
"Kenapa aku? Apa yang masih bisa aku lakukan?" Aku terus membatin, tak habis ya aku membuat pertanyaan monoton seperti itu, terus terulang di dalam fikiran aku, aku ingin meminta bantuan, dan memohon kepada tuhan, tapi aku malu kepadanya, ya.. Aku bahkan sangat malu untuk meminta 1 permintaan saja, karna aku tidak menuruti perintah nya untuk sholat, pergi ke masjid,maupun membaca kitab nya. Namun ketika Aku bertanya kepada Ryan,"aku tidak tau, tapi aku yakin kamu bisa melakukan nya, karna kamu istimewa, tidak sepertiku, aku buatan, aku tidak punya bakat dri lahir seperti mu" gumam Riyan, dengan senyum tengil nya waktu di sekolah kemarin.
.
.
Lalu saya teringat tawaran Ryan untuk bergabung dengan perguruan nya, yang berpusat di bogor, perguruan nya ini sudah banyak memiliki cabang di setiap daerah di jakarta saja sudah lebih dari 10. Ryan adalah seorang murid suatu perguruan Ghoib,seperti yang saya sebutkan di chapter 3, Ryan bukan lah anak berbakat seperti saya,berbeda dengan saya, saya tidak ingin memiliki ke istimewaan ini,namun dia,dia sangat menginginkan nya. Riyan beberapa kali slalu mengajak saya untuk bergabung ke perguruan nya, karna dia yakin saya akan menjadi orang yang lebih hebat dari nya. "Mungkin saya akan tau jawaban nya, ya.. Saya akan bergabung" gumam ku dalam hati.
.
Lalu aku segera menelfon Riyan untuk bertemu dengan nya, lalu ia bilang akan bermain ke rumah ku sehabis sholat isya, Ryan adalah sosok yang sangat rajin dalam beribadah, semenjak kelas 2 SD/ semenjak dia bergabung dengan perguruan itu, dia tidak pernah melewati 1 sholat pun, dia sering ke masjid untuk sholat berjamaah, dan hebatnya dia sudah hafal hampir seluruh isi dari Al-Qur'an,termasuk pengkajian nya..
begitulah dia, sosok yang membuat saya nyaman ketika bermain dengan ya, bahkan mungkin sekarang saya lebih dekat dengan nya, dari pada ka Dina, karna saya takut membuat beliau khawatir, sampai detik ini pun saya tidak pernah memberitahukan kemampuanku padanya.
.
.
__ADS_1
Tak terasa Ryan sudah ada di depan rumah saya, lalu terdengar di bawah suara ibu yang mempersilahkan Ryan untuk naik ke lantai 2 untuk bertemu denganku,
Ryan : "woi vin, maen PS tapi kenapa mukamu cemberut" ledek nya sambil membuka pintu kamar ku
Saya : biasa lah,aku masih mikirin yang tadi
Ryan : ohh haha, kirain kenapa, oia tumben td kamu ga mau ngomong via telfon.
Saya : ia yan,oia ajakan mu untuk bergabung ke perguruan mu masih ada kan?
Saya : ia yan,aku udah memantapkan hati, karna aku ingin lebih mengenal lebih dalam diri ku, aku tidak mau selama nya seperti ini.
Ryan : hmmm.. Ydh bsok sehabis mahgrib kamu ke rumah aku ya, nanti aku bilang dulu sama ayah, trus sehabis itu kita langsung ke perguruan ku, untuk sholat isya bareng.
.
Setelah pembicaraan serius kami, akhirnya Ryan mengajak ku bermain PS, tidak kerasa waktu sudah menunjukan pukul 9.20 PM, dan akhir nya Ryan pun pulang.
__ADS_1
.
.
Ke esokan hari nya saya berangkat ke sekolah seperti biasa, dan tentu saja saya sangat amat menghindari untuk berjalan di lorong itu, ya.. lorong dimana saya selalu beremu dengan hantu wanita itu. Dan nasib apes pun kembali menghampiri saya, saya di suruh guru untuk ke ruang Kepsek, kata ya ada yang mau di omongkan, lalu saya terdiam sebentar "bagaimana kalau nanti saya bertemu hantu wanita itu" gumam ku dalam hati, lalu untuk berjaga-jaga saya mengajak Ryan untuk ikut, dan Ryan hanya menahan tawa,dan mengangguk, dia tau kalau saya takut kalau sendiri untuk melewati lowong itu.
.
Lalu saya dan Ryan berjalan keluar kelas untuk bertemu Pak Kepsek, dan sampailah saya di lorong tersebut, lagi-lagi saya melihat sosok itu, tapi ini berbeda, ya sangat berbeda hantu wanita itu berdiri di tempat kemarin, namun penampilan nya menjadi bersih, baju yang kemarin dia kenakan yang sudah menguning, kini begitu putih bersih, dan wajah nya tidak pucat lagi. "Apakah dia melakukan itu agar saya tidak takut dengan nya?" Gumam ku pelan, lalu ketika sudah hampir beberapa meter dengan hantu itu.
"Kevin, tolong aku" suara nya berubah !.. Suara ya tidak menakutkan seperti kemarin, lalu saya menengok ke arah Ryan,Ryan hanya tersenyum. Dan dia bilang ke padaku, sambil mengentikan langkah kami berdua yang tepat di depan hantu wanita itu, "vin.. Lebih baik kamu dengarkan dia dulu" seru dia. "Lalu aku bilang, jangan sekarang, jangan sekarang aku belum siap, aku masih butuh beberapa waktu untuk mendengar pertolonganmu" sambil berdiri ketakutan, walaupun dia sudah merubah penampilan nya secantik itu, saya tetap berfikir dia hantu, lalu saya mengajak Ryan untuk cepat berjalan, dan akhir nya kami pergi meninggalkan nya.
Ryan : "kasian vin, sudah dandan cantik-cantik gitu, masih kamu cuekin dia hahah" seru dia sambil tertawa
Saya : "huss ngaco kamu.. Nanti yan, mungkin setelah aku masuk ke perguruan mu, aku dapat memantap kan mental ku untuk berbicara dengan nya, dan saya janji itu"
Dan Ryan hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1