Isteri Yang Dikejar

Isteri Yang Dikejar
Episode 18


__ADS_3

Arghhhhhhhhhhhhh


Gila itu orang! Ngomong hal kotor sama aku. Kamu pikir aku apa? Dasar laki ngak tahu malu.


Hurmmm...


Baim... foto perkhawinan yang berada di meja tepi kasurnya diambil. Wajah lelaki itu diusap lembut. Tanpa ia sedar, air mata terus mengalir.


“Kenapa melupakan mu itu sakit sekali? Apa kamu tahu, aku merindukan mu sayang? Sejauh mana aku cuba untuk menghilang rasa sakit ini, makin kuat rasa cintaku ini? Kenapa kau pergi begitu cepat?”


Ya Allah, maaf kerna aku menidakkan kekuasaanMU. Tolong aku ya Allah, bantu aku bangkit dari kesedihan ini. Aku ingin membuat kedua orang tuaku bahagia tanpa khawatirkan aku lagi. Aku ingin bahagia dan sentiasa senyum walaupun dia sudah berada disisiMU.


“Baim... percayala, cintaku hanya untuk mu walaupun aku cuba melupakan mu. Biarla kenangan kita menjadi kenangan terindah kita bersama. Kerna aku percaya kau selalu menginginkan kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku adalah menunaikan impianmu.”


Impian membahagiakan orang tua kita...


Tok tok.


“Masuk, ngak dikunci pintunya.” Seorang laki-laki masuk ke kamarnya. Siapa lagi kalau bukan si ayah.


“Sayang... apa kamu lagi sibuk?” Si ayah menghampiri si anak gadisnya. Diusap dan dibelai lembut rambut anak gadisnya. Tanpa disangka, anak gadisnya memeluk erat tubuhnya.


“Sayang... katakanla...”

__ADS_1


“Ayah... aku... aku...”


“Shushhhh...” Diusap punggung anaknya dengan lembut.


“Aku kangen sama baim, ayah.”


“Ayah tahu...”


“Kenapa perpisahan itu sakit ayah? Aku udah cuba untuk melepaskannya, untuk redho dengan kententuaanya. Tapi hati aku ngak seperti itu?”



“Aku pengen melihat kalian bahagia untuk tidak tangisi ini lagi, tapi aku ngak kuat ayah. Sentiap hari, setiap detik dia ada difikiran ku. Apa saja yang aku lakukan untuk dia ayah.”


“Rina... kamu harus membuka hati kamu untuk laki-laki lain. Mungkin saja dengan kehadiran laki-laki yang tulua mencintaimu, kamu bakal melupakan.”


Riskinrina mengelengkan kepalanya


“Aku udah berjanji padanya untuk sentiasa setia kepadanya. Aku percaya kami akan bersama disana kelak.”


“Dan kamu sanggup terus menyakiti dia disana dengan keadaan kamu seperti ini? Apa kamu lupa pada pesanannya untuk mencari penggantinya? Untuk sentiasa bahagia dan tersenyum? Apa kamu lupa dengan semua itu.”


Riskinrina menunduk. Surat-surat itu lantas dibayangannya.

__ADS_1


Sheng Lee menarik dagu puterinya itu.


“Dengarla wahai puteriku, kamu adalah satu-satunya puteriku. Kamu adala pewarisku yang aku ada diatas dunia ini. Jika apa-apa terjadi padamu bagaimana nasib aku sama bunda mu? Jika kamu ngak menikah bagaimana dengan penerus Sheng Lee?”


Penerus?


“Aku mampu menerima andai kamu ngak bisa memberi penerus pada keturunan kita. Tapi aku ngak sanggup melihat bintangku yang dahulu bersinar kian gelap. Aku ingin kamu bahagia anak. Tersenyumla, kerna aku akan sentiasa mendukungmu.”


“Ayahhhh...”


Dengan lirih dia menghempurkan wajahnya pada dada si ayah.


“Maafkan aku ayah... Maafkan aku... Selama ini aku ngak pernah memikirkan mu. Aku mengikut kata hatiku ini ayah. Aku berjanji...”


“Shush... jangan berjanji jika ia sulit buatmu.”


“Ngak!” Riskinrina memadang wajah si ayah.


“Aku berjanji akan membahagiakan kalian. Dan aku juga bakal menerima sesiapa sahaja yang ayah ingin jodohkan. Kerna aku ingin kalian dan baim sentiasa bahagia. Aku rela mengorbankan jiwaku untuk kalian.”


Dengan lebuh si ayah mengusap lembut kepala si anak.


“Terima kasih sayang... Kamu akan sentiasa berada dalam doa ayah sama bunda, ingat itu.”

__ADS_1


__ADS_2