Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang

Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang
Episode 8


__ADS_3

“kau dengar itu? kita populer, Emiya!”


“dari awal kau memang sudah populer di kalangan para gadis, Reinhard.... apa kau tidak salah dengar kata ‘hanya Reinhard’ dengan ‘mereka berdua’?”


“aku tidak salah dengar! Lihat kenyataan, Emiya!”


“aku sudah cukup melihat kenyataan, kau tahu? Maksudku, kau tampan dan menyenangkan. Dibandingkan denganmu, aku... “


“bukan itu yang aku maksud!”


--- ----


“terserah. Aku mau pergi menyerang.” Izaya melesat dengan tombak di tangannya.


“tunggu, Izaya--” Erza yang khawatir tapi tidak sempat menghentikan Izaya tepat waktu, mengulurkan tangannya karena reflek.


“gahaha~ tuh bocah memang selalu begini.” Kata Grey dengan gembira.


“Baguslah! Seorang pria memang harus terbakar dalam kobaran api!” Lunath melihat kepergian Izaya dengan bangga.


“maksudmu bersemangat, kan?” Sting melihat Lunath dengan sinis. “lagian, kita juga selalu begini. Apa tidak ada yang mau membantunya?”


--- ----


*Klang!


Tidak seperti sebelumnya, kali ini Reinhard berada di posisi bertahan.


‘keunggulan tombak ketimbang pedang adalah jaraknya!’ Pikir Izaya.


‘Tapi ini juga tidak sama dengan yang tadi!’ pikir Reinhard.


Listrik mengaliri tanah yang jadi pijakan Izaya. Izaya mengambil satu lompatan ke belakang.


“Izaya!” “nak Izaya!”


Dua perisai dilemparkan di balik punggungnya. Izaya menangkap perisai yang lebih kecil dengan tangan kiri, mengunakan yang besar sebagai pijakan untuk melesat menuju Reinhard dan Emiya.


Perisai yang ia tangkap melindunginya dari ledakan yang Emiya sebabkan. Ketika Reinhard dan Emiya telah menghindari perisai yang seharusnya dipegang Izaya, mereka melihat di balik perisai itu, tapi tidak ada apapun di baliknya.


“kena kalian!”


Di setiap sisi, kelima jenderal menyiapkan serangan mereka masing-masing.


Reinhard dan Emiya saling melihat. Mereka menggunakan tanah sebagai pijakan untuk meluncur ke punggung partner mereka dengan cepat.


Dengan pedangnya, Reinhard menebas Sting, Lunath, dan Grey di udara. Emiya memukul Erza dengan tangan berapi dan memutar tubuhnya secara vertikal untuk menendang kepala Izaya dengan kaki yang juga mengandung kobaran api kemerahan.


Sting, Lunath dan Grey melindungi diri mereka dengan pedang dan perisai, namun dampaknya tetap mereka rasakan karena listrik yang mengalir melalui logam di senjata mereka.


Erza menghindari pukulan dengan jarak setipis kertas dan Izaya membentuk tangan menyilang untuk melindungi dirinya, namun kobaran api tetap melukai pipi Erza dan meninggalkan bekas luka pada tangan Izaya.


Reinhard dan Emiya pikir ini akan jadi kemenangan mereka, hingga ratusan sihir dan anak panah menyerang mereka dari segala arah setelah itu.


Ratusan penyihir membacakan sihir penyembuhan pada musuh. Pemandangan yang luar biasa.


‘kalian bercanda kan....’


‘ini akan jadi menyebalkan...’



- Chapter 11 -


Tanggal 13 bulan ke-12, kalender enfinity tahun 858.


Ada banyak medan yang beralih menjadi tempat bertempur para petualang.


Setelah lumayan lama bermain kejar-kejaran dengan Feyrish, Yuna mencapai lokasi hutan yang agak jauh.


Di hutan yang agak jauh itu terpantul pada matanya seorang elf berambut merah muda keluar dari balik pohon besar.


“Di sana.” Gumamnya.


Yuna mengejar elf berambut merah muda tersebut yang diduga adalah petualang rank SS, Feyrish Earlyspring.


Namun, waktu berlalu 3 menit setelah Yuna pergi. Di tempat yang sama Feysrish mengintip dari balik pohon besar.


“harusnya sudah aman.” Gumamnya.”waktunya coba itu.”


Melayang di tangannya, kartu misterius yang berputar dengan perlahan. Setelah melalui satu putaran kartu tersebut pecah menjadi serpihan kecil dan menghilang dari dunia ini. medan pelindung transparan membungkusnya dalam bulatan besar.


Feyrish tersenyum. “seperti yang diduga dari Blue. Dengan begini, semuanya akan berakhir dengan cepat.” Ia menekan item komunikasi di sakunya. 『Aria, ini aku. Akan kutembak gerobak persediaan makanan musuh sekarang. Sibukkan raja dwarf 5 detik dari... sekarang.』


『begitu ya... aku paham. Seperti katamu.』

__ADS_1


Menerima jawaban Aria sebagai konfirmasi, Feyrish memakai kacamata yang disebut Ethelier Crystal dan menarik anak panah di atas busurnya.


Tujuh kartu secara misterius melayang di sekitarnya.


Tujuh kartu itu adalah【magic card tingkat 3: Kecepatan suara, kekuatan super, Akurasi ultra, tak terlihat, tak terdengar, dan Ledakan besar】ditambah【magic card tingkat 2: mengunci target】.


Dia sedikit menaikkan bidikannya ke langit. Mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Kemudian...


*Hwsh!!


Sesuatu yang tak terlihat terbang melintasi langit.


--- ----


Di sisi lain. Di tempat Aria.


Seketika, tanaman berduri melilit ribuan orang yang menyerangnya. Mereka berteriak kesakitan dengan suara parau dan memohon untuk dilepaskan, tapi pria berambut putih ini hanya menaikkan kacamata dengan jarinya, seolah tidak peduli dengan rasa sakit ribuan orang tersebut derita. ‘seolah aku peduli saja’ ‘salahkan diri kalian sendiri’ kata-kata itu tersirat pada ekspresinya.


Setelah membersihkan para pengganggu ini, dia berteriak pada pria tua di depannya. “maju, pak tua!”


Targetnya, Zack Pentacraft, tersenyum dengan ‘hnh’, menunjukkan ketertarikkannya.


“seperti katamu!”


Dari tempat mereka, Aria dan Zack melesat dengan kecepatan tinggi.


Namun petualang rank SSS, Aria Horizon menggunakan dash untuk melampaui tempat Zack dalam sekejap, membuat mereka saling menunjukkan punggung mereka masing-masing.


*hwuush!


Deruan angin kencang behembus hingga akan menerbangkan lusinan orang di dekat Aria dan Zack jika lusinan orang itu tidak terikat dengan tanaman berduri.


Berkat serangan itu tubuh Zack berpisah menjadi 2 bagian. Dua bagian yang pecah itu lalu menyambung kembali seperti tidak pernah terjadi apapun pada tubuhnya. Zack berbalik menghadap Aria.


“ini sama dengan yang tadi. Kupikir kau akan menyerangku habis-habisan sebelum---”


Zack tersentak membuka matanya dengan lebar.


Pada jarak pandangnya, seseorang yang dia cari sudah menghilang dari lokasi yang seharusnya. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.


-- gerobak tempat meletakkan semua persediaan makanan telah sepenuhnya lenyap dari dunia ini. pandangannya jatuh pada kawah yang tebentuk sebagai tanda dari tanah yang telah hancur.


Dalam pelarian, Aria menekan item komunikasi di sakunya. 『misi selesai. Kazuhiro, suruh semua orang untuk mundur.』


『kubilang, misi kami sudah selesai, jadi suruh semuanya mundur.』


『bukan itu yang kumaksud. Begini lho. aku tahu Zack itu petarung yang luar biasa kuat.... bagaimana bisa orang seperti itu kalah secepat ini?』


『jadi kau mengenalnya, huh... katakan, apa yang kau tahu tentang kelemahan orang itu. 』


『kelemahan—begitu. Jadi kalian tidak mengalahkannya.... itu sudah agak lama sejak terakhir kali aku pergi ke kerajaan dwarf--』


『aku tidak butuh ceritamu. 』


『yah, baiklah. Jadi, itu? kelemahannya? Mana kutahu.』


『begitu. Yah, terserah... intinya, kami sudah menyelesaikan tugas kami, jadi suruh para petualang untuk mundur.』


『emm... kalian boleh bertarung lebih lama lagi, kau tahu? Aku sedang ada urusan di sini, dan ini bukan sesuatu yang bisa aku mundur begitu saja.』


『hooh~ begitu ya? kalau begitu biar kami saja yang mundur. nikmati saja urusanmu itu.... Ah, Zack dan putrinya barangkali ikut bermain denganmu jika kau terlalu lama di situ. Hanya ini yang ingin kukatakan: jangan mati.』


『hei, Aria! Jangan bercanda seperti itu! aku akan mati, kau tahu? Aku akan benar-benar mati jika harus melawan semuanya sekaligus!』


『....』


『hei, kau bercanda kan? aku benar-benar akan menangis sekarang! Jika kau lakukan itu aku akan menangis sekarang juga! Hei, Aria! jangan tinggalkan aku~u.』


『Kazuhiro, kau lama. Aku ambil komandonya dari sini.』


『ah? Tidak tidak tidak! Apapun asal jangan itu~u!.』


Menilai pemimpin yang sudah tidak ada gunanya, Aria Horizon mengubah arah komunikasi pada resepsionis guild petualang, Ciel Heart Amiella.


『Ciel, ini aku, Aria. Sambungkan aku dengan semua petualang di medan perang.』


『eh? Dimana Guildmaster? Bukankah harusnya dia yang--』


『sampah itu tidak berguna. Lakukan saja apa kataku.』


『ah, eh... baik! Tunggu sebentar....』


『... ...』

__ADS_1


『kamu bisa bicara sekarang. 』


Negeri petualang tidak menggunakan tanda seperti asap atau sesuatu semacamanya untuk berkomunikasi antar pasukan dalam perang kali ini. Untuk melakukannya, mereka memakai item komunikasi dan skill telepati sang resepsionis.


Meski begitu hanya Aria, Feyrish, dan Kazuhiro yang membawa item komunikasi itu.


Ketiga item itu adalah apa yang Aria dan Feyrish temukan di labirin Zefestia empat tahun yang lalu.


Tapi sayangnya jumlah itu terlalu kecil untuk semua pemimpin pasukan bisa gunakan.


Altina Wintergarden, Reinhard Ainsley dan Emiya Einsley yang ada di medan perang tidak memiliki item komunikasi dan tidak bisa memakai telepati.


Begitu juga dengan Shiba Eiri dan Rishia Celestiel yang memimpin pasukan menuju kamp pasukan negeri petualang.


Karena mereka tidak memiliki item komunikasi itu, para petualang di medan perang tidak akan memiliki cara untuk menghubunginya.


Tentu saja ada cara lain seperti mengirim asap sebagai sinyal, tapi hal tersebut tidak akan seefektif dengan penggunaan item komunikasi. Selain itu mengirim asap juga berarti membocorkan lokasi perkemahan pasukan kepada musuh, jadi mereka hanya menjadikan hal tersebut sebagai pilihan terakhir.


『Feyrish, Altina, Reinhard, dan Emiya. Tugas kalian selesai hari ini, jadi siapkan diri kalian untuk mundur.』


“apa kau dengar itu?” tanya Emiya.


“ya...” keringat dingin mengalir di pipi Reinhard. “Tapi akan jadi sulit.”


Lusinan luka baru terbentuk di tubuh mereka. sudah tak terhitung berapa banyak orang yang mereka kalahkan. Tapi tak peduli banyak apa Reinhard dan Emiya bisa membunuh musuh-musuhnya, akan ada ribuan orang lagi yang berdiri melawan mereka.


Bahkan selain ribuan orang itu akan masih ada 5 jenderal Pentacraft yang kemampuannya berada jauh di atas rata-rata prajurit lain.


Dengan semua itu sebagai lawannya, kemungkinan mereka selamat... nol. Tidak ada sama sekali


Jika ini merupakan permainan video game, dua pemeran pendukung ini layak mendapatkan akhir yang menyentuh setelah mengorbankan dirinya untuk melindungi sang pemeran utama atau menjaga hal yang berharga bagi sang pemeran utama itu. Mereka akan menyerahkan impiannya pada sang pemeran utama ini, lalu mati dengan bahagia. Seseorang mungkin menyanyikan lagu pengantar pada pemakaman mereka.


Tapi itu bukanlah akhir yang Reinhard Ainsley dan Emiya Einsley inginkan.


Jika mereka harus mati, mereka akan mati bersama.


Jika mereka harus mati bersama, maka itu adalah kematian untuk menjaga hubungan mereka satu sama lain.


Ini adalah video game dengan Reinhard Ainsley dan Emiya Einsley sebagai tokoh utamanya. Di dalam game inilah, di masa lalu, mereka mengikat perjanjian satu sama lain. Tidak satupun di antara mereka yang diperbolehkan mengingkari janji yang mutlak ini.


Namun, dengan tubuhnya yang dipenuhi dengan luka, darah mengalir di setiap tempat, Emiya tersenyum.


Pandangannya jatuh pada ribuan musuhnya dengan mata serius. Namun ia masih tersenyum seolah hal itu adalah sesuatu yang lucu.


“Mundur duluan, Reinhard. Serahkan semua sampah ini padaku.” Ia mengetuk dadanya dengan bangga. “mereka akan menyesal karena menjadikanku musuh mereka.”


Adegan heroik ini adalah kutukan. Mereka yang mengatakan itu kebanyakan berakhir dengan kematian.


Reinhard membelalakan matanya. Seorang pahlawan tanpa dia sadari telah berdiri di depannya.


Dalam situasi terburuk, seseorang harus dikorbankan untuk keselamatan seorang yang lain. Itu adalah pemikiran dari mereka yang memiliki seseorang yang begitu berharga untuk dilindungi. Tapi itu benar-benar kesalahan besar.


Mengumpulkan sejumlah kekuatan pada mulutnya, Reinhard berteriak.


---“Sudahlah hentikan semua ini!”---


Emiya terkejut karena itu, begitu juga seluruh prajurit lawan tanpa terkecuali. Saat ini, mereka menghentikan serangan untuk berfokus pada tatapan mata Reinhard.


“Kau itu selalu saja—selalu saja!” Reinhard menekan kata-kata pada mulutnya. Tapi kata-kata yang ia ingin katakan memaksa keluar dengan sendirinya. “Selalu saja menolongku di saat-saat seperti ini! kau selalu mementingkanku daripada dirimu sendiri!”


“...”


“nah, Emiya... apa kau tahu? Seperti apa perasaanku setiap kali kau bersikap seperti itu?”


“...”


“... rasanya sangat menyebalkan! Hal ini begitu menyebalkan, kau tahu?” ia menundukkan kepalanya dengan amarah yang hampir tidak bisa ditahan lagi. Gigi-giginya menggertak setiap kali kata-kata satu persatu keluar dari mulutnya.


“Kalau saja kau tidak ada... kalau saja kau tidak pernah dilahirkan di dunia ini... kalau saja... kalau saja... pada hari itu, kita tidak pernah bertemu...”


sesuatu menancap di dada Emiya. Ia tak kuasa menahan perasaan pedih yang menusuknya tiba-tiba itu. “maaf... Reinhard. Aku memang tidak tahu diri. Aku tidak tahu keberadaanku ternyata begitu menyebalkannya bagimu. Aku sungguh minta ma--”


namun, sebelum kalimat yang ingin Emiya katakan selesai Reinhard memotong kata-kata itu.


“nah, apa kau tahu? Aku berfikir begitu karena kupikir, aku takkan pernah bisa membalasmu. Sekeras apapun aku mencoba, aku takkan jadi sepertimu.”


“...!”


“aku juga ingin menyelamatkanmu sesekali--! Tidak, berulang-ulang kali! Aku ingin terus-terusan berdiri di depanmu! untuk melindungimu, Emiya.”


Reinhard berjalan perlahan. Langkahnya berhenti pada sebuah tempat kosong di hadapan Emiya.


“kali ini giliranku...” ia mengangkat pedangnya tanpa sekalipun melihat seseorang di belakangnya. “ini adalah giliranmu untuk melihat punggungku, Emiya.”


‘kapanpun tidak apa jika aku mati, jika itu untukmu.’ Perasaan seperti itulah yang tertanam pada hati seorang petualang bernama Reinhard Ainsley itu.

__ADS_1


Namun tidak pernah sekalipun ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan kesiapan hatinya yang penuh dengan kenaifan terrsebut.


‘Tapi, kali ini...’ pikirnya. ‘adalah waktunya...’


__ADS_2