
Singapur
Fitri Noah masih dalam keadaan ‘terkejar’ oleh waktu. Bulan demi bulan, waktu demi waktu semakin cemburu kepadanya.
Dia lelah. Seperti kerjannya ngak akan selesai. Tapi dia udah tekat dia akan berusaha lebih gigih agar kerjanya berlangsung dengan lebih cepat.
Tok tok
“Come in”
“Pak saya ingin memaklumkan kerjasama kita sama perusahaan Malaysia udah diterima.”
Terhenti kerja Fitri Noah. Dia udah menunggu begitu lama dengan keputusan itu. Usahasama antara perniagaanya di Singapur udah diterima oleh para pengusaha di Malaysia. Syukur!!!
“Apa ada lagi yang lain?”
“Ngak pak.”
“Baiklah.” Fitri Noah menyandarkan tubuhnya. Dia puas dengan usaha selama ini. Kini dia bisa bernacas sedikit lega. Aku begitu syukur saat ini.
Kring kring. Panggilan daripada sang papih.
“Pulangla.” Tanpa salam mahupun panggilan nama, kata itu terucap. Ternaik sebuah senyuman. Udah lama dia menunggu kata-kata itu keluar daripada bibir lelaki itu.
“Apa aku ngak perlu menyambung pekerjaan disini?”
“Tidak. Pulangla.”
“Bukankah kau menyuruh untuk aku terus berada disini?”
__ADS_1
“Bila papih bilang pulang, pulangla. Jika tidak kau akan terus berada disana tapi kembali lagi ke sini. Apa kau mahu?”
“TIDAK!” Suara itu sedikit berteriak tanda protes.
“Aku akan kembali secepatnya!”
Tut tut!
“Aku akan pulang!!!!” Jerit Fitri Noah yang telah membuat ruang itu bergema dengan teriakannya.
“Rina! Aku pulang dan kali ini aku ngak akan melepaskan kamu lagi!”
Indonesia
Haichin! Haichin!
“Kok aku bersin tiba tiba?” Hidung kecil ku diulas lembut. Sepertinya ngak ada habuk disini. Apa ada yang lagi menyebut nama ku?
Kelihatan beberapa orang kanak-kanak sedang berlari kesana-kesini sambil ketawa riang. Indahnya senyuman mereka!
Seketika matanya tersenyum pada satu tubuh yang sedang melayani anak kecil.
“Ge ge.”
“Iya?” Riskinrina mengambil tempat disebelah laki itu.
“Lagi apain?”
__ADS_1
“Rio bilang dia sakit gigi. Aku mau lihat tapi ia ngak mau nunjuk sama aku.” Riskinrina tersenyum dan terus mengambil Rio untuk didukung.
“Sayang ayo tunjukkan gigi kamu yang imut sama kakak. Kakak mau lihat mana yang sakit. Biar kakak rawat agar kamu ngak rasa sakit lagi.”
Kanak-kanak itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Apa kamu ngak sayang sama kakak?” Lagi sekali dia menggelengkan kepalanya.
“Ayola... aaa”
Kanak-kanak itu membuka mulut kecil itu.
“Mana yang sakit?” Rio menunjuk dengan jari kecil itu dan diikuti Riskinrina.
“Ayo kak kita ke rumah sakit. Sepertinya giginya bergoyang.”
“Baikla, aku pamit sama Ibu Nur dulu ya.”
“Ayo Rio.” Rio yang masih dalam dukungan dibawa ke mobil. Dengan perlahan dia meletakkan Rio dikemudi belakang dan terus memasanh sabuk pengaman.
Rio yang masih dalam keadaan diam dipandang senyum. Kepala itu diulas lembut. Rio tidak seperti anak-anak kebiasaannya. Rio seorang anak yang pendiam dan hanya bicara diperlukan.
Rio ditempatkan di Asuhan Cahaya Baim ketika ia berusia tiga tahun iaitu dua tahun yang lalu. Rio yang datang dalam keadaan pakaian bermerak begitu membuat aku sama Ibu Nur hairan. Kami mula-mula memikirkan anak ini tersesat.
Tapi... sangkaan kami salah. Rio ditinggalkan di panti asuhan oleh seorang wanita yang mengelarkan dirinya pengasuh Rio. Di dalam surat itu mengatakan orang tua Rio sudah meninggal akibat kecelakaan. Dan pengasuh itu ngak tahan melihat Rio didera fiziknya oleh penjaga mereka.
Sejak dari itu Rio diangkat menjadi anak asuhan panti. Dan sejak itu aku juga menyiasat mengenai kehidupan Rio tapi jawapannya masih ngak ada perkembangan.
Halusinasi ku seketika hilang apabila sebuah panggilan masuk. Aku memberikan senyuman kepada Rio sebelum aku menutup pintu mobil.
__ADS_1
“Assalamualaikum...”