
Aku melihat kobaran api di pedangku—warna hitam yang lebih menakutkan dibanding apa yang telah ada sebelumnya.
Kugunakan pedang ini—api ini, untuk memotong Arthur beberapa kali seperti pembalas dendam yang gila kerana membalaskan dendamnya. Satu, dua kali... tidak, seranganku tidak berhenti di satu atau dua kali, itu akan terus berlanjut hingga 10 sampai 20 kali. Aku bahkan bisa lebih banyak lagi dari ini jika aku mau, tapi segera kuhentikan serangan itu pada tebasan ke-22.
--Apa gunanya melukai seseorang yang tidak bisa mati? Tidak ada, ya kan? Takkan ada artinya jika aku hanya menyerang tanpa membuahkan hasil apapun.
Bahkan jika seranganku terus berlanjut, apanya yang akan selesai? Apa Arthur akan menyerah hanya karena rasa sakit?
Tidak, dia bukan tipe orang seperti itu.
Kugenggenggam pedangku dengan kuat, kutarik pedang itu dari tempatnya saat ini tertusuk, dan menikamkannya kembali di dada Arthur, tepat satu titik di jantungnya.
“percuma, Aria. aku tidak peduli kenapa kau bisa tiba-tiba sekuat ini. tapi sekuat apapun dirimu yang sekarang, apapun yang kau lakukan padaku, semuanya percuma.”
Dia hanya tersenyum dengan licik bahkan setelah aku menusuk jantungnya.
“Kau tidak akan mati, Arthur, tidak peduli sebanyak apapun aku menyiksamu... Tapi itulah bagian terbaiknya.”
“?!”
Memahami maksudku, dia meronta untuk melepaskan pedang itu darinya.
“giiranku untuk mengatakan itu—percuma, anjing kampung.”
Seketika, tubuhnya terbakar dalam kobaran api hitam pekat. Ia meronta-ronta karena rasa panas yang dideritanya.
Aku tersenyum seperti iblis. Aku sendiri sadar aku membuat senyuman seperti itu, tapi tidak salah lagi aku menikmatinya.
- bencilah dunia ini.
- bencilah semua hal di dunia ini.
Benar. Aku termakan kebencian dalam diriku. Tapi tak apa. Aku benar-benar menikmatinya seperti ini. rasanya menakjubkan. Baru pertama kali aku merasakan sesuatu semenakjubkan ini dalam hidupku.
tiba-tiba aku tenggelam dalam kegelapan. Dalam sebuah jurang yang tidak ada apapun di sana. Tidak bisa melihat apapun. Gelap. Sebuah tempat yang digambarkan dengan warna hitam sejauh apapun kau melihat.
tangan yang kupakai untuk memegang pedang, kaki yang kugunakan untuk melangkah... aku tidak merasakan semua itu.
Mungkin ini hanya imajinasiku. Mungkin ini hanya ilusi atau sesuatu semacam itu.
Tapi... tiba-tiba aku merasakan kehangatan pada sebuah tempat yang sulit dijelaskan, seolah seseorang sedang memegang dengan lembut kedua tanganku. Tapi kehangatan itu tidak tertelak pada tempat yang jelas karena aku tidak memiliki telapak tangan untuk digenggam.
Seketika, cahaya yang menyilaukan terlihat di depanku. sulit untuk menjelaskan apakah apa yang dimaksud dengan depan itu berada dalam jarak yang dekat atau jauh, tapi dengan jelas sebuah cahaya menyinari dunia gelap yang mengurungku ini.
“seperti yang diduga dari dunia fantasi. Tidak biasanya kau termakan perasaanmu sampai seperti ini, Aria.”
Suara yang mengingatkanku pada masa lalu, penampilan yang nostalgia.
Hajime....?
“seperti yang kami bilang sebelumnya, jika itu Aria pasti bisa menemukan teman-teman baru, bahkan setelah kami meninggalkanmu. Jaga baik-baik teman-temanmu itu, Aria.... kekasihku... yang sangat kucintai...”
Tanpa sadar aku mengulurkan telapak tanganku.
--- aku yakin sensasi anggota tubuh ini tidak ada sampai beberapa saat yang lalu. Tapi tidak lagi sekarang.
Hajime...
Kyoka....
Sebuah dunia tanpa kalian berdua di dalamnya.... terasa sangat sulit dan menyakitkan.... tapi aku harus bisa menahannya, kan? Perasaan ini..
“Aria!”
Ketika kubuka kedua mataku, kugerakkan kepalaku ke samping, pemandangan yang terpantulkan di dalam mata itu adalah mata tertutup milik seorang gadis elf berambut merah muda, yang memelukku dengan erat.
Kazuhiro mencoba dengan sekuat tenaga untuk menarik tangan kananku yang memegang pedang berapi hitam. Hingga pedang berapi hitam itu padam meninggalkan warna violet yang gelap. ketika aku menariknya, wajah Kazuhiro dan Arthur berubah menjadi lega.
Aku melihat Arthur menggertakkan giginya dengan kuat sebelum melakukan teleport beberapa saat setelah itu.
“beraninya kau...! sampah sepertimu...!”
Dia memegang tempat pedangku tertusukkan beberapa saat sebelumnya dengan amarah selagi menggertakkan gigi-giginya dengan kuat.
Sang wanita di belakang Arthur mengumpulkan pilar-pilar cahaya yang kemudian berkumpul di mulutnya.
Ini...
Auman ketiga.
Begitu, huh...
Perlahan aku menyingkirkan Feyrish dengan menarik pundak gadis itu, dan kami saling bertatapan mata beberapa saat.
‘aku khawatir padamu... jangan membuatku merasa seperti ini lagi, bodoh.’
Kata-kata seperti itu tersiratkan dari matanya.
“tidak apa. Aku tahu itu. aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.... aku akan segera menyelesaikan ini, jadi tunggu aku sebentar lagi.” jawabku.
aku melangkah untuk melihat Kazuhiro.
“jaga Feyrish untukku. Seranganku berikutnya mungkin akan mengenainya.”
“... maaf, aku tidak bisa membantumu. Dan... .... jangan ceroboh.”
Aku mengangguk satu kali. “yah.” Jawabku singkat.
Kazuhiro mundur beberapa langkah, menempati tempat kosong di samping Feyrish. Aku menatap Arthur yang berada jauh di depan kami dan membuka mulutku untuk membentuk kata-kata.
“mari kita akhiri ini, elf king.”
“seperti katamu, lenyaplah saat serangan berikutnya mengenaimu... ... hancurkan, hancurkan, hancurkan, gerbang pembuka langit. Uangkapkan, ungkapkan, ungkapkan, kebenaran di baliknya.”
“aaaaaahhhh!!”
Terdengar dengan jelas auman sang wanita di belakangnya. Perlahan aku mengangkat pedangku ke langit, kemudian menggenggamnya dengan kedua tanganku. Kobaran api menyala-nyala sepanjang bilah panjang violet gelap-nya.
《Black-White Flame—kemampuan untuk memurnikan.》
Kobaran api itu menyala lebih besar dari biasanya. Terus membesar mencapai ukuran yang jauh dari kata normal, seakan membentuk pedang raksasa yang terbuat dari api.
__ADS_1
Sang wanita melepaskan kumpulan pilar cahaya dalam satu auman.
“【Asterial Stlye: First Form: Starlight Splitter Sword】!!”
*zsaaaaaaaaaaaaa!!
“AAAAAAAAAA!!”
Sedikit lagi!
*zaaaaaaaaaaash!!
aku menang!
“....?! bahkan kali ini! kekuatan semacam itu...!!” teriak Arthur.
Sembari berlari, aku melihat jendela persegi muncul di depanku.
『bentuk pedang baru telah terbuka!』
『apakah kamu ingin merubahnya?』
『Yes/No』
Masuknya informasi baru ke pikiranku pasti adalah efek dari apa yang baru saja aku dapatkan itu.
‘ya’ aku menjawab dalam pikiranku. Dan seketika, pedangku berubah.
--《Fairy Sword Form: Second Form: Antimagic Sword》—
Tertulis di jendela persegi transparan.
Dash.
“?!”
Sesaat kemudian aku berdiri di depan Arthur seperti seorang swordman yang siap menusukkan pedangnya pada musuh.
“ini akhirnya...”
Pedang yang berubah memiliki bentuk yang berbeda dengan cahaya hijau giok di dalamnya. Pedang yang bersinarkan cahaya redup itu menusuk di tengah dada Arthur Earlyspring. Aku bergumam:
“Fairy Sword’s equipment ability: system release... Jade Light Horizon, Sealing Magic art.”
Pedang giok bersinar lebih kuat. pohon bercabang tumbuh membatasi gerakan Arthur Earlyspring dengan Fairy Sword yang tetap tertancap di dadanya. Kristal bercahaya giok menjadi simbol sekaligus pusat dari pohon itu.
--- ---
Ahh, benar juga— tanpa sadar aku memakai equipment ability Fairy Sword untuk kedua kalinya hari ini.
Melelahkan... rasanya... aku sangat... mengantuk...
Epilog
Apa ini? cahaya?
yah, benar. Aku hilang kendali dan pingsan.
Ketika kubuka kelopak mataku, hal pertama yang kulihat adalah langit-langit yang familiar. Aku menoleh ke kanan dan kiriku untuk melihat seorang gadis yang tertidur dengan kepala dan kedua tangannya tergeletak di kasur yang sama dengan yang saat ini aku tempati.
rumahku dan rumah Feyrish, yang kami tinggali sejak 2 tahun yang lalu.
Aku membuat beberapa hiotesis untuk pertanyaan ‘apa yang terjadi setelah itu’. jika aku merangkumnya dengan singkat maka akan jadi seperti ini: seseorang—atau mungkin beberapa orang membawaku dengan teleportasi dan menidurkanku di tempat ini. gadis ini, Feyrish, bergantian dengan seseorang—atau mungkin beberapa orang untuk menjagaku sampai aku bangun.
untuk lebih singkatnya lagi, yah, katakan saja mereka mengkhawatirkanku.
“mwmmwmm~”
Seperti yang bisa dilihat dari wajah tidur Feyrish, dia tertidur seperti seorang gadis yang kelelahan. Apa dia sudah istirahat dengan benar? Aku mengelus rambutnya, merasakan kelembutan yang tidak akan dia biarkan aku lakukan ini saat dia bangun.
“hmmm...?”
Mata kami bertemu. Cahaya pagi dari jendela menyinari wajah kami masing-masing. Seorang gadis elf berambut merah muda melihat wajah pemuda manusia berambut putih dengan mata yang berkaca-kaca. Maksudku, mata itu tidak terlalu basah sampai beberapa saat yang lalu, tapi dia mulai melihatku dengan mata yang berkata ‘syukurlah, kamu baik-baik saja!’ dengan air mata tepat setelah itu.
“selamat pagi, Feyrish.”
“... a... a-a-aku... selamat--!”
“maaf membuatmu khawatir. Terimakasih sudah menjagaku”
*buk
Kedua tangan Feyrish merangkul perutku bersamaan dengan wajahnya yang menabrak dadaku dengan keras.
“Fe-Feyrish?”
“bodoh.”
“ta-tapi, ini--”
“kubilang diam dulu, bodoh.”
Kapan kamu bilang begitu? Ya ampun. kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. apa yang terjadi waktu aku pingsan?
“aku khawatir padamu, bodoh. Kupikir kamu akan meninggalkanku kali ini.”
Dia memulai pembicaraan, tapi aku tidak bisa melihat mukanya yang terpendam di dadaku sama sekali.
“nah, Feyrish, berapa lama aku pingsan? Ahh! Sakit!”
“kubilang diam dulu!”
Tiba-tiba aku merasakan rangkulannya menjadi beberapa kali lebih kuat. Sepertinya tidak ada pilihan selain menurutinya.
“aku menjagamu tiga hari. Sejak saat itu aku terus menjagamu tiga hari penuh. Aku selalu memegang tanganmu karena cemas. Bu-bukan begitu! Aku hanya memastikan apakah tubuhmu masih hangat, oke? Jangan salah paham dulu!”
Aku tidak salah paham terhadap apapun. Dan juga, kau menjagaku tiga hari penuh? Bukankah itu berarti kau tidak istirahat sama sekali? mungkin kau tidur di sini seperti beberapa saat yang lalu, tapi itu tidak bisa disebut istirahat dengan benar, kau tahu?
itu, bagaimana mengatakannya...
“terima kasih, Feyrish, karena sudah menjagaku.”
__ADS_1
“...”
Dia tidak memperkuat rangkulannya atau melakukan apapun yang menyakitkan. Sebagai gantinya, dia hanya diam sambil tetap membenamkan mukanya di dadaku.
“dulu...”
Feyrish memulai pembicaraan.
“dulu...? ahh! Sakit!”
Feyrish menarik dan memperlihatkan muka merahnya, mata kami saling bertemu setelah itu.
“dulu, tiga tahun lalu!” bentaknya.
Ahh! Kenapa kau semarah itu?
“kamu pernah bilang begini padaku: aku adalah aku, Feyrish adalah Feyrish, kita tidak sama.”
“...”
Yah, itu.... aku masih ingat tentang itu, tapi aku memilih untuk tetap diam dan mendengarkan.
“tapi... setelah melalui banyak hal denganmu, aku tahu kalau itu tidak benar.”
Apa yang sebenarnya ingin gadis ini katakan? kenapa dia membahas itu sekarang? itu sudah lama sekali sejak saat itu. aku tidak ingat kenapa aku mengatakan hal ini pada Feyrish.
“kau tahu, Aria? aku sudah lama memikirkan ini... aku bukan diriku jika bukan karena ada kamu di sisiku, aku bukan diriku jika tanpa kamu! jadi, aku ingin Aria juga beranggapan seperti itu.”
Beranggapan seperti itu...
Aku mengulanginya dalam pikiranku.
“maksudmu...?”
“maksudku, Aria juga harus memikirkan hal yang sama denganku. Maksudku... ah, maksudku itu...”
Aku melihat Feyrish yang gelisah karena tidak menemukan kalimat yang tepat untuk mengatakannya.
memikirkan hal yang sama denganku...
Aku mengelus rambus Feyrish sekali lagi.
“... tidak apa, aku tahu.”
Dia melihatku dengan penuh harapan di matanya.
“Aku juga bukan diriku jika tanpa Feyrish. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan itu 3 tahun yang lalu. Tapi seperti katamu, itu tidak seperti itu. kata-kata itu tidak benar, ya kan? apa yang kamu inginkan dariku untuk menebusnya?”
“...huft~”
Feyrish menahan keinginan untuk tertawa. Aku penasaran dengan apa yang sedang dia pikirkan tentang ini.
“hehehe...”
Feyrish tertawa dengan imut, tapi tersembunyi sesuatu di baliknya. Mungkin itu adalah sesuatu yang benar-benar mengejutkan dan menakutkan, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya untuk sekarang.
aku keluar dari kamarku dengan Feyrish di sisiku. Semua orang melihat kami seperti pasangan raja dan ratu yang menyita perhatian semua orang hanya dengan berjalan.
Semua orang itu adalah si guildmaster berjaket merah, Kazuhiro.
gadis pendek bermbut biru di sebelahnya, Altina.
Raja dari kerajaan kuno yang tersegel dalam liontin di leher Altina, Blue.
petualang dengan penampilan acak-acakan, Akira.
android imut yang menjadi partnernya, Kotori
pria ras angel tampan berambut putih dengan setelan putih pakaian bangsawan, Reinhard.
Petualang ras demon berambut antara coklat dan jingga dengan ikat kepala berlambang api, Emiya.
Pria aneh dengan rambut berantakan dan perban di hampir seluruh tubuhnya, yang membawa boneka gadis kecil di tangannya, Eiri.
Gadis dengan teliga dan ekor rubah, setengah angel, Rishia.
Resepsionis dengan telinga dan ekor hamster, mengenakan seragam SMA dari dunia lain, Ciel.
Raja dwarf, Zack Pentacraft.
Anak perempuannya, Yuna.
Dan raja elf, Arthur Earlyspring.
Semua orang itu berkumpul di ruang tamu.
“kalian terlalu lama, ini sudah 3 hari, kalian tahu?”
Aku berjalan ke arah mereka.
Mungkin ini adalah awal dari perjuangan kami berikutnya. Suatu hal nyata yang selama ini aku cari, Kebenaran yang Feyrish Earlyspring inginkan, petualangan hebat yang Blue Heavensky harapkan, Kebebasan yang Zaikazuhiro Mamoteru ingin wujudkan, dan perasaan hangat yang Altina Wintergarden rindukan.
Semua itu adalah apa yang terbentang di jalan kami masing-masing, yang akan kami temukan untuk mengisi sisi kosong dalam hati kami maing-masing, sekaligus apa yang akan kami temukan dengan terus berjuang dengan tidak menyerah terhadap apapun.
Seperti itulah kami, para Argonaut.
__ADS_1
『』《》【】 【】『』