
"Ini masih pagi buta, apa lagi yang mereka ributkan?"
Gerutu Anna saat mendengar kerusuhan yang dibuat oleh Jean dan Arthur diluar sana.
Dengan malas Anna turun dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk melakukan aktifitasnya. Walaupun waktu menunjukan dia masih boleh untuk melanjutkan tidurnya satu jam lagi, tapi jika Jean sudah mengamuk, rumah ini tidak akan memiliki ketenangan lagi.
Anna menarik nafas dalam, dengan wajah kesal ia keluar dari kamarnya. Disana ia melihat Jean dan Arthur masih asik adu mulut tanpa memperdulikan keberadaannya. Sedangkan Tn. Hendry dan Ny. Charlotte sedang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing di lantai bawah. Ya, jika sudah begini kedua orang tua itu tidak ada yang berani mengusik, mereka sudah lelah dan angkat tangan mengatasi keributan yang selalu saja dilakukan oleh kedua anaknya.
"INI MASIH PAGI! KENAPA BERISIK SEKALI?!"
Bentak Anna yang sontak membuat kedua adiknya terdiam.
"Apa lagi yang kalian ributkan?"
Tanya Anna menormalkan volume suaranya.
"Seseorang mengirimkan ini padaku. Lihat apa yang bocah ini lakukan diluar sana. Jika orang-orang tahu bagaimana? Kamu mau mempermalukan ayah?"
Ucap Jean masih dengan amarahnya dan menyerahkan handphone pada Anna.
Dengan cepat Anna mengambilnya. Disana terlihat sebuah foto saat Arthur membawa seorang wanita masuk kedalam kamar hotel. Kemudian disana juga terdapat sebuah video yang bisa dibilang cukup membuat Anna merona malu, sedetik kemudian dia menatap Arthur dengan tatapan marah yang sama dengan Jean.
"Jadi ini kelakuan mu diluar sana?!"
Ucap Anna dengan aura dinginnya.
"Dengarkan aku, kak. Itu... Itu tidak seperti yang kalian lihat. Kalian salah paham."
Ucap Arthur dengan terbata.
Jika sudah begini dia harus cepat memutar otak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua kakaknya yang jika sudah marah akan membuatnya sulit.
"Berapa wanita yang sudah kamu tiduri?"
Tanya Anna lagi.
"Gawat, harus cepat mencari celah untuk menjelaskan. Jika kedua iblis ini marah bersamaan, bisa habis aku. Sialan! Lagi pula siapa yang berani mengirimkannya pada kakak**?!"
Gumam Arthur, sekarang peluh sudah bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Ayolah kak! Duduklah, duduklah."
Ucap Arthur mendorong perlahan Anna dan Jean untuk duduk.
"Tak usah bertele-tele. Cepat katakan!"
Kesal Jean.
"Jadi begini, sebenarnya aku sedang menyelidiki sesuatu. Akhir-akhir ini beberapa perusahaan berkembang di negara Awan sedang mengalami krisis dan Wings Corp, perusahaan yang aku dirikan juga mengalaminya. Ya, walaupun masih bisa aku tangani."
Jelas Arthur pada kedua kakaknya yang masih setia menampakan wajah sangarnya.
"Lalu kenapa? Pasar saham di negara Awan saat ini memang tidak bagus untuk apa menyelidikinya? Itu hal yang wajar."
Ucap Anna ketus saat dirasa Arthur hanya mencari alasan saja.
"Aku pikir tidak sesederhana itu. Kemari, lihatlah."
Jawab Arthur, lalu berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Anna dan Jean yang saling tatap tak mengerti.
"Ini hasil penyelidikan yang aku lakukan sendiri. Ada pergerakan mencurigakan pada perusahaan Replay Company sebelum mereka bangkrut dalam semalam. Kemudian selang beberapa bulan, hal yang sama terjadi pada perusahaan lainnya, waktunya pun hampir bersamaan. Walaupun mereka tidak mengalami kebangkrutan sehebat yang dialami oleh Replay."
Ucap Arthur membuat Anna dan Jean terkejut.
"Bangkrut dalam semalam? Tidak tersisa sedikitpun?"
Tanya Jean tak percaya. Kemudian dijawab dengan anggukan oleh Arthur.
"Hebat! Siapa yang bisa melakukan hal kejam seperti itu?"
Tanya Jean kembali.
"Yang jelas orang itu bukan orang sembarangan. Dia pasti memiliki kekuasaan yang besar jika dalam beberapa bulan saja bisa menumbangkan banyak perusahaan."
Ucap Anna yang masih mengamati dokumen yang ada di laptop Arthur.
"Lalu apa hubungannya ini dengan gadis yang kamu bawa ke hotel? Kamu ingin mengalihkan topik masalah yang sedang kita bahas?!"
Ucap Anna kembali, memicingkan matanya untuk mengintimidasi Arthur yang kembali terlihat gugup.
"Sudah kuduga ini tidak akan mudah."
Gerutu Arthur dalam hati.
Arthur diam sejenak, mencoba merangkai kata dalam otaknya untuk disampaikan kepada kedua wanita yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa diam? Kamu mengakuinya?"
Sewot Jean.
Arthur menarik nafas perlahan. Tangannya kini lincah membuka setiap folder yang ada didalam laptop hingga tampaklah seorang gadis cantik dengan garis wajah tegas sedikit manis.
"Gadis itu bernama Jane Chaz, putri tunggal dari Terry Chaz pemilik Replay Company. Saat aku melacak keberadaan keluarga Chaz untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku menemukan fakta jika Tuan Terry sudah meninggal karena serangan jantung tak lama dari bangkrutnya Replay. Semua hartanya habis, yang tersisa hanya hutang yang menumpuk pada organisasi bawah tanah. Lalu, sebagai gantinya orang-orang itu menjual gadis ini."
Jelas Arthur.
"Lalu?"
Tanya Jean tak sabaran.
"Kamu menyukainya?"
Timpal Anna.
"Kamu jatuh cinta padanya?"
Tanya Jean tak mau kalah.
"Jika dipikir-pikir tidak buruk juga. Latar keluarga yang lumayan, pendidikan yang bagus, keahlian yang luar biasa, juga... "
"Bukan begitu!"
Ucap Arthur dengan cepat memotong ucapan Anna.
"Saat itu aku sedang ada jamuan makan malam di hotel. Aku tidak sengaja bertemu dengannya, saat itu dia dalam kondisi sudah diberikan obat dan hampir dilecehkan oleh para gengster itu. Aku menolongnya tapi tiba-tiba dia menciumku seperti video yang sudah kalian lihat."
Lanjutnya lagi kemudian mendapat jitakan keras dari Jean.
"Dan kamu memanfaatkan keadaannya?"
Ucap Jean.
"Tidak, bukan seperti itu! Aku membawanya ke salah satu kamar tapi aku tidak menyentuhnya."
Ucap Arthur.
"Hei anak muda! Kamu berharap kami percaya?"
Tanya Anna ketus.
"Tentu saja? Bahkan aku rela memanggil dokter untuk memeriksanya. Dan untuk sementara aku membawanya ke apartemen ku. Sampai sekarang dia tidak mau bicara apapun, aku tidak akan melepaskannya untuk sementara waktu. Aku akan membawanya kembali ke negara Awan."
__ADS_1
Seketika Jean dan Anna membuang nafas lega.
"Bersikap baiklah padanya, wajar jika dia tidak mau bicara. Kondisi mental seseorang akan terganggu jika dia sudah mengalami kejadian yang tidak dia inginkan."
Ucap Jean.
"Aku percaya padamu."
Ucap Anna sambil mengacak kasar rambut adik lelakinya.
Dengan cepat Arthur menghindar. Anna hanya tersenyum melihat tingkah Arthur yang sudah tidak mau dimanja lagi.
"An, sepertinya kamu dan ayah sudah berbaikan?"
Tanya Jean, mengikuti langkah Anna yang hendak meninggalkan ruangan.
"Panggil aku kakak, aku lebih tua, tau!"
Balas Anna seraya mengkait leher Jean dengan lengannya. Jean meringis dan mencibirkan bibirnya.
"Ku dengar kemarin ayah memanggil mu, apa yang kalian bicarakan?"
Tanya Jean lagi.
"Perjodohan."
"Apa?!"
Ucap Jean begitupun dengan Arthur yang membututi kedua kakaknya.
Mendengar jawaban Anna, seketika membuat Jean dan Arthur terkejut sekaligus was-was. Perjodohan? Perjodohan siapa yang sedang ayah rencanakan? Mungkin pertanyaan itulah yang kini ada di benak mereka.
"Siapa?"
Tanya Arthur dengan cepat menyusul langkah Anna.
"Aku."
Ucap Anna santai sambil menuruni anak tangga.
"Oh, syukurlah."
Ucap mereka berdua lega.
Namun sedetik kemudian bola mata mereka membulat sempurna.
"Apa? Dengan siapa?"
Lagi, ucap mereka berbarengan.
Anna memutar bola matanya kesal dengan tingkah Jean dan Arthur yang tak henti berteriak. Anna menghentikan langkahnya, kini mereka sudah berada di lantai bawah.
"Kemarin keluarga Loud mengirim surat permintaan perjodohan antara aku dengan Hans langsung pada ayah."
Ucap Anna sukses membuat Arthur seketika meradang.
"Kamu tidak boleh menerimanya! Apapun yang terjadi jangan menerimanya! Aku tidak setuju jika kakak menikah dengan k*p*r*t itu!"
Ucap Arthur.
"Aku akan mempertimbangkannya."
Jawab Anna membuat kedua adiknya semakin tidak percaya.
"Untuk apa mempertimbangkannya? Kamu lupa dengan tingkahnya yang tempo hari sudah berani mencari gara-gara? Buka mata mu, An. Dia bukan pria baik-baik, semua orang tau dia pria yang licik!"
Ucap Jean tak terima.
"Aku punya rencana ku sendiri. Kalian tidak perlu khawatir. Arthur, nanti ikut aku ke kantor, ada dokumen yang harus aku diskusikan dengan mu."
"Kamu diancam oleh mereka? Katakan, ancaman apa yang sudah mereka berikan sampai-sampai membuat kakak berpikir gila seperti ini!"
Dengan kasar Arthur menarik bahu Anna.
Anna menatap kedua adiknya bergantian.
Belum sempat Anna membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan pada Jean dan Arthur, tiba-tiba terdengar suara Tuan Hendry menghampiri.
"Jean, Arthur ikut ayah."
Ucap Tuan Hendry pada kedua anaknya yang masih memasang tampang kesal.
"Cepat sarapan, pekerjaan mu di kantor sudah menunggu."
Ucap Tuan Hendry pada Anna. Merasa diselamatkan, dengan cepat Anna pergi menuju meja makan.
Dengan ceria Anna menghampiri Charlotte dan memberikan ciuman lembut di pipinya. Anna mulai duduk dan menyantap dengan lahap sarapannya tanpa menunggu Ayah juga ketiga adiknya, ia tebak obrolan itu tidak akan sebentar.
Dan Benar saja, selesai Anna menghabiskan makanannya, ketiga orang itu baru datang. Sambil melahap buah-buahan yang ada, Anna menatap wajah kedua adiknya yang tidak bersahabat.
Suasana yang biasanya ramai jika Jean dan Arthur ada di rumah, baru kali ini terdengar hening. Sampai bunyi dering telpon Jean memecahkan keheningan itu, dengan sigap Jean mengambil ponselnya dan menghentikan kegiatan makannya.
"Belum juga sampai dimulut."
Keluhnya saat melihat nama dokter residennya yang menelepon.
Dengan malas Jean mengangkatnya.
Dari ekspresi wajah Jean, Anna sudah bisa menebak jika itu panggilan dari rumah sakit. Diam-diam Anna tersenyum, dulu dia juga begitu. Entah sedang apa dan dimana jika ponselnya sudah berdering itu menandakan dia harus seger pergi.
"Mau aku antar?"
Tawar Anna.
"Tidak perlu, aku bawa mobil."
Ucap Jean dengan cepat meneguk susu yang sudah disediakan oleh ibunya, setelah itu ia langsung bergegas pergi.
***
Kini Anna dan Arthur berjalan memasuki gedung perusahaan. Sambil berjalan sesekali Anna melirik Arthur yang terus diam sedari perjalan menuju ke kantor tadi. Diam Arthur membuat Anna sedikit tidak nyaman, bagaimana pun orang berisik seperti Arthur yang tiba-tiba saja menjadi pendiam membuat Anna gelisah.
"Kamu kenapa? Dimarahi ayah?"
Tanyanya memberanikan diri.
"Tidak apa-apa."
Jawab Arthur sekenanya.
Kini mereka sudah didalam lift.
"Terus kenapa diam saja?"
"Memang tidak boleh?"
Anna berdecak kesal mendengar jawaban Arthur.
"Menyebalkan."
Gumamnya yang masih bisa didengar Arthur.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, kini mereka sudah tiba dilantai 15, lantai dimana ruangan Anna dan Arthur berada.
"Ikut aku!"
Ucap Anna menyuruh Arthur mengikutinya.
"Itu dokumen kerja sama yang dikirimkan 10 Perusahaan Penguasa pada Lyn."
Ucap Anna seraya duduk di sofa yang berlawanan dengan Athur.
Arthur menatap Anna lalu mengambil dokumen itu dan membacanya.
Bagaimana pun ia cukup kaget dokumen seperti ini bisa sampai pada Lyn.
Layaknya seorang Direktur, Arthur membaca setia poin penting dari dokumen itu. Walaupun bisa di bilang dia masih sangat muda, tapi kepiawaian Arthur dalam dunia bisnis tidak bisa dianggap remeh. Minatnya pada bisnis sudah tertanam sejak ia kecil. Bahkan di usianya sekarang yang menginjak 23 tahun ia sudah bisa membangun bisnisnya sendiri diluar Lyn, perusahaannya pun bisa dibilang perusahaan yang "merepotkan" sampai bisa membuat Dev menyimpan dendam padanya.
"Mereka menyogok kakak dengan ini?"
Ucap Arthur mengacu pada pernikahan Anna.
"Tentu saja tidak!"
Jawab Anna kilat.
Arthur meletakan dokumen itu dengan kasar.
Ia menyandarkan punggungnya dan menekan pelipisnya yang berdenyut.
"Kakak tahu kan jika orang itu seperti apa? Walaupun dia kaya dan tampan, tapi dia bukan orang baik kak. Dia kejam dan bisa melakukan apa saja."
Anna membuang nafas kasar. Bingung harus menjelaskannya bagaimana. Kini dia tahu apa yang membuat Arthur menjadi pendiam, adiknya itu sedari tadi menahan marah.
"Sebenarnya apa tujuan kakak menikahi Hans?"
"Kamu percaya pada ku?"
Tanya Anna pada Arthur yang sedang menatapnya prustasi.
"Tentu saja aku percaya pada kakak."
Jawabnya tanpa ragu.
"Kalau begitu jangan khawatirkan keputusan ku."
Jawab Anna yang membuat adiknya menatap tidak percaya.
Arthur menunduk dan mengacak kasar rambutnya.
Anna melangkah mendekat dan duduk disebelah adiknya untuk menenangkan.
"Jelaskan padaku agar aku bisa tenang dan tidak mengkhawatirkan keputusan mu!"
Ucap Arthur sambil menepis tangan Anna dibundaknya.
Anna terkejut dengan gerakan Arthur, baru kali ini dia melihat tatapan marah dari adiknya. Sekarang, dalam kondisi seperti ini mau tidak mau Anna harus menjelaskannya.
Dengan perlahan Anna mulai berucap, menceritakan kenapa dia bisa sampai mau mempertimbangkan tawaran dari Hans dan teman-temannya, orang-orang yang sudah Arthur anggap musuh. Meskipun tidak semua Anna ceritakan pada Arthur, setidaknya kini adiknya itu sudah mulai tenang.
"Kenapa harus mendapatkan Wallis? Aku tau kakak bukan orang yang gila harta, tapi apa tidak cukup dengan Lyn saja? Aku bisa menyerahkan Lyn dan bicara pada ayah."
Ucap Arthur.
"Arthur, kakak harap kamu bisa mengerti dengan keputusan yang kakak ambil."
Ucap Anna menggenggam tangan adiknya itu.
"Tapi kak... "
"Sudahlah jangan bahas lagi masalah ini, lebih baik kamu pelajari lagi dokumen itu. Keputusan ada pada mu, jika tidak mau bisa kamu tolak. Jika kamu terima bisa memberikan keuntungan besar bagi Lyn."
Ucap Anna.
"Kenapa harus aku? Lagi pula aku harus segera kembali ke negara Awan, kakak tau sendiri kan perusahaan ku disana sedang tidak baik-baik saja."
Ucap Arthur keberatan.
"Kamu menyuruhku melakukannya sendiri? Lagi pula ini perusahaan mu, Arthur. Jangan lagi kamu lari dari tanggung jawab mu, aku disini hanya membantu mu. Kamu kan memiliki Frans yang bisa menghandle pekerjaan mu disana. Siapa suruh kamu membangun perusahaan disaat ayah menyuruh mu untuk mengurus Lyn!"
Ucap Anna tak mau kalah.
"Kakak juga kan punya El yang bisa membantu kakak. Aku hanya minta bantuan sampai aku bisa menstabilkan Wings Corp dan menjadikannya anak perusahaan Lyn itu saja, kenapa hitungan sekali?"
Anna berdiri sambil menatap tajam Arthur, sepertinya sebentar lagi akan terjadi pertengkaran diantara mereka.
"El? Kamu bilang El? Aku sudah memecatnya!"
Ucap Anna membuat Arthur membulatkan mata kaget dan ikut berdiri.
"Kenapa kakak memecatnya?! Sekarang kakak bisa lihat apa akibat dari keputusan kakak. Kakak jadi kerepotan sendiri mengurus perusahaan!"
Ucap Arthur tak percaya.
Anna memutar bola matanya jengah. Tanpa segan kini dia menjewer telinga adiknya.
"Lalu kamu menyuruh aku untuk tetap mempekerjakan seorang tuan muda, begitu?"
Ucap Anna kesal.
Arthur terhenyak disela ringisannya.
"Aku tidak habis pikir dengan keberanian mu yang membawa El masuk ke dalam lingkungan kita. Dari awal kamu sudah tau kan kalau dia pewaris dari Glover?"
Tanya Anna sambil melepaskan tangannya dari telinga Arthur yang sudah memerah.
Arthur mengusap telinganya yang dirasa sudah memanas. Kini dia tak berani menatap Anna, keberaniannya seketika menghilang.
"Ya aku tau, dia teman ku. Aku tau El seperti apa jadi aku beranikan diri untuk merekomendasikannya sebagai sekretaris mu."
Ucap Arthur .
"Tapi kenapa kakak harus memecatnya? kenapa tidak bilang dulu pada ku?"
Lanjutnya lagi.
"Kamu pikir kenapa? Felix Glover yang memintanya langsung pada ku."
Lagi-lagi ucapan Anna membuat Arthur tersentak kaget. Bahkan kini orang-orang Glover tahu jika El bersembunyi disini.
"Pantas saja akhir-akhir ini aku tidak bisa bertemu dengannya. Bahkan menghubunginya pun sangat susah."
Gumam Arthur pada dirinya.
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mengurusnya."
Ucap Anna seraya tahu apa yang ada di pikiran Arthur saat ini.
"Sekarang pergilah, pelajari lagi dokumen itu. Ambil keputusan secepatnya."
Ucap Anna kembali sambil berjalan menuju mejanya.
Tanpa bantahan dan suara Arthur menurut. Dengan berbagai macam pikiran yang mengganjal, dia pergi meninggalkan ruangan Anna.
__ADS_1
"Ah, benar-benar bocah itu!"
Keluh Anna sambil terduduk lelah dikursinya.