Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang

Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang
Episode 15


__ADS_3

“Omong kosong apa yang kau bicarakan? Matamu buta atau ada yang salah dengan otakmu, pasti salah satu dari dua hal itu adalah kenyataan.”


Di belakangnya. 10 meter di belakang Aria kakakku berdiri dengan senyuman sarkastik sambil memutar tongkatnya seperti mainan.


Aria berbalik dengan cepat seakan suara itu memicunya untuk berbalik. Di pantulan matanya terdapat sosok seorang elf berambut emas yang telah dia potong lehernya beberapa saat yang lalu. Dia datang tanpa sedikitpun luka pada tubuhnya dan hal itu benar-benar mengganggu manusia yang mengamati di depannya.


『bagaimana?』


『a-apanya?』


『kanapa malah tanya padaku... aku menyuruhmu mengamati kelemahannya. 』


『he~eeh? ka-kapan ya? Aku tidak merasa kau pernah menyuruhku melakukan itu.... 』suaraku agak merendah di bagian akhir. Aria dengan mudah melihat kebohongan yang tersembunyi di balik kata-kataku.


『bohong, Feyrish. Aku tahu seperti apa saat kau berbohong. Bagaimanapun juga aku sudah lama pergi denganmu, aku mengenalmu dengan baik. 』


『mengenalku dengan baik, itu--?!』


『jadi, kau tidak melakukan apa yang aku suruh, ya kan?』


『kenapa juga aku harus melakukan apapun yang kamu suruh, yah? Yang pasti aku akan menolak jika kau menyuruhku untuk melakukan ini dan itu...! arh—maksudku bukan itu oke?! Maksudku... itu... 』sekali lagi suaraku merendah di bagian akhir. Dan itu bukan karena pita suaraku sedang bermasalah atau sesuatu semacam itu.


Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini terjadi saat aku bicara dengan Aria.


yah, setidaknya aku tahu ini bukan penyakit atau sesuatu semacam itu—kupikir mungkin ini sesuatu seperti kutukan.


『ja-jangan salah paham, ya! bukan berarti aku bermalas-malasan, oke?! 』


『yah, lagipula takkan ada banyak juga yang bisa dicari tahu hanya dengan sekali lihat, sih.』


『mouu~! jangan mengabaikankuu~!』


Dia selalu seperti ini saat aku menjelaskan bahwa semuanya adalah sebuah kesalahpahaman. Dan kau tahu? Untuk suatu alasan itu sangat menjengkelkan! Huuh~!!


『Aria, Feyrish, terima kasih. Kalian istirahat saja. biar kuatasi sisanya sendiri.』


Aria sudah menghitung dengan baik waktu yang dibutuhkan untuk guildmaster, karena itu dia sengaja memilih tempat yang dekat dengan Kazuhiro. Mungkin juga Aria sudah menduga alur seperti ini akan terjadi, sih. Bagaimanapun juga dia itu pintar. Seorang rekan yang bisa diandalkan.


Dengan satu jentikan jari dia melepas tanaman yang mengurung guildmaster. guildmaster berjalan ke arahnya. Mereka benar-benar sudah mengabaikan kehadiran kakakku. Dia hanya memirigkan kepalanya tanpa berkata apapun.


“tanpa kau suruh pun aku juga akan pergi istirahat. Setidaknya untuk memulihkan etherku yang hilang karena Zack dan anaknya itu.”


『kau juga, Feyrish.』


『ya ya, aku paham, oke? Tanpa kau suruh pun juga pasti kulakukan.』


bagaimanapun juga kita perlu menghemat potion sebisa mungkin.


Dan perlahan, Aria berbalik mendekati Kazuhiro.


*puck


Bunyi dua telapak tangan yang bersentuhan sedikit menggema di udara.


Aku tidak tahu kerjasama seperti apa yang biasa mereka berdua lakukan saat bertarung bersama, tapi tos yang baru saja itu terdengar keren.


“jangan terburu-buru, bung. Semuanya akan selesai saat kau bangun.”


“Setidaknya berusahalah untuk tetap hidup. Aku tidak mau repot-repot membawa mayatmu.”


“heheh~ yah, terima kasih perhatiannya.”


Kemudian, mereka pergi ke arah yang berlawanan satu sama lain. Aria duduk sebelum menghidupkan mysteltainn menjadi cabang-cabang untuk melindunginya semasa meditasi, guildmaster menangkap pukulan ringan di depan dadanya seperti hal itu akan memotivasinya. Jaket merah yang dia kenakan sedang berkibar tak karuan karena angin, dan dia tersenyum seakan sesuatu yang menyenangkan akan terjadi.


“ini ronde kedua, Arthur.”


“hnh~ tak peduli berapa kalipun kita lakukan ini akhirnya tetap akan sama, Kazu. Sesuatu tak akan berubah selama kau hanya mengulanginya berkali-kali. Nyawamu akan terbuang sia-sia.”


“begitu, kah? Mungkin tidak begitu kali ini. Kali ini, aku sudah melihat endingnya, Arthur.” Katanya dengan agak sombong dan yakin. Kemudian, ia bergumam: “Semua kondisi terpenuhi—ubah title utama.”


Aku ingin melihatnya sebentar lagi, tapi barangkali hal itu malah akan membuatku tertarik untuk menontonnya lebih lama lagi, jadi aku mengurungkan niatku.


-- ---- --


Baiklah, sepertinya ini sudah cukup.

__ADS_1


Aku membuka mataku dan melihat Aria berdiri dari Mysteltainn-nya. Dia juga baru saja selesai. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku.


Di depan kakak berdiri guildmaster yang menggenggam sebuah pedang—tidak, aku pikir dia bilang pedang itu lebih tepat disebut katana, bahkan kata ‘seseorang’ itu juga tidak tepat untuk menggambarkannya.


Yah, berdiri sepuluh guildmaster di depan kakak, yang masing-masing memegang sebuah katana di tangan mereka.


pedang biru dan merah yang menjadi ciri khas guildmaster Kazuhiro Mamoteru melayang di belakang sosok mereka masing-masing. Dan bukan itu saja yang mengejutkan.


-- tatapan matanya berubah.


Tatapan mata itu seperti seekor naga dengan segala kebenciannya terhadap manusia.


-- auranya berubah. Menjadi lebih dingin.


Orang-orang yang biasa bertukar sapa dengan guildmaster setiap hari akan terkejut dengan penampilan guildmaster yang sekarang. ini adalah pertama kali aku melihat guildmaster yang seperti ini, dan itu membuatku takut.


Aria pernah mengatakannya padaku--- tentang “sisi gelap Kazuhiro” yang tidak seorangpun mengetahuinya.


satu tahun yang lalu, itu adalah waktu ketika ragnarok terjadi di negeri petualang. Kazuhiro membantai hampir semua aether sendirian.


Setiap bagian dirinya dilumuri dengan darah. Tatapan mata dan auranya berubah jadi menakutkan. Dan tubuhnya dipenuhi dengan luka. Orang-orang yang melihatnya menjuluki Kazuhiro dengan ‘bloody swordmaster’, yang bahkan title itu masih melekat sampai sekarang.


kesepuluh guildmaster yang tengah berdiri mengelilingi kakak seketika berlari ke arahnya. Mereka menyerang dengan brutal. Menggunakan katana sebagai senjata utama, 3 katana ditambah pedang biru dan merah yang terbang dengan telekinensis—membentuk pola serangan super rumit.


*Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!! *Zash!!


Kakakku berkonsentrasi penuh untuk mempertahankan shield barrier yang terlihat akan hancur kapan saja. di luar shield barrier tersebut puluhan pedang dan tombak cahaya sedang bertarung mati-matian dengan 30 katana + 1o red sword dan 10 blue sword milik guildmaster.


Kakak mengaktifkan berbagai macam sihir untuk melawan; peluru api dan air, sayatan angin, stalakmit tanah sekeras batu, sihir kegelapan yang mengikat kaki, dan sebagainya.


dalam beberapa menit setelah itu kesembilan guildmaster berubah menjadi uap putih dan mengilang dari dunia ini. Tapi bersamaan dengan itu katana guildmaster menghancurkan shield barrier milik kakak.


*ctar!!


Dengan kecepatan yang setara Aria tanpa api putih, katana memotong-motong tubuh kakak menjadi potongan-potongan kecil. Namun, potongan-potongan kecil itu menyatu kembali bahkan sebelum sempat terpisah dari tubuhnya.


Meski begitu serangan guildmaster tidak hanya berhenti di titik ini.


Puluhan tebasan.


Dua puluh tebasan


tujuh puluh tebasan.


Tujuh puluh delapan tebasan.


Serangan itu berlanjut seolah tangan guildmaster adalah mesin pemotong tanpa akhir, sampai katana yang hampir menusuk kakak pada tebasan ke tujuh puluh sembilan berhenti dalam genggaman tangan kakakku. Kemudian, dia berkata:


“kau tahu? Penyerap rasa sakit itu sihir yang merepotkan.”


guildmaster bersikap seperti tidak mendengar kata-kata itu. ia hanya membalasnya dengan tatapan tajam yang seolah berkata “cepatlah mati, bedebah.” Atau sesuatu semacam itu.


sampai sebuah tombak cahaya menusuk dadanya dari depan.


*tcp


*bush~


Tubuh guildmaster berubah menjadi uap putih—tidak, setelah itu dia berubah lagi menjadi batang pohon yang tertancap sebuah tombak cahaya di tengahnya.


“butuh bantuanku?” tanya Aria, pada seseorang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


“jangan membantuku. Aku bisa lakukan ini sendiri.”


“jangan terlalu sombong. Berapa menit kau akan bertahan?”


“kubilang, aku bisa lakukan ini sendiri. Jangan membantuku, ini perintah.”


“... hmm... begitu, kah?”


“... ya... menjauh dan lihat saja. kuulangi, ini perintah.”


Perintah... ya...? kalau begitu Aria takkan bisa melakukan banyak hal dengan itu. Bagaimanapun juga Zaikazuhiro Mamoteru merupakan guildmaster negeri petualang. tidak mungkin bagi seorang ksatria untuk melawan perintah raja mereka. Tapi ada satu hal yang kusukai dari Aria.


“kuakui akan ada banyak orang yang mematuhimu di bawah kata ‘perintah’ itu, Kazuhiro. Tapi kau tahu kenyataannya? tidak semua orang seperti itu. ada juga orang-orang yang akan melawanmu meskipun ‘itu adalah perintah’.” Aria mengambil satu langkah ke depan. “kau pikir semuanya akan mematuhi perintahmu hanya karena posisimu tinggi? Orang mana yang kau maksud?”

__ADS_1


api putih aktif di pedang panjang satu tangannya, sarung tangan, dan sepatunya. Urutannya sama seperti biasa; kekuatan, kekuatan, dan kecepatan. Api putih itu menjadi kobaran api yang menakjubkan.


“aku hidup sebagai petualang! Aku dengan bebas melanggar semua peraturan hanya untuk kepuasan diriku sendiri! Satu-satunya peraturan dalam hidupku adalah ‘tidak terikat dengan peraturan apapun!” dia menoleh dan mengintip di antara rambut putihnya, sosok guildmaster yang terkejut. “itu yang selalu kau katakan. Dan orang seperti itu sekarang berkata ‘ini perintah’? jangan membuatku tertawa.”


“itu.. tidak benar. Semua itu cuma omong kosong. Pergilah, jangan membuatku marah, Aria.”


“kalau begitu akan kulakukan sesukaku. Karena aku akan melakukan sesukaku, jangan menggangguku. Aku juga tidak akan mengganggumu.”


“apa yang ingin kau lakukan dengan melakukan sesukamu? Tergantung pada jawabanmu, aku bisa—“


Dengan frame kacamata yang dinaikkan memakai jari tengah dan telunjuk, dia terlihat keren, Aria memberikan jawaban singkat.


“bertarung.”


*saash!


Rekanku yang dapat diandalkan sudah pergi dari tempatnya, dia berlari dengan sangat cepat menuju seseorang yang agak jauh di depannya.


“percuma.”


Mengabaikan gumaman kakak, dia berlari melewati puluhan pedang dan tombak cahaya yang tiba-tiba menyerangnya. tepat sebelum mencapai tempat kakakku berdiri, dia melompat, melayang beberepa meter di atas kepala musuhnya.


Pandangan mata kakak mengikuti gerakan Aria karena reflek. Tapi hal itu benar-benar kesalahan.


Di bawahnya—lebih tepatnya di kakinya, pedang merah dan pedang biru menancap dan menguncinya di tanah. Kedua pedang itu menyebabkan efek pembekuan dan pembakaran. Kakakku mengernyit seperti hal itu menyiksanya. Dia coba mencabut pedang tersebut dari kakinya, tapi tanaman misterius merambat dan mengikat pedang dengan kaki kakak seperti tali—dengan begitu, bahkan telapak tangan yang diperkuat dengan sihir juga tidak cukup untuk menariknya.


Dia coba menghancurkan tanah yang terpaku bersamanya dengan sihir, tapi apa yang hancur karena sihir itu hanyalah permukaan tanah tipis yang tersembunyi batang pohon misterius di baliknya.


Kakak coba dengan berbagai macam sihir untuk menghancurkan batang pohon misterius itu, sampai dia sadar bahwa usahanya sia-sia.


Batang pohon yang tidak dapat digores bahkan dengan sihir kakak sekalipun, tidak salah lagi mengandung permukaan kulit mysteltainn di bagian luarnya.


Aria membuat putaran vertikal 1800, lalu mengaktifkan step dan terjun dengan satu tebasan.


Tebasan itu diperkuat dengan api putih, ia genggam dengan kuat pedang tersebut dalam dua telapak tangan yang dia ayunkan-- melewati tubuh kakak secara tragis--- menebas dari ujung kepala—dan membelah kakak menjadi dua bagian, kanan dan kiri.


Namun, hasil belahan itu berubah menjadi air.


Kakak muncul di belakang guildmaster.


‘Bahaya’ aku ingin memperingatkan mereka berdua, tapi aku menyadari keberadaanku yang tanpa sadar telah berubah menjadi tak lebih dari sekedar penonton.


*hwush~!!


“di sana” kata kakak, setelah menghindari anak panahku dengan elakan ringan yang hanya membuat anak panah tersebut merusak permukaan tanah di sampingnya.


Dia meluncurkan pedang cahaya ke arahku.


Guildmaster yang menyadari hal itu menembak kakak dengan 3 katana sekaligus. Namun tak satupun dari ketiganya berhasil mendapati sasaran mereka.


-- teleport.


Kakak memakai sihir teleportasi semudah seorang manusia bernapas. Dia memakai semacam portal teleportasi untuk memindahkan pedang cahaya yang dia terbangkan.


tunggu—


Bukankah itu gawat?


Melebarkan mataku, aku mengelak sekuat tenaga setelah menyadari pedang cahaya yang menghilang dalam portal itu, keluar dari portal lain di belakangku.


Meskipun aku mengelak sekuat tenaga, pedang cahaya tersebut tetap saja mendapatkanku—lebih tepatnya, lenganku. Aku yakin ini adalah hasil yang paling minim. Kemungkinan terburuknya mungkin sesuatu seperti luka parah di bagian yang tidak mematikan.


Karena kakakku bukanlah seseorang yang akan membunuh adiknya sendiri hanya untuk memenangkan perang.


Sayangnya pedang cahaya tersebut diselimuti dengan paralyze.


Tubuhku terjatuh lemas tak berdaya.


Empat portal teleportasi tercipta di sekelilingku. Tujuan serangan berikutnya mungkin adalah tangan dan kakiku, dan dengan begitu bergerak akan jadi sesuatu yang mustahil. Kakak hanya memikirkan cara untuk menyingkirkanku dari perang, tak lebih dari itu.


Kakak tidak bisa mati, aku meyakini hal itu dengan baik.


Di sisi lain adalah Aria dan guildmaster. Dua orang ini bisa kehilangan nyawanya kapan saja. hal inilah yang membuatku khawatir pada mereka.


Aku tidak punya pilihan selain melindungi mereka semampuku. Itu adalah suatu hal yang ingin... dan harus kulakukan.

__ADS_1


Tapi aku hanyalah beban bagi mereka. memang benar aku tidak sekuat Aria ataupun guildmaster. Aku hanyalah seorang lemah yang terlibat dengan pertarungan antar tiga orang itu dan menjadi beban bagi mereka.


Haah... maaf ya? Aria... hanya sampai di sini batasanku. Mustahil bagiku untuk melanjutkan. Lagipula aku hanya akan jadi beban untukmu.


__ADS_2