
"Wah, indah sekali, Mas!" seru Zakira saat melihat pemandangan yang ada di depannya begitu terlihat sangat cantik.
"Iya, memang sangat cantik, tapi bagiku kamu lebih cantik dari apa pun."
Zakira tersenyum malu, sang suami memang sangat pandai berkata manis padanya. Akhir-akhir ini pria itu memang sering sekali begitu, bukan karena ada tujuan, tetapi karena dia benar-benar kagum pada sang istri. Apalagi saat melihat wajah Zakira yang memerah, justru itu membuat Calvin merasa gemas sendiri. Jika bukan di tempat umum, tentu saja dia bisa melakukan hal yang lebih pada istrinya
Calvin memang memutuskan untuk mengajak sang istri pergi sebuah pedesaan, di mana almarhum sang kakek juga memiliki sawah di sini. Namun, sudah menyerahkan pada warga agar dikelola. Petani itu cukup menyetorkan beberapa hasil panen saja. Awalnya kakek tidak ingin mengambil setoran, tetapi setelah dipikirkan kembali, dia akan menerima setoran, kemudian bisa digunakan warga saat butuh. Itu juga bisa membuat mereka lebih bertanggung jawab lagi dengan pekerjaan.
Saat ini keduanya berada di bukit dengan pemandangan sawah yang membentang. Ada beberapa petani juga yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Ada juga para istri yang membantu, sementara anak-anak terlihat begitu bahagia bermain di gubuk tempat biasanya para orang tua istirahat.
"Apa kamu sering ke sini, Mas? Di sini pemandangannya sangat bagus sekali."
"Dulu waktu kecil aku sering ikut kakek ke tempat ini, tapi semenjak kakek meninggal hanya beberapa kali saja. Sekarang justru lebih sering lagi karena harus mengecek pembukuan di gudang."
Zakira mengerutkan keningnya sambil menatap sang suami, tidak mengerti apa maksud dari kata-kata pria itu. "Pembukuan di gudang? Maksudnya?"
"Warga di sini ada yang beberapa menggarap sawah kakek, jadi mereka kirim setoran gitu ke gudang. Ada orang juga yang dari dulu dipercaya sama kakek, tapi harus tetap diawasi juga sesekali. Kakek tidak ingin kecolongan, sebelumnya juga ada orang yang
memanfaatkan kebaikan kakek dan akhirnya sawah yang menghasilkan banyak dipakai pribadi. Malah orang yang menggarapnya yang jadi korban juga karena harus setor dua kali lipat dari apa yang kakek minta. Orang itu juga laporan ke kakek kalau sawah gagal panen, padahal itu alasan yang sengaja dibuat."
"Ada juga orang seperti itu, ya, Mas. Padahal yang kerap sawah pasti orang yang tidak mampu, tapi masih juga disalah gunakan."
"Justru orang-orang seperti itu sangat banyak berkeliaran di luar sana. Mereka sangat suka memanfaatkan kelemahan orang lain. Untung saja kakek segera tahu dan melaporkannya ke pihak yang berwajib. Jika tidak kasihan juga para petani yang sudah bekerja keras tanpa mengenal waktu."
__ADS_1
"Kakek baik sekali, sayangnya aku tidak mengenal beliau."
Calvin tersenyum dan merangkul pundak sang istri. "Kalaupun kamu tidak mengenal beliau, pasti almarhum kakek juga bahagia karena memiliki cucu menantu sepertimu. almarhum juga bukan orang yang suka memandang orang dari hartanya saja. Beliau lebih suka dengan orang-orang yang baik dan benar-benar tulus hatinya seperti kamu ini, Sayang."
"Kamu terlalu berlebihan, Mas. Aku bukanlah siapa-siapa, bahkan sampai ketik ini pun terkadang aku malu kalau berduaan sama kamu. Apalagi saat ada acara keluarga."
Apa yang dikatakan oleh Zakira memang benar. Terkadang ada beberapa kerabat yang suka memandangnya dengan sinis, hal itu tentu saja membuatnya tidak nyaman. Hanya saja dia tidak ingin membuat sang suami kepikiran jadi, wanita itu hanya diam saja. Cukup dengan perlakuan baik dari suami dan kedua mertuanya saja, yang lainnya dia menganggap angin lalu.
Betapa beruntungnya Calvin memiliki istri seperti Zakira yang tidak pernah merepotkannya. Justru pria itu yang berharap agar sang istri lebih berani mengadu padanya. Namun, sepertinya itu tidak mungkin karena dia adalah wanita yang kuat dan tegar.
"Jangan pernah berpikir seperti itu karena kedua orang tuaku sudah memilihmu, itu artinya kamu sudah memiliki segalanya yang dibutuhkan keluargaku. Terbukti kamu selama ini sangat baik, keluargaku juga sangat menyayangimu."
Zakira merebahkan kepalanya di pundak sang suami, dia begitu bahagia. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Keluarganya sekarang sangat menyayanginya, wanita itu sungguh sangat bahagia dengan musibah yang terjadi. Jika tidak, Zakira tidak akan pernah bertemu dengan Papa Gunawan, otomatis tidak akan menikah dengan Calvin.
Calvin menggenggam telapak tangan sang istri yang sedari tadi sudah saling bertautan. Berada di tempat seperti ini tentu saja membuat Zakira merasa mellow. Keadaan yang tenang dan dingin membuat suasana menjadi bertambah romantis.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Justru aku ingin mengatakan padamu, apa pun yang terjadi nanti, kamu harus selalu percaya padaku. Ingatlah aku adalah suamimu. Jika aku melakukan kesalahan, beri aku teguran. Kamu bisa melakukan apa pun termasuk jika kamu mau memakiku sekalipun."
"Tentu, aku akan melakukan seperti yang kamu inginkan."
Keduanya pun menikmati suasana santai dengan tenang. Calvin juga mengajak Zakira berkeliling ke persawahan. Ini pertama kalinya bagi wanita itu melihat secara langsung bagaimana cara kerja para petani. Jujur dia merasa begitu kagum, pekerjaan mereka begitu menguras tenaga.
Namun, hasil yang didapatkan tidak seberapa, tetapi bagi mereka itu sangat besar. Jika dibandingkan dengan pemilik sawah yang lain, milik kakek Calvin yang setorannya paling sedikit. Tentu saja para warga begitu senang melakukan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Selain menanam padi mereka juga menanam sayuran dan beberapa bumbu dapur lainnya, seperti kunir dan jahe. Mereka jarang sekali membeli sayuran di luar, hanya ikan saja yang mereka beli. Mungkin itu juga yang membuat pengeluaran mereka sedikit berkurang. Sayuran yang mereka hasilkan juga segar dan bergizi.
Setelah puas berkeliling Calvin pun singgah di gudang tempat para petani menyetorkan hasil panen. Zakira juga ikut membantu sang suami memeriksa laporan. Dia juga cukup mengerti apa yang dikerjakan pria itu karena dia dulu juga sempat kuliah meskipun hanya satu tahun saja.
"Pak Calvin, ada salah satu petani yang tidak lagi menggarap salah satu petak sawah. Dia akan mengembalikannya saat panen selesai," ucap Pak Udin—orang yang selama ini dipercaya Calvin.
"Memangnya kenapa alasannya? Apa menurut dia setoran terlalu banyak?" tanya Calvin karena selama ini juga tidak ada yang keberatan untuk hal itu.
"Tidak, Pak. Dia mau ikut anaknya ke kota. Rumah yang di sini juga akan dijual nantinya, mereka semua akan pindah ke kota."
Calvin lega mendengarnya. "Alhamdulillah, berarti anaknya sukses, ya, Pak. Kalau boleh tahu rumah yang sebelah mana?"
"Rumah yang di dekat jalan raya itu, yang menghadap Selatan."
"Apa rumahnya sudah terjual? Saya sebenarnya juga berniat ingin membeli rumah di sekitar sini, biar nanti saat saya ingin melihat pembukuan, saya bisa menginap di sini, tidak selalu di hotel."
Selain itu Calvin juga ingin agar sang istri nyaman dan tenang saat di ajak ke sini nanti. Di tempat ini juga suasananya asri, sangat cocok untuk liburan keluarga.
"Silakan saja, Pak. Kalau Anda mau, saya akan antarkan ke rumah beliau. Kemarin sempat ada yang nawar, tapi karena terlalu murah dia tidak melepaskannya. Barangkali kalau Anda yang menawar akan dilepas. Dia 'kan segan pada Anda."
"Tidak begitu juga, Pak. Saya akan membayar sesuai harga rumah itu."
"Nanti setelah memeriksa semuanya, saya akan mengantar Anda." Calvin pun mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1