
Zakira masih di kamar mandi, dia menatap alat tes kehamilan dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu tidak menyangka akhirnya Tuhan mengirim malaikat kecil di dalam perutnya. Tanpa sadar Zakira mengusap perut datarnya dengan perasaan haru. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, tanggung jawab yang akan bertambah.
Bukannya merasa berat, justru wanita itu merasa begitu bahagia. Semua ini memang keinginan dulu. Dia tidak sabar ingin memberitahu sang suami dan juga mertua yang menunggunya di dalam kamarnya. Zakira keluar dari kamar mandi dengan menggenggam alat tes kehamilan, semua orang yang ada di sana otomatis menatap wanita itu.
"Bagaimana hasilnya, Sayang?" tanya Calvin lebih dulu.
Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Zakira justru menangis. Entah kenapa mulutnya seolah kelu dan tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Dia merasa begitu bahagia hingga bingung mengekspresikan bagaimana.
Melihat istrinya menangis, membuat Calvin tidak tega. Pria itu berpikir jika hasilnya negatif hingga istrinya sedih seperti itu. Dia pun segera memeluk Zakira, ingin memberi ketenangan pada wanita itu agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang dirasakannya. Calvin juga merasa sedih jika sang istri memang tidak hamil. Tadinya dia begitu sangat berharap jika Zakira hamil.
"Tidak apa-apa, Sayang, kalau kamu tidak hamil. Mungkin Tuhan memang belum memberikan rezekinya untuk kita. Suatu hari nanti pasti akan ada waktunya, kita bisa memiliki anak."
Zakira semakin menangis dalam pelukan sang suami. "Bukan itu maksudnya, Mas."
"Hah! Bukan itu? Lalu apa?"
Zakira pun memberikan alat tes kehamilan itu pada sang suami. "Hasilnya garis dua, Mas. Aku benar-benar hamil," ucapnya dengan air mata yang masih menetes.
__ADS_1
Calvin terdiam, dia masih mencerna apa yang istrinya katakan. Otaknya masih berpikir keras, tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tanpa sadar air matanya pun ikut menetes. Pria itu bahagia dengan semua ini. Calvin mengambil alat tes kehamilan yang ada di tangan sang istri dengan gemetar. Akhirnya dia bisa melihat garis dua yang selama ini ditunggu. Pria itu pun segera memeluk kembali sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah memberi hadiah yang luar biasa untukku. Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Apa pun yang kamu inginkan, aku akan berusaha memenuhinya."
"Tidak perlu seperti itu, Mas. Selama kamu selalu berada di sisiku, itu sudah cukup bagiku. Tidak ada yang lebih berharga dengan keberadaan kamu," balas sang istri yang masih dalam pelukannya.
Zakira yang tersadar jika di kamarnya juga ada Mama Sekar pun segera mengurai pelukannya. Dia merasa sangat malu pada sang mertua, bisa-bisanya lupa jika di kamar ada orang lain. Padahal Mama Sekar sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Justru dia senang melihat anak dan menantunya bahagia dan saling menyayangi.
"Mama."
"Iya, Ma, sebisa mungkin aku akan menjaga istri dan anakku."
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, Mama keluar dulu. Calvin, kamu temani istrimu istirahat, besok sebaiknya kalian pergi ke dokter kandungan untuk periksa."
"Iya, Ma," jawabnya serentak.
Mama Sekar segera pergi dari sana. Calvin pun meminta sang istri untuk beristirahat, dia akan menemani wanita itu. Meskipun saat ini dirinya tidak ingin beristirahat. Namun, demi menemani istrinya, pria itu pun ikut berbaring di atas ranjang. Calvin merentangkan tangannya agar Zakira bisa masuk ke dalam pelukannya. Dia memeluk sang istri dengan penuh rasa cinta.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia dengan kehamilanku, Mas?"
"Tentu saja bahagia, pria mana yang tidak bahagia jika sebentar lagi akan menjadi seorang ayah."
"Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?"
"Apa pun yang diberikan oleh Tuhan, aku akan menerimanya. Aku sudah sangat bahagia Tuhan mengirim malaikat di tengah-tengah keluarga kita. Mau itu laki-laki atau perempuan sama saja, asal dia sehat, ibunya pun juga sehat."
"Amin, semoga sehat sampai lahiran, ya, Mas!"
"Amin, semoga saja. Kita harus banyak berdoa untuk keselamatan kalian berdua dan juga kebaikan untuk rumah tangga kita."
Zakira mengangguk dan tersenyum dalam pelukan sang suami. Dia begitu bahagia memiliki suami seperti Calvin. Meskipun rumah tangga mereka diawali dengan tidak baik, tetapi pria itu memperlakukannya dengan sangat baik. Begitu juga dengan kedua mertuanya. Beribu-ribu rasa syukur dia ucapkan pada Sang Pencipta, semoga rumah tangganya akan selalu bahagia.
Begitu juga dengan Calvin, dia merasa beruntung bisa memiliki istri seperti Zakira, dia wanita yang baik, tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Semoga ke depannya hidup keduanya selalu berkah, itulah yang memang mereka inginkan.
SELESAI
__ADS_1