Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
27. Liburan


__ADS_3

Di rumah kedua orang tuanya, Zakira banyak bercerita. Calvin juga tidak melarang istrinya apapun yang membuat wanita itu bahagia kalau tidak keberatan. Papa Fadli dan Mama Mita juga memberi wejangan pada putrinya agar bisa menjadi istri yang baik dan tidak mencontoh perilaku buruk mereka nantinya. Bagi Zakira apa pun yang dilakukan kedua orang tuanya sudah tidak dipikirkan lagi. Dia percaya jika dibalik itu semua takdir yang lebih berkuasa.


"Jadi kalian akan pergi bulan madu?" tanya Mama Mita.


"Iya, Ma. Maaf aku tidak bisa lama di sini, kapan-kapan kalau aku ada waktu, aku pasti akan datang berkunjung."


"Iya, Mama mengerti. Mama doakan setelah pulang bulan madu kamu bisa secepatnya memberi Mama cucu."


"Amin, terima kasih doanya, Ma. Sepertinya sekarang sudah waktunya kami berangkat. Papa dan Mama Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah."


Zakira memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Calvin juga berpamitan pada kedua mertuanya, tidak lupa juga dia memberikan sebuah amplop, yang tentu saja berisi uang. Pria itu tahu jika Papa Fadli dan Mama Mita sedang kesulitan ekonomi. Bahkan tadi saja dirinya dan sang istri hanya disuguhi air minum tanpa ada yang lainnya. Kedua orang tua itu beralasan belum belanja. Padahal sudah jelas tidak ada yang dipakai untuk berbelanja.


Zakira melihat apa yang dilakukan Calvin pun merasa senang, sang suami begitu perhatian pada kedua orang tuanya. Dia juga tadinya ingin memberi papa dan mamanya uang, hanya saja di dompet ada satu lembar uang. Wanita itu belum mengambil karena dia pikir ada sang suami yang akan memenuhi kebutuhannya.


Mama Mita awalnya menolak, dia tidak ingin merepotkan anak dan menantunya. Apalagi jika dibilang memanfaatkan mereka, sudah cukup masalah yang dia perbuat bersama dengan sang suami dulu. Kini wanita itu ingin melihat putrinya bahagia. Namun, Calvin meyakinkan bahwa, apa yang dia beri saat ini bukanlah apa-apa.


Mengenai Zakira, dirinya saat ini yang akan bertanggung jawab untuk kebahagiaannya. Mama Mita terharu mendengar penjelasan Calvin. Ternyata Zakira bersama dengan orang yang tepat, apa pun yang terjadi nanti, Mama Mita berharap keduanya percaya satu sama lain. Suatu hari nanti pasti akan ada orang ketiga dan keempat, hanya tinggal bagaimana mereka menyikapi.

__ADS_1


Calvin dan Zakira ya berangkat menuju bandara. Mereka akan liburan dan menghabiskan waktu di Bali sesuai dengan rencana. Sepanjang perjalanan Zakira terus saja tersenyum, dia merasa bahagia karena akhirnya beban yang akhir-akhir ini selalu menghantui dirinya bisa terangkat. Rasa rindunya pada kedua orang tua akhirnya terobati juga.


Zakira memeluk sang suami yang kini duduk di sampingnya. "Mas, terima kasih sudah menerima kedua orang tuaku."


"Kamu ini bicara apa, sih, Sayang? Bagaimanapun juga mereka orang tuamu jadi, sudah sepantasnya aku menghormati dan menyayangi mereka, seperti kamu menyayangi kedua orang tuaku."


"Aku sangat bersyukur karena memiliki suami seperti kamu. Semua orang tahu bagaimana aku bisa berada di rumahmu, tapi kamu memperlakukan aku dengan begitu sangat baik."


"Siapa bilang semua orang tahu? Yang tahu 'kan hanya papa, mama dan aku. Semua orang tahunya kita berdua menikah dengan persetujuan kedua keluarga, itu saja sudah cukup. Lagi pula apa yang terjadi dalam keluargaku tidak ada hubungannya dengan orang lain. Keluargaku juga tidak pernah menghiraukan apa kata orang lain jadi, ke depannya kamu harus membiasakan diri. Jika ada yang membicarakan keluarga kita, anggap saja angin lalu yang penting kita bahagia."


Zakira mengangguk dalam pelukan sang suami. Entah kedepannya bagaimana kehidupan mereka, yang pasti bagi Zakira asal bisa selalu bersama Calvin, semua pasti akan terlewati dengan mudah. Sekalipun itu sangat menyakitkan dia akan bertahan dan menemani suaminya.


***


Calvin dan Zakira telah sampai di tempat tujuan. Mereka pergi menginap di hotel yang sudah dipesan oleh pria itu. Saat saat akan memasuki hotel tiba-tiba seorang wanita menyapa Calvin dia adalah anak dari rekan bisnis pria itu.


"Calvin, kamu di sini juga?" sapa wanita itu sambil mendekati Calvin dan akan memeluknya. Namun, pria itu lebih dulu menghindar membuat wanita itu merasa tidak suka.

__ADS_1


"Maaf, kamu siapa?" tanya Calvin dengan menatap wanita itu.


Dia merasa tidak kenal, tetapi sepertinya wanita itu sok kenal sekali. Di dunia bisnis memang banyak sekali yang mengenal Calvin, jadi tidak heran orang dengan mudah mengenalinya. Berbeda dengan Calvin yang hanya akan mengenali orang yang dekat saja. Bahkan klien yang hanya sekali bertemu pun tidak dia ingat.


"Kamu lupa sama aku? Apa jangan-jangan karena wanita di samping kamu itu, hingga kamu berpura-pura melupakan aku," ucap wanita itu dengan pura-pura merajuk, membuat Calvin mendelik tidak suka.


Zakira hanya diam, menunggu wanita itu melakukan sesuatu. Dia sangat tahu trik-trik semacam ini, dulu papanya juga sering diganggu oleh wanita-wanita penggoda seperti ini. Untung saja cinta sang papa begitu besar pada mamanya, jadi tidak akan mudah tergoda. Zakira juga bersyukur karena papanya pernah berada di posisi itu, sehingga sedikit banyak mengajarkan dia bagaimana berinteraksi dengan para penggoda.


"Maaf, sepertinya Anda terlalu percaya diri. Saya memang tidak mengenali Anda. Kalau tidak ada sesuatu yang penting saya permisi. Saya dan istri saya baru sampai jadi kami juga perlu istirahat." Calvin segera meraih tangan Zakira dan menggenggamnya.


"Istri? Sejak kapan kamu menikah? Kok aku tidak tahu?"


"Seperti yang saya katakan tadi, saya tidak mengenal Anda jadi, rasanya tidak penting jika Anda tahu atau tidak." Calvin berusaha untuk tetap ramah.


Meskipun dalam hati pria itu mengumpat karena wanita di depannya sekolah menghadang dirinya untuk beristirahat. Apalagi saat melihat wajah Zakira yang terlihat begitu lelah, pasti sangat malas menghadapi wanita seperti ini. Tanpa banyak berkata lagi Calvin menarik tangan sang istri untuk pergi dari sana, sementara wanita itu masih terus saja memanggil nama Calvin. Namun, tidak mendapat tanggapan.


Wanita itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tidak terima dengan penolakan yang diterima. Dirinya bersumpah bahwa pria itu akan berpaling kepadanya.

__ADS_1


"Kita lihat saja, jangan panggil namaku Fiona kalau tidak bisa mendapatkanmu," gumam wanita itu yang ternyata bernama Fiona.


Orang-orang yang ada di sana hanya bisa melirik sekilas tanpa mau ikut campur dengan urusan orang lain. Mereka juga tidak saling mengenal.


__ADS_2