
"Maaf, apa saya datang terlambat?" tanya pria tersebut saat baru memasuki rumah, Calvin menyambutnya dengan tersenyum.
"Tentu saja tidak, acara baru saja dimulai," jawabnya sarkas sambil melirik ke arah Nadine yang saat ini sedang gugup.
"Acara apa Calvin? Memangnya kamu sedang mengadakan acara?" tanya Mama Sekar yang tidak mengerti arah pembicaraan putranya.
"Iya, dong, Ma. Mama tenang saja dan lihat apa yang akan terjadi."
Zakira hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan sang suami. Dia juga sama seperti Mama Sekar yang tidak mengerti apa yang direncanakan oleh sang suami. Namun, saat melihat wajah Nadine yang terlihat pucat serta gelisah, wanita itu mulai mengerti arah pembicaraan Calvin. Sepertinya pria yang baru saja datang ada hubungannya dengan Nadin. Entah apa itu, Zakira hanya bisa menunggu suaminya serta pria itu berbicara. Terlihat dari senyum yang diperlihatkan oleh sang suami sepertinya ini akan seru.
"Perkenalkan, Tante. Nama saya Yofan, saya adalah kekasih dari Nadin, sekaligus ayah dari bayi yang sedang dikandungnya," ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangannya ke arah Mama Sekar.
Tentu saja ucapan pria tersebut membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Memang hal ini sudah diperkirakan sebelumnya, sudah pasti bukan Calvin ayah dari bayi itu. Namun, saat melihat pria yang harusnya bertanggung jawab secara langsung tentu saja terkejut.
Nadin yang ada di sana pun segera menyangkal, "Tidak, dia bukan ayah dari anakku! Aku tidak mengenalnya. Ini pasti cuma akal-akalan Calvin agar menghindari tanggung jawabnya."
__ADS_1
"Cukup, ya, Nad. Selama ini aku sudah sangat bersabar dalam menghadapimu, tapi kamu justru semakin ngelunjak." Calvin melemparkan sebuah flash disk ke arah Nadin. "Itu adalah bukti tentang hubunganmu bersama dengan Yofan, serta apa saja kecuranganmu selama ini. Aku tahu kalau kamu mendekatiku hanya karena harta dan keluargamu yang hampir bangkrut. Jadi kamu tidak perlu menyangkal apa-apa lagi karena kebusukanmu dan juga keluargamu sudah aku ketahui. Jika kamu tetap ingin merusak rumah tanggaku, maka jangan salahkan aku jika aku membuat perhitungan padamu dan juga keluargamu. Kamu tahu 'kan kalau aku bukan orang yang suka bermain-main."
Nadine bisa melihat kilatan amarah yang begitu besar di wajah Calvin, dia tidak menyangka jika mantan kekasihnya bisa semarah itu padanya. Calvin memang bukan orang yang mudah memaafkan orang, bahkan tidak segan untuk membuat perhitungan pada orang lain. Namun, baru kali ini Nadin melihat pria itu menumpahkan amarah padanya. Ingin sekali dia menyangkal dan tetap pada pendiriannya untuk memohon pada Calvin.
Namun, saat ini sepertinya sangat sulit. Apalagi Calvin juga sudah memiliki bukti siapa ayah dari anak ini. Memang dia akui keberadaannya di rumah ini terlihat konyol karena sudah lima tahun tidak bertemu, malah datang untuk meminta pertanggungjawaban. Bukankah itu sangat tidak mungkin, tetapi demi keluarganya dia akan melakukan segala hal. Sekarang sudah tidak ada lagi alasan untuk meminta pertanggungjawaban, semuanya sudah terbongkar.
"Kenapa diam saja? Apa sudah tidak ada lagi yang ingin kamu pertahankan? Sebaiknya kamu segera pergi!" hardik Calvin dengan wajah yang memerah.
Yofan berjalan mendekati Nadin dan berlutut di depannya. Dia menggenggam kedua telapak tangannya, menyalurkan perasaan yang saat ini sedang ada dalam hatinya. Pria itu begitu menyayanginya, hanya saja Yofan memang tidak bisa memberikan banyak harta seperti Calvin.
Bukan karena tidak mencintai pria itu. Bahkan sampai detik ini pun Yofan masih menempati sudut hatinya yang terdalam. Namun, hubungan mereka terkendala restu dari keluarganya. Papa Nadin orang yang nekat, bisa melakukan apa pun untuk memisahkan mereka. Apalagi pria itu hanyalah pegawai biasa, dia tidak tahu bagaimana masa depannya nanti jika bersama dengan kekasihnya.
"Sudah aku katakan kalau hubungan kita sudah berakhir. Kenapa kamu masih saja mencariku?"
"Tidak! Bagaimana mungkin bisa hubungan kita berakhir disaat kamu sedang mengandung buah hati kita. Aku akan datang melamarmu, kita akan membesarkan anak ini bersama-sama. Untuk kali ini tolonglah jangan egois dengan hanya memikirkan keadaanmu saja. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana masa depan anak itu nanti jika tanpa ayah? Anakku juga butuh nama kedua orang tuanya, jangan karena kamu menuruti keinginan kedua orang tuamu, kamu mengabaikan masa depannya. Harta bisa dicari, aku akan berusaha sebaik mungkin."
__ADS_1
Sudut hati Nadin bergetar, dia terharu mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya, tetapi walaupun begitu wanita tersebut tetap menolak karena saat ini bukan hanya dirinya yang membutuhkan uang. Kedua orang tuanya lebih butuh, dia juga tidak mau bersikap seperti ini, keadaan yang memaksanya. Calvin yang mengerti kegundahan Nadin pun segera angkat bicara.
"Kamu tidak perlu menuruti keinginan kedua orang tuamu. Aku akan berinvestasi di perusahaan kedua orang tuamu tanpa harus menikah denganmu, biar nanti aku yang bicara dengan papamu. Aku tahu dia orang yang pekerja keras, pasti dia tidak akan menolak kerja sama denganku. Mengenai Yofan, aku juga akan memberinya modal agar kalian bisa hidup tenang dengan keluarga kalian. Jangan pernah berpikir untuk menikah dengan orang lain karena terpaksa, karena hasilnya tidak akan baik. Kalian sudah pernah melakukan kesalahan dan menghadirkan janin yang tidak berdosa. Sekarang saatnya kalian bertanggung jawab."
Semua orang kini menatap Calvin, terutama Nadin. Dia jadi merasa begitu berdosa sudah melibatkan pria itu dalam masalah keluarganya. Wanita itu menunduk, merenungi masalah yang sudah dibuatnya, sungguh banyak sekali kesalahan yang diperbuat.
"Bagaimana nanti jika papa menolak?" tanya Nadin yang mulai memikirkan penawaran dari Calvin.
"Mengenai papamu, biar aku yang berbicara secara langsung dengannya. Kamu cukup memikirkan masa depan kamu dan anakmu sendiri. Aku juga tidak bisa memaksa kalau kamu memang tidak ingin menikah dengan Yofan. Itu semua ada di tanganmu, aku harap kamu bisa memilih jalan mana yang benar, tapi kembali lagi coba memikirkan anakmu. Dia juga perlu seorang ayah untuk menemaninya hingga dewasa."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Nadin, dia telah salah sudah membuat masalah dengan Calvin, orang yang sudah sangat baik padanya. "Terima kasih, kamu sudah sangat baik padaku. Aku juga minta maaf karena sudah membuat onar di rumah ini, bahkan beberapa kali aku juga membuat masalah. Kamu dan Zakira memang pasangan yang cocok, kalian berdua sama-sama orang baik. Maaf sudah pernah mengganggu kehidupan kalian."
"Lupakan saja, aku juga tidak terlalu memikirkannya."
Nadin juga meminta maaf pada kedua orang tua Calvin serta Zakira. Dia merasa menjadi manusia yang paling tidak berguna karena mempermainkan orang lain. Mereka berbincang sejenak, hingga akhirnya Yofan mengajak Nadin untuk berpamitan. Pria itu juga perlu berbicara berdua dengan kekasihnya mengenai masa depan mereka nanti.
__ADS_1
Dia masih harus meyakinkan bahwa dirinya pasti bisa bertanggung jawab, apalagi dengan kebaikan Calvin yang memberinya modal. Sebelumnya Yofan memang memiliki restoran, tetapi semuanya hancur karena ada orang yang sirik, hingga memfitnah restoran tersebut dan berakhir bangkrut. Kali ini pria itu tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi lagi. Dia sudah memiliki tempatnya yang dulu, hanya tinggal beroperasi kembali dengan modal yang diberikan Calvin. Yofan akan bertanggung jawab sepenuhnya kali ini dan akan lebih berhati-hati.