
Suasana kota setelah diguyur hujan menciptakan udara segar yang nikmat untuk dihirup. Angin yang bertiup lambat membuat sisa air hujan di dedaunan ikut turun ke tanah.
Kini mereka turun dari mobil, Anna menatap takjub bangunan mewah dari sebuah restoran yang akan mereka masuki. Memang bukan kali pertama dia melihat restoran yang mewah, tapi bangunan ini berbeda. Sedikit memiliki kesan artistik juga modern.
"Ini salah satu restoran milik keluarga Loud."
Ucap Hans saat melihat tatapan takjub dari wanita yang dibawanya.
Anna mengangguk.
Pantas saja gaya bangunan juga isinya berbeda dari restoran lain. Keluarga Loud memang tidak main-main jika mengurus bisnis mereka. Jika mereka katakan itu adalah sesuatu yang mewah, maka mereka akan membuatnya menjadi sesuatu yang benar-benar mewah hingga membuat orang-orang menatapnya takjub.
Anna mengikuti langkah Hans, kini mereka menuju ke lantai 2. Dari tampilannya yang berbeda dari lantai dasar, Anna dapat menilai jika ini adalah wilayah tamu VIP. Ruangannya sama besar, hanya saja jarak antar mejanya sedikit berjauhan terhalang skat rak yang tertata oleh keramik-keramik yang memiliki harga fantastis. Mereka duduk disebuah meja yang sudah terhidang makanan yang terlihat begitu mewah.
"Anggap saja aku mengajak mu untuk berkencan."
Ucap Hans mempersilahkan Anna duduk.
Tidak Hans ingatkan pun, gadis itu sudah menganggapnya demikian. Tapi, bukan perasaan tersanjung yang Anna rasakan. Perbuatan baik Hans pasti memiliki maksud lain dibaliknya.
"Silahkan dinikmati, aku sudah memilih koki terbaik untuk memasak hidangan khusus untukmu."
Ucap Hans lagi.
Tanpa ingin menjawab ucapan Hans, Anna kini menyantap hidangannya. Jika saja bukan Hans yang ada dihadapannya, mungkin kini dia sudah melupakan imejnya. Makanan yang masuk kedalam mulutnya saat ini benar-benar sangat enak. Sudah berapa banyak makanan mahal dan mewah yang pernah dia lahap, tapi dia belum pernah merasakan makanan seenak ini. Ah, mungkin ini akibat dari dirinya yang terlalu menganggap mie instan sebagai makanan ternikmat selama ini.
"Hans, aku mengikuti mu sampai kemari karena kamu bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting denganku. Jadi, katakanlah sekarang."
Ucap Anna tanpa memandang Hans.
Hans memandang Anna, gadis ini benar-benar membuatnya kesal. Dengan susah payah dia menyusun rencana dengan baik-baik, tapi gadis ini benar-benar tidak bisa membuat rencananya berjalan lancar. Sepertinya Hans memang harus melakukan cara yang berbeda untuk membuat Anna terkesan akan dirinya.
"Aku ingin kau menikah denganku."
Ucapan Hans kini membuat Anna menghentikan makannya.
Anna menatap Hans. Dugaannya benar, Hans memiliki maksud lain.
"Kau serius?"
Tanya Anna.
"Ya, untuk apa aku mengatakannya jika tidak serius."
Jawab Hans.
"Apa alasannya?"
Tanya Anna lagi.
"Tidak ada. Tapi sepertinya ibuku memiliki minat yang besar padamu, dia menyuruhku mencari tau sendiri tentang seorang wanita yang akan dijodohkan denganku. Lalu aku menurut dan secara kebetulan wanita itu adalah dirimu."
Tutur Hans yang membuat Anna sedikit mengangkat alisnya.
"Ibumu tau aku? bagaimana bisa?"
Selidik Anna.
Hans bangkit dari duduknya, menghampiri gadis yang ada dihadapannya.
"Aku tidak tau pasti. Tapi... Dia bilang sangat kagum dengan anak angkat Dokter Hendry."
Ucap Hans mencondongkan tubuhnya, jarak antara wajahnya dengan Anna kini begitu dekat. Hingga membuat gadis itu mematung.
Sedetik kemudian Anna salah tingkah, tiba-tiba saja degup jantungnya berdetak begitu cepat. Wajahnya memerah, suara menggoda Hans masih begitu jelas ditelinganya. Anna dengan cepat berdiri, menjauh dari lelaki berbahaya itu.
"Apa yang kamu lakukan?"
Ucapnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Kau saja yang mudah kaget."
Jawab Hans santai.
"Aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Jangan, jangan sampai aku tergoda dengan brengsek ini."
Anna mengatur nafasnya dan kembali menatap Hans yang masih menunjukan seringainya.
"Katakan apa rencanamu yang sebenarnya, Hans."
Ucap Anna.
Hans terdiam, wanita ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Salah besar jika Hans menganggap Anna mudah untuk ditaklukan seperti wanita konglomerat lainnya. Wanita dihadapannya ini memiliki sikap selalu waspada. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Hans akui, terlalu banyak hal yang sampai saat ini belum dia ketahui tentang Anna.
Anna masih menatap Hans lekat, mencari jawaban diantara kedua mata pria yang masih diam.
"Mau kau yang mengatakannya atau aku yang harus menebaknya?"
Tanya Anna lagi.
Hans menaikan sebelah sudut bibirnya, entah apa makna dari senyumnya sekarang. Dan, lagi-lagi Hans melangkah mendekati Anna.
__ADS_1
"Sepertinya aku ingin mendengarkan hasil dari pengamatanmu."
Jawab Hans.
"Victoria."
Jawab Anna.
Seketika raut wajah Hans berubah, amarahnya seperti dipancing namun dengan cepat dia tahan. Berani-beraninya wanita ini menyebutkan nama dari wanitanya dengan lancang.
Anna tersenyum meremehkan. Pria ini akan dengan sangat jelas melepas emosinya jika mendengar wanita j*l*ng itu. Sejak bertemu dengan pria yang dimaksud Tuan Hendry, kekesalan dan amarah Anna pada Victoria dan Merry seperti bertambah tingkatannya.
"Benar bukan? Mungkin alasan tentang permintaan ibumu itu bisa dianggap benar. Tapi bersamaan dengan itu, Victoria adalah alasan utamanya, kan?"
Lanjut Anna lagi.
"Imajinasimu terlalu tinggi, Nona. Bagaimana jika tebakanmu itu salah?"
Ucap Hans, mengangkat dagu Anna dengan kasar.
"Kau marah karena aku menyebut namanya, kan?"
Lagi, Anna tak menghiraukan cengkraman di dagunya.
"Hans..."
Anna menggantungkan ucapannya, kini tangannya balik mencengkram pergelangan tangan Hans.
"Kamu pikir demi wanita j*l*ng itu aku mau melakukan permintaanmu?"
Lanjut Anna.
Urat marah diwajahnya semakin jelas. Kini Hans semakin kuat mencengkram dagu gadis itu, sorot matanya semakin menghunus sampai-sampai Anna terkejut saat melihat perubahan emosi Hans yang begitu cepat.
"Kamu sedang mengujiku? Selama ini aku berusaha baik menghadapimu. Tapi, kali ini kau yang memintaku untuk berbuat kasar padamu."
Ucap Hans.
"Dan kau ingin aku takut?"
Sebisa mungkin Anna mengendalikan rasa terkejutnya.
"Jika kau tak memberikan jawaban yang ingin aku dengar, lihat apa yang bisa aku lakukan pada perusahaanmu dalam satu malam. Dev memiliki masalah pribadi yang belum diselesaikan dengan Adik laki-laki mu, bagaimana jika aku menyuruhnya untuk menyelesaikan masalah itu secepat mungkin? Juga, Adik perempuanmu terlihat cukup cantik."
Anna terperanjat dengan kalimat penuh ancaman dari mulut Hans. Dengan spontan Anna melayangkan tangannya, menciptakan tamparan yang sangat keras di pipi Hans. Berani-beraninya pria itu turut menyeret Arthur dan Jean dalam masalahnya.
Sekarang Anna bisa melihat dengan jelas, sifat semena-mena Hans yang banyak dibicarakan oleh orang-orang yang pernah berhadapan dengannya. Mulut pria ini benar-benar ingin dia tutup rapat untuk selamanya. Anna masih menatap marah Hans yang kini sedang tersenyum meremehkan.
"Kau marah karena aku menyebut nama kedua adikmu, kan?"
"Jika kau berani menyentuh Adikku, aku tak segan membunuhmu, Hans."
Jawab Anna masih dengan emosinya.
Menepis keras tangan kekar yang ada d pundaknya, mengambil tasnya lalu hendak pergi meninggalkan Hans yang masih memandangnya.
"Aku bisa mengantarmu pulang."
Ucap Hans seperti tidak terjadi sesuatu, membuat Anna menghentikan langkahnya.
"Aku bisa pulang sendiri tanpa harus diantarkan oleh orang gila penuh ambisi sepertimu, jangan karna aku melepaskan Elvaro dan mengembalikannya pada Glover, aku bersedia bekerjasama dengan kalian."
Ucap Anna tegas.
Namun tampaknya Hans tak menganggap ucapannya.
"Aku harap bisa mendengar kabar baik darimu, Arrianne. Persyaratan kerjasama kita akan aku kirim padamu besok."
Ucap Hans membuat Anna semakin meradang.
"Bahkan kamu melupakan harga dirimu, memohon padaku seperti ini demi orang yang kabarnya pun tidak jelas. Dan aku harap wanitamu itu sudah tidak ada lagi di bumi ini."
Ucap Anna penuh penekanan. Dia benar-benar muak dengan sikap Hans yang dari dulu tidak pernah berubah, rela melakukan apapun demi wanita licik seperti Victoria.
"Kau bodoh Hans, bahkan sandiwara yang Victoria lakukan sejak masa sekolahpun kau tak bisa menyadarinya. Kau bahkan pura-pura tidak peduli bahwa dulu kita pernah bertemu. Aku benci pada sikap lemahmu pada wanita licik itu Hans."
Hans memandang kesal langkah Anna yang meninggalkannya. Wanita macam apa yang tidak sedikitpun merasa takut dengan gertakan juga ancaman yang diberikan oleh Hans? Biasanya wanita yang sudah mendapat ancaman darinya akan bertekuk lutut dihadapannya. Bahkan merelakan tubuh mereka agar Hans bisa melepaskannya. Tapi Anna, tidak terlihat sedikitpun rasa takut tercermin diwajahnya. Darren benar, Anna adalah orang pertama yang bisa membuat emosinya jungkir balik. Sekarang otaknya sedang bekerja, memikirkan langkah selanjutnya untuk menghadapi wanita itu. Bagaimana pun caranya, Hans harus bisa membuat Anna ada di genggamannya.
"Barang yang aku pilih tidak bisa lepas begitu saja. Bahkan sekalipun harus lepas, akan ku pastikan barang itu tidak akan ada lagi."
Ucap Hans sambil memandang Anna yang sedang menunggu taxi dibawah sana.
Gadis itu masih mematung di sebrang jalan. Tiupan angin setelah hujan membuat hawa disekitarnya terasa cukup dingin, rambutnya yang terurai dengan bebas dihempas angin. Namun, sedikitpun gadis itu tak memperdulikannya. Hatinya tiba-tiba saja hampa sejak Hans secara tidak langsung menyuruhnya untuk ikut terseret dengan orang-orang yang sejak dulu dia benci.
"Aku benci ketika semakin banyak orang menyuruhku untuk terlibat dengan Wallis."
Gumamnya lirih.
Tangannya melambai sampai sebuah taxi berhenti didepannya.
"Glory High Land."
__ADS_1
Ucap Anna pada sang supir.
Menyebut satu tempat yang yang merupakan tempat tinggal keluarga Admiral. Tempat yang berada dipinggiran kota, yang semua orang tahu merupakan kawasan elit yang tidak semua konglomerat bisa tinggal disana. Kawasan yang berisi Villa megah nan luas tempat tinggal orang-orang beruntung. Bahkan jarak antar Villanya pun bisa dikatakan cukup berjauhan, memiliki teknologi keamanan yang begitu canggih. Tak heran tuan Hendry yang memiliki tempat praktek darurat untuk para tamu VIP memilih tempat ini untuk tempat tinggalnya.
Sepanjang perjalanan Anna terus melamun, entah hanya perasaanya atau apa. Tapi dia merasa jika sudah bertemu Hans rasanya amarah juga rasa gugupnya selalu bergemuruh hingga membuat beban dikepalanya bertambah. Bahkan Anna harus beberapa kali meyakinkan dirinya agar tak goyah jika harus berhadapan dengan pria itu.
"Nona, didepanmu ada beberapa permen manis, anda bisa mengambil juga memakannya. Saya percaya sedikit makanan manis dapat mengurangi beban Anda."
Ucap supir taxi yang bisa Anna kira-kira umurnya sudah menginjak kepala 5.
"Terimakasih."
Ucap Anna dan menuruti apa yang diucapkan sang supir.
"Anda begitu sangat perhatian kepada penumpang Anda, Pak. Apa Anda menyedikan permen ini setiap hari?"
Tanya Anna.
"Hahaha, Putriku yang menyarankannya. Dia bilang setiap pagi ditempat kerjanya karyawan selalu disediakan kudapan manis. Putriku selalu cerita bosnya akan marah jika kudapan itu tidak habis, karna bosnya bilang makanan manis dapat mengurangi stress akibat pekerjaan yang selalu dialami oleh karyawan."
Jelas supir paruh baya itu.
Lagi-lagi Anna tersenyum dibuatnya.
"Benarkah? Dia bekerja dimana?"
Ucap Anna sedikit penasaran.
"Putri ku bekerja di Lyn Grup."
Ucap sang supir membuat Anna sedikit terkejut.
"Pantas saja kalimat itu tidak asing. Setiap hari kan aku yang selalu mengatakannya pada mereka."
"Sejak bekerja disana, aku tidak pernah lagi melihat dia bersedih. Sepertinya kudapan manis itu benar-benar bermanfaat. Sudah beberapa kali Putriku bekerja diberbagai perusahaan, setiap pulang dia selalu menangis. Membenci dirinya sendiri karena orang-orang bilang penampilannya tidak menarik dan tidak pantas, walaupun mereka tahu bahwa Putriku begitu berbakat. Namun, aku bersyukur dia sekarang menemukan tempat yang cocok untuknya."
Tuturnya, membuat Anna sedikit penasaran tentang siapa Karyawannya itu.
"Benarkah? Putrimu benar-benar beruntung, Pak. Dilihat dari cara Anda menceritakannya, sepertinya Anda begitu bangga dengan Putri Anda. Jika boleh tau, siapa nama Putri Anda?"
Ucap Anna sedikit bangga dengan lingkungan perusahaannya.
"Dia disana."
Tunjuk pak tua itu pada sebuah foto yang sengaja ia gantung di kaca spion dalam mobilnya. Anna sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat fotonya agar terlihat lebih jelas, kini dia terperanjat tak menyangka.
"Namanya Clara, mendiang istriku yang memberikannya nama itu."
Ucapnya masih tersenyum.
Anna kembali lagi ke posisi duduknya.
"Aku tahu Lyn adalah perusahaan besar yang tak mungkin memberikan upah yang kecil pada karyawannya. Aku tebak gaji anak Anda cukup besar untuk membuat Anda tetap diam dirumah. Apa dia tidak peduli Ayahnya masih menarik penumpang dengan taxi?"
Tanya Anna kembali, lagi-lagi pak tua itu tersenyum pada Anna.
"Hahah, Anda benar. Dia anak yang sangat berbakti. Jika dia melihatku bekerja seperti ini, mungkin yang ada dia akan menangis dan menjual taxiku."
Jawab pak tua itu lagi.
"Lalu kenapa anda masih bekerja?"
"Dia selalu bilang ingin membelikanku rumah yang besar agar aku bisa menikmati masa tuaku, ingin mengajakku berlibur, ingin mengajakku berjalan-jalan di taman kota. Tapi, aku merasa tidak pantas mendapatkannya. Dari dulu aku selalu menciptakan kehidupan penuh kesengsaraan padanya, sampai dengan biaya kuliah pun dia mencarinya sendiri. Maka dari itu, untuk menebusnya, sebelum putriku memberikan sesuatu yang lebih. Aku ingin mengajaknya berlibur juga jalan-jalan di taman kota dengan uangku bukan dengan uangnya. Hanya itu yang membuat pria tua sepertiku bisa bertahan dengan taxi ini."
Ucapnya mengenang sampai senyumnya terlihat kembali. Membuat Anna termenung dan sedikit terharu.
"Kapan Anda akan mengajaknya berlibur?"
Tanya Anna lagi.
"Bulan depan, uangku akan segera terkumpul. Aku akan mengajaknya sedikit bahagia dengan uang yang aku hasilkan sendiri."
Ucap sang supir itu.
Anna tersenyum.
"Aku rasa Putrimu akan sangat bahagia."
Jawabnya.
"Ah Nona, maaf aku terlalu banyak bicara."
"Tidak apa-apa. Cerita Anda sedikit mengurangi bebanku, Pak."
Ucap Anna.
"Hahaha, syukurlah kalau begitu."
Jawabnya dan kembali fokus dengan jalanan yang kini sudah memasuki kawasan elit yang dituju.
Anna menyandarkan punggungnya pada kursi. Mengalihkan pandangannya kembali pada pepohonan yang rimbun dan bergelut dengan pikirannya lagi.
__ADS_1
"Yang aku inginkan kebaikan Ayah yang seperti ini. Bukan kebaikan yang malah menjerumuskan aku pada masalah sulit seperti sekarang."
Tatapannya kembali sendu. Lalu tak lama dari itu, hujanpun kembali turun.