
Calvin berhasil membeli rumah yang akan dijual waktu itu dengan harga yang sepadan tentunya. Dia tidak ingin mengambil keuntungan dari orang lain, mengingat pemilik memang sedang ingin mencari pembeli. Pria itu juga memberi waktu pemilik rumah hingga tiba waktu panen. Jika saat ini mereka pergi, di mana lagi mereka tinggal. Meskipun cuma berdua dan ada kerabat tetap saja merasa tidak enak.
Waktu liburan pun digunakan Calvin dan Zakira dengan sangat baik. Hari ini mereka memutuskan untuk pulang karena besok pria itu harus kembali bekerja. Banyak sekali pekerjaan yang sudah menunggunya. Sang istri pun tidak keberatan karena dia juga sudah cukup puas berkeliling.
Banyak tempat juga yang sudah dikunjungi, dari tempat wisata hingga alam terbuka. Apalagi sang suami juga sangat memanjakannya. Sebenarnya Zakira tidak ingin pulang, hanya saja dia tahu banyak yang menunggu kedatangan sang suami. Padahal di sana juga ada Papa Gunawan.
"Wah! Kalian juga akan pulang hari ini, ya! Kebetulan sekali kita bisa pergi sama-sama. Boleh aku ikut dengan mobil kalian nanti, keluargaku tidak bisa jemput," ujar Fiona yang begitu bahagia melihat Calvin di bandara.
Dia memang sempat mendengar jika mereka akan pulang hari ini. Itulah kenapa Fiona memang sengaja memilih tiket dengan penerbangan yang sama. Wanita itu akan selalu memanfaatkan kesempatan yang ada.
__ADS_1
"Maaf, tapi kami masih banyak urusan. Kalau keluargamu tidak bisa menjemput, banyak taksi online. Ada juga taksi di depan bandara. Itu jika kamu mampu bayar.."
"Maaf, Pak Calvin, tapi saya rasa kata-kata Anda sangat kasar," ucap Fiona dengan nada tidak suka.
"Saya tidak peduli kata-kata saya ini kasar atau tidak. Saya hanya ingin memperingatkan Anda, jangan pikir saya ini bodoh, tidak bisa mengartikan sikap Anda. Saya sadar dari kemarin sudah mencoba untuk menahan diri agar tidak melakukan kekerasan, tetapi sepertinya Anda bukan orang yang bisa diajak bicara baik-baik jadi, saya lebih suka berbicara kasar secara langsung saja."
"Maksud Anda apa?" tanya Fiona yang berpura-pura bodoh.
Calvin membalikkan tubuh dan akan pergi dari sana. Namun, tiba-tiba dia kembali berbalik dan menatap ke arah Fiona dan berkata, "Jangan lagi ganggu kehidupanku dan keluargaku atau kamu dan keluargamu akan kehilangan segalanya, termasuk juga usaha kedua orang tuamu yang hampir bangkrut itu."
__ADS_1
Calvin segera berlalu bersama dengan sang istri, meninggalkan Fiona yang masih berdiri di tempat. Dia tidak peduli dengan apa yang wanita itu lakukan, yang penting dirinya sudah mengingatkan. Mengenai nanti jika Fiona tetap keras kepala, biarlah itu menjadi urusannya nanti.
Fiona sendiri merasa gemetar dengan apa yang diucapkan oleh Calvin. Bagaimana pria itu bisa tahu tentang usaha keluarganya yang hampir bangkrut. Padahal selama ini semua orang keluarga berusaha untuk menutupinya, supaya tidak ada orang yang tahu dan tidak membuat para investor mundur.
Detik itu juga ponsel yang ada di dalam tas Fiona berbunyi, ternyata tertera nama papanya di sana. Wanita itu pun segera mengangkat, dia sangat tahu pasti sang papa akan sangat marah jika dirinya mengabaikan panggilan.
"Bagaimana? Apa rencana kamu berhasil?" tanya sang papa tanpa berbasa-basi.
"Sebaiknya kita lupakan saja, Pa. Sepertinya Pak Calvin orang yang sangat sulit untuk ditaklukan. Aku tidak ingin usaha kita akan benar-benar gulung tikar jika aku sampai membuat dia marah. Aku belum melakukan apa-apa, tapi dia sudah mengetahui semuanya. Bagaimana nanti kalau sampai aku melakukan hal nekat. Mungkin sebaiknya kita cari jalan lain yang lebih baik saja."
__ADS_1
"Sebenarnya Papa juga sudah memperkirakan hal ini. Semua orang di dunia ini sangat tahu jika Calvin sangat mencintai istrinya dan akan melakukan segalanya untuk wanita itu. Namun, dalam hati Papa meyakini kalau kamu bisa merebutnya. Ternyata Papa salah, dia tetap saja setia pada istrinya dan tidak akan membiarkan siapa pun untuk menyakiti keduanya."