Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang

Illusion & Magic jilid 2: Medan Perang Petualang
Episode 16


__ADS_3

『jangan menyerah, bodoh! Aku masih butuh kamu di sampingku!』


“!”


--- ----


-- teleportasi.


Kali ini aku yang melakukannya. Tujuannya tidak lain adalah tempat kosong di depan Aria. tubuhku terayunkan dengan lemas sampai Aria menangkapku di dadanya.


Dia memelukku lebih erat.



“bagus. Sekarang aku bisa melindungimu, Feyrish.”


a-a-a-a-a-a-a-a-aaaaa~ pipiku memerah seperti terdapat campuran tomat di dalamnya.


Itu karena Aria baru saja mengatakan sesuatu yang memalukan!


Aku menempelkan telingaku di dada Aria sambil menyembunyikan keterkejutanku. Terdengar bunyi detak jantung Aria di dalamnya.


Tanda sebuah kehidupan.


Yah, tentu saja detak jantung itu adalah tanda kehidupan. Karena Aria masih hidup.


‘lihat? Aku masih hidup.... Saat ini, dan seterunya akan tetap sama. Jadi jangan pernah mengkhawatirkanku, oke?’ seolah kata-kata seperti itu yang ingin dia sampaikan setelah memelukku.


“hei, hei! Feyrish... Feyrish...!”


“a-ah, iya? Kenapa?”


“paralyze-nya sudah berhenti, kupikir.”


Ah, ya, dia benar. Efek paralyze sudah menghilang dari tubuhku, aku bisa memakai dengan baik kedua tangan dan kakiku. Tapi kenapa?


Kenapa aku masih diam saja di dada Aria?


‘Aku ingin seperti ini dulu sebentar’-- tapi enfinity bisa hidup tanpa perlu mengatakan itu. tentu saja aku tak akan mengatakannya. Itu memalukan.


Karena tidak mengatakan apapun, aku menyingkir dari pelukan Aria.


- Aria Horizon POV –


Huh, yang tadi itu hampir saja.


Rekanku, Feyrish, memiliki kemampuan yang mengesankan, takkan kubiarkan orang sekuat itu mengundurkan diri dari medan perang. Bagaimanapun juga musuh kami kali ini bukanlah sesuatu seperti aether rank SSS yang bisa aku dan Kazuhiro kalahkan berdua saja.


raja elf, Arthur Earlyspring jauh lebih kuat dari itu. pilihan kami hanya membatasi gerakan Arthur dengan mengikatnya, memaku tubuhnya, atau membuatnya tertidur. Pilihan lainnya mungkin adalah menunggunya kehabisan ether, tapi butuh beberapa hari sampai itu terjadi.


『ini rencanaku.』kudeklarasikan hal ini dengan item komunikasi agar raja elf tidak dapat mendengarnya. 『pertama---』


~**~


『pilihan kita hanya mencobanya.』balas Kazuhiro.


『ya, aku akan berusaha.』menggangguk, Feyrish menatapku dengan tekad juang yang tinggi di matanya.


『kalau begitu, dimulai!』


Kami berkumpul di tempat yang sama, berlari menuju Arthur dengan jalur yang sama. Sekitar 100 meter di depan.


“hooh~ menarik.”


Arthur mungkin terkesan dengan pergantian strategi yang mendadak ini. dia mengarahkan tongkatnya untuk menyerang.


Ratusan pedang dan tombak cahaya datang dari depan.


“kuserahkan pada kalian!”


Feyrish menurunkan kecepatannya, membiarkan Kazuhiro dan aku memimpin di depan. Melirik sedikit, Kazuhiro dan aku menggangguk satu sama lain.


Dia mengayunkan katana di tangannya, mengendalikan 3 katana dan 2 pedang panjang dengan telekinesis, membentuk pola yang sangat rumit.


aku menggunakan fairy sword yang diperkuat dengan api putih dan beberapa buff, menghancurkan pedang dan tombak cahaya satu per satu, dengan tebasan yang lebih cepat dari apapun.


sebelum seluruh pedang dan tombak cahaya dihancurkan, benda raksasa mirip bola lava berekor api terlihat di kejauhan, sekitar 50 meter di langit, terjun ke arah kami.


Benda itu—atau lebih tepat disebut meteor sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh 3 enfinity dalam sekali serang, apalagi 3 enfinity itu berada di tempat yang sama.


“Feyrish!” Panggil Kazuhiro.


“kuserahkan padamu!” Tambahku.


“ya!”


Dia meluncurkan anak panah pada objek tersebut. Satu detik berlalu hingga si meteor kembali ke lagi langit, 2, 3 detik kemudian ia meledak di udara.


【Kembali】-- 【Magic Card】seperti itu yang baru saja Feyrish gunakan.


Sambil terus berlari, lemparan pedang dan tombak cahaya telah seketika berhenti. Meteor es berukuran setengah meteor api sebelumnya memasuki pandangan kami, kali ini dari depan.

__ADS_1


Feyrish mengeluarkan sebuah kartu dari dimensi misterius, dia melemparnya seperti sebuah shuuriken, kartu itu pecah menjadi poligon-poligon cahaya dan menghilang, membentuk meteor es yang sama di depan kami.


Dua meteor es saling beradu satu sama lain, dan saling menghancurkan satu sama lain.


Dilanjutkan meteor listrik dan meteor angin. namun keduanya menemui takdir yang sama dengan meteor es.


【Meteor Es】, 【Meteor listrik】, dan 【meteor angin】-- 【Magic Card】seperti itu yang baru saja Feyrish gunakan.


“bagus, bagus, seperti yang diduga, 3 lawan 1 akan jadi lebih merepotkan.”


Sambil mengatakan itu, muncul nafas api dari tongkat sihirnya.


“Aria!” panggil Feyrish.


“giliranmu!” tambah Kazuhiro.


Aku menumbuhkan mysteltainn di punggung tangan kiriku. Mysteltainn yang tumbuh itu membentuk putaran spiral menjadi perisal lingkaran dengan radius sekitar 1 meter.


“kali ini...” gumamku.


Aku berlari paling depan dengan sebuah perisai di tanganku.


-- mysteltainn.


Perisai yang terbuat dari cabang mysteltainn itu menghalau nafas api dengan sempurna. Namun, perisai ini hanya melindungi dari satu arah. Lusinan pedang dan tombak cahaya baru keluar dari portal teleportasi di belakang kami.


“biar kuatasi sendiri!” teriak Kazuhiro.


Tanpa mengurangi kecepatan berlarinya, Kazuhiro mengaktifkan gate of storage di sekitarnya, mengeluarkan lusinan pedang dan tombak, dan meluncurkan mereka tanpa melihat ke belakang.


“ki, kah...?” gumamku.


Seni beladiri unik yang menjadi ciri khas Zaikazuhiro Mamoteru. Disebut juga dengan indera keenam yang mengasah insting menjadi jauh lebih tajam dari manusia biasa.


Kali ini, empat meteor datang bersamaan dari depan. empat meteor itu memiliki atribut api, es, listrik dan angin.


Feyrish sudah memakai【Magic Card】:【Meteor Es】, 【Meteor listrik】, dan 【meteor angin】sebelumnya, yang tersisa hanya 【Meteor api】, tapi itu saja tidak akan cukup untuk mengimbangi semuanya. Aku tidak yakin apakah perisaiku bisa menahan semuanya sekaligus, karena Arthur bisa membelokkan serangannya atau menteleportnya melewati perisaiku dengan mudah.


Aku bisa memikirkan berbagai cara seperti membuat kurungan seperti sebelumnya. Tapi sebelum aku sempat melakukan apapun, Feyrish melempar kartunya seperti shuuriken.


*ctar


Kartu itu pecah menjadi poligon-poligon cahaya dan menghilang. Keempat meteor hampir saja mengenai kami, sebelum menabrak dinding transparan yang Feyrish ciptakan dengan【Magic Card】.


Bahkan,【Magic Card】itu tidak hanya terdapat satu.


--【pembatas】, dan satu lagi,【counter】.


“kumohon sadarlah dari semua ini! Kakak!” teriak Feyrish.


Benar juga. cara yang akan kami gunakan-- jalan yang akan kami ambil. hal itu sama sekali berbeda dengan jalan penakhukan milik Arthur Earlyspring.


Jika dia mau mendengarnya...


Mungkin saja mereka akan menyerah pada perang tak berguna ini.


Mungkin saja mereka akan dengan senang hati meminjamkan tangan mereka.


apa yang terjadi sebenarnya? Bukannya Kazuhiro tadinya menegosiasikan ini dengan raja elf itu? Apa yang terjadi saat itu? aku tidak tahu.


mungkinkah negosiasinya gagal? mungkin saja, dia bahkan tidak memulai pembicaraan dengan Zaikazuhiro Mamoteru sama sekali.


Harga diri... huh...


Sifat inilah yang kubenci dari ras elf. Bahkan Feyrish Earlyspring juga begitu pada awalnya.


Perbudakan, diskriminasi, dendam, dan harga diri. Karena itulah setiap ras memecahkan diri mereka dari ras lain.


Jarak kami sudah sedikit lagi mencapai Arthur.


Arthur Earlyspring membatalkan sihir empat meteornya. Keempat meteor meledak mejadi kabut putih sebagai dampak pembatalan. Kabut putih yang menutupi penglihatan, tak seorang penontonpun dapat melihat apa yang telah dan akan terjadi di tempat ini.


Dari kabut putih itu, pada pandangan mata Arthur Earlyspring, terpantulkan bayangan seseorang.


『jika kata-kata tidak bisa menggapai seseorang...』aku memulai sebuah kalimat.


『jika kata-kata tidak bisa menggapai seseorang... 』Feyrish mengulanginya dan metetapkan dalam hatinya, perasaan percaya pada seseorang seharunya dia percayai.


Itu benar. Jika kata-kata tidak bisa mencapai seseorang...


『... maka ulurkanlah tanganmu!』


Bayangan, yang masuk dalam pandangan mata Arthur melompat ke arahnya.


-- Seorang gadis berambut dan mata merah muda, yang meninggalkan kesan seperti bunga camelia di musim semi. Wajah cantik yang membuat bahkan seorang dewi merasa iri, pinggang yang ramping dan bibir yang tipis.


“Kakaak~!!”


Dia mengulurkan kedua tangannya sambil melompat. Kedua tangan yang tidak dimaksudkan untuk melukai, mata yang sedikit berair, dan sebuah pelukan yang hangat.


Feyrish memeluk kakaknya dan membenamkan wajahnya di dadanya.

__ADS_1


Kabut putih yang menutupi arena tidak membiarkan seorangpun melihatnya. Aku dan Kazuhiro setuju untuk tidak mengganggu waktu kakak beradik ini.


“kakak~ kakak~”


“Fe-Feyrish.. ini bukan waktunya untuk—“


“guildmaster... apa kakak tidak mendengarkan kata-kata guildmaster?”


“haah~” Arthur menghela nafas. “.... anjing kampung itu...”


“jadi kakak tidak mendengarnya!” Feyrish terlihat kecewa di matanya. Wajahnya menjadi lesu, tapi semangatnya tiba-tiba kembali setelah itu. “tidak ada pilihan lain, yah? biar Feyrish yang menjelaskan!”


Tapi kemudian.


“Feyrish.” Panggil Arthur dengan serius. “jika kau ingin bilang sesuatu seperti menghentikan semua ini, aku tidak akan mendengarkanmu.”


“tapi, kakak... ini tidak seperti yang kakak kira. Jika kakak mau mendengarnya... aku yakin--”


“Feyrish!”


“....”


Feyrish menundukkan kepalanya, menahan perasaan yang seolah akan meluap kapan saja. satu, dua detik, dia menatap mata Kehijauan milik Arthur dengan mata berair dan wajah yang memerah. Kemudian, tanpa ragu, dia menamparnya.


“....”


Arthur terkejut mendapati sebuah tamparan dari adiknya, tapi apa yang membuatnya paling terkejut adalah kenyataan bahwa adiknya sedang menangis di depannya.


Matanya yang menahan air mata, pipinya yang terlihat sedikit merah, dan perasaan jengkel yang tidak bisa dia tahan... semua itu terpantulkan di mata kakaknya.


“Aku kecewa... pada kakakku yang seperti ini...”


Arthur memejamkan matanya, menahan perasaan bersalah dalam dirinya.


‘penakhukan adalah pilihan yang kejam. Jalan yang adikku dan teman-temannya ambil mungkin adalah pilihan terbaik yang pernah ada.’


pemikiran seperti itu pasti pernah terbayang di benak Arthur.


Lalu untuk apa dia tidak mengambilnya? Aku tidak tahu. Aku tidak paham apa yang dia pikirkan. Arthur tidak terlihat seperti orang yang bodoh, bagaimanapun juga dia adalah seorang raja yang baik. Raja elf yang bijaksana.


Apa jangan-jangan dia melakukan ini untuk rakyatnya? untuk menjaga harga diri mereka?


“maaf, Feyrish. Ini tidak seperti aku meragukan kalian.”


“kalau begitu--”


“tapi.” dia memotong kata-kata Feyrish bahkan sebelum kata-kata itu selesai. “aku tidak bisa melakukannya. Sebagai seorang pemimpin, aku tidak punya pilihan selain menjaga harga diri rakyatku.”


“... kenapa?”


“ini juga terlalu menyakitkan bagiku. Jika diberi pilihan, aku ingin hidup seperti dulu. Keseharian tidak berguna bersama Feyrish, ayah dan ibu. Aku tidak bisa memikirkannya waktu itu, kupikir semuanya akan baik-baik saja entah bagaimana. Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini ketika Feyrish juga pergi meninggalkanku. apa yang harus kulakukan? Aku terus bertanya-tanya dalam pikiranku meskipun aku tidak pernah menemukan sebuah jawaban yang benar. Tapi sekarang aku dipilih sebagai raja elf, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus melindungi mereka dengan seluruh kekuatanku. Termasuk harga diri yang mati-matian mereka jaga.”


“tapi, itu kan...”


Sesuatu yang bodoh, aku tahu itu. aku yakin raja elf juga pasti memahaminya.


“maaf...”


Hanya satu kata itulah yang ingin dia katakan pada adiknya. ‘maaf’...’ untuk apa dia meminta maaf? Bahkan Feyrish Earlyspring juga pasti mamahaminya.


“harusnya tidak seperti ini... harusnya kakak tidak meminta maaf....”


-- “tidak ada pilihan lain.” Gumamnya.


Yah, tidak ada pilihan lain.


‘Jika kata-kata tidak bisa menggapai seseorang, maka ulurkanlah tanganmu’


Aku menyukai kalimat itu bagaimanapun juga. tapi seseorang telah membuktikan bahwa apa yang tertuang di dalamnya tidaklah selalu menjadi sesuatu yang benar. Dengan begitu, seseorang itu, Akira menambahkan:


‘jika kata-kata tidak bisa menggapai seseorang, maka ulurkanlah tanganmu, dan pukul dia sampai babak belur!’


Yah, tepat. tidak ada pilihan lain.


--【Magic Card】:【tidur】--


Kartu inilah yang Feyrish tunjukkan di tangannya. Sebuah kartu putih dengan pola sihir yang kemudian berubah menjadi cahaya, pecah, dan menghilang dari dunia tepat di depan mata Arthur Earlyspring.


Arthur menutup matanya, tubuhnya kehilangan tenaga dan terjatuh. Feyrish menangkap kakaknya sebelum terbentur dengan tanah. Dia menyandarkan Arthur Earlysrping di batu besar 5 meter di sebelahnya.


Terdengar keributan di bangku penonton. Feyrish menghilangkan kabut putih dengan【Magic Card】sampai semua orang bisa melihatnya.


Dia melempar magic card pada Kazuhiro. Matanya yang masih berair membuat Feyrish tidak menatap langsung pada kami.


Tapi dengan begini, semuanya selesai. Kartu yang Kazuhiro pegang pecah menjadi poligon-poligon kecil dan menghilang dari dunia ini. aku mengangguk padanya, kemudian menatap ke langit.


Langit biru yang agak mendung itu terlihat indah dalam berbagai arti. Awan-awan besar dan kecil terus berlalu lalang di dalamnya. Mungkin akan turun hujan malam ini, pikirku. Mengurung diri di rumah sampai minggu depan akan jadi pilihan yang baik untuk diambil.


Di langit yang luas itu, suara Kazuhiro bergema dengan bantuan Magic Card Feyrish.


“di sini aku, Zaikazuhiro Mamoteru, Aria Horizon, dan Feyrish Earlyspring, menyatakan kemenangan kami atas raja elf, Arthur Earlyspring!!”

__ADS_1


Keributan terdengar sekali lagi. Ada yang merayakan kemenangan mereka dan ada juga yang menangis. Ada yang menerima keadaan ini dengan baik dan ada juga yang terjatuh seakan tidak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. Aku akan pergi istirahat setelah ini, istirahat yang panjang.


__ADS_2