankah tadi dia hampir bilang bodoh? Aku takjub dengan bagaimana orang ini bisa punya rasa optimis sebesar ini. apalagi kau bilang ini sudah ke-13 kalinya kan? Tidakkah kau mulai merasa Kotori melakukan ini dengan sengaja? Lihat itu, Aakira, dia menertawakanmu diam-diam.


“berikutnya, aku akan benar-benar melakukannya, master~!”


Lihat, dia bahkan tidak menyembunyikannya rasa senangnya.


Bukankah kau benar-benar menikmati ini, Kotori? Aku yakin dia tidak ada niatan untuk benar-benar menyalakan ledakan di waktu berikutnya.


Lagi pula apa itu penting? Kenapa aku mulai memikirkan ini?


mungkin karena aku berada di dekat Akira, aku jadi memikirkan hal-hal bodoh.


Sedikit—bukan, agak sedikit? Bukan juga. aku sulit memperhitungkan ukurannya karena Yuna berusaha menahan perasaan itu. perasaan amarah yang meluap melalui setiap kata yang dia ucapkan.


“kita tidak bisa menerima ini, papa! Pertarungannya akan jadi 5 lawan 3! Ini jelas sekali penipuan!”


Gadis berambut hitam itu mengambil beberapa langkah dan berhenti di depan Akira, kemudian menginjak kakinya. Melihatnya saja aku bisa membayangkan rasa sakitnya. Bagaimanapun juga kau bisa melihat Yuna memakai buff hanya untuk melakukan itu.


Tiba-tiba Kotori berdiri di depan Akira dan merentangkan kedua tangannya.


“jangan sakiti master!” katanya.


“ap-apa-apaan loli ini... a-aku cuma--”

__ADS_1


Perlahan-lahan, tanpa menunjukkan sedikitpun perasaan jengkel, Akira memegang bahu Kotori.


“tidak apa, Kotori, lagipula ini tidak sakit.”


“tapi—“


Akira tersenyum-- senyuman tulus yang tidak didasari dengan sedikitpun paksaan.


Melihat itu Kotori menundukkan kepalanya, telinganya menjadi lesu sampai dia menyingkir dari depan Akira.


“Yuno, ya? maafkan aku karena kelakuan Kotori.”


‘puk’ Akira menepuk kepala Kotori dan meminta maaf.


“meskipun kau meminta maaf seperti itu, aku tidak akan menarik kata-kataku.”


Yuna menggertakkan gigi dan kepalan tangannya.


“Seperti yang kamu bilang, mungkin ini tidak adil bagimu karena jumlahnya jadi tidak seimbang. Tapi bukan berarti ini menyalahi aturan. Jika kamu mengatakan ini tidak adil karena kami menggunakan trik kotor, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi di sisi lain, aku juga bisa melakukannya dengan paksa. Aku bisa memaksamu untuk menerima ini.”


Penampilan Akira jadi lebih menakutkan dari biasanya—tidak, bukan penampilannya... lebih tepatnya adalah keberadaan Akira itu sendiri.


Dengan skill【Intimidation】lebih tepatnya.


Karena skill ini Yuna menjadi pucat dan kehilangan kekuatannya, hingga 2, 3 detik kemudian kakinya menjadi lemas sampai dia jatuh berlutut di depan Akira.


Targetnya tidak lain adalah Yuna dan Zack.


Melihat putrinya berlutut di depan musuhnya, Zack, hanya berdiri melihatnya dengan wajah kecewa pada dirinya sendiri karena tidak mampu menolong putrinya meskipun dia berada di dekatnya.


Meski begitu raja dwarf masih sanggup berdiri dengan baik.


Zack telah mencapai level 180, meskipun berada puluhan level di bawah Akira perbedaan itu masih jauh lebih baik dibanding level Yuna.


“aku tidak bisa memakai【Intimidation】terlalu lama, pergilah sekarang juga. Feyrish, Aria, serahkan saja ini pada kami.”


“master dan aku akan mengalahkan mereka!”


Dan dengan begitu, kemungkinan menang kami akan meningkat.


Tapi apa tidak apa-apa seperti itu? aku tidak begitu yakin apakah ini adalah cara yang baik dan benar, tapi di sisi lain aku yakin hal ini juga bukanlah sesuatu yang salah. Jika aku berpikir untuk kemenangan negeri petualang maka tidak salah lagi ini adalah pilihan terbaik di antara yang terbaik. Tapi jika memikirkannya seperti itu, apakah pada akhirnya ini benar-benar pilihan yang baik untuk diambil?


Maksudku, jika negeri petualang menjadi pemenang dengan cara seperti ini, apakah setelah itu kerajaan elf dan kerajaan dwarf masih punya setidaknya sedikit kemauan untuk menyatukan kekuatan dengan kami?


--- Untuk menghadapi ragnarok enfinity perlu bekerjasama dan menyatukan kekuatan mereka, tapi dengan keadaan Verdernia yang sudah menjadi seperti ini mereka tidak punya pilihan selain menerima takdir mereka untuk mati tak berdaya. Enfinity pergi tanpa kemungkinan menang dalam diri mereka, dan pada akhirnya mereka tidak punya pilihan selain mati di hadapan ratusan ribu aether dalam gelombang. mereka akan dihancurkan dalam pertempuran akhir.


Untuk mengubah takdir sialan itu, sebuah kelompok akan berdiri dan melawan.


Tanpa kusadari aku sudah tenggelam dalam pikiranku, di saat itu Feyrish menarik bajuku.


“Aria!.”


“ah, aku hampir lupa, apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”


Dengan cahaya di matanya, terbentuk tekad dalam dirinya yang dia keluarkan melalui potongan-potongan kecil kata-kata.


“aku ingin bertarung! aku ingin menyelamatkan kakakku! Aku ingin menyadarkannya dari semua ini! aku ingin menariknya dengan paksa dari sebuah jurang gelap tempat kakakku terjatuh! Aku ingin mengeluarkannya dari sebuah kotak yang mengurungnya selama hidupnya! aku ingin... aku ingin... untuk itu, tolong lakukan ini denganku! Karena aku lemah, aku tidak punya pilihan selain memintamu untuk membantuku! Ya, aku lemah, Aria. Aku begitu lemah, kekuatanku tidak cukup untuk mewujudkan semua keinginanku.”


Hembusan angin melewati rambutnya dan mulai menggurai mereka seperti hal itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Cahaya yang bersinar di matanya memantulkan bayangan diriku di dalamnya. Dan dia berkata:


“jadi, kali ini juga, kumohon.... bertarunglah di sampingku.”


tiba-tiba muncul keinginan untuk tertawa. ‘bertarunglah di sampingku’ katanya.


pertama kali kita bertemu empat tahun yang lalu, kau pikir enfinity hanya dibagi menjadi mereka yang berada di atas dan di bawah orang lain.


Pada awalnya, aku yang pertama kali mengatakan itu padamu:


‘aku tidak bekerja di atas atau di bawah orang lain. Tapi jika kau mau, bertarunglah di sampingku’


Dan pada akhirnya kita jadi seperti ini.


seperti apa yang kamu katakan waktu itu:


‘jika berpisah dengan orang yang kamu sayangi begitu membuatmu sedih, aku akan berada di sisimu selamanya.’


“tidak ada yang lucu! Ja-jangan menertawakanku!”


aku mendengar seseorang berkata: “cepatlah, bocah, aku tidak akan menahan mereka lebih lama lagi!” “sst~ diam dulu, master, biarkan mereka bicara dulu.”


Kuulurkan tanganku.


“ayo.”


Aku melihat mata Feyrish seolah membesar untuk beberapa saat. mungkin cuma imajinasiku, tapi dia terlihat lebih manis saat ini.

__ADS_1


__ADS_2