Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
34. Zakira sakit


__ADS_3

Calvin dan Zakira sedang dalam perjalanan pulang. Dari tadi wanita itu merasakan kepalanya yang pusing luar biasa. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja saat menaiki pesawat, bahkan kemarin saat berangkat pun tidak apa-apa, terapi kenapa sekarang saat pulang kepalanya begitu pusing. Badannya juga terasa begitu lelah. Calvin begitu sangat khawatir dengan keadaan sang istri, dia mencoba dengan membantu memijat kepala sang istri.


Zakira sebenarnya merasa tidak nyaman dengan pijitan sang suami. Namun, wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin membuat Calvin merasa tidak berguna jadi, lebih baik dia menahan sedikit rasa sakitnya. Semoga saja pusing itu segera pergi.


"Bagaimana, Sayang? Apa masih terasa pusing?"


"Sudah mendingan, Mas. Jangan dipijitin lagi, kamu pasti juga lelah."


"Tidak apa-apa, aku tidak lelah, kok!"


"Aku sudah tidak apa-apa, Mas." Zakira menarik tangan sang suami dan merebahkan kepalanya di pundak pria itu, hingga tanpa sadar dia tertidur.


Calvin pun tersenyum melihatnya. Sungguh dia merasa kasihan pada sang istri, nanti setelah turun dari pesawat pria itu akan mengajak istrinya ke rumah sakit agar mendapat penanganan dari dokter. Dia tidak bisa membiarkan Zakira menderita seperti ini. Wanita itu juga terlihat begitu lemas.


Saat pesawat berhenti, Zakira terbangun. Padahal tadinya pria itu akan menggendong sang istri. Dia tidak tega jika harus membangunkan wanita itu. Namun, siapa sangka jika istrinya itu lebih peka dan terbangun sendirinya. Zakira melihat sekeliling untuk memastikan jika pesawat memang benar-benar berhenti.

__ADS_1


"Sudah sampai, ya, Mas?"


"Iya, sudah. Ayo kita turun!" ajaknya yang diangguki sang istri.


Di perjalanan pulang, Calvin berniat untuk mengajak Zakira ke rumah sakit terdekat. Namun, wanita itu menolak dan tetap ingin pulang saja dan bilang jika dirinya butuh istirahat saja. Terpaksa pria itu menurutinya karena tidak ingin berdebat dengan sang istri.


Begitu sampai di rumah, Zakira langsung memasuki kamarnya dan tidur tanpa menyapa siapa pun, termasuk juga sang mertua. Wanita itu juga sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Saat ini kepalanya benar-benar pusing.


Calvin yang merasa kasihan pun segera menghubungi seorang dokter dan memintanya agar segera datang ke rumah. Terserah saja kalau nanti istrinya marah, yang penting dia sudah tahu keadaan wanita itu. Mama Sekar yang baru saja pulang dari belanja, begitu senang melihat anak dan menantunya sudah pulang.


Pria itu terus menarik dua koper besar menuju lantai atas sambil menjawab pertanyaan mamanya. "Ada di kamar ma."


"Kamu suruh dia turun, ya! Mama mau berbicara sama dia sejenak."


"Zakira istirahat, Ma. Dia sakit, sejak tadi di pesawat dia ngeluh kepalanya pusing jadi nanti sajalah kalau dia sudah lebih baik."

__ADS_1


"Zakira sakit? Sakit apa?" tanya Mama Sekar yang terdengar begitu khawatir.


"Nggak tahu, Ma. Aku baru saja telepon dokter, dia akan segera datang. Semoga saja tidak apa-apa, Mama tidak perlu khawatir."


Calvin mencoba untuk menghibur mamanya. Padahal saat ini dirinya juga sama khawatirnya.


"Bagaimana Mama tidak khawatir kalau melihat keadaan menantu Mama seperti itu. Kamu juga jangan terlalu dingin sama istri, harus lebih perhatian."


Niatnya memberitahu sang mama agar wanita itu tidak khawatir, tetapi kini malah dirinya yang mendapat omelan. Namun, pria itu merasa senang karena mamanya perhatian pada istrinya.


"Iya, Ma. Aku juga sudah berusaha untuk perhatian sama Zakira. Ya sudah, aku mau ke kamar dulu, mau lihat keadaan istriku."


"Iya, kamu masuk saja. Apa perlu Mama buatin teh?"


"Boleh, Ma."

__ADS_1


Mama Sekar pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk menantunya.


__ADS_2