
Kelvin dan Zakira memasuki kamar hotel yang mereka sewa, ruangannya cukup luas untuk ditempati untuk berdua saja. Wanita itu melihat ke sekeliling, dia begitu kagum dengan dekorasi ruangan hotel itu. Seperti tampak bukan hotel, lebih tepatnya sebuah apartemen mewah. Tidak heran jika harga sewanya begitu mahal, tempatnya juga begitu nyaman.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu suka?" tanya Calvin sambil memeluk sang istri dari belakang. Keduanya berdiri di balkon sambil melihat ke sekeliling hotel.
"Bagus, Mas, tempatnya aku suka. Kamu kok bisa tahu kalau ada tempat seperti ini di sini?" jawab Zakira dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, apa yang tidak aku tahu," sahut Kelvin dengan membanggakan dirinya.
Zakira hanya menimpali dengan dengusan saja. Sang suami memang sudah sangat berubah, bahkan tidak segan untuk memuji dirinya sendiri dan bermanja-manja dengan wanita itu. Rasanya ada yang kurang saat saling berjauhan, keduanya saling merindukan satu sama lain.
"Mas, memangnya kamu beneran tidak mengenal wanita tadi?"
Sejujurnya dari ekspresi sang suami saja sudah menjawab jika memang benar Calvin tidak mengenalnya. Akan tetapi, kenapa wanita itu berbicara seolah mereka pernah kenal dan dekat. Bukan hal aneh sebenarnya jika banyak orang yang mengenal Calvin, mengingatnya pria itu seorang pengusaha terkenal. Hanya saja Zakira tidak suka dengan sikap wanita tadi, yang seolah menganggap dirinya penting dalam hidup suaminya.
Selama ini yang dia tahu sang suami tidak begitu merespon saat ada seorang wanita yang cari perhatian. Entah itu dengan berpura-pura butuh pertolongan atau sok kenal seperti tadi. Mama Sekar juga pernah mengingatkan dirinya. Jika dalam perjalanan mereka nanti pastinya akan ada banyak wanita yang dekat dengan Calvin.
__ADS_1
Bahkan yang lebih parahnya hamil anak pria itu, seperti contohnya Nadin kemarin. Hanya saja ada bukti untuk membantah, tidak tahu ke depannya bagaimana. Mereka juga sudah lama tidak bertemu. Bagaimana nanti dengan wanita-wanita yang lainnya. Entah Zakira sanggup atau tidak melawan mereka.
"Harus bagaimana aku menjelaskan padamu, kalau aku memang benar-benar tidak mengenalnya. Jika wanita itu mengatakan kenal padaku, ya mungkin dia kenal hanya saja aku yang tidak kenal dia. Entahlah dia itu teman sekolahku dulu atau keluarga rekan bisnis. Lagi pula menurutku itu tidak penting, kamu adalah wanita satu-satunya yang ada di dalam hatiku selain mama. Hanya itu yang perlu kamu tanamkan dalam pikiranmu. Sekalipun nanti aku dekat dengan wanita entah itu teman lama atau rekan bisnis. Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Kalau kamu melihat aku bermesraan dengan wanita lain, silahkan kamu mau melakukan apa pun padaku, aku akan menerimanya. Stu hal yang pasti, jangan berpikir bahwa aku menghianatimu karena aku juga sangat membenci penghianatan."
Zakira menatap wajah sang suami, dia dapat melihat kesungguhan pria itu dari sorot matanya. Kini perasaannya sedikit lega, setidaknya apa yang dia takutkan tidak akan terjadi. Terlepas bagaimana nanti hati manusia, biarlah waktu yang menjawabnya. Zakira hanya bisa berdoa agar sang suami tetap meneguhkan hatinya.
"Aku aku percaya padamu dan aku harap kamu tidak menghancurkan kepercayaan yang aku berikan padamu."
"Tentu, terima kasih sudah memberikan kepercayaan itu. Aku harap kedepannya kita saling percaya dan saling memahami satu sama lain."
***
"Papa, aku ingin memperpanjang masa liburan di sini, ya!" ucap Fiona dengan papanya lewat sambungan telepon.
"Mau apalagi kamu di sana, bukankah Papa sebelumnya sudah bilang kalau kamu di sana hanya satu minggu, tapi kenapa sekarang ingin tambah lagi? Pokoknya kamu pulang hari ini juga, biar orang Papa yang pesan tiket," sahut papa Fiona yang bernama Anti, dia juga rekan bisnis Papa Gunawan.
__ADS_1
"Tapi, Pa. Sekarang di sini sedang ada Calvin, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Siapa tahu aku bisa merebut hatinya, nanti pasti akan mempermudahkan papa untuk mencari kucuran dana untuk perusahaan."
"Benarkah Tuan Calvin ada di sana? Apa kamu tidak salah lihat orang? Kamu 'kan hanya beberapa kali bertemu," tanya Anto yang sebenarnya ragu dengan apa yang dikatakan putrinya.
"Tentu tidak, Pa. Aku masih sangat ingat wajahnya saat Papa mengajakku meeting beberapa hari yang lalu, tapi kenapa tadi dia datang bersama dengan seorang wanita dan Calvin mengakui kalau perempuan itu adalah istrinya. Apa benar kalau Tuan Calvin sudah menikah?"
"Menurut sumbernya Papa, memang benar begitu, hanya saja acara pernikahan mereka hanya didatangi beberapa orang saja. Dari para pengusaha bahkan wartawan juga tidak diperkenankan mengambil gambar. Acara pernikahan mereka hanya untuk koleksi pribadi."
"Berarti banyak yang tidak tahu jika Calvin sudah memiliki istri?"
"Tidak juga, banyak yang tahu hanya saja mereka tidak tahu siapa gadis yang sudah beruntung itu. Semua orang juga tidak ada yang berani untuk mencari tahu. Bisa-bisa mereka akan kehilangan pekerjaan."
"Oh begitu." Penjelasan papanya semakin membuat Fiona jadi semakin ingin tahu kepribadian Calvin. Bagaimana kehidupannya sehari-hari dan lainnya.
"Banyak pengusaha yang bergantung pada Calvin, tentu saja semua orang harus cari muka di depannya. Meskipun durian beberapa diantara mereka juga tidak menyukai sikap Calvin, yang seolah-olah dirinya paling hebat di dunia bisnis. Kembali lagi mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat pria itu sudah menentukan.
__ADS_1