
Anna memandang kesal orang yang ada di depannya. Orang yang beberapa hari lalu dikenalkan oleh ayahnya. Dan ini adalah pertemuan kedua mereka, pertemuan kedua yang hampir membuat hatinya hancur berkeping-keping. Setiap kalimat yang keluar dari orang ini bahkan semakin membuat Anna tidak ingin dilahirkan .
"Sedikit fakta tentang insiden 20 tahun lalu yang menimpamu mungkin membuat hatimu hancur, An. Tapi itu kebenarannya, mereka sengaja melakukannya agar kamu bisa selamat."
Ucap orang itu sambil memandang iba keponakan yang baru dua kali ia temui.
"Lalu kenapa harus orang lain yang mengurusku sampai sekarang? Kenapa bukan kalian, keluarga dari ibuku yang melindungiku? Bertahun-tahun aku menaruh kebencian pada ayah dan ibu kandungku, tapi kenapa baru sekarang paman datang menceritakan kebenarannya?"
Ucap Anna tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Sekarang air mata sudah menggantung di pelupuk matanya, bersiap untuk turun bebas.
"An, paman akan menceritakannya asal kamu tenang, oke? Dan setelah mendengar keseluruhan cerita ini paman harap kamu bisa mengambil keputusan yang baik."
Ucap pria yang jika dilihat umurnya sekitar 40 tahunan.
Anna mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan, berharap gemuruh kecewa dihatinya sedikit berkurang.
"Aku harap paman Gerry mengatakan semuanya, aku tidak mau ada yang disembunyikan lagi dariku."
Ucap Anna dan mendapat anggukan setuju.
__ADS_1
"Dulu saat ayah mendengar tentang kabar kakakku, Alice akan menikah dengan Jonas, ayah benar-benar tidak memberikan restu pada mereka. Berbagai cara dia lakukan agar pernikahan itu tidak terjadi. Seberapa keras Jonas berjuang untuk mendapatkan persetujuan ayah, sekeras itu pula ayah akan menentangnya. Alasannya karena Jonas adalah putra satu-satunya dari Wallis, pewaris tunggal perusahaan besar dari negara Daun, anak dari Bram Wallis musuh bebuyutan dari keluarga kami. Entah bagaimana Alice dan Jonas bisa bertemu dan jatuh cinta, tapi pada akhirnya keputusan mereka untuk menikah semakin membuat kebencian pada diri ayah semakin besar. Sampai pada puncak masalah, Alice memutuskan hubungan keluarga dengan Addison dan menyerahkan sisa hidupnya untuk menjadi istri dari Jonas dan menjadi bagian dari Wallis."
Jelas Gerry, mengenang kisah keluarga yang dulu sempat membuat kesehatan tuan Addison untuk pertama kalinya memburuk.
"Beberapa hari menuju pernikahan, Alice dan Jonas mengirimkan surat undangan. Tanpa pikir panjang ayah membuang dan membakarnya saat itu juga dan melarang siapapun untuk hadir di acara itu. Tapi walaupun begitu, bagi ayah, Alice adalah anak perempuan kesayangannya. Seberapa marah dia atas keputusan yang diambil Alice, ayah tidak pernah sedikitpun membuat Alice keluar dari daftar keluarga Addison. Beberapa tahun setelahnya ayah mendapat kabar jika mereka telah dikaruniai seorang putri dan seorang putra, mendengar kabar itu ayah bahagia bukan main. Namun karena rasa gengsinya, ayah menyimpan rasa bahagianya seorang diri. Walaupun begitu kami sebagai anak-anaknya tahu bagaimana perasaannya, ayah selalu berharap suatu saat nanti Alice bisa pulang dan meminta maaf padanya, maka diapun akan memaafkannya. Bahkan saat mendengar kabar penculikan dan pembunuhan mu, dia mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari kebenaran tentang kejadian itu. Sampai dimana seminggu sebelum insiden berdarah, Alice datang kembali untuk pertama kalinya ke kediaman Addison. Dia datang seorang diri dan mengatakan bahwa selama ini Arrianne masih hidup dan mereka menitipkannya di kediaman teman dekat."
"Lalu setelah tahu aku masih hidup kenapa tidak lantas mencari ku dan meminta aku segera kembali? Kenapa malah membiarkan aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa begitu lama?"
Anna tak kuasa menahan tangisnya lagi. Kebenaran ini terlalu menyakitkan baginya.
"Saat itu Alice tidak memberitahukan dimana kamu dititipkan. Dia hanya bilang seluruh identitasmu telah di ubah dan namamu adalah Anna. Alice bilang terlalu bahaya membiarkan kamu untuk tinggal dilingkungan yang berkaitan dengan Jonas dan dirinya, meskipun tak ada seorang pun yang mengetahui Alice bagian dari Addison, tapi dia bilang wilayah kekuasaan musuhnya saat ini tidak diketahui. Dia takut jika negara Awan kali ini masuk dalam wilayah musuh yang sedang mengancam Wallis. Setelah obrolan panjang, Alice hanya berpesan untuk melindungi identitas mu sebaik mungkin dan meminta agar Addison bisa melindungi Aiden yang saat itu identitasnya terlanjur diketahui oleh musuh. Alice bilang saat itu Jonas sedang berusaha melindungi agar Wallis grup tidak ikut diserang."
"Namun naas, seminggu setelah pertemuan kami, kejadian pembantaian itu terjadi. Ayah marah besar dan kesehatannya kembali menurun. Tapi dia enggan untuk melakukan perawatan, ayah memaksakan diri untuk memastikan secara langsung kabar tersebut. Mentalnya semakin terpukul saat tahu Aiden juga tidak terselamatkan. Walaupun Aiden sempat mendapatkan perawatan, tapi ayah benar-benar menyesal tidak bisa menemui cucunya dalam keadaan hidup. Anna, jika saja saat itu kami mengetahui bahwa teman yang dimaksud Alice adalah keluarga Admiral dan jika saja saat itu Tuan Admiral mengetahui kalau kami sudah mengetahui tentang kebenaranmu. Mungkin saja kamu tidak akan menderita seperti ini."
Sesal Gerry pada Anna yang terlihat semakin deras menangis.
"Paman, apa paman tahu siapa dokter yang bertanggung jawab atas Aiden saat itu? Apa ayah menceritakannya?"
Tanya Anna lirih, sekarang Gerry tahu arah pembicaraan yang akan Anna katakan. Perasaan bersalahnya pada kematian Aiden benar-benar membuat kehidupannya berubah.
__ADS_1
"Sudahlah, An. Tidak perlu menyesalinya lagi. Itu hanya sebuah kecelakaan yang siapapun tidak akan bisa mengiranya. Itu bukan kesalahanmu. Sudah cukup 2 tahun ini kamu hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang tidak kamu lakukan."
Jelas Gerry.
"Tidak paman. Andai saja saat itu aku tahu jika pasien yang sedang aku tangani adalah bagian dari Wallis, mungkin saja aku bisa menyadari jika dia adalah adik ku. Jika saat sebelum kematiannya Aiden tidak sadar dan ingin menemui ku, mungkin aku akan seperti kakek, tidak akan sempat melihatnya hidup dan mendengar suaranya saat memanggilku kakak. Jika saja saat itu aku lebih menjaga pasien ku mungkin kematian Aiden bisa dicegah paman."
Sekarang dengan hati seperti teriris Anna menangis sejadi-jadinya. Kematian Aiden yang terjadi didepan matanya sampai sekarang selalu jelas tergambar di kepalanya.
Gerry memandang iba Keponakan yang selama ini hidup dalam bayang-bayang kematian yang selalu menghantuinya. Dari awal hal seperti inilah yang membuatnya tidak sanggup mengungkap kebenaran pada Anna. Dia takut mental Anna terguncang, bagaimana pun meyakini sesuatu yang keliru lalu setelahnya mendapatkan kebenarannya adalah sesuatu yang menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah sebagian kebenaran yang harus Anna ketahui dan sisanya harus Anna cari tahu sendiri.
"Untuk sementara kamu istirahatlah disini. Bibimu sudah menyiapkan kamar untukmu. Paman akan memberitahu kediaman Admiral jika kamu bermalam disini. Besok siang paman dan bibi harus kembali ke negara Awan."
Ucap Gerry beranjak pergi dan membiarkan Anna untuk menenangkan dirinya.
"Tidak perlu pura-pura terlihat kuat. Menangis lah jika itu membuat kamu lega."
Lanjutnya. Menepuk lembut bahu Anna yang gemetar karena menangis.
"Selama ini aku hidup sudah seperti orang jahat. Mereka yang aku benci ternyata sudah melakukan banyak hal demi melindungiku. Lalu sekarang, apa yang bisa aku lakukan?"
__ADS_1