Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
31. Menikmati pagi


__ADS_3

"Selamat pagi, Sayang?" sapa Calvin sambil mendekati sang istri dan mencium kening wanita itu.


Seketika membuat wajah Zakira memerahkan karena malu. Pasti saat ini tampilannya sudah tidak beraturan, wanita itu baru saja bangun tidur, tetapi sang suami masih saja memperlakukannya dengan sangat manis.


"Bersihkan tubuhmu, ayo kita salat berjamaah! Setelah itu aku akan mengajakmu ke pantai. Bukankah semalam aku sudah mengatakan kalau ingin mengajakmu melihat fajar?"


Zakira hanya mengangguk dan mengikuti perintah sang suami. Dia juga tidak sabar untuk melihat matahari terbit, pasti sangat indah saat melihatnya di tepi pantai. Apalagi ditemani oleh orang yang sangat kita cintai, pasti rasanya sangat spesial. Setelah selesai, Zakira keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk sholat bersama dengan suaminya.


"Kamu mandi, Sayang?" tanya Calvin saat melihat sang istri yang terlihat lebih segar.


"Iya, tadinya mau cuci muka saja, Mas, tapi saat melihat air kok rasanya segar sekali jadi, aku mandi sekalian."


Calvin mengangguk, keduanya pun melaksanakan salat berjamaah, kemudian pergi ke pantai untuk melihat matahari terbit. Keduanya duduk di tepi pantai dengan menghadap ke arah laut, ternyata mereka tidak hanya berdua saja. Ada beberapa pengunjung juga yang sudah datang, pasti mereka juga sama seperti Calvin dan Zakira, ingin melihat pemandangan fajar.

__ADS_1


"Zakira, aku mau tanya sesuatu padamu. Sampai saat ini, apa keinginanmu yang belum terpenuhi?"


Zakira menatap sang suami, dia merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan oleh pria itu, tidak biasanya Calvin bertanya seperti itu. Namun, masih suaminya tetap terdiam, menunggu jawaban dari sang istri. Ini memang pertanyaan yang sederhana, tetapi jawabannya sungguh diperlukan Calvin.


Zakira berpikir sejenak dan dia pun menjawab, "Secara materi, apa yang aku inginkan dulu, sekarang semua sudah terpenuhi. Kalau untuk yang lainnya, aku ada satu keinginan."


"Apa itu?"


"Aku menginginkan adanya seorang malaikat kecil diantara kita. Memang semua itu atas kehendak Tuhan, tapi sebagai manusia biasa tentu saja aku sangat menginginkannya. Aku ingin merasakan bagaimana menggendong bayi dan merawatnya sendiri."


"Kalau kamu sendiri, keinginan apa yang belum tercapai?" tanya Zakira balik.


"Sama sepertimu, aku juga menginginkan hadirnya malaikat kecil di antara kita. Selain itu aku juga ingin membuatmu selalu bahagia," jawab Calvin dengan menatap lembut ke arah sang istri.

__ADS_1


"Tapi aku sekarang sudah bahagia, bahkan aku tidak menyangka akan bisa sebahagia ini."


"Aku masih ingin kamu lebih bahagia lagi. Aku ingin kamu selalu mempertahankan senyum di wajahmu itu. Aku tidak ingin lagi ada kesedihan, cukup air mata yang kemarin-kemarin saja yang keluar. Saat ini aku hanya ingin kau bahagia."


Zakira tersenyum dan mengamit lengan sang suami dan merebahkan kepalanya di pundak pria itu. Sungguh beruntung dia memiliki suami seperti Calvin. Meskipun suaminya itu tidak bisa bersikap romantis, tapi apa pun yang dilakukannya sungguh membuatnya bahagia. Zakira merasa sangat diperhatikan dan menganggap dirinya paling penting.


Matahari telah menampakkan sinarnya, keduanya larut dalam pemandangan yang begitu indah. Calvin dan Zakira merasa waktu seolah berhenti dan hanya milik mereka sendiri. Banyak pula pasangan melakukan hal yang sama seperti keduanya, menikmati sinar matahari pagi dengan saling menggenggam. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri.


Setelah puas menikmati pemandangan pagi, keduanya berjalan-jalan mengelilingi pantai sebentar, menikmati udara pagi yang terasa begitu segar. Akhirnya mereka masuk ke dalam villa untuk membersihkan diri. Hari ini keduanya berniat untuk berkeliling dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mereka hanya memiliki waktu beberapa hari saja dan Calvin tidak ingin menyia-nyiakannya.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Calvin.


"Sudah, Mas. Memangnya mau ajak aku ke mana?"

__ADS_1


"Lihat nanti saja, semoga kamu suka."


__ADS_2