
Aku ingin kehangatan itu kembali lagi ke sisiku. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
“... dingin.” Gumamku pada diriku sendiri. “dimana mereka...”
Aku memfokuskan penglihatanku pada sesuatu di dalam kepulan asap kecoklatan itu. di dalamnya, 12 orang sedang menunggu kesempatan untuk membunuhku.
Mereka adalah para valkyrie kerajaan elf; sebuah unit khusus yang bergerak di bawah perintah raja elf secara langsung. kudengar mereka elf dengan kemampuan tertinggi di Fairstairsia.
12 orang ini juga menyerangku bersamaan. Aku sendirian. Ini terjadi kapan saja, aku sudah terbiasa. Aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Meskipun aku sedang bersama dengan teman sekalipun, akan selalu ada serpihan kosong di dalam diriku yang membuatku sendirian.
Aku butuh kehangatan yang ayahku tinggalkan untuk mengisi serpihan kosong tersebut.
Anak panah meluncur ke tempatku.
*hwush *ctack
Anak panah itu menabrak dinding es dan hancur berkeping-keping.
‘Arahnya dari sana!’ sekilas aku akan berfikir seperti itu. tapi setelah itu aku juga akan berfikir lagi ‘apa dia masih ada di sana?’ dan membuatku mengurungkan niatku untuk menyerang.
Satu lagi anak panah mengarah padaku dari sisi satunya. Aku menggunakan cara yang sama untuk melindungi diriku.
Tapi balok es dimana anak panah sebelumnya bertempatan hancur seketika.
Seorang gadis dengan helm dan armor ringan keluar dari dinding tersebut, membawa pisau di kedua tangannya ke tempatku.
Stalakmit-stalakmit es muncul dari permukaan tanah di bawah gadis itu. tapi sebelum mencapainya, stalakmit tersebut hancur setelah dihantam dengan bola angin yang tak terhitung jumlahnya. Aku memulai kembali seranganku. Tapi gadis dengan pisau yang kuincar sudah menghindar sebelum itu.
Dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakangku, anak panah yang diselimuti sihir angin, es, api, dan listrik terbang bersamaan. Aku menyiapkan dinding es untuk memblokir semua anak panah itu.
Tanpa jeda sedikitpun, lubang 10 meter terbentuk pada tanah di bawahku. Aku terjatuh pada lubang itu bersamaan dengan derasnya air yang mengalir ke dalamnya.
Aku membuat bongkahan es memanjang sebagai pijakanku untuk menerbangkanku ke langit.
Ahh-- lagi-lagi serangan yang lain—pusaran api horizontal muncul seperti telah menungguku.
*hwaash *Ctark
Balok es yang kubuat hancur bersamaan dengan lenyapnya pusaran api itu. selanjutnya, batu-batu berapi seperti meteor berjatuhan dari langit.
Aku membuat balok es raksasa di atasku, memperkuatnya dengan kedua tanganku sekuat yang kubisa.
Tapi, beberapa retakan terbentuk di setiap sisi. Aku mengerahkan seluruh kekuatanku dan berjuang agar balok es itu tidak pecah.
“Hyaaaa!!”
sayang, tetap saja aku kalah.
Bersamaan dengan pecahnya balok es raksasa, meteor lain tanpa kusadari sudah ada di depanku.
Meteor itu memiliki ukuran yang jauh lebih besar dibanding meteor lain, diameternya sekitar 5 meter atau lebih. Tanpa punya pilihan lain, aku menyerah, meteor besar itu menghantamku—menelanku di dalam api merahnya.
*... ..... ...... KABOOOOOM!!!
Meteor itu akhirnya menabrak tanah dengan tubuhku terapit di antara kedua benda keras tersebut. Terbentuk lubang besar dan keretakan tanah menjalar di sekitarnya. Debu yang beterbangan di segala tempat membutakan pandangan siapapun yang berada di sekitarnya.
---- ----“ketemu.” Setelah mengatakan itu aku mengaktifkan stalakmit es pada dua elf dengan helm dan armor yang sama dengan gadis tadi, dengan tambahan jubah pada pakaian mereka.
“apa—“
“bagaimana bisa---”
Keduanya berhasil menghindar tapi salah satu dari mereka mendapat luka tusukan di pahanya.
“Chyntia!” teriak seseorang dengan jubah merah. “sial... dengarkan permohonanku—Fire bullets!”
Lusinan peluru api terbang dari tongkat sihir yang sang elf laki-laki genggam dengan tangan kanannya.
Aku membekukan setiap peluru api yang mendekat kepadaku. Mereka berjatuhan sebelum sempat mengenai tergetnya.
Sembari peluru api terus terlempar dari tongkat sihir, elf tersebut menggumamkan sihir yang lain.
“flame... fire eater... fire breath... fire ball... combining fire, tembak!”
Kali ini, bola api besar dengan lidah-lidah api terbang ke arahku. Aku melindungi diri dengan dinding es sebelum bola api itu sempat mengenaiku.
Dinding pecah bersama bola api dan kulihat dua orang itu sudah tidak ada lagi di depanku. Sekilas tampak seorang berjubah merah yang menggendong elf perempuan berjubah hijau sedang berlari memasuki kepulan debu di depan sana.
Aku bisa mengejar mereka jika aku mau. Tapi aku menerima telepati dari seseorang sebelum itu.
- Chapter 10 -
Tanggal 13 bulan ke-12, kalender enfinity tahun 858.
-- sudut pandang orang ketiga –
*swash *swash * kaboom!
Reinhard dan Emiya menghadapi satu persatu prajurit biasa, di saat itulah seseorang tertawa di depan mereka.
“ahahahahaha~!”
Orang yang tertawa itu mengenakan kacamata dan jubah penyihir. Telinganya runcing dan wajahnya terlihat segar. Tidak seperti ras dwarf yang hanya berambut hitam, ras elf memiliki warna rambut yang tidak selalu sama.
__ADS_1
Untuk orang ini warna rambutnya adalah hijau. Ia mengaturnya dengan rapi sampai akan terlihat seperti orang pintar jika dia diam tanpa ekspresi sebentar saja.
Tapi kali ini dia tertawa seperti menikmati merendahkan orang lain di hadapannya, mata angkuhnya terlihat begitu menjengkelkan. Siapapun akan merasakan hasrat yang kuat untuk ingin memukulnya setidaknya sekali.
Begitu juga dengan Reinhard Ainsley dan Emiya Einsley. Sebagai pihak yang sedang ditertawakan, mereka mengajaknya berbicara.
“Apa yang kau tertawakan, Kacamata hijau sialan!” Reinhard dengan jengkel berteriak.
“Hei, jangan mengajaknya bicara. Dia membuatku takut.” Emiya dengan nada rendah mengatakan itu pada Reinhard. “aku khawatir sakit jiwanya bisa menular.”
Reinhard berdeham. “Ekhm. Emiya, aku pikir orang itu tidak sedang terjangkit virus atau semacamnya. Itu lebih seperti... kau tahu...? otaknya saja yang bermasalah.”
“aku tahu itu. ah, tidak juga, bisa saja dia itu sarang virus jenis baru atau semacamnya.”
“jadi kau masih khawatir soal yang dibilang Eiri waktu itu, ya?”
“ini tidak ada hubungannya dengan itu.”
Dua orang itu berdebat sambil melawan prajurit yang mengepung mereka.
Kali ini, orang berambut hijau itu mengatakan sesuatu dan berhenti tertawa.
“Kalian berdua begitu menjijikkan di mataku. Apa kalian tahu kenapaa?”
Nada angkuhnya yang berlebihan menyebabkan kejengkelan yang melampaui kata “menjengkelkan” itu sendiri. Mungkin ini adalah sesuatu yang disebut-sebut sebagai “minta dibunuh” itu.
“katakan sekali lagi! Katakan itu sekali lagi, kacamata bedebah! Dan aku akan membunuhmu kali ini!” teriak Reinhard.
“ah, Reinhard, jangan meladeninya. Lebih baik kita pergi saja, oke?” sebelum mengatakan itu Emiya sudah meratakan satu sisi sebagai jalan keluar.
“aku tidak bisa pergi begitu saja. aku punya harga diri sebagai seorang pria dan petualang! Kau juga, Emiya! Akan kucincang kecil-kecil dia jadi siapkan apimu untuk mengubahnya jadi daging cincang bakar!”
“heeeh” Elf berambut hijau berkata dengan nada berlebihan, memandang mereka dengan rendah. “aku ingin tahu apa kata-kata yang keluar dari mulutmu itu juga sama menjijikkannya dengan tindakanmu.”
Dia mengulurkan tangannya dan menjetikkan jarinya.
Sekilas, tampak portal samar raksasa yang muncul di belakangnya. Portal itu bergerak mundur seperti melakukan pemidaian menggunakan laser, dan pada tempat yang dipindai itu muncul ratusan ribu orang yang melayang sekitar satu meter.
Dengan suara ‘buk’ orang-orang yang baru muncul jatuh dengan bagian tubuh mereka menghantam tanah.
“adududuh..” “dingin.” “apa-apaan ini..” “semuanya jadi putih.” “aku tidak bisa melihat apapun.” “yang barusan itu apa?”
Ratusan ribu orang yang berambut hitam dan bertubuh kekar. Kebanyakan dari mereka membawa armor berat dan senjata besar.
“dwarf...?” gumam Reinhard.
“Reinhard, ini masalah. Kita akan mati.” Emiya membuat wajah pucat selagi menatap kerumunan dwarf itu.
Seharusnya 80-85% dwarf sudah membeku di tempat lain. Tapi jumlah ini jelas sekali telah melampaui 15-20% sisanya.
Elf berambut hijau berkata sambil menaikkan frame kacamata dengan jari tengahnya. “mereka adalah dwarf beku yang kupindahkan dengan sihir spasialku yang luar biasa!”
Sihir spasial.
attribut sihir gabungan dari cahaya dan kegelapan. Sihir ini tidak terlalu populer karena hanya sedikit orang yang mampu menguasainya.
Tapi ketika seseorang berhasil menguasai sihir itu, banyak organisasi akan berlomba-lomba merekrutnya.
Apalagi punya kemampuan untuk memindahkan ratusan ribu orang sendirian.. ‘sebanyak apa ether orang ini..?’ Emiya bertanya-tanya di dalam hatinya.
Wajah elf berambut hijau terlihat pucat, tapi setelah menelan pil pemulih ether tingkat tinggi dia kembali seperti semula.
“aku tidak terlalu paham apa yang terjadi.” Seorang dwarf mulai bicara dengan senyuman lebar sambil memperlihatkan gigi-giginya. “tapi sepertinya kau menyelamatkan nyawa kami, ya kan, bocah!” dwarf itu menampar punggung elf berambut hijau dengan keras.
“itu sakit, pak tua.” Sang elf membenarkan posisi kacamatanya. “Namaku Feno Cornelis. Penyihir kerajaan dari Fairstairsia. Aku sudah menyelamatkan nyawamu jadi jaga baik-baik tindakanmu, pak tua!”
Sang dwarf tidak terlihat terkejut sama sekali, ia mengangkat perisai besar dan memangku pedang besar di bahunya.
“begitukah? Namaku Grey Plateforge. Salah satu dari lima jenderal Pentacraft. Senang bertemu denganmu, bocah!”
“jangan memanggilku bocah, pak tua!”
Seseorang berjalan perlahan. Mengabaikan perselisihan Feno dan Grey, ia membuka mulutnya.
“Jadi siapa lawan kita? Apa itu mereka?”
“bocah Izaya. jadi kau di sini juga.”
“bukan cuma aku. Ketiga jenderal yang lain juga ada di sana.”
Feno dan Grey mengalihkan pandangan mereka pada arah yang ditunjuk seseorang bernama Izaya.
“Erza, Sting, Lunath... semuanya ada di sini.” Gumam Grey.
“di sini ada kelima jenderal dan 200 ribu pasukan dwarf.” Gumam jenderal bertombak, Izaya Akabane. “Jadi begitu ya. mereka membekukan hampir semua pasukan dwarf di saat bersamaan.”
“200 ribuu~? Apa kau seriuus?” tanya jenderal wanita yang membawa palu besar di bahunya, Erza Ingotchibelt.
“ini aneh. Aku tidak melihat pasukan negeri petualang di manapun.” Tanya jenderal berperisai besar, Sting Onyxbuckle.
“seperti yang kau lihat. Tapi pertempuran besar terjadi di mana-mana.” Kata jenderal berpedang ganda, Lunath Kenfury.
Ditambah dengan Grey Plateforge, kelima orang ini adalah keberadaan yang disebut sebagai kelima jenderal pasukan Pentacraft.
__ADS_1
“Reinhard, ini waktunya lari.” Kata Emiya “mereka lima orang yang dikatakan kazuhiro waktu itu.” sebelum mengatakan itu Emiya sudah meratakan satu sisi lagi sebagai jalan keluar.
“kuatkan dirimu, Emiya. Justru ini adalah waktunya untuk melampaui batasan kita! Aku sudah mempersiapkan diriku untuk saat ini!”
Di sisi lain Izaya berkata pada yang lain. “Terserah. Aku maju duluan.”
“hey, Izayaa!” teriak khawatir Erza. Tapi Izaya sudah tidak ada di tempatnya.
“gahaha~ tuh bocah memang selalu begini.” Kata Grey dengan gembira.
“Baguslah! Seorang pria memang harus terbakar dalam kobaran api!” Lunath melihat kepergian Izaya dengan bangga.
“maksudmu bersemangat, kan?” Sting melihat Lunath dengan sinis. “daripada itu apa tidak ada yang mau membantunya?”
Di sisi lain.
“bagus, ada satu orang yang maju. Aku duluan.” Reinhard berlari tanpa menunggu persetujuan dari Emiya.
“Transformasi Vajra!”
Setelan putih pakaian bangsawan Reinhard ditutupi dengan armor berat berwarna emas.
Bersamaan dengan lawannya, mereka berlari sembari mengangkat senjata mereka masing-masing.
Satu, dua, tiga langkah kemudian...
*Klang!
Tabrakan terjadi antara pedang emas Reinhard dan tombak Izaya Akabane. Pertukaran kekuatan dimenangkan oleh Reinhard dengan pedang emasnya.
celah terbentuk pada pertahanan Izaya. Melihatnya Reinhard menebaskan pedangnya pada Izaya, tapi sebelum itu terdengar bunyi dentuman dengan keras.
*Klang!
“dasar anak muda jaman sekarang. Menyerang tanpa mempertimbangkan kekuatan lawanmu. Jika tidak ada aku kau pasti sudah mati.” Dengan perisai besarnya yang memiliki desain unik, Sting Onyxbuckle berdiri di antara Reinhard dan Izaya.
“tahan dia, paman.” Erza muncul di atas mereka bertiga, mengangkat palu besarnya untuk menghantamkan itu pada Reinhard. Tapi Reinhard bergerak lebih cepat darinya.
“Vajra Aura!”
Listrik emas merambat melalui udara dengan cepat mencapai Erza di atasnya.
Namun itu belum dapat dipastikan menjadi kemenangan Reinhard.
--- pengguna pedang ganda, Lunath Kenfury muncul di belakang Reinhard tanpa dia sadari.
“Reinhard!” teriak Emiya.
Di sampingnya, tusukan tombak sedikit lagi mengenainya.
Waktu terasa melambat bagi Reinhard. Pikirannya dipenuhi dengan hal-hal negetif setiap 0,1 detiknya.
‘mereka terlalu cepat!’ pikirnya. ‘aku takkan sempat!’
---- ----
Ledakan terjadi di tempat enam orang itu berkumpul. Tanah terbakar di sekitar mereka.
di tengah-tengah itu semua, seseorang berdiri.
“kubilang juga apa. Lari selalu jadi pilihan terbaik, partner.”
Tubuhnya diselimuti dengan kobaran api seperti kostum. Sayap api tumbuh berkibar-kibar di punggungnya.
Reinhard melihatnya dengan mata yang terbuka lebar.
“kukira aku sudah mati.” Katanya. “seperti yang diduga dari partnerku, kau selalu bisa menyelamatkanku, Emiya.”
Reinhard memukul pundak Emiya dengan lumayan keras. Emiya membalasnya dengan lumayan keras juga.
Kemudian, mereka menyatukan pukulan dan tangkapan tangan di depan dada mereka.
“Yosh” “baiklah”
“ “waktunya mulai pertarungan kita!” ”
“Reinhard.” “Emiya.”
--- -----
Di sekeliling mereka, kelima jenderal setelah menghindari serangan Emiya berdiri.
Grey tertawa. “gahaha~ jadi ini kombinasi yang terkenal dari Negeri petualang itu.”
Izaya membuka mulutnya. “Vajra dan Phoenix... pantas saja mereka berdua sekuat ini.”
“eeeh..” teriak kagum Erza. “Apa itu beneran mereka? aku tidak percaya ini! aku selalu ingin melihat mereka dari dekat!”
Sting melihat Erza dengan sinis. “dan kau sekarang bertarung melawan mereka? itu menggelikan.”
“tidak, Sting. Seorang pria memang harus bertarung!” sahut Lunath.
Sting melihatnya dengan sinis. Erza bergumam. “tapi Erza adalah perempuan...”
__ADS_1
--- ---