
Kejadian yang lumayan cepat itu seketika mengegerkan para penghuni kantor. Bagaimana tidak? Suara tembakan dan pecahan kaca tebal dari lantai 30 juga berhamburan kebawah gedung, beruntung dibawah sana adalah halaman belakang kantor yang jarang dilalui orang-orang. Namun tetap saja, tak jauh dari sana terdapat taman yang sedang banyak dikunjungi oleh para karyawan yang sedang istirahat.
Kabar itu juga sudah sampai ke telinga para tuan muda yang hampir menyelesaikan rapat tertutup tersebut. Seketika mereka semua berhamburan keluar ruang rapat untuk melihat apa yang terjadi. Tentunya dengan perlindungan dari para asisten pribadi mereka.
Terlihat Emely yang tergesa bangkit sambil memegang lengan bagian atasnya, karna sepertinya ia cukup kuat melemparkan dirinya keluar dari pantry.
"Emy, apa yang terjadi?" Teriak Arthur dengan panik sambil menuruni anak tangga dengan tergesa.
"Nona, Anda baik-baik saja?" Tak menghiraukan suara Arthur. Lantas Emely langsung berlari masuk kembali kedalam pantry.
Bertambah paniklah Arthur saat mendengar Emely bertanya kondisi orang yang ada didalam pantry. Karna dalam otaknya langsung teringat dengan Anna.
"Anda ba... Oh astaga kepala Anda berdarah nona." Ucap Emely sambil membantu majikannya berdiri.
"Ann, astaga! Bagaimana ini bisa terjadi?" Panik Arthur dengan segera memeriksa bagian tubuh lainnya, takut-takut ada yang terluka lagi.
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." Ucap orang yang bersangkutan dengan sedikit mengernyit, karna jika Anna boleh jujur kepalanya cukup keras menghantam tembok saat berlindung dari tembakan dan pecahan kaca.
"Sepertinya senjata yang digunakan bukan senjata biasa. Hampir seluruh kaca ini hancur tak bersisa." Ucap Hans dengan tatapan mata yang fokus pada kaca besar yang sudah hancur.
Dan dengan tepat dia bisa menebaknya, padahal dia berdiri cukup jauh dari jendela tersebut.
"Ya, kau benar Hans. Sepertinya senjata yang digunakan hasil modifikasi. Jarak tembak dan objek yang terkena tembakan pun cukup jauh. Ku pikir jika tembakannya terkena manusia, bisa-bisa syaraf dan tulangnya hancur."
Jelas Glen si pengusaha berbagai jenis senjata.
"Seingat ku, aku belum menyuruh anak buah ku untuk menyebarkan berita tentang pertemuan kita pada orang-orang bawah tanah. Tapi sepertinya mereka sudah tahu pergerakan kita." Ucap Greg dengan sebuah peluru yg sudah ada d tangannya.
Ya, peluru dengan sebuah tanda khas milik salah satu penguasa bawah tanah yang bertentangan dengan kubu mereka. Sebuah tanda dari klan Darby, mafia penyelundup dan pembuat senja ilegal.
Saat semua mata berfokus pada benda tersebut, tiba-tiba Emely mendapatkan panggilan dari Lucas.
"Emy, kami sudah mengepung pelakunya. Tapi dia seperti orang gila, daritadi hanya cengengesan tidak jelas. Aku tidak bisa lebih dekat lagi, dia menggerakkan senjata sangat agresif. Dan juga... tunggu. Dia mengatakan sesuatu."
"Apa yang dia katakan?" Tanya Emely.
"Perdengarkan pada kami." Ucap Hans dengan tatapan tak terbantahkan.
__ADS_1
Seketika Emely menatap Arthur untuk meminta persetujuan. Setelah mendapat anggukan, barulah wanita itu memperbesar volume panggilan dari Lucas.
"Peringatan pertama ledakan, proyektil dan bom. Hanya mengulur waktu. Mayat yang kembali hidup, besi panas yang tak hilang, dia adalah kunci. Hahahaha... Sebentar lagi hahaha."
Seketika semua saling tatap, saling bertukar pikiran melalui pandangan. Mengartikan apa kira-kira pesan yang disampaikan oleh orang yang kata Lucas gila itu.
Namun, saat semua bergelut dengan pemikirannya, tiba-tiba Anna yang sedari tadi hanya menyimak, bersuara.
"Luc, ada di lantai berapa kalian sekarang? berapa orang yang ada disana?"
"Kami di lantai 1 gedung, nona. Hanya ada aku dan 3 orang anak buah. Sisanya berjaga diluar gedung."
"Lihat dibagian bawah dagunya apa ada tanda seperti bunga? Jika tidak terlihat kau bisa sedikit menggertaknya."
"Baik, nona."
"Maju 3 langkah, dia tidak akan menembak mu."
"Nona, saya melihat tato seperti bunga di leher atasnya."
"Oke." sejenak Anna membuang napasnya dengan kasar, lalu melihat jam ditangannya.
"Apa mak..."
"Jangan membantah! Lari sekarang atau bagian tubuh kalian ikut berceceran!" Sentak Anna dengan tubuh bangkit dari duduk dan tangan mengepal menggebrak meja.
Sesaat itu juga Lucas dan anak buahnya berlari menuju luar gedung. Namun, belum sempat mereka sampai diluar, ledakan sudah terdengar.
Anna, gadis itu dengan segera memejamkan mata penuh kekesalan. Emosi tiba-tiba sudah sampai di ubun-ubun. Para tuan muda memandangnya dengan heran. Bagaimana gadis misterius itu tau dengan rencana orang jahat itu. Lalu tentang simbol atau tato bunga yang Anna bicarakan, siapa lagi sebenarnya musuh yang sedang menyerang mereka itu.
"Ann, apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kau bisa tahu?" Arthur yang sedari tadi mengkhawatirkan keadaan kakaknya sekarang sudah mulai frustasi.
"Juga tentang simbol. Ku pikir yang menyerang kita adalah Darby." Ucap Darren menimpali.
"Emely, kau periksa Lucas dan yang lainnya. Jika ada yang terluka minta bantuan Jean, tadi pagi dia bilang akan datang ke kemari saat makan siang. Ku pikir dia sudah ada dibawah." Ucap Anna sebelum menjawab pertanyaan dari mereka.
"Baik, nona." Ucap Emely, membungkuk lalu bergegas pergi.
__ADS_1
Tak ada bantahan. Karena, Emely pikir dia akan bicara empat mata dengan nonanya nanti saat semua sudah kembali tenang.
"Mereka sudah kembali." Ucap Anna.
"Mereka? Siapa?" Tanya Arthur.
"Orang-orang yang terlibat dalam penculikan 23 tahun lalu. Benar?" Bukan Anna yang menjawab, tapi Hans, pria dengan mata tajam dan minim ekspresi.
Anna yang mendengar jawaban tepat dari Hans hanya mengangguk.
"Setelah Bob mendapatkan informasi tentang fakta Arianne sesungguhnya. Aku menyelidiki kenapa kami bisa dapat informasi sepenting itu dengan lumayan mudah." Ucap Hans dengan langkah yang semakin mendekati Anna.
"Kau tau bocah? Kakak tersayang mu ini sengaja menyebarkan rumor tentang dirinya sendiri pada orang-orang bawah tanah sayap kiri. Dan entah kebaikan apa yang telah kami lakukan, informasi itu lebih dulu kami dapatkan sebelum sampai ke telinga mereka." Kini tubuhnya sudah berada tepat didepan Anna. Tapi kata-katanya ditunjukan pada Arthur.
"Gila! Ann, kau sengaja menggali kuburan untuk dirimu sendiri. Untuk apa kau melakukan itu? Sudah susah payah orang-orang menyembunyikan indentitas mu, tapi kenapa kau malah menyebarkan informasi itu dengan sebuah rumor?"
Tak habis pikir, nada suaranya sudah semakin meninggi dengan segala kekhawatiran.
"Hei! Aku bukan orang bodoh, Art. Kau tak perlu khawatir seperti itu. Aku sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi untukku dan keuntungan apa yang aku dapatkan. Jadi ku rasa semua akan baik-baik saja." Ucap Anna mencoba berkilah, juga tak lupa delikan sebal ia tunjukan pada pria menyebalkan yang suka mengkompori emosi adiknya.
"Lagi pula, dengan seperti ini, tanpa kita menggunakan strategi yang rumit pun mereka sudah dengan senang hati menunjukan keberadaannya bukan? Kau tak perlu khawatir Art." Ucapnya lagi.
"Bukan masalah strategi yang harus kita buat, Ann, tapi keselamatan mu! Nyawa mu taruhannya! Sudah cukup sekali kau hampir mati ditangan mereka." Habis sudah kesabaran Arthur jika sudah adu argumen dengan kakaknya yang satu ini.
"Aku tau, justru karena itu aku melakukannya. Aku sudah tau pola dan strategi mereka dalam melawan musuhnya. Mental, Art. Jika kita menunjukan ketidak takutan kita pada mereka, justru mereka akan merubah strategi mereka bukan? Maka dari itu mulai dari sekarang kita harus bisa membuat strategi dari kemungkinan terkecil sampai terbesar." Ucap Anna.
"Tentang keselamatan ku, kau tak perlu khawatir. Kau pikir kenapa aku mau menikah dengan orang itu dan menjalin kerjasama dengan mereka?" Lanjutnya, kali ini membalas seringai yang diberikan Hans tadi.
"Hei Anna, sebenarnya apa rencana mu sesungguhnya? Ku rasa kau masih belum mengatakan rencana itu dengan jelas pada kami. Dari awal kau selalu menyetujui apa yang kami tawarkan, tanpa ada penawaran berarti. Kecuali tentang perjanjian antara kau dan Hans." Kali ini Darren ikut bersuara.
"Sebenarnya dari awal aku sama sekali tidak tertarik bekerjasama dengan kalian. Tapi sejak pertemuan itu kalian terus mengganggu ku. Setelah aku pikirkan matang-matang tawaran dari kalian sepertinya hal itu cukup menguntungkan ku juga. Jadi, apa boleh buat, lagipula aku kasihan pada kalian sudah terlalu banyak memohon padaku tentang kerjasama itu." Ucap Anna dengan kalimat keangkuhannya yang tak pernah ketinggalan.
"Saat ini, mereka pasti sedang menggali informasi dimana Arrianne berada. Cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya. Dan saat itu tiba, pernikahan itu harus sudah terjadi. Bagaimana pun keluarga Loud juga 9 klan lainnya adalah pusat dari kekuasaan diatas tanah. Ditambah wilayah distrik sayap kanan bawah tanah dipegang oleh kalian juga. Untuk itu lah aku tak perlu takut lagi tentang keselamatan ku." Jawab Anna .
"Ann, kelicikan mereka tidak akan pernah kau perkirakan. Jangan terlalu menjadikan dirimu umpan." Balas Arthur masih tidak terima.
"Hei bocah, jaga mulut mu." Ucap Dev.
__ADS_1
"Lantas keuntungan apa yang akan kami dapatkan?" Kali ini manusia paling pendiam, Felix, yang berbicara.
"Victoria and mother is back." Dengan seringainya Anna menjawab. Lantas tatapan angkuhnya dia tunjukan pada Hans yang sedari tadi ada di hadapannya.