Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
21.


__ADS_3

"Udara sudah semakin dingin, sebaiknya kita masuk!" ajak Calvin, Zakira hanya mengangguk dan mengikuti langkah sang suami.


"Kamu mau kopi atau teh, Mas?"


"Teh hangat saja."


Zakira segera turun, tidak lupa dia meletakkan jas milik sang suami di gantungan dekat pintu. Wanita itu segera pergi ke dapur untuk membuatkan sang suami teh hangat. Sepanjang kegiatan yang Zakira lakukan senyum terus saja terukir di bibirnya. Bayangan kebahagiaan akan dia terima dan dia tidak sabar menunggunya.


Tiba-tiba saja wanita itu teringat jika dirinya dan sang suami belum melakukan malam pertama. Sekarang keduanya sama-sama sudah mengakui cinta. Apakah nanti Calvin akan meminta haknya? Mengingat hal tersebut membuat bulu kuduknya merinding. Entah harus bagaimana dirinya nanti, tetapi semua harus tetap dihadapi.


Setelah selesai membuat teh, Zakira menarik napas dalam-dalam, membuangnya beberapa kali dan melangkah menuju kamar. Dirinya bener-bener gugup kali ini.


Begitu memasuki kamar tidak tampak Calvin di sana, hanya terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Pasti saat ini sang suami sedang membersihkan diri di sana. Zakira menunggu di atas ranjang sambil membaca bukunya, padahal saat ini dirinya sedang tidak fokus pada bacaannya. Sesekali dia melirik ke arah pintu kamar mandi, takut jika sang suami sudah selesai.


Hingga terdengar suara pintu terbuka. Namun, Zakira pura-pura tidak melihat dan terus fokus pada buku bacaannya. Calvin tahu jika sang istri saat ini tengah gelisah, terlihat dari gerak tubuhnya yang tidak nyaman. Diam-diam pria itu tersenyum, entah pikirannya saat ini sama dengan sang istri atau tidak.


"Kamu lagi baca apa, Sayang?" tanya Calvin yang kemudian duduk di ranjang dan mendekat ke arah sang istri. Zakira semakin gugup di buatnya.

__ADS_1


"Hah? A–apa? Kamu panggil aku apa?" Zakira terkejut dengan panggilan yang disematkan oleh Calvin hingga dia pun bertanya tampak seperti wanita b*d*h.


"Kamu lagi baca apa, Sayang? Apa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu? Bukankah kita suami istri?"


"Bu–bukan begitu, Mas. Hanya ... hanya ...."


"Iya, aku mengerti, tapi mulai hari ini kamu harus mulai membiasakan diri dengan panggilan yang aku berikan. Mungkin ini akan terdengar aneh, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu kamu juga pasti akan terbiasa."


Calvin tersenyum manis ke arah Zakira, membuat gadis itu menunduk malu. "Iya, Mas. Maaf kalau sikapku melukai hatimu."


"Tidak sama sekali, aku justru senang setidaknya kamu mau mengekspresikan diri. Malah aku senang dengan kamu yang seperti ini."


"Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan kewajiban. Aku akan menunggu sampai kamu siap."


Zakira hanya bisa mengangguk saja, dia merasa terharu atas kepekaan sang suami. Padahal dalam hati wanita itu sudah siap jika memang Calvin meminta haknya malam ini. Namun, mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya juga terasa malu. Masih banyak waktu untuk saling mengungkapkan perasaan.


"Ya sudah, sekarang sudah sangat larut sebaiknya kamu tidur!" perintah Calvin, keduanya pun segera merebahkan tubuh masing-masing.

__ADS_1


Calvin meminta sang istri untuk berbaring dengan berbatalkan lengannya. Zakira dengan senang hati menyetujui dengan hati yang berdebar kencang. Wanita itu mencoba untuk tetap menikmati aroma tubuh suaminya. Tanpa sadar Zakira terlena, hingga gerakan Calvin membuyarkan lamunannya. Wanita itu merutuknya kebodohannya, bagaimana bisa sampai terbuai begitu saja.


"Mas, bagaimana jika Nadin tetap memaksa kamu untuk bertanggung jawab?" tanya Zakira tiba-tiba karena dirinya tidak bisa tidur, akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja.


Entah kenapa tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada wanita itu. Sebagai seorang istri, tentu saja dia merasa takut jika sang suami tergoda oleh wanita lain.


"Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Apa pun usaha yang dilakukan Nadin, tidak akan menggoyahkanku. Aku juga berharap agar di antara kita tidak ada lagi rahasia. Apa pun yang mengganjal dalam hatimu, katakanlah padaku. Sebisa mungkin kita akan selalu menyelesaikan semuanya bersama-sama."


Zakira mengangguk, dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Berapa beruntungnya wanita itu memiliki suami seperti Calvin yang mencintainya dengan tulus. Kedua mertuanya juga sangat baik dan memperlakukannya seperti orang tua sendiri. Sangat berbeda dengan bayangannya selama ini.


Apalagi jika mengingat kedua orang tuanya selama ini, yang selalu berbuat seenaknya. Siapa yang mengira jika dia akan mendapat balasan begitu indah dari Sang Maha Pencipta.


"Sudah, tidak usah membalas hal ini lagi. Yang aku butuhkan saat ini adalah kepercayaan darimu. Aku harap kamu tidak pernah ragu dengan perasaanku. Aku memang bukan laki-laki yang sempurna, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik."


Zakira memeluk sang suami dengan mengangguk di dada bidang pria itu, begitu pula dengan Calvin. Keduanya seolah menyalurkan rasa cinta yang baru saja tumbuh di hati masing-masing. Meskipun ikatan cinta keduanya belum begitu kuat, tetapi mereka yakin bisa membuat rumah tangga ini kokoh, hingga mau memisahkan keduanya.


Calvin dan Zakira juga bukan tipe orang yang suka memainkan sebuah ikatan. Apalagi ikatan itu suci yang diucapkan di hadapan Tuhan dan para keluarga.

__ADS_1


Keesokan paginya, Zakira membantu Bibi menyiapkan sarapan pagi. meskipun gerakan tangannya tidak begitu cepat, tetapi rasanya tidak kalah dengan orang-orang yang ahli masak. Bahkan kedua orang tuanya pun memuji rasa masakannya. Setelah selesai, Zakira membuatkan kopi untuk sang suami dan meletakkannya di meja makan saja, biar nanti Calvin menikmatinya di meja makan sambil berbincang dengan keluarga lainnya.


"Kamu sudah bangun, kenapa nggak mandi Mas?" tanya Zakira begitu memasuki kamar.


__ADS_2