
"Kamu kok bisa tahu tentang masa lalu Nadin, Vin?" tanya Mama Sekar begitu Nadin dan Yofan sudah pergi.
Dia sangat penasaran bagaimana bisa sang putra membongkar semuanya tentang wanita itu. Padahal sebelumnya Dia mengira Saputra tidak tahu apa-apa.
"Ini semua juga tidak lepas dari bantuan Papa, Ma. Dia yang memberikan beberapa anak buahnya padaku," jawab Calvin dengan santai, sementara Zakira hanya diam, dia juga sebenarnya sangat ingin tahu tentang hal tersebut.
"Papa tidak pernah memberikan mereka padamu. Mereka hanya mencari uang tambahan untuk keluarganya, jadi Papa rekomendasikan mereka sama kamu, tapi tetap mereka masih bekerja sama Papa," sela Papa Hari.
"Iya, Pa, aku mengerti. Begitu saja pake dibahas," sahut Calvin dengan kesal, padahal dia berniat ingin memuji papanya, tetapi sekarang tidak jadi.
Papa Hari memang orang yang sangat teliti dalam menilai orang. Dia sangat tahu untuk menjadikan orang itu bisa dipercaya atau tidak. Kadang-kadang Calvin juga iri karena dirinya juga pernah ditipu oleh salah satu orang kepercayaannya. Padahal dia cukup percaya pada orang tersebut, ternyata dikhianati. Itulah kenapa setiap Calvin ingin menilai seseorang, dia juga meminta pendapat pada papanya.
"Papa nggak pernah bilang sama Mama. Kenapa? Apa Mama tidak boleh mengetahuinya?"
"Ini 'kan urusan pekerjaan, Ma. Bukannya Papa nggak mau cerita sama Mama, Papa juga nggak tahu rencana Calvin. Lagian Papa juga nggak mau kalau Mama terlalu kepikiran mengenai masalah ini. Biarlah Calvin sendiri yang menyelesaikan."
"Justru karena Papa nggak cerita, makanya Mama kepikiran. Setiap hari Mama selalu bingung bagaimana caranya agar bisa menyingkirkan Nadin, karena selama ini Calvin terlihat diam seolah tidak peduli dan menganggap masalah ini sesuatu yang mudah, tapi ternyata Mama salah. Justru dalam diamnya malah dia membuat gerakan yang lebih cepat, sama seperti papa selama ini."
Mama Sekar tersenyum membayangkan masa lalu sang suami yang selalu bersikap manis padanya. Papa Hari tidak pernah membiarkan wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya. Pria itu selalu selalu menjadi tamengnya jika ada orang yang tidak suka bahkan membencinya. Dia berharap sang putra juga seperti papanya.
"Karena itu, Ma. Jangan meremehkan kekuatan putramu ini, dia sudah bisa berpikir lebih maju sekarang. Yang penting Mama harus memikirkan kesehatan Mama sendiri, jangan terlalu memikirkan hal yang lain. Terutama tentang Calvin dan istrinya, Biarkan mereka mandiri," ucap Papa Hari dengan memeluk istrinya.
__ADS_1
"Iya, Pa. Mama minta maaf, setelah ini Papa tidak usah khawatir, mama sekarang bisa lebih tenang karena sudah ada Zakira juga yang menemani langkah Calvin."
Kedua orang tua itu pun tersenyum sambil menatap putra dan menantunya. Ujian pertama dalam rumah tangga mereka telah berhasil dilewati, berharap kedepannya juga bisa terlewati dengan mudah seperti ini. Meskipun ada air mata yang mengalir, rasanya itu hal yang biasa dalam kehidupan manusia. Tidak selamanya semua kehidupan berjalan sesuai keinginan kita.
Calvin dan sang istri pamit untuk ke kamar. Keduanya ingin beristirahat, bukan hanya mengistirahatkan tubuh, tetapi juga pikiran mereka yang tadi sempat tegang karena kehadiran Nadin. Namun, semuanya berakhir dengan kelegaan saat mengetahui penyebab sebenarnya.
"Mas, tadi aku pikir Yofan itu teman kamu karena tadi, dia bersalaman sama kamu waktu baru datang," ujar Zakira begitu keduanya sudah masuk kamar.
"Ya, karena memang dia kenal sama aku, Sayang. Lagi pula aku juga yang mengundangnya, tentu saja dia menyapaku," jawab Calvin santai.
"Aku sekarang merasa senang, semuanya bisa terbongkar dan tidak ada lagi salah paham."
"Iya, Sayang. Benar apa yang kamu katakan. Ke depannya aku tidak ingin ada lagi kesalahpahaman di antara kita. Apa pun masalah yang akan datang, semoga kita bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."
Calvin membersihkan diri terlebih dahulu, kemudian di setelah itu barulah berganti dengan Zakira. Saat Pria itu sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba pandangannya teralihkan dengan sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi. Entah kenapa dia merasa wanita itu tampak lebih cantik malam ini. Jiwa laki-lakinya seketika berontak ingin memiliki Zakira seutuhnya sebagai seorang istri. Calvin pun berjalan mendekati Zakira yang sedang mengoleskan krim malam di wajahnya. Pria itu memeluk sang istri dari belakang, seketika membuat wanita itu terkejut.
"Malam ini kamu cantik sekali, Sayang," bisiknya tepat di telinga Zakira, membuat bulu kuduk wanita itu seketika merinding.
"Memang biasanya aku nggak cantik, Mas?" tanya Zakira yang sengaja ingin menggoda sang suami.
Mendengar godaan istrinya membuat Calvin semakin tidak karuan. Dia semakin ingin membuat Zakira menjadi miliknya seutuhnya. Gerakan tubuh pria itu semakin liar, membuat suasana tidak terkendali.
__ADS_1
"Tentu saja cantik. Istriku memang selalu cantik." Calvin mulai menenggelamkan bibirnya di ceruk leher sang istri, membuat Zakira merinding.
Sekuat tenaga dia menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Hal itu semakin membuat Calvin semakin liar. Pria itu bisa melihat wajah sang istri memerah, dia tahu jika sang istri juga menginginkan yang sama seperti dirinya. Segera Calvin meminta persetujuan lebih dulu.
"Sayang, bolehkah aku meminta hakku malam ini?"
Tubuh Zakira menegang, tidak menyangka akhirnya sang suami meminta haknya juga. Sebagai seorang istri sudah menjadi kewajibannya untuk memenuhi keinginan Calvin. Akhirnya wanita itu pun mengangguk, membuat senyum di wajah pria itu terbit. Dari kemarin dia sudah menahannya, sekarang sudah saatnya lepas.
Calvin itu segera mengangkat sang istri dan membawanya ke atas ranjang. Malam yang biasanya selalu tenang, kini harus bising dengan suara kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh kedua pasangan suami istri itu. Ranjang yang biasanya tenang, kini bergerak tidak beraturan. Malam ini menjadi malam saksi keduanya mengungkapkan cinta tulus dari dalam hati, berharap kedepannya mereka lebih bahagia dengan kehadiran malaikat-malaikat kecil yang sedang mereka ciptakan.
Peluh membanjiri kedua tubuh manusia itu, berkali-kali Calvin mengucapkan rasa terima kasih. Zakira benar-benar wanita yang menjaga kehormatan seorang wanita untuknya. Sungguh beruntung memiliki istri seperti Zakira.
"Kenapa menatapku seperti itu, Mas? Aku 'kan jadi malu," ucap Zakira karena dari tadi pandangan Calvin tidak teralihkan sama sekali dari wajah sang istri.
"Aku hanya sedang menikmati wajah cantik istriku. Apa salahnya? Lagi pula aku suamimu, kenapa harus malu?"
"Ya, tetap saja malu."
Calvin tersenyum melihat tingkah sang istri. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan merasa bersalah. "Aku juga ingin meminta maaf, kamu memberikan yang pertama untukku, tapi ini bukan yang pertama untukku."
"Itu tidak menjadi masalah bagiku, Mas. Yang penting ke depannya aku tidak ingin kamu membagi tubuhmu dengan wanita lain. Kamu sudah menjadi milikku dan hanya aku yang bisa memilikinya. Aku tidak mau berbagi dengan siapa pun dengan dalih rasa kasihan ataupun poligami. Aku sangat membenci hal itu."
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku juga tidak pernah berniat untuk menikah lagi karena bagiku, pernikahan cukup satu kali. Meskipun aku bukan pria baik-baik, aku juga ingin membahagiakan istriku dan akan menjadikan dia satu-satunya ratu di rumahku."
Zakira terharu mendengar apa yang dikatakan Calvin, hingga dia pun memeluk pria itu dan menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Sungguh sangat beruntung dirinya bisa bersama dengan seseorang yang seperti keinginannya. Semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan pada mereka.