Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
19. Janji temu


__ADS_3

Calvin meminta Irfan agar menghubungi Nadin dan meminta wanita itu bertemu dan mereka janjian. Awalnya sang asisten menolak karena tidak ingin atasannya mendapat masalah, tetapi setelah Calvin mendesaknya akhirnya, mau tidak mau Irfan pun menurutinya dan memesan ruang privat di salah satu restoran.


Begitu sampai di restoran, Calvin segera menuju ruangan yang dipesan, ternyata Nadin sudah ada di sana dengan senyum mengembang. Calvin masih bersikap biasa saja dan duduk di depan wanita itu. Irfan juga mengikutinya dan duduk di antara mereka. Nadin mengerutkan keningnya saat mendapati asisten itu duduk di sana juga.


Tadinya dia mengira jika dirinya akan berdua saja dengan Calvin. Kalau seperti ini pasti akan ada banyak peraturan yang diberikan oleh pria itu. Gagal rencananya untuk semakin menggaet pria pujaan hatinya.


"Calvin, Kenapa Irfan harus ikut? Kenapa tidak bicara berdua saja? Kamu seperti atasan yang tidak punya privasi," cibir Nadin yang sengaja agar Calvin mengusir Irfan, tetapi usahanya sia-sia.


"Tidak, Irfan akan ikut bersamaku ke mana pun aku pergi. Aku tidak mau ada masalah, apalagi sampai ada fitnah di kemudian hari. Sekarang banyak sekali orang-orang yang suka memanfaatkan keadaan," sindir Calvin.


Dia sebenarnya sudah muak dengan wanita yang ada di depannya. Pria itu juga tidak ingin duduk di sini berdua dengan Nadin, tetapi demi menjaga perasaan keluarganya, dia harus bertemu langsung dan memberi peringatan pada wanita itu.

__ADS_1


Nadin tahu jika Calvin sedang menyindirnya. Namun, wanita itu sebisa mungkin bersikap biasa aja, seolah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Calvin.


"Apa yang membuatmu datang ke rumah dan mengatakan tentang kehamilanmu pada keluargaku?" tanya Calvin dengan nada dingin.


Tatapan tajam pria itu seketika membuat tubuh Nadin bergetar, tetapi sebisa mungkin dia bersikap santai. Wanita itu tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Ini semua juga demi keluarga dan masa depannya.


"Mereka juga berhak tahu mengenai calon cucu mereka."


Calvin benar-benar geram dengan sikap Nadin yang tidak tahu malu padahal seorang wanita. Bukankah seharusnya dia bisa menjaga marwahnya.


"Kenapa kamu begitu jahat padaku? Apa salahnya kalau kamu mengakui ini anakmu? Bukankah istrimu juga tidak hamil? Seharusnya kamu senang mendapat keturunan."

__ADS_1


Calvin tertawa terbahak-bahak, bisa-bisanya wanita di depannya berkata hal yang tidak tahu malu. Dia memang belum memiliki anak, itu bukan kesalahan istrinya karena dirinya yang salah, belum pernah menyentuh istrinya. Bahkan untuk sekadar c****n saja tidak pernah


"Istriku memang tidak hamil, tapi bukan berarti aku harus mengakui sembarangan anak sebagai anakku. Ini peringatan terakhir untukmu jika tidak, kamu pasti bisa tahu apa yang bisa aku lakukan pada keluargamu jadi, berhati-hatilah."


Sorot mata Calvin begitu tajam, membuat Nadin merinding seketika, tetapi dengan segera dia menguasai perasaannya. "Memangnya apa yang bisa kamu lakukan pada keluargaku? Aku yakin kamu bukan orang yang jahat."


Calvin menyeringai sinis. "Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada usaha papamu yang sebentar lagi akan gulung tikar. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk mendapatkan uang agar usaha keluargamu tidak bangkrut? Lebih baik kamu batalkan keinginanmu itu, kalau tidak saya akan semakin membuat ayahmu kehilangan usaha satu-satunya keluargamu. Satu lagi, kekasihmu itu yang seorang dokter, aku pastikan akan kehilangan pekerjaan dan nama baiknya. Dia tidak akan diterima di rumah sakit mana pun. Kamu tinggal memilih jalan apa yang akan kamu ambil. Aku tidak menerima negosiasi lagi, hanya tinggal satu kata, maka semuanya akan berakhir."


Calvin segera pergi meninggalkan ruangan itu, sementara Nadine terpaku di tempatnya. Anak ini memang bukan anak Calvin, dia melakukan semua ini demi keluarganya. Meskipun semuanya tidak masuk akal karena memang sudah bertahun-tahun, wanita itu tidak bertemu dengan mantan kekasihnya, tetapi karena tekanan dari keluarganya terpaksa dia melakukan semua ini. Padahal sang kekasih sudah bersedia untuk menikahinya.


Sementara itu, Calvin pergi seorang diri. Irfan diminta untuk tetap di sana dan mengikuti ke mana Nadin akan pergi. Tidak lupa juga Calvin meminta Irfan mengirim seseorang untuk memata-matai apa saja yang dilakukan oleh Nadin.

__ADS_1


__ADS_2