
"Lagi-lagi tempat seperti ini."
Gumam Anna menatap tempat pertemuannya dengan Hans.
Kini derap kakinya menggema disepanjang lorong yang berada di bagian private area sebuah club malam milik Edgar Greg. Walaupun suasana disini berbeda dengan lantai bawah yang cenderung sangat ramai dan bising, tapi Anna tau didalam ruangan yang berada di kanan kirinya itu terdapat orang-orang yang sedang menjalankan kegiatan yang mereka sebut "bisnis".
Setiap Anna melangkahkan kakinya, bersamaan dengan itu degup jantungnya ikut terpacu semakin kencang. Rasa gugup yang sedari tadi menyerangnya kini coba dia sembunyikan agar tidak membuat harga dirinya jatuh dihadapan orang yang sebentar lagi akan dia temui.
"Minumlah alkohol sebanyak mungkin Anna agar kamu tidak akan malu karena sudah menjatuhkan martabat mu dihadapan orang-orang brengs*k itu."
Anna menghentikan langkahnya tatkala Bob sudah berdiri dihadapannya seraya membungkuk hormat.
"Tuan sudah menunggu Anda, nona."
Anna mengangguk, perasaan enggannya membuat dia menatap sejenak pintu besar dihadapannya. Kemudian dengan berat langkahnya membawa raganya untuk masuk.
Dia, yang tak lain adalah Hans yang sedang menunggu menyeringai saat melihat wanita incarannya akhirnya datang.
Dengan sorot mata tajam Anna menatap tak suka pemandangan menjijikan dihadapannya,
para wanita penghibur itu menatap Anna acuh tak acuh.
"Keluar."
Ucap Anna dingin.
Edgar memberi aba-aba dengan tangannya. Kini dengan berat hati para wanita itu beranjak dari sofa yang diduduki oleh para pria itu.
Dan sekarang didalam ruangan tinggal lah Anna dan ke-9 tuan muda yang sedang memandangnya remeh.
"Ada apa? Jika kabar baik yang ingin kau sampaikan, kau boleh tetap berada disini. Tapi, jika kabar buruk yang ingin kau berikan, enyahlah sekarang juga dari sini."
Ucap Hans masih dengan posisi duduknya yang bossy.
Lagi, Hans menarik sudut bibirnya. Menampakan seringai yang tak pernah lepas, juga tatapannya seolah-olah berkata "Kau akan mengatakan tidak atas penawaranku tempo hari bukan? Maka bersiaplah aku tidak akan melepaskanmu. Akan ku buat kau bermimpi buruk di sepanjang hidupmu."
Anna berjalan menghampiri, kini posisinya tepat didepan Hans. Dilemparkannya dengan sedikit kasar diatas meja dokumen perjanjian yang tempo hari sempat Hans kirimkan padanya. Ya, tempo hari Hans mengirimkan 2 dokumen sekaligus padanya. Satu dokumen perjanjian kerjasama antara Lyn dan 10 perusahaan penguasa yang sudah Anna diskusikan dengan Arthur dan yang satunya lagi dokumen "khusus" yang ditujukan untuk Anna.
"Aku menyetujuinya."
Ucap Anna.
"Pernikahan. Penawaran mu tempo hari, aku menyetujuinya."
Kini seorang wanita keras kepala dengan harga diri selangit seperti Anna rela melemparkan diri kepada musuhnya.
Baik Dean, Dev, Eric, Ernest, Darren, Felix, Glen, juga Edgar terperanjat kaget. Bagaimana pun kabar baik yang cepat dari Anna membuat mereka tak percaya. Terutama Hans yang tadi sempat mengira Anna akan mengatakan tidak.
Hans mengernyit lantas diambilnya dokumen itu. Benar saja disana sudah terdapat tandatangan dan beberapa syarat tambahan yang ditulis langsung oleh Anna. Hans melempar pandang kepada teman-temannya, setelahnya kembali menatap Anna.
"Kenapa?"
Tanya Hans ragu.
Anna menarik kursi, kini dia duduk berhadapan dengan Hans.
"Kau bertanya kenapa? Bukankah ini yang kalian inginkan? Aku membantu untuk menemukan Cinderella mu, Hans."
Ucap Anna sinis, lalu meneguk habis satu gelas Wine yang ia tuangkan pada gelas yang ada di atas meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Hans kini.
"Kau datang kemari dengan wajah tanpa rasa takut sedikit pun Nona Lyn, aku rasa kau tau sendiri jika wanita yang sudah memiliki kontrak kerjasama dengan kami tidak akan bisa lepas begitu saja."
Ucap Felix yang merasa Anna memiliki maksud lain dari kesepakatann yang sudah dibuat.
"Tentu aku tahu dengan jelas Tuan Glover, lagi pula aku tidak menyetujuinya dengan cuma-cuma."
__ADS_1
Jawab Anna.
"Kau manusia yang selalu diliputi rasa waspada yang tinggi, Arrianne . Katakan apa tujuan mu yang sebenarnya."
Ucap Hans penuh selidik.
"Kau lancang memanggilku dengan nama itu bodoh!"
Kini Hans harus hati-hati, keputusan yang diambil Anna kali ini jauh dari perkiraannya. Sejak pertama kali bertemu, Hans sudah menyadari jika Anna bukan wanita sembarangan.
Apalagi jika mengingat pertemuan terakhirnya dengan Anna, wanita ini dengan keras menolak permintaannya. Dan kini dengan tanpa beban Anna datang menyetujui pernikahan dengannya.
Anna tertawa, sangat lucu baginya melihat wajah was-was Hans ketika berbicara dengannya.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?!"
Kesal Hans saat dirasa Anna sedang mengejeknya.
Setelah puas Anna menghentikan tawanya dan kembali meminum Wine yang ada di atas meja.
"Disana aku sudah menuliskan 3 syarat yang aku inginkan dan aku tidak menerima penolakan dari mu."
Ucap Anna.
"Aku malas membaca, katakan langsung apa syarat mu."
Jawabnya tak peduli dan langsung mendapat tatapan tak suka dari Anna.
"Pertama, saat Victoria dan ibunya sudah kembali, aku ingin kalian jangan pernah ikut campur jika suatu saat aku dan dia berselisih.
Kedua, Karena 9 tuan muda penerus dari 10 keluarga penguasa meminta dengan sangat kerjasama kepada Anna Lyn. Maka, Anna Lyn sebagai pihak kedua menginginkan tidak ada permainan curang yang mengakibatkan kerugian pada pihak kedua."
Anna menghentikan ucapannya sejenak, lalu ia menatap semua orang untuk melihat respon dari mereka.
Bisik Darren pada Glen yang ada disebelahnya.
"Keraguanmu tidak dibutuhkan lagi Darren. Kita sudah terlanjur menargetkannya dan setengah dari rencana kita sudah berhasil ditebak olehnya. Kau bayangkan saja bagaimana berantakannya rencana kita bahkan sebelum semua itu dimulai."
Jawab Glen sedikit kesal pada ucapan Darren yang kini malah membuat dirinya ikut was-was.
"Dan yang ketiga, aku ingin keputusan berakhirnya kerjasama kita ini aku yang memutuskan. Keputusan kapan kita harus berpisah ada ditangan ku."
Ucap Anna dengan tatapan yang masih mengarah pada Hans.
Raut tidak bersahabat sudah terlihat di wajah tampan milik Hans. Sekali gerakan Hans langsung bangkit dan membanting kasar meja kecil yang membuat jarak diantara mereka. Dengan gerakan cepat dia kini sudah mencengkram kerah baju dibalik mantel yang Anna gunakan. Sudah terlihat jelas wajah terkejut Anna, dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan cengkraman kuat tangan Hans di bajunya.
"Kau ingin selamanya berada disisiku begitu? Kau lupa apa tujuan ku menikah dengan mu?"
Ucap Hans geram dengan syarat terakhir yang disebutkan Anna.
"Kau Gila? apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Kesalnya, saat dirasa cengkraman tangan Hans mulai menghimpit lehernya.
"Lagipula siapa yang ingin selamanya menjadi istrimu?!"
Lanjutnya penuh kekesalan.
"Lalu kenapa? Kau ingin mengganggu kedamaian hubungan ku dengan Victoria dikemudian hari begitu?"
Tak hentinya Hans melontarkan pertanyaan kepada wanita yang Hans anggap licik didepannya.
Anna menghentikan usahanya untuk lepas dari cengkraman Hans, tatapannya kini tak kalah tajam menatap lelaki itu. Saat ini telinganya sudah panas dengan kalimat kebucinan yang dilontarkan Hans untuk saudari tirinya.
Suasana disana pun hening seketika, tidak ada yang berniat mengusik Hans jika dia sedang emosi. Sampai dimana Hans melanjutkan lagi ucapan, kali ini dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Atau kau tak bisa membuang cinta lama mu pada ku?"
Anna membulatkan matanya tak menyangka karena Hans ternyata tau tentang perasaanya dulu dan kesal kenapa musuhnya tau tentang hal memalukan tentangnya. Ya, saat ini Anna benar-benar malu menyadari dulu ia sempat menyukai seorang Hans Loud, 1 dari 9 idola pria populer di sekolah menengah tempat dirinya bersekolah.
Seketika pikirannya melayang pada kejadian yang membuatnya jatuh hati pada laki-laki itu. Kejadian yang awalnya hanya kebetulan saja, lama-lama membuatnya menikmati dan tau sifat hangat dibalik sifat dingin dan angkuhnya disekolah.
Kejadian disepanjang gang kumuh dipinggir trotoar kota. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat si angkuh itu sedang berbagi kepada para gelandangan kota. Menggunakan seragam sekolah yang sama dengannya, dibalut dengan Hoodie yang turut menutup kepalanya. Dan pertama kalinya saat itu juga Anna remaja bisa melihat langsung senyum manis dan tutur kata sopan keluar dari mulut pedas Hans yang selalu ia dengar disekolah.
Kemudian kesadarannya kembali saat suara Hans memecah keheningan, semakin memperkuat cengkramannya yang kini hampir mencekik leher Anna.
"Kenapa diam? Kau mengakuinya?"
"Kau bahkan berani membuat keributan dengan Victoria, bukankah saat itu kau sedang menghindar dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Wallis? Sebesar apa sebenarnya cintamu padaku sampai kau berani mengusik Victoria saat itu? Beruntung Victoria memohon padaku untuk tidak membalas mu."
Anna masih berdiam sibuk dengan pikirannya.
"Oohh, lihatlah. Sekarang aku tau alasan kenapa para bedebah ini tidak membuat perhitungan padaku saat itu. Hei, bodoh! Harusnya kau datang mengamuk padaku agar kau tau alasan kenapa dia dan aku membuat berita heboh disekolah."
Merasa kesal tidak mendapat respon apapun dari Anna, kini Hans menghempas kadar tubuh Anna dari kursi.
Anna meringis.
"Seujung kuku pun kau bahkan tidak sebanding dengan Victoria."
Lagi, Hans kembali menyanjung wanitanya yang entah berada dimana.
Anna mendengus kasar lalu kemudian tertawa dan bangkit dari duduknya. Sebenarnya ada sedikit rasa sakit yang dirasanya saat mendengar Hans begitu memuja Victoria, namun dengan cepat Anna menepisnya. Kini susah payah dia berdiri menahan sakit di pantatnya yang tadi berhasil mendarat keras dilantai.
Seperti menonton acara Opera tentang dilema kisah cinta, para tuan muda terlihat begitu menikmati pertengkaran yang sedang diperankan oleh Hans dan Anna. Mereka seperti sedang menunggu siapa pemenang dari debat ini. Jika saja nanti Hans yang kalah, sudah dipastikan mereka akan membully habis pria itu.
"Kau percaya jika aku pernah mencintaimu? Oh baiklah tuan muda, jika memang kau percaya, maka silahkanlah kamu berbangga hati bahwa aku dulu pernah mencintaimu."
Semua yang mendengarnnya menatap takjub pada Anna yang seolah tak memiliki rasa takut sedikit pun pada Hans.
"Ah ya tuhan, pantatku sakit. Kurang ajar kau Hans. Lihat saja, akan ku balas kau nanti."
"Mari kita kesampingkan dulu kisah masa lalu dan kembali membahas rencana kerjasama kita. Jika kau masih penasaran dan ingin membahasnya. Kita selesaikan dulu diskusi utama kita."
Ucap Anna dengan senyum di bibirnya.
"Tuan Hans, jika Anda merasa keberatan dengan syarat tambahan yang saya berikan. Anda bisa membatalkannya."
Lanjutnya lagi.
"Ck."
Hans berdecak sebal, dengan tangan dipinggang dan wajah yang masih emosi, dia tatap teman-temannya. Mereka kompak menganggukkan kepala yang malah tambah membuat Hans kesal.
"Apa mereka tidak bisa membantuku sedikit pun? Dasar tidak berguna!"
"Bagaimana tuan Hans?"
Tanya Anna, kali ini dengan nada kemenangan.
"Baik, aku setuju."
Balas Hans tak bersahabat.
"Senang bekerjasama dengan Anda, tuan muda."
Ucap Anna menyeringai. Tak lupa pula, layaknya seorang pebisnis yang penuh sopan santun dirinya menyodorkan tangan untuk saling berjabat dan disambut sekenanya oleh pria yang masih menampakan kekesalan.
"Pada akhirnya kau akan terjebak oleh permainanmu sendiri, Hans."
Dan saat itu, dengan kesadarannya yang setengah mabuk. Sekuat tenaga dirinya tak henti mengulum senyum dan menahan rasa mual yang mulai menyerang. Berharap isi perutnya tidak akan keluar saat ini juga.
__ADS_1