
Terik matahari mulai meninggi, teriknya terlihat sama persis dengan tatapan sinis salah satu pria pada wanita yang saat ini sedang menyambut mereka.
"Selamat datang Tuan-Tuan, terimakasih sudah mau berkunjung di perusahaan kami. Mari ikut saya."
Ucap formal wanita yang tak lain adalah Emely, Kepala Staf Pribadi Lyn Grup. Tanpa berniat memperdulikan tatapan yang terlihat masih sinis dari seorang Edgar Greg, sang mantan kekasih.
Berakhirnya hubungan asmara karna masalah yang menurutnya serius, membuat pria itu masih menyimpan ketidaksukaan pada sang mantan.
Perlahan langkah wanita cantik itu menggiring para Tuan muda yang sepertinya baru pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan tersebut. Baik Edgar, Eric, Darren, juga Ernest terlihat terkagum-kagum, sama persis seperti Hans saat pertama kali menginjakkan kaki disana. Merasa tak menyangka jika perusahaan yang dulu hampir bangkrut sudah berdiri tegak kembali. Menunjukan lingkungan kerja yang ramah bagi para karyawannya.
"Mantanmu terlihat lebih menggoda. Auranya terlihat sama seperti calon istri Hans yang menyebalkan itu."
Ucap Darren sedikit berbisik pada Edgar, lalu setelahnya terdengar kekehan saat temannya itu hanya membalasnya dengan delikan tajam.
"Kerjasama kita kali ini sepertinya akan lebih menarik."
Timpal Ernest menimpali sambil menepuk bahu lebar Edgar.
Kini mereka sudah berada didalam lift, dengan sigap Emely menekan tombol yang akan mengantarkan mereka menuju lantai pertemuan.
Namun sebelum pintu itu tertutup rapat, masuklah seorang wanita yang terlihat masih fokus pada lembar laporan yang masih setia dia amati.
"Si bodoh ini bau sekali. Ulah apalagi yang sudah dia lakukan sampai ke kantor saja bisa berpenampilan seperti ini."
Setelah puas memaki bosnya dalam hati. Dengan berat Emely menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.
"Selamat siang, Nona."
Anna yang mendapat sapaan dari suara orang yang tak asing ditelinganya itu menoleh sekilas, tanpa memperhatikan beberapa orang yang ada dibelakangnya yang sedang menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin wanita ini masih memakai pakaian yang sama dengan pakaian saat pertemuan mereka semalam? Ditambah dengan rambut acak-acakan yang asal dia ikat.
"Orang penting mana yang sedang berkunjung kemari sampai bisa membuat Nona Kepala ada di dalam lift saat jam sibuk begini?"
Ucapan sinis Anna mampu membuat tingkatan emosi Emely sedikit meningkat.
Sejak insiden salah paham yang terjadi antara Anna dan dirinya 1 tahun lalu memang membuat sifat Anna pada gadis itu berubah. Pertemanan hangat mereka seketika ikut mendingin. Nada bicara juga sindiran ketika Anna bertemu dengannya sudah terbiasa Emely dengar.
"Sepertinya Anda melupakan beberapa jadwal penting hari ini, Nona."
Balas Emely sekenanya.
Jika saja saat ini tidak ada tamu penting yang sedang bersama mereka. Sudah pasti Nona Kepala itu sudah membalas sindiran sang Bos.
"Sekarang kau benar-benar terlihat tidak berniat menjalin kerjasama dengan kami, Nona Anna."
Ucap Eric membuka suara dan berhasil membuat Anna menoleh padanya, raut wajah terkejut tampak jelas terlihat.
"Kalian? Sedang apa?"
Pertanyaan bodoh akhirnya terlontar dari mulut yang kata Darren menyebalkan itu.
__ADS_1
Tring.
Bunyi penanda bahwa mereka sudah sampai ditujuan terdengar.
"Mari Tuan, yang lainnya sudah menunggu."
Ucap Emely, kembali menggiring para Tuan muda menuju ruang pertemuan yang akan mereka tempati. Tanpa memperdulikan pertanyaan bodoh dari wanita berantakan tersebut.
Sedangkan Anna, wanita itu masih menampakan wajah keterkejutannya. Mengendus bau badannya setelah itu bercermin pada pintu lift yang sudah tertutup kembali. Menampilkan penampilannya saat ini, rambut acak-acakan yang diikat asal, baju berantakan yang sedikit tertutup mantel, juga sandal rumah yang lupa ia ganti dengan sepatunya.
"Lagi-lagi harga diriku jatuh. Untung tidak ada Hans bersama mereka."
"Nona, Tuan Arthur sudah menunggu Anda. 5 menit lagi rapat akan dimulai."
Ucapan Clara berhasil membuyarkan ratapannya akan penampilannya kini.
"Dimana dia sekarang?"
Tanya Anna tampak tidak bergairah.
"Di ruangan Anda, Nona."
Dengan langkah gontai dan tangan masih memegang lembar laporan yang tadi semangat ia baca, Anna berjalan menuju ruangannya.
"Juga rapat akan dilaksanakan di ruang rapat utama, Nona."
"Ck, pada akhirnya pria itu kembali menjadi saksi jatuhnya harga diriku."
Ya, tepat diatas sana sudah terlihat Hans sedang menyunggingkan senyum menyebalkannya. Berdiri tegak dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana.
Dengan kesal Anna kembali membalikan tubuhnya, membuka kasar pintu ruang kebesarannya. Disana sudah nampak sang adik laki-laki sedang memandangnya jengah.
"Sebenarnya apalagi yang terjadi pada Kakak?"
Ucapnya begitu kesal. Anna yang mendapat teguran hanya mampu memalingkan wajah, badmood dipagi hari yang sudah berubah menjadi siang hari ini membuatnya malas untuk berdebat.
Handphone yang sedari tadi laki-laki tampan itu genggam kembali berdering, menampakan nama Jean disana.
"Bicara padanya. Cari alasan baru agar aku dan Kak Jean bisa percaya dengan ucapanmu."
Ucap Arthur sambil menyerahkan beda persegi itu.
"Perbaiki penampilanmu, rapat dengan tamu penting biar aku yang urus. Sebagai gantinya Kakak harus bisa menyelesaikan masalah kantor cabang kita."
Anna yang mendengarnya langsung menatap tajam adiknya. Benar-benar mencari kesempatan dalam kesempitan dia ini.
Sudah menjadi kesepakatan bersama bukan? jika Arthur sedang berada di perusahaan, Anna hanya bertugas mengurus tentang masalah karyawan.
"Kenapa? Kali ini mengalah lah, tak usah mengajakku berdebat. Kesalahan sudah jelas ada pada Kakak. Anggap saja ini hukuman untukmu."
__ADS_1
Ucap kembali Arthur kemudian berlalu meninggalkan Anna dengan kekesalannya.
"Si licik ini benar-benar membuat mood-ku makin hancur."
Gerutunya.
"Ya Hallo?"
Ucap Anna pada Jean yang sedari tadi terus menghubunginya. Melepaskan mantelnya dan merebahkan diri pada sofa empuk kesayangannya.
"Ada yang ingin kamu katakan?"
"Tidak."
"Ck. An, ayolah. Sudah beberapa hari aku mendapatkan laporan kau sering mengunjungi club' malam. Ada apa sebenarnya denganmu ini? Kau anti dengan minuman alkohol, sudah lama kau tidak mengkonsumsinya. Lambungmu itu benar-benar kampungan, kau mau membunuhnya secara perlahan?"
Sambil terpejam Anna senantiasa mendengarkan ocehan adik perempuannya yang kadang terlampau perduli akan kesehatannya.
"Kau sudah berani mematai-matai aku? Darimana kau tau? Dasar tidak sopan!"
Ucap Anna sambil memijat pelipisnya.
Hanya decakan kesal yang terdengar dari sebrang sana.
"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
Ucapnya kembali saat Jean tak kunjung berbicara.
"Bohong. Sudahlah, siang nanti aku akan berkunjung. Konsumsi kembali obatmu itu, semalam kau tak henti muntah. Perutmu sekarang tak nyaman kan?"
Anna tersenyum, tau saja dia jika sekarang rasanya perutnya itu seperti di putar-putar. Kepalanya masih sedikit pening.
"So tahu! Sudah tutup teleponnya. Hari ini aku sibuk, adikmu kembali lepas tanggungjawab."
"Ck, ya sudah sampai jumpa. Dasar gila kerja."
Ucap Jean mengakhiri obrolan mereka.
Setumpuk ocehan yang sudah dia siapkan sedari malam hilang seketika saat terdengar suara lelah dari Kakak perempuannya. Walaupun Anna tak pernah bercerita tentang keluh kesahnya. Tapi sebagai orang yang sudah lama tinggal bersama, Jean tau saat-saat dimana Anna sedang memiliki masalah.
Kakak nya itu tipe orang yang lebih suka menyimpan segalanya sendirian. Menumpahkan segala beban yang dirasa dengan gila bekerja. Menghilangkan segala bentuk kesedihannya dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya.
"Kau berhutang banyak padaku, An. Kau berhasil membuat aku membuang-buang waktu libur berhargaku dengan membuatkanmu sup ini."
Ucap Jean yang sedang berkutat dengan kegiatan memasaknya didapur.
"Yah, tidak apa-apa lah. Berhubung sebentar lagi kamu akan menikah, bayarlah kepedulian ku dan Arthur dengan kebahagiaanmu dimasa depan."
Ucapnya lagi sambil mencicipi hasil masakannya.
__ADS_1