
"Kami pamit, ya, Ma," ucap Zakira saat berpamitan dengan kedua mertuanya.
Dia bersama dengan sang suami akan segera pergi ke bandara. Seperti rencana tadi pagi, keduanya akan berbulan madu. Meskipun hanya tiga hari, mereka berharap perjalanan ini berkesan.
"Iya, kalian hati-hati di sana. Jangan lupa kirim pesan sama Mama kalau sudah sampai tujuan," sahut Mama Sekar yang tidak melepaskan genggaman tangan sang menantu.
"Iya, Ma. Mama juga jaga kesehatan, jangan capek-capek kalau mengerjakan tugas rumah. Masih ada bibi."
"Iya, jangan terlalu memikirkan Mama. Lebih baik kalian senang-senang saja di sana."
Zakira pun memeluk sang mertua bergantian dengan sang suami. Begitu juga dengan Papa hari. Mereka pun pergi dengan diantar oleh sopir. Mama Sekar sebenarnya berat melepas kepergian sang menantu, tetapi mengingat kepergian mereka yang hanya sebentar dia pun melepasnya. Lagi pula ini semua juga demi keharmonisan rumah tangga anak dan menantunya.
Sepanjang perjalanan, Zakira terus saja tersenyum membayangkan bagaimana perjalanan liburan kali ini. Namun, tiba-tiba saja wanita itu merasa ada yang aneh karena jelas-jelas ini bukan jalan menuju bandara, melainkan menuju rumahnya lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya. Dia menatap sang suami yang saat ini tengah tersenyum ke arahnya.
"Mas, apa kamu tidak salah jalan?" tanya Zakira yang mencoba untuk mencari jawaban, apa perkiraannya salah atau tidak.
"Tidak, aku tidak salah jalan. Memangnya kenapa? Ini 'kan bukan jalan menuju bandara, tapi menuju ...."
Zakira tidak melanjutkan kata-katanya, dia juga sangat merindukan mereka. Tidak menyangka jika sang suami akan mengabulkan keinginannya. Lagi-lagi wanita itu dibuat kagum dengan perhatian suaminya yang begitu besar. Calvin yang mengerti segera mengusap rambut sang istri, itu juga bentuk kasih sayangnya.
"Memang siapa yang bilang mau ke bandara sekarang? Saat ini kita sedang menuju ke rumah kedua orang tua kita, orang tuamu orang tuaku juga. Aku belum mengenal mereka jadi apa salahnya kita bersilaturahmi. Aku juga ingin mengenal mereka lebih dekat sekalian pamit mau bulan madu, tapi kita di sana nggak bisa lama-lama, ya, Sayang. Kapan-kapan kita berkunjung lagi."
Mata Zakira berkaca-kaca, tidak menyangka jika sang suami bisa berpikir sampai sejauh ini. Dirinya saja tidak pernah berpikir demikian karena selama ini dia mengira, tubuhnya sudah dibeli oleh keluarga dengan Gunawan. Sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan kedua orang tuanya, seperti yang sebelumnya pernah dikatakan oleh Tuan Gunawan sendiri. Calvin mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri, dia tahu jika itu air mata bahagia karenanya pria itu tidak marah.
"Kenapa menangis? Apa kamu tidak suka datang ke rumah kedua orang tuamu?"
__ADS_1
Zakira menggeleng dengan cepat. "Bukan tidak suka, Mas. Aku justru sangat bahagia, hanya saja bukankah Papa Gunawan sebelumnya melarang aku untuk menjalin hubungan dengan papa dan mama lagi?"
Kelvin tersenyum sambil mengacak rambut Zakira. Istrinya masih saja terlalu polos, mengikuti apa pun permintaan papanya. Padahal dia sangat tahu jika Papa Gunawan melakukan hal tersebut karena tidak ingin wanita itu dimanfaatkan oleh kedua orang tuanya. Saat itu kedua orang tua Zakira masih silau akan harta, berbeda dengan sekarang yang mungkin sudah mulai membiasakan diri.
"Tidak usah terlalu dipikirkan ucapan papa. Suatu saat kamu pasti akan mengerti seiring berjalannya waktu."
"Maksud kamu, Mas?" tanya Zakira yang semakin tidak mengerti.
"Setelah kamu mengenal baik bagaimana kepribadian papa, kamu pasti akan mengerti kenapa papa melakukan hal itu padamu. Untuk sekarang biar berjalan apa adanya."
Meskipun Zakira tidak mengerti apa pun, wanita itu tetap mengangguk. Dia yakin semua yang dilakukan oleh suami dan kedua mertuanya pasti untuk kebaikan. Dirinya juga tidak keberatan dengan apa pun yang mereka lakukan. Wanita itu sangat percaya pada keluarganya karena selama ini mereka memang selalu baik.
Mobil mereka memasuki halaman rumah kedua orang tua Zakira. Calvin mengajak sang istri untuk turun. Sama seperti sebelumnya, pria itu mengingatkan sang istri kalau mereka tidak bisa terlalu lama, hanya satu jam saja. Zakira pun mengangguk, baginya waktu itu sudah cukup asalkan bisa bertemu dengan mama dan papanya.
"Akhirnya Mama bisa bertemu dengan kamu. Mama rindu sekali sama kamu," ucap Mama Mita dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
Tadinya wanita itu tidak berharap banyak karena seperti yang dikatakan oleh suaminya kemarin. Jika Zakira sudah dibeli jadi, mereka tidak boleh mengharapkan kehadiran putrinya kecuali atas keinginan Tuan Gunawan sendiri. Namun, sekarang dirinya bahkan bisa merasakan pelukan Zakira.
Papa Fadli yang berada di dalam rumah segera keluar saat mendengar suara berisik. Dia pun sama dibuat terkejut saat mendapati sang putri bersama dengan menantunya ada di depan pintu. Pria itu segera mendekati istrinya yang saat ini sedang memeluk Zakira.
"Papa," panggil Zakira yang segera beralih memeluk papanya.
"Kamu apa kabar? Papa kangen sekali sama kamu. Maafkan Papa, Papa sudah membuat kesalahan yang begitu besar padamu," ucap Papa Fadli disela pelukan mereka.
Zakira menggeleng dalam pelukan papanya. Mungkin awalnya memang dia juga menyalahkan papanya. Namun, setelah mengenal dengan baik bagaimana keluarga sang suami, dia justru merasa bersyukur dan berterima kasih. Secara tidak langsung papanya lah yang memberi kebahagiaan ini.
__ADS_1
"Papa tidak salah, ini semua sudah takdir dan aku bahagia menjalaninya."
Papa Fadli mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi Zakira. "Benar kamu bahagia, Nak?" tanya Fadli untuk meyakinkan dirinya.
"Tentu saja, Pa. Aku sangat bahagia."
Papa Fadli segera kembali memeluk putrinya. Cukup lama hingga Mama Mita tersadar saat melihat ke arah belakang Zakira. Ternyata di sana ada Calvin yang sedang tersenyum ke arah mereka. Hal tersebut tentu saja membuat Mama Mita merasa bersalah karena mengabaikan keberadaan pria itu.
"Maaf, Tuan. Kami terlalu sibuk hingga tidak menyadari keberadaan Anda," ucap Mama Mita sambil memukul lengan sang suami agar melepaskan pelukan pada putrinya.
Papa Fadli pun juga ikut gelagapan. Tadi dia memang sudah melihat keberadaan Calvin, tetapi rasa rindu pada putrinya seolah menutup matanya dan tidak melihat siapa pun lagi.
"Iya, maaf. Saya sampai tidak sadar karena sudah sangat rindu sama Zakira," sahut Papa Fadli sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak apa-apa, Pa, Ma. Saya mengerti perasaan Papa dan Mama," sahut Calvin dengan sopan.
Papa Fadli dan Mama Mita pun terbengong mendengar panggilan dari Calvin, tidak menyangka jika pemuda itu mau memanggil mereka papa dan mama. Zakira hanya tersenyum melihat wajah kebingungan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma apa kita akan berdiri terus di sini? Aku 'kan capek mau duduk," tegur Zakira menyadarkan kedua orang tuanya.
"Oh iya, maaf, Mama sampai lupa, ayo silakan masuk! Mari, Tuan!" ajak Mama Mita yang diangguki oleh semua orang, termasuk Calvin.
"Ma, jangan panggil tuan, bagaimanapun juga aku adalah menantumu."
"Hah ... iya ...."
__ADS_1