
"Tadinya aku mau nungguin kamu, aku kira kamu ambilin aku minuman," ucap Calvin yang mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya. Dia baru saja membalas pesan sekretaris kantor, tadinya hari ini pria itu ingin libur. Namun, keadaan tidak mendukung, ditambah dirinya tambah kesel karena hari ini jadwal Calvin sangat padat jadi tidak bisa ambil cuti. Terpaksa cutinya ditunda.
"Maaf, Mas. Aku taruh minuman di meja makan. Aku pikir kamu langsung turun, mau aku ambilin?"
"Tidak usah, aku mandi dulu habis itu turun."
"Sebentar aku siapin airnya." Zakira pun segera berlalu ke kamar mandi, sementara Calvin mengambil handuk yang ada di lemari dan mengikuti Zakira.
***
Saat ini seluruh keluarga sedang menikmati makan malam. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi, hingga membuat Bik Sumi yang tadinya membereskan dapur pun membuka pintu. Terlihat wajah wanita itu terlihat gelisah setelah kembali.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Di depan ada wanita yang kemarin datang."
__ADS_1
"Wanita yang kemarin? Siapa, Bik?" tanya Mama Sekar dengan mengerutkan keningnya.
"Itu, Nyonya, yang mengaku hamil anak Tuan Calvin," jawab Bik Sumi dengan pelan, dia takut jika apa yang dikatakan membuat semua orang tidak nyaman dan terbukti memang benar. Apa yang dikatakan Bik Sumi, nyatanya membuat semua orang menghentikan makannya.
"Dia sekarang ada di mana, Bik?"
"Ada di ruang tamu, Nyonya. Tadi saya sudah melarangnya masuk, tapi wanita itu memaksa dan duduk di ruang tamu."
"Ya sudah, biarkan saja. Biar kami menyelesaikan makan malam dulu, nanti kami akan menemuinya."
"Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa melarangnya masuk."
"Tidak apa-apa, Bik. Saya mengerti, dia juga orang yang keras kepala."
__ADS_1
Setelah kepergian Bik Sumi, Calvin segera mengambil ponsel yang ada di sakunya. Dia mengirim pesan pada seseorang dan kembali melanjutkan makan malamnya tanpa satu kata pun. Begitu juga dengan semua orang. Sebenarnya dari tadi Mama Sekar sudah sangat kesal ingin menumpahkan kesalahannya. Namun, dia tidak ingin membuat acara makan malam keluarganya menjadi hancur. Lebih baik dirinya mengontrol diri terlebih dahulu. Wanita itu yakin suami dan anaknya pasti sudah memikirkan cara untuk menghadapi wanita itu.
Setelah menyelesaikan makan malam, semua orang duduk di ruang tamu tanpa menyapa Nadine yang ada di sana. Zakira yang tadinya ingin duduk di sofa tunggal pun segera ditarik oleh Calvin, yang akhirnya keduanya duduk di sofa. Tempat duduk harusnya ditempati satu orang kini malah dua orang dan harus saling berdesakan. Awalnya Zakira ingin protes, tapi merasakan sentuhan lembut sang suami membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Dia sangat tahu apa maksud Calvin.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Calvin dengan menatap tajam ke arah Nadin. Hal tersebut tentu saja membuat wanita itu sedikit bergetaran. Namun, sebisa mungkin dia menutupinya dengan bersikap tenang. Nadin tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang akan menjadi suaminya.
"Apalagi kalau tanggungjawab. Aku hanya ingin menagih janjimu, kapan kamu akan menikahiku?"
"Janji? Perasaan aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu. Kamu saja yang terlalu berlebihan meminta pertanggungjawaban dariku. Apa kamu sengaja ingin lari dari tanggung jawabmu? Kamu harus ingat kalau yang ada di dalam perutku itu anak kamu? Kalau kamu mau bermimpi sebaiknya jangan melibatkan aku. Kamu itu sudah dewasa, seharusnya bisa berpikir. Kita sudah lima tahun tidak bertemu, tiba-tiba saja datang dan mengaku hamil anakku. Kalau kamu memang benar-benar hamil anakku, setidaknya kita pernah berhubungan satu bulan yang lalu, tapi ini apa? Aku bahkan tidak pernah melihat seujung rambutmu. Bagaimana bisa aku berhubungan denganmu! Jangan konyol."
"Apa susahnya, sih! Kalau kamu mengakui ini anakmu ak—"
Belum selesai Nadin berkata terdengar pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Calvin meminta Bik Sumi agar membukanya. Begitu orang tersebut masuk, Nadin dibuat terkejut. Bagaimana bisa dia sampai di rumah ini padahal sebisa mungkin dirinya selalu menghindar.
__ADS_1