
Sekarang Anna sudah berada diruangan yang berisi orang-orang yang dimaksud Bob tadi. Ditatapnya sekeliling ruangan itu, satu per satu dari mereka sedikitnya sudah Anna ketahui dari data yang sempat El berikan padanya.
Hans menyunggingkan senyum jahatnya. Dilihat secara langsung, gadis ini memiliki aura yang berbeda. Dia berdiri menghampiri Anna yang masih berdiri memandang mereka dengan tidak suka. Baik Dev, Glen, Edgar, Ernest, Darrent, Dean dan Eric, mereka tampak tersenyum puas karena kini orang yang mereka cari akhir-akhir ini sudah ada dihadapan mereka.
"Selamat datang Nona Lyn, senang akhirnya bisa bertemu denganmu."
Ucap Hans dengan tampang menyebalkannya. Anna masih tak bergeming.
"Waaah, lihatlah pesona Hans tak bisa menggoyahkan wajah angkuhnya."
Kali ini Edgar membuka suara dan mendapat sambutan gelak tawa dari teman-temannya, sedikit mengejek Anna yang masih diam.
"Tampaknya kamu tidak terlihat terkejut sedikit pun, Nona."
Tak bisa bertele-tele lagi, Hans lebih mendekatkan jarak diantara mereka. Tangannya kini mulai membelai rambut Anna. Sesegera mungkin gadis itu menepisnya dengan kasar, mendelik tak suka dan mendorong tubuh Hans agar menjauh darinya.
"Aku ingin lihat hukuman seperti apa yang akan Hans berikan kepada wanita yang berani menolak sentuhannya."
Timpal Eric.
"Didepan kami sepertinya mulutmu tak perlu dijaga seperti itu Nona. Setidaknya kami sudah mengetahui informasi terpenting tentang dirimu."
Tak gentar, kali ini Hans menyentuh pinggang ramping gadis itu. Anna menatapnya tajam.
"Kamu yang memaksaku untuk lancang."
Ucap Anna kali ini menepis tangan Hans yang berada dipinggangnya.
"Aura pria ini berbeda jauh dengan semasa sekolah dulu. Sekarang dia benar-benar mirip dengan para brengsek lainnya."
"10 Perusahaan Penguasa, aku kira kalian sudah lama punah. Tak disangka sekarang aku berdiri dihadapan para pewaris baru mereka. Walaupun aku lihat ada beberapa dari anggota kalian yang memiliki kecacatan pemimpin."
Lanjutnya lagi, dibarengi dengan seringai diwajahnya.
Sekali buka mulut, Anna berhasil menyinggung mereka. Termasuk Hans yang tadi sempat menantangnya.
Anna menatap layar besar yang ada didepannya, dimana disana menunjukan beberapa informasi tentang dirinya, Jean dan Arthur.
"Sial! Bahkan informasi Jean dan Arthur pun mereka mengetahuinya."
Hans menyeringai, dia tau Anna mulai kesal saat ini. Sekarang, gadis itu tak memiliki pilihan lain.
"Aku tak boleh menunjukan emosi ku didepan mereka."
Membuang nafas, Anna mencoba menenangkan amarah yang bergemuruh didalam dirinya.
"Kupikir kalian cukup tidak tahu malu karena mencari informasi pribadi orang lain dengan cara ilegal seperti ini. Juga mengingat akhir-akhir ini kalian sering mengusikku, katakan apa maksud dari perbuatan kalian!"
Bagi Anna, menahan emosi adalah sesuatu yang sangat menyebalkan. Sejak dulu dia benar-benar tidak bisa menahan amarah yang mudah sekali meledak.
"Nona, tidak baik bagi seorang wanita untuk bermain dengan tergesa-gesa. Mari kita minum-minum terlebih dahulu, baru kita bicarakan hal ini baik-baik."
Ucap Glen merasa puas saat emosi gadis itu tersulut.
"Baik-baik? Coba aku ingat-ingat, sejak kapan orang-orang tidak bermoral seperti kalian melakukan sesuatu dengan baik-baik?"
Ucap Anna penuh penekanan.
"Kalian membuatku marah! Waktu luangku tidak banyak, berada disini sungguh membuat waktu berhargaku terbuang dengan sia-sia."
Ucap Anna lagi, kali ini bersiap untuk pergi.
"Aku tak percaya para orang tua itu meyerahkan masa depan perusahaan mereka pada orang-orang kurang kerjaan seperti kalian. Besok aku akan mengirimkan surat permintaan agar Ayah kalian mengajari lebih banyak ilmu tatakrama pada anak-anaknya. Kalian benar-benar mirip seperti kelompok geng jalanan."
Lanjutnya.
Belum sempat Anna melangkah menjauh, Hans berhasil menyentuh tangannya. Menariknya kasar hingga membuat gadis itu terjatuh tepat dipangkuannya. Hans menyeringai, menatap lekat wajah terkejut Anna. Sebelah tangannya membelai wajah cantik itu, mulutnya perlahan mendekati telinga Anna.
Cekrek.
Dev berhasil mengambil momen indah itu.
Mereka sekarang tersenyum menyeringai, menyerahkan sisanya pada Hans.
"Sebaiknya kamu tak perlu terburu-buru. Aku baru menyadari wajahmu lumayan cantik, Nona."
Ucap Hans penuh godaan, tak bisa dipungkiri kini wajah Anna bersemu merah, antara kesal dan malu.
"Apalagi pipimu yang merona saat ini benar-benar membuatku tergoda."
Hans tak menghentikan godaannya. Jemarinya kini mengelus pipi Anna.
"Lepaskan aku!"
Kesal Anna berusaha memberontak.
Namun nihil, tenaganya tak sebanding dengan kekuatan Hans yang saat ini semakin erat mendekapnya.
"Ingat namaku baik-baik, aku adalah Hans Loud. Menikahlah denganku, Ibuku benar-benar sangat tertarik denganmu."
Ucap Hans yang membuat Anna semakin terkejut.
"Kamu gila? meminta seorang gadis menikah dengan cara seperti ini?"
Ucap Anna tak habis pikir.
"Jika aku yang memintanya, gadis manapun akan mau menerimanya."
Jawab Hans dengan bangga.
"Begitukah? Kamu terlalu percaya diri, Tuan!"
Ucap Anna menatapnya tak suka.
"Kamu br*ngs*k Hans, lepaskan aku!"
Ucap Anna kembali, semakin kuat memberontak saat tangan Hans kini sudah berada di pahanya, mengelusnya dengan perlahan.
"Hans, kamu gila? Kubilang lepaskan Aku, br*ngs*k!"
Kali ini Anna sedikit panik saat dirasa jemari Hans hampir menyingkap roknya.
Hans kembali menyeringai, menghentikan sedikit aktifitas jari-jarinya. Menatap intens mata wanita yang terlihat ingin sekali menghajarnya.
"Tidak semudah itu Nona Lyn. Ah, aku sampai lupa. Sebenarnya aku sedikit bingung memanggil namamu. Nona Lyn? Nona Admiral? atau Nona Arrianne Wallis?"
Kali ini bukan nada suara godaan yang terdengar dari mulut Hans. Nada suara ini lebih terkesan dingin dan mengintimidasi, bersamaan dengan itu sorot mata Hans pun berubah jauh lebih menusuk.
Anna tercekat. Bagaimana Hans bisa tau Sampai sejauh itu tentang identitasnya?
"Gadis kecil yang sudah dianggap mati selama ini, kini berani berdiri angkuh dengan identitas yang tidak jelas. Menyusup masuk kedalam keluarga baru dan berhasil menyembunyikan identitas lamanya dengan rapih."
Ucap Hans lagi, Anna tak bisa berkata. Bibirnya tiba-tiba saja kelu.
"Kenapa Kamu diam saja? Kamu terkejut bagaimana aku bisa tahu, kan?"
Lagi, Hans berbisik tepat ditelinga Anna.
"Kamu tau? Kematianmu yang gagal sudah berhasil membuat keluarga kandungmu lenyap untuk selamanya. Menghancurkan usaha yang selama ini mereka bangun, membuat orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai organisasi elit berpesta bahagia. Bahkan kamu tau? Victoria, wanitaku pun ikut terancam hidupnya karena keberadaanmu."
Tak bisa menyembunyikan amarahnya, tanpa sadar cengkraman tangan Hans dipergelangan tangan Anna semakin kuat. Sampai gadis itu merintih.
"Jadi selama ini Hans masih bersama Victoria? Dia masih belum menyadari sandiwara yang selama ini Victoria lakukan?"
Tiba-tiba saja Anna menghentikan perlawanannya. Entahlah, tiba-tiba saja muncul perasaan kecewa pada dirinya.
__ADS_1
Dengan geram Hans melempar Anna ke sofa secara kasar. Kini gadis itu benar-benar tak bisa bergerak, terkunci oleh tubuh Hans yang ada di atasnya.
Cekrek.
Lagi-lagi Dev mengambil momen itu, kali ini ia mengirimkannya pada seseorang.
'Ligth Club, datanglah dalam waktu 5 menit jika kamu ingin orang ini selamat.'
"Sepertinya dendammu padanya belum selesai."
Ucap Dean saat melihat tingkah temannya yang sedang tersenyum puas mengirimkan pesan yang sudah dibaca oleh lawannya yang entah siapa.
"Aku akan senang jika dia datang kemari dengan wajah yang panik."
Jawab Dev masih mengulum senyum kemenangan.
Tatapan mereka kini kembali pada eksekusi Hans yang sepertinya akan berhasil.
"Tanpa kau sadar kau berhasil membunuh banyak orang, kan? Kau bahkan tidak terlihat menyesal sama sekali, bahkan aku tak pernah melihat keberadaanmu saat pemakaman mereka."
Tak hentinya Hans mengintimidasi Anna yang sudah terlihat kesakitan dan saat ini memalingkan wajahnya.
"Tak perlu menunjukan wajah menyedihkan seperti itu dihadapanku."
Ucapan Hans kali ini sepertinya benar-benar membuat keberanian Anna muncul kembali.
"Cih! Kau ingin aku menyesal?"
Ditatapnya balik mengintimidasi Hans.
"Kau berharap aku ikut menangisi kepergian mereka? Datang dan mengumumkan keberadaanku dihadapan orang yang sudah menjadi mayat? Begitu?"
Lagi, Anna melanjutkan ucapannya.
Tampak wajah kaget diantara para Tuan muda.
"Meminta maaf atas kegagalan kematianku pada orang-orang yang sudah dalam bahaya, termasuk wanitamu? Kau bermimpi?"
Ucap Anna kembali.
"Kau..."
Hans marah mendengar ucapan tanpa penyesalan dari mulut Anna.
Melepaskan kunciannya, menarik kasar kerah baju yang digunakan oleh gadis itu dengan kedua tangannya sangat erat.
"Kau tersinggung dengan ucapanku?"
Pertanyaan bodoh yang semakin menyulut amarah Hans kini keluar dari mulut Anna.
Tanpa menghiraukan ucapan Anna, mata Hans melirik tangan wanita itu yang sekarang sedang memegang sesuatu.
"Bahkan sekarang kau berniat membunuhku dengan pisau itu? Arianne Wallis, kau benar-benar mabuk jika melakukannya secara terang-terangan."
Timpal Hans saat menyadari Anna sedang menggenggam pisau buah yang diambilnya dari meja yang ada di sebelah sofa.
"Jangan memanggilku dengan nama menjijikan itu."
Geram Anna yang masih menatap tajam lelaki yang masih mencengkeramnya kuat.
"Dari awal Victoria dan ibunya datang sendiri kedalam keluarga itu, lalu setelahnya aku dibuang. Bukankah sesuatu yang wajar jika sekarang dia dalam bahaya karna menggantikan posisiku?"
Ucap Anna sinis tanpa menghiraukan ucapan Hans.
Dikalungkannya tangan yang memegang pisau buah itu dileher Hans, yang lain mulai siaga kalau-kalau Anna bertingkah nekat.
Anna mengangkat tangannya kembali lalu sedetik kemudian pisau itu melayang.
Orang-orang itu menatap tak percaya, mulut mereka menganga atas apa yang Anna lakukan. Dengan sekali gerakan Anna menonjok tepat diwajah Hans sampai lelaki itu terjungkal ke lantai.
Tak lama dari aksi yang dilakukan Anna, terdengar keributan yang datang dari luar. Sedetik kemudian seseorang masuk dengan paksa kedalamnya. Di wajahnya tersirat jelas amarah yang sangat besar, nafasnya memburu. Kakinya melangkah masuk, menarik Anna agar menjauh dari orang-orang yang ekspresi wajahnya tak bisa diartikan. Yang jelas sekarang dia melihat kondisi ruangan itu agak sedikit berantakan dengan layar monitor yang tampak tertancap pisau.
"Kakak tidak apa-apa?"
Ya orang itu adalah Arthur. Dia benar-benar kalut, takut terjadi apa-apa pada Anna saat mendapat pesan ancaman dari Dev.
"Kondisimu yang terengah benar-benar sesuai dengan keinginanku, Tuan muda Lyn."
Ucap Dev sambil menyeringai mengejek.
"Kakakmu. Sekarang aku tau alasan mudah agar aku bisa menemuimu."
Lanjut Dev yang semakin membuat Arthur kesal.
"Wah... lihatlah Arthur, bukankah mereka sedikit lancang mengundangmu dengan cara seperti ini?"
Ucap Anna sambil terkekeh.
Sepertinya gadis itu benar-benar mabuk sekarang.
"Diamlah."
Bisik Arthur sedikit kesal, dalam suasana seperti ini pun Anna masih bisa terkekeh.
"Kalian berani mengusik kakakku? Kalian mau cari mati?"
Ucap Arthur dengan emosinya.
"Tidak juga, dia yang sukarela datang memenuhi undangan kami."
Ucap Edgar senang ketika melihat lawannya sudah tersulut emosi.
"Dan sekarang kamipun senang karena kau dengan sukarela datang memenuhi undangan yang Dev buat."
Kali ini Eric yang angkat bicara dan disambut dengan tawa yang lain.
Arthur menggeram kesal. Orang-orang ini benar-benar selalu bisa menyulut emosinya.
Hans bangkit dari lantai, merapihkan baju lalu berjalan menghampiri Arthur.
"Tenanglah Adik Ipar, aku sama sekali tidak melukainya. Mana mungkin aku berani melukai anak dari keluarga Admiral, sekalipun anak itu adalah anak angkat."
Ucap Hans dengan kata-kata sanjungan yang penuh dengan syarat.
"Dia sudah mengetahui informasi tentang kami?"
Gumam Arthur terkejut.
"Jangan sentuh Kakakku. Siapa yang kau sebut Adik Ipar?"
Ucap Arthur tak terima.
"Tentu saja kau. Sebenarnya aku yang mengundang Anna untuk datang kemari. Ibuku sangat tertarik dengannya, jadi aku melamarnya tadi. Sepertinya ada sedikit salah paham diantara kita, Adik Ipar."
Ucap Hans.
"Berhenti memanggilku Adik Ipar, aku tak pernah sudi menjadi Iparmu!"
Balas Arthur dan bersiap untuk meninju Hans. Sampai gerakannya terhenti oleh tangan Anna yang menahannya.
"Tenanglah Adikku, biar aku yang mengurus sisanya."
Ucap Anna sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Kau tidak tahu betapa liciknya mereka, Kak. Kau mabuk, bagaimana kau mau menghadapi mereka?!"
__ADS_1
Ucap Arthur kesal melihat tingkah Anna yang tidak tahu situasi.
Anna menatap adiknya, menepuk bahu Arthur.
"Percaya padaku."
Ucap Anna meyakinkan.
Arthur membuang nafas berat. Ditatapnya mereka yang sedang menyeringai dengan kesal olehnya.
Anna melangkah mendekati Hans yang sedang berdiri menatapnya.
"Orang-orang menyuruhku untuk menyelamatkan puing-puing jerih payah yang selama ini mereka bangun dan pertahankan. Tapi kau tau? Tak sedikitpun aku tertarik dengan itu semua."
Anna mulai berucap, menatap Hans dengan matanya yang tajam, lalu memainkan dasi dan kerah baju Hans.
Dibelakangnya, Arthur mengawasi dan mulai was-was dengan tingkah kakaknya yang tak pernah dia pahami.
"Saat mendengar mereka mati, sejujurnya aku tidak pernah merasakan kesedihan atas kepergian mereka. Selama ini mereka membuangku, orang-orang mengabarkan tentang kematianku pun mereka percaya. Yah, memang benar mereka melakukan pencarian. Tapi kau tau, pencarian mereka hanya untuk memusnahkan musuh-musuh yang kemungkinan memiliki dendam dengan Wallis, agar kedepannya mereka tidak dalam bahaya seperti aku. Sedangkan mayatku? atau kemungkinan aku masih hidup? Mereka tidak pernah mencari kebenarannya."
Jelas Anna dengan wajah dinginnya.
"Jika saja saat itu Dokter Hendry yang menjadi Ayahku sekarang tidak menyelamatkanku. Mungkin saja aku tak pernah bisa mendengar tentang pembantaian keluarga Wallis, kan?"
Ucap Anna kembali menatap mata Hans yang sedang memperhatikannya tanpa ada niatan sedikitpun untuk mengusiknya.
"Sayangnya sampai saat ini aku tidak bisa melihat peninggalan mereka menjadi puing-puing yang tak bersisa. Jika saja Victoria dan wanita ****** itu ikut terbunuh, mungkin aku akan sangat bersyukur sekali pada Tuhan karena sudah mengabulkan setiap doaku selama ini."
Kali ini Hans sedikit kesal dengan ucapan Anna.
Hans kembali mencengkram pergelangan tangan Anna, wanita itu menyeringai senang amarah Hans berhasil dia pancing.
"Lalu sekarang kau mau apa?"
Tanya Hans.
Anna menghempas kasar tangan Hans.
"Emmm... Aku belum memikirkannya. Tapi melihat usaha kalian untuk mendapatkan informasi mengenai Lyn Grup, pasti ada sesuatu yang sedang kalian rencanakan, kan?"
Kali ini Anna berucap sambil memainkan jarinya didada bidang Hans yang terbungkus oleh baju kerjanya.
"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8. Lagi pula sekarang tidak semua para Tuan muda ada disini. Aku tidak mau bernegosiasi jika belum melihat satu tuan muda lagi. Ah iya dua, aku lupa jika Wallis masih memiliki Victoria sebagai Nona muda, walaupun itu belum pasti kan? Tapi anggap saja begitu."
Ucap Anna berhitung menatap mereka satu per satu setelahnya tersenyum mengabaikan kekesalan Hans.
"Emm... Setelah banyak bicara aku benar-benar haus. Tenggorokanku sepertinya sudah mengering."
Ucapnya lagi, lalu mengambil 1 buah botol anggur dan meneguknya rakus.
Artur kembali menarik Anna, menjatuhkan botol anggur yang sedang ditenggaknya. Menyeret Anna menuju ambang pintu.
"Aahh... Kau membuat 1 botol anggurku mahal terjatuh adik. Aku haus."
Ucap Anna merengek.
Kali ini dia benar-benar mempermalukan harga dirinya secara tidak langsung. Seorang Anna yang angkuh dapat berperilaku seperti anak kecil dihadapan musuhnya.
Para Tuan muda itu terkekeh meremehkan tak percaya.
Arthur menghentikan langkahnya, menatap Anna kesal.
"Kakak berani datang kehadapan mereka dalam kondisi sedang mabuk! Bagaimana jika aku tidak segera datang? Kamu tidak tahu jika mereka dapat melakukan apapun padamu!"
Bentak Arthur pada kakak yang sedari dulu selalu dia khawatirkan.
Anna terdiam, matanya kini berkaca-kaca.
"Kamu akan malu besok jika tanpa sadar kamu menangis dihadapan para ******** itu, kak."
Gumam Arthur was-was saat dilihatnya Anna hendak manangis.
Namun tebakannya salah, sedetik kemudian Anna tersenyum sambil terkekeh.
"Waah.. Kalian lihat? Aku bahkan memiliki Adik yang sangat menghawatirkanku. Apa kalian masih berani menggangguku?"
Tanya Anna, memamerkan Arthur yang tampak malu karena ulahnya.
"Ayo kita pulang. Kamu harus mengurung dirimu besok jika kamu terus berada disini."
Ucap Arthur kembali menyeret Anna keluar dari sana.
"Hihihi, adik kecilku ternyata sangat pemalu ya. Mari kita pulang, kita harus bertemu Jean. Aku punya banyak sekali hal yang akan aku ceritakan pada kalian."
Kali ini Anna bergelantung manja di lengan Arthur yang tampak kesulitan memapahnya untuk berjalan.
"Tapi aku takut Ayah akan marah. Tadi sebelum kesini aku bertengkar dengan Ayah. Kamu harus membelaku ya Adik kecilku yang tampan."
Anna terus meracau tak jelas sampai-sampai Arthur harus membentaknya beberapa kali untuk diam.
Kini suasana sepeninggal kedua kakak beradik yang identitasnya baru mereka ketahui hening sebentar.
"Apa rencanamu selanjutnya Hans?"
Tanya Dean saat melihat Hans masih setia memandangi ujung lorong yang sudah kosong.
Hans tersenyum menatap teman-temannya.
"Tentu saja aku harus segera bertemu dengan calon mertuaku bukan?"
Ucap Hans sambil memasukkan tangan kedalam saku celanya.
"Aku bersyukur otakmu masih bisa berpikir jenius walaupun gadis itu tadi berhasil menjungkirbalikkan amarahmu."
Ucap Darren yang berhasil mendapatkan jitakan dari Hans.
"Jika saja Felix tadi ada disini, mungkin gadis itu tidak akan dengan mudah mencari alasan untuk kabur."
Ucap Ernest.
"Apa ada kabar darinya?"
Tanya Edgar.
"Tuan muda, Tuan Felix mengirim pesan."
Ucap Helena perlahan menghampiri Glen.
Glen mengambil secarik kertas dari sekretaris pribadinya. Dibacanya dengan cermat isi pesan tersebut.
"Ada apa?"
Tanya Hans saat melihat ekspresi Glen yang sedikit terkejut.
"Sepertinya memang sudah takdir kita untuk berurusan dengan gadis itu. Target Felix ada dilingkungan Lyn Grup, itu akan tidak mudah mengingat Arthur juga ada disana."
Ucap Glen.
Darren mengambil kertas tersebut, membacanya lalu tersenyum.
"Tidak akan sulit karena kita sudah mengetahui kelemahannya."
Ucapnya.
Hari ini bagi mereka adalah sebuah anugrah.
__ADS_1
Walaupun banyak hal yang tak terduga baru mereka ketahui. Tapi paling tidak masalah Lyn Grup akan segera terselesaikan.