Istri Pembayar Hutang

Istri Pembayar Hutang
35. Kemungkinan


__ADS_3

Dokter yang dipanggil oleh Calvin baru saja datang. Pria itu pun mengikutinya ke kamar. Namun, Zakira ternyata sudah terlelap di sana. Calvin pun mencoba untuk membangunkan wanita itu agar dokter bisa memeriksanya. Dia tahu sang istri masih sangat mengantuk, tetapi ini semua juga demi kebaikannya.


"Sayang, bangun dulu yuk! Ini ada dokter yang mau periksa kamu," ucap Calvin sambil mengusap lengan sang istri.


Zakira yang merasa risih pun segera membukanya dan berkata dengan kesal. "Mas, aku tuh lagi ngantuk. Aku 'kan nggak sakit, kenapa ada dokter segala?"


Calvin yang tahu istrinya kesal pun mencoba untuk tetap sabar. Dia tidak ingin Zakira semakin sakit. "Iya, aku tahu kamu nggak sakit, tapi apa salahnya kalau dokter periksa kamu. Siapa tahu kamu masuk angin, aku nggak mau kalau terjadi sesuatu sama kamu."


Zakira yang tadinya kesal pun akhirnya menuruti keinginan sang suami. Dia tidak tega melihat wajah pria itu yang terlihat begitu khawatir. Dokter pun segera memeriksa keadaan Zakira, yang ternyata keadaannya sangat baik meskipun terlihat begitu lemas. Secara keseluruhan semuanya juga sehat.


Tiba-tiba dokter itu curiga jika saat ini Zakira tengah hamil. Namun, dia juga tidak bisa memastikan hal itu karena itu bukan keahliannya. Dokter itu pun mengajak Calvin untuk keluar agar Zakira bisa beristirahat. Dia juga ingin menjelaskan apa yang terjadi pada istri dari pria itu.


"Keadaan istrimu baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dokter tersebut.

__ADS_1


"Kalau dia baik-baik saja, kenapa dari saat naik pesawat keadaannya begitu? Apakah mungkin istri saya sedang mabuk pesawat?" tanya Calvin, tetapi kenapa saat mereka berangkat wanita itu baik-baik saja?


"Itu bisa saja, Pak, tapi sebenarnya saya mencurigai sesuatu."


"Mencurigai sesuatu? Apa itu?"


"Saya pikir istri Anda sedang hamil karena itu lebih baik Anda membawanya ke dokter kandungan. Mungkin Anda bisa juga mengeceknya di rumah dengan menggunakan alat tes kehamilan. Saya tidak memilikinya mungkin Anda bisa membelinya di apotek."


Calvin masih terdiam, mencerna apa yang dikatakan dokter. Tiba-tiba saja otaknya berjalan dengan lambat. Mama Sekar yang tadi di sana segera memukul tangan putranya. Bisa-bisanya pria itu diam saja disaat seperti ini.


"Ah ... iya, Ma. Aku harus beli di mana?"


Mana Sekar menepuk keningnya, sang putra kenapa jadi lelet begini. Yang ada nanti salah beli. "Sudah, sebaiknya kamu suruh orang lain saja daripada kamu yang beli sendiri. Yang ada nanti di sana kamu nggak jadi beli tespek. Biar Mama saja yang minta sopir untuk membelikannya segera."

__ADS_1


Mama Sekar berjalan keluar, membiarkan Calvin dengan wajah bingungnya. "Dokter, apa benar yang Anda katakan, istri saya hamil?"


"Saya masih menebaknya saja, Pak. Saya tidak bisa memastikan semuanya karena saya sendiri juga bukan dokter kandungan. Saya hanya mengerti tentang gejala-gejalanya saja."


Calvin mengangguk dan tersenyum meskipun berita itu belum tentu benar, tetapi pria itu sudah merasa begitu bahagia. Kalau pun nanti sang istri tidak hamil juga tak masalah. Itu berarti mereka harus lebih berusaha lagi. Tuhan juga memberi waktu pada mereka agar lebih menikmati waktu bersama.


"Semoga saja apa yang Dokter katakan itu benar. Saya sudah sangat mengharapkannya."


"Amin, mudah-mudahan saja seperti itu, ya, Pak. Saya juga mendoakanmu agar Anda dan istri segera diberi kepercayaan."


"Amin."


Mama Sekar sudah kembali, wajah wanita paruh baya itu juga terlihat berseri-seri. Dia membayangkan bahwa sang menantu saat ini benar-benar hamil. Semua orang memang sudah mengharapkan hal itu. Meskipun selama ini semua orang diam, tetapi dalam hati pasti mereka menginginkan kehadiran anggota keluarga baru.

__ADS_1


Apalagi di rumah itu sudah sangat lama tidak terdengar tangisan seorang bayi, pasti nanti akan meramaikan suasana. Banyak sekali rencana yang udah di kepala Mama Sekar banyak


__ADS_2