Isteri Yang Dikejar

Isteri Yang Dikejar
Episode 27


__ADS_3

“Kamu lagi ngomong sama siapa tadi?” Pertanyaan itu seperti air yang lagi mengalir. Riskinrina masih memandang pohon-pohon yang berada diluar. Entah kemana fikirannya. Yang pasti fikirannya masih ke Fitri Noah!


Kenapa juga laki itu harus pulang! Hidupku bakal ngak akan aman nanti. Apa aku kabur saja?


“Rina?!” Suara itu menekan membuat Riskinrina tersedar.


“Sorry ge ge. Ge ge lagi ngomong apa?”


Wajah Sharon dilihat sebelum dia memandang wajah Rio yang lagi memerhatikan mereka.


“Ge ge bingung deh sama kamu. Kok kamu mengelamun saja sih dari tadi. Ada masalah ya? Kamu masalah kantor, ge ge bisa kok hantar kamu duluan. Urusan Rio ge ge urusin nanti.”


Riskirina hanya menggelengkan kepalanya.


“Ngak apa-apa kak. Lagi pusing aja naik mobil.”


Hahahhahahah


Ketawa si Sharon membuat Riskirina kembali menoleh ke arah lelaki itu.


“Apa ge ge ngak lagi salah dengar? Masa kamu naik mobil pusing. Kamu udah naik mobil dari kamu dalam kandungan terus kamu juga tahu memandu.”

__ADS_1


“Ia ge ge, kalau mau pusing. Iya pusing juga la kak.” Hanya jelingan diberikan. Ia masih kesal dengan suara ketawa si Sharon.


Riskirina kembali melihat suasana jalan raya. Sunyi. Rumah panti yang dibuka kali ini agak sedikit jauh dari kesibukkan kota. Ia sengaja memilih kawasan ini agar anak-anak bisa berkembang dengan suasana yang nyaman.


——


Medical SL


“Shush Rio, kamu anak kuat. Masa kamu nangis sih.” Aku menepuk lembut punggung anak kecil itu. Anak kecil itu masih menangis. Perlahan aku mencium rambut anak kecil itu. Aku melihat Ge ge Sharon yang lagi menyelesai urusan ubatnya Rio.


Rio masih menangis membuatku bingung. Aku mendudukkan tubuhku pada sofa yang disediakan. Tubuh Rio ku dudukkan pada paha kakiku.


“Rio sayang, kamu tahu kenapa doktor suntik kamu?” Kanak-kanak itu diam.


“Doktor mau kamu sembuh sayang. Kalau kamu lagi ngak sihat, terus gimana kamu mau main sama anak-anak panti lain? Jadinya doktor suntik biar kamu cepat sembut.”


“Cakit...” dia menggosok pada lengannya.


“Ngak sakit kok. Biar kakak... eh biar mama tiup biar ngak sakit lagi.”


“Mama?”

__ADS_1


“Ia sayang mulai, mama adalah mama Rio.” Sambil meniup tempat yang disuntik.


“Mama!” Terus anak kecil itu menghambur wajahnya pada dadaku. Tangannya makin melingkar pada leher milikku.


“Jangan nangis, mama ada sama kamu. Sayang anak mama...” seketika aku tersenyum dengan kata-kataku. Kata-kata yang bunda sering sebut. Tapi kenapa mama ia? Kenapa ngak bunda? Hahahahaha


“Mama jangan tinggalin Rio lagi ya. Rio takut tante selalu pukulin Rio.” Entah mengapa air mataku jatuh apabila mendengar rayuan Rio.


“Ngak mama ngak akan tinggalin Rio. Rio anak mama, mama akan selalu ada sama Rio.” Pelukan yang ku berikan semakin ketat. Rasa sayang pada anak kecil ini semakin besar.


Ketika anak-anak lain lagi bahagia bersama keluarga tapi anak ini sudah memahami kesakitan yang diberikan oleh keluarganya! Tanpa aku sedari air mataku mengalir ketika melihat wajah Rio yang tersenyum lalu mengucupi pipiku.


“Rio sayang mama.”


“Rino... Kenapa sih kamu?” Ge ge mengusap pipiku yang lagi menangis.


“Ge ge...”


“Papa...”


“Ayo Rio sama papa.” Ge ge Sharon mengambil Rio dariku. Rupanya ge ge udah membahasakan dirinya papa.

__ADS_1


__ADS_2