
"Selamat pagi, Sayang?" sapa Calvin pada sang istri yang baru saja membuka matanya.
"Kamu sudah bangun, Mas? Ini jam berapa?" tanya Zakira dengan suara seraknya.
Calvin memandangi wajah sang istri yang terlihat polos, tetapi justru terlihat sangat cantik di mata pria itu. Dia begitu bersyukur sang papa memberinya istri seperti Zakira. Jika saat itu dirinya menolak, entah wanita seperti apa yang akan menjadi pilihannya.
"Jam tiga pagi, masih ada waktu untuk menunggu subuh. Kamu mau mandi dulu?"
"Iya, Mas. Aku mau mandi dulu."
"Ya sudah, kamu mandi sana! Nanti setelah salat subuh kamu bereskan barang-barang kita, ya!"
"Memang mau ke mana, Mas? Mau pindah rumah? Bukannya Mama Sekar pernah melarang kita untuk pergi dari rumah ini? Kasihan juga papa dan mama nggak ada yang nemenin."
"Tidak, kita akan pergi bulan madu. Selama kita menikah 'kan kita tidak pernah pergi ke mana-mana. Sekarang aku ingin menyenangkan istriku, aku juga sudah bilang sama mama dan papa. Mereka setuju dengan rencanaku."
Zakira mengerutkan keningnya dan bertanya pada sang suami. Pasalnya dia sama sekali tidak tidak mendengar Calvin berbicara. "Kapan kamu bilang sama mama?"
"Semalam setelah kita beraktivitas, aku mengirim pesan sama mama. Aku juga sudah memesan tiket pesawat untuk liburan."
"Cepat sekali, lagian kenapa malam-malam ganggu mama? Memangnya kamu mau ngajak aku ke mana?" tanya Zakira yang penasaran sekaligus malu.
"Aku mau ajak kamu ke Bali saja. Aku tidak bisa hari libur lama-lama, hanya tiga hari. Tidak apa-apa, kan? Nanti kalau ada waktu aku bisa ambil libur panjang, kita bisa jalan-jalan ke luar negeri."
"Tidak perlu, Mas. Lagi pula kalau jalan-jalan di kota ini saja juga tidak apa-apa. Asalkan bisa bersama kamu, aku pasti bahagia," sahutnya dengan tersenyum.
"Kamu bisa saja kalau ngegombal."
__ADS_1
"Ih, aku bicara yang serius mana ada ngegombal," sela Zakira dengan cemberut, yang justru terlihat menggemaskan di mata Calvin.
Pria itu pun mencubit hidung sang istri sambil terkekeh. Tadinya Calvin merasa bersalah pada Zakira karena hanya memberinya sedikit kebahagiaan, tetapi melihat ketenangan sang istri dia kini merasa lega. Wanita itu memang berbeda dengan yang lainnya dan itu semakin membuat cinta Calvin semakin besar.
"Ya sudah sana, kamu mandi! Baru setelah itu gantian sama aku atau gimana kalau kita mandi bareng!" ajak Calvin dengan menaik turunkan alisnya.
"Nggak ada mandi bareng, aku lebih baik mandi dulu, aku malu." Zakira segera berlari menuju kamar mandi, membuat Calvin semakin tertawa. Ternyata kebersamaannya dengan sang istri membuat kehidupannya menjadi lebih berwarna.
Seperti yang dikatakan Calvin tadi, setelah Subuh Zakira memasukkan beberapa baju milik sang suami serta miliknya sendiri ke dalam sebuah koper. Calvin sudah memperingati untuk membawa barang yang penting saja. Mengenai baju bisa dibeli nanti di sana, tidak perlu repot-repot membawa barang terlalu banyak. Wanita itu pun hanya mengangguk saja, tidak heran memang orang sekelas Calvin melakukan hal seperti itu.
Dulu almarhum papanya juga selalu berkata seperti itu pada sang istri saat akan ada perjalanan ke luar kota. Tidak jarang juga Zakira ikut, sekaligus menikmati liburan keluarga. Mengingat kenangan itu justru semakin membuat Zakira sedih, tetapi sebisa mungkin tidak memperlihatkannya di depan Calvin.
Setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper, Zakira pamit pada sang suami untuk turun ke bawah. Dia ingin membantu menyiapkan sarapan untuk semua orang. Calvin pun tidak keberatan karena memang itu sudah menjadi kebiasaan sang istri. Wanita itu juga sangat senang melakukan pekerjaan rumah, bagi Calvin selama sang istri tidak merasa terbebani, dia juga tidak masalah.
Pria itu juga bukan orang yang pemilih dalam makanan. Apa saja yang disuguhkan pasti akan dia makan. Namun, sebagai seorang laki-laki tentu saja ada rasa bangga tersendiri, saat melihat istrinya yang mandiri dan pandai melakukan pekerjaan rumah tangga. Padahal Zakira sebelumnya termasuk orang yang kaya raya.
"Tidak telat, Mama memang sengaja ingin membuatkan makanan untuk kalian. Semalam Calvin ngirim pesan pada Mama, katanya kalian akan pergi bulan madu. Kenapa nggak siap-siap?" tanya Mama Sekar sambil melihat Zakira dari ujung kepala sampai ujung kaki yang terlihat biasa, tetapi tetap cantik.
"Masih nanti siang, kok, Ma. Masih ada waktu. Aku juga sudah membereskan perlengkapan, kata Mas Calvin nggak perlu bawa banyak-banyak."
Mama Sekar mengangguk, dia cukup mengerti tentang hal tersebut karena memang Calvin selalu seperti itu jika pergi. Bahkan pernah tidak membawa apa-apa karena terburu-buru.
"Sebaiknya kamu bikinin minuman buat suami kamu, biar Mama dan Bibi saja yang masak. Kamu tunggu saja di kamar, nanti kalau selesai Mama akan panggil."
"Tidak apa-apa, Ma. Aku ikut bantu saja, lagi pula Mas Calvin bilang mau istirahat jadi, pasti sudah tidur lagi."
Mama Sekar mengangguk dan membiarkan sang menantu membantu mereka. Semakin banyak yang mengerjakan pasti akan semakin menghabiskannya.
__ADS_1
***
"Mama, Kenapa melamun? Ini masih pagi!" tegur Papa Fadli pada sang istri.
"Mama kangen sama Zakira, bagaimana keadaan dia sekarang? Apa suami dan keluarga Pak Gunawan memperlakukan dia dengan baik? Mama selalu kepikiran tentang dia," jawab Mama Mita tanpa melihat ke arah sang suami.
Pandangan wanita itu menatap ke depan dengan kosong, memikirkan bagaimana nasib sang putri yang telah dia korbankan, demi mempertahankan rumah ini yang harganya mungkin tidak sebanding dengan putrinya. Papa Fadli juga merasa bersalah, tetapi dia juga tidak sanggup jika harus kehilangan segalanya. Cukup pekerjaan saja tidak dengan rumah ini.
Banyak kenangan yang sudah dia ciptakan di rumah ini, tidak mungkin pria itu menyerahkannya begitu saja. Apalagi jika sampai Pak Gunawan menghancurkannya, dia tidak akan pernah rela. Meskipun kedua orang tuanya turut Andil hingga rumah ini bisa besar, tetap saja Fadli tidak rela kehilangan semua ini.
"Mama doakan saja agar Zakira baik-baik di sana. Aku yakin Pak Gunawan juga tidak akan menyiksa putri kita. Zakira juga wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini dengan baik. Mama doakan saja yang terbaik untuk dia."
"Tentu, Mama selalu berdoa untuk kebaikannya, hanya saja Mama rindu sama dia Mama ingin bertemu dengan dia."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Mama Mita. Hati seorang ibu tidak bisa dibohongi, sekuat apa pun dia berusaha untuk tetap tegar, tetap saja dia sangat merindukan putrinya. Wanita itu berharap Zakira mau mengunjunginya meski hanya sebentar saja. Mama Mita tahu kesalahannya sudah sangat fatal pada sang putri, tapi dia tetap ingin egois meminta anaknya untuk datang berkunjung.
"Bagaimana kalau kita datang ke rumah Pak Gunawan? Kita tunggu Zakira di depan rumah. Mama cuma ingin bertemu dengan dia, kan? Setelah melihat Zakira, kita pergi dari sana. Cukup hanya melihatnya dari jauh."
"Benar, Papa mau mengajak Mama pergi ke rumah Pak Gunawan?" tanya Mama Mita dengan wajah berbinar. Dia sudah sangat rindu dengan putrinya, tidak masalah bagaimana caranya agar bisa melihat keadaan Zakira.
"Tentu, tapi hanya melihat dari jauh, bukan untuk menyapa. Apa pun yang dilakukan Tuan Gunawan pada Zakira Mama harus siap untuk menerimanya."
"Maksud Papa apa berkata seperti itu?" tanya Mama Mita yang tidak suka dengan apa yang dikatakan suaminya. Dia memang sudah merelakan putrinya, tetapi bukan berarti membiarkan Zakira menderita.
"Mama tentu ingat kalau Pak Gunawan sudah membeli Zakira jadi, mau mereka berbuat buruk pada Zakira pun kita sudah tidak memiliki hak apa pun padanya. Mama harus tahu hal itu jadi, kita hanya bisa melihatnya dari jauh."
Air mata Mama minta semakin deras, menyesali kebodohannya yang sudah menelantarkan putrinya begitu saja dan memberikan pada Pak Gunawan. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sang suami sudah menandatangani perjanjian jika mereka tidak memiliki hak apa-apa lagi terhadap diri Zakira. Semuanya sudah menjadi milik Pak Gunawan. Dia hanya bisa merenungi segala kesalahan yang sudah mereka lakukan.
__ADS_1