
Tak terasa hari sudah pagi, bahkan bisa dikatakan waktu sudah menunjukan pukul 11 siang. Gadis itu masih setia dengan selimutnya, cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela tirai pun tak bisa mengusik tidurnya.
Terdengar pintu kamar terbuka dengan kasar sampai menghantam tembok cukup keras. Pendengarannya mulai terganggu, diregangkannya badan itu. Benar-benar pagi ini dia merasakan tubuhnya seperti orang yang habis bergulat.
"Lihatlah Nona, ini jam berapa? Kamu tidak akan bangun sampai besok?"
Ucap seorang wanita muda dari ambang pintu.
Terlihat dia membawa nampan berisikan sup pereda mabuk cukup banyak.
Dengan terpaksa Anna membuka matanya. Dia celingak-celinguk seperti orang linglung.
"Eng? Kapan aku pulang? Bukannya aku kabur?"
Dia bangun, menyandarkan punggungnya, mencoba merasakan kepalanya yang masih pusing.
"Wah... Lihatlah, bahkan sekarang kamu bangun tanpa merasa bersalah sedikit pun. Masih belum mengingat apapun?"
Timpal seorang pria muda, ikut berjalan menghampiri Anna yang masih setengah sadar.
Anna menatap kedua adiknya secara bergantian, meraih semangkuk sup yang dibawa oleh Jean.
Gadis itu tahu betul apa yang terjadi semalam. Setelah bertengkar hebat dengan ayahnya, dia kabur dan minum beberapa botol wiski sampai habis. Lalu dia bertemu dengan orang-orang yang paling dia hindari, diajak menikah oleh Hans, terjadi perdebatan kecil sampai Arthur datang membawanya pulang, setelahnya dia tidak tau apa-apa lagi.
"Kalian tidak bekerja?"
Tanya Anna pada adik-adiknya yang masih setia berdiam di kamarnya.
"Bagaimana aku bisa bekerja? Kejadian semalam cukup membuatku khawatir padamu. Kamu bahkan membuat Hans tersungkur ke lantai. Kamu pikir dia akan melepaskanmu begitu saja?"
Anna tau betul sebesar apa rasa khawatir Arthur padanya saat ini.
"Kenapa semalam kamu bisa bersama mereka? Kamu dijebak?"
Tanya Jean pada kakaknya.
"Mereka hanya sedikit memaksaku, lalu aku penasaran dan memenuhi undangan mereka. Lagi pula mereka tidak berbuat apapun. Kalian tidak perlu khawatir."
Jawab Anna sekenanya, mencoba membuat adik-adiknya untuk tidak terlalu khawatir.
Berkat sup yang dibawakan Jean untuknya, setidaknya saat ini rasa pusing dan mualnya sedikit berkurang.
"Penasaran? Lalu kamu mau bilang bahwa adegan ini kamu yang menggodanya duluan?"
Tanya Arthur kesal, melempar handphonenya pada Anna. Anna menangkapnya, menatap Arthur heran lalu melihat sumber dari amarah adiknya.
Matanya terbelalak kaget.
Tak percaya, bahkan mereka menggunakan fotonya dengan Hans yang terlihat sangat intim seperti ini untuk memancing Arthur datang.
"Jelaskan lah, aku tak habis pikir kamu semudah itu dijebak oleh mereka, An. Kamu memperingatkan kami untuk berhati-hati dengan mereka. Tapi kamu malah dengan mudah membahayakan dirimu sendiri."
Ucap Jean yang turut kesal dengan tingkah Anna.
"Lupakan. Aku tidak mau mengingatnya lagi."
Ucap Anna tak mood saat mengingat kejadian semalam.
Hans benar-benar membuatnya kesal.
Anna merutuki dirinya sendiri yang ceroboh saat mengingat kejadian dimana Hans menariknya dan membiarkan jemari lentik lelaki itu meraba hampir keatas pahanya. Wajahnya kini memerah saat mengingat kejadian malang yang menimpa dirinya.
Di raihnya handphone yang sedari tadi bergetar tanda ada pesan masuk. Anna mengernyitkan dahinya saat melihat ada banyak sekali pesan yang masuk dari nomor tak dikenal.
'*Aku harap calon istriku hari ini baik-baik saja.'
'Ini aku Hans Loud. Kau tak berniat membalas pesanku?'
'Aku ingin bertemu dengan mu hari ini.'
'Kau masih berani sombong?'
'Bahkan kau tidak membaca pesanku?'
'Hei, jika kau tidak membalas pesanku, aku yang akan datang sendiri menghampirimu!'
'Wah, lihatlah. Kau benar-benar berani mengabaikan aku*?'
Kira-kira itulah isi dari beberapa pesan yang Hans kirimkan pada Anna. Gadis itu menggenggam erat benda persegi yang sekarang kembali bergetar.
Anna mulai mengetik.
'Apa? Kau tidak puas mengusikku semalam?'
'Aku benar-benar takjub atas kemampuanmu untuk mendapatkan nomor ponselku dengan sangat cepat."
Sinis Anna.
Derrd... derrd
Hans membalas.
'Tidak masalah. Bahkan mencari nama Wallis mu pun aku bisa mendapatkannya, kan?'
Balasan Hans mengingatkan Anna kembali bahwa saat ini kerahasiaan identitasnya sudah tidak terjamin.
'Kau menunggu diancam dulu baru bisa membalas, ya?'
Balas Hans kembali.
Anna semakin geram saat membaca pesan Hans yang penuh dengan gertakan.
'Aku baru bangun tidur.'
Balas Anna.
'Aku ingin bertemu denganmu. Tidak ada bantahan. Hanya ada 2 pilihan yang aku berikan. Pertama, kau datang sendiri kemari. Atau yang kedua, aku sendiri yang datang menjemputmu.'
Apa laki-laki ini terbiasa memaksa orang lain untuk menuruti perintahnya? Baginya Ini benar-benar memuakan, Hans memberikan pilihan yang sama sekali tidak ada yang ingin Anna pilih.
Dia datang sendiri kemari? Dia benar-benar gila. Apa laki-laki itu lupa jika semalam saja Arthur hampir berkelahi dengannya.
'Aku yang datang. Dimana?'
Balas Anna tak ingin banyak berdebat.
'Bagus. Kau cukup tau diri. Glover Grup, jam 12. Datanglah tepat waktu jika ingin tau rahasia besar sekretaris pribadimu.'
Seketika kekesalan Anna naik ke level yang lebih tinggi. Dia terkesiap. Berani-beraninya sekarang mereka menyentuh orangnya.
'Apa yang kau cari adalah informasi tentang pimpinan Lyn, kan? Dan kalian sudah mendapatkan semuanya! Kenapa kalian menyentuh orangku?'
Niat Anna yang awalnya ingin mengabaikan pesan Hans, akhirnya terprovokasi juga.
'Semakin kau banyak bicara, semakin besar kemungkinan kau untuk tidak tepat waktu.'
Lagi, Hans berhasil membuat Anna menggeram kesal.
Orang itu benar-benar mempermainkannya.
Dengan kasar ia menyibak selimut yang sedari tadi menghangatkan tubuhnya. Dengan tergesa dia memasuki kamar mandi untuk bersiap.
"Ada apa?"
Tanya Arthur heran. Begitupun dengan Jean yang menatapnya aneh.
"Ada hal mendesak yang harus aku selesaikan. Dan aku lupa hari ini ada rapat penting."
Saut Anna dari kamar mandi.
Jean dan Arthur pun saling tatap curiga.
Tak butuh waktu lama untuk Anna mempersiapkan penampilannya. Kali ini dia menggunakan dress cantik yang dipadukan dengan casual blazer juga sepatu heels yang tidak terlalu tinggi, rambutnya ia biarkan tergerai. Dengan terburu-buru Anna meraih tasnya, dia menuruni anak tangga yang menyambungkan lantai 2 dengan ruangan utama. Dirasanya sekarang rumah besar keluarga Admiral sedikit hening.
"Ayah dan ibu kemana?"
Tanya Anna pada Jean yang terlihat sedang bersantai.
"Mereka pergi untuk mempersiapkan pertemuanmu dengan seseorang."
Jawab Jean tak melepaskan pandangannya dari laptop yang sedari tadi dia gunakan.
"Siapa?"
Tanya Anna kembali.
Jean mengangkat bahu tanda tak tahu.
"Semalam kamu meracau sambil menangis pada Ayah. Kalian bertengkar lagi, kan? Sepertinya Ayah sedikit menyesali perbuatannya."
Timpal Arthur yang sama-sama sedang sibuk dengan laptopnya.
"Kenapa ayah harus menyesal, lagipula aku yang salah."
Ucap Anna sedikit bergumam sambil berjalan menuju pintu.
"An. Apapun yang dikatakan Ayah padamu semalam, aku yakin dia memiliki alasan untuk mengatakannya. Sampai kapanpun kamu adalah bagian dari kami. Aku senang karena ada kamu, aku bisa merasakan rasanya memiliki seorang Kakak. Siapapun kamu, bagiku kamu adalah Anna Lyn, Kakakku."
Ucapan Jean kali ini membuat Anna menghentikan langkahnya.
Anna berbalik menatap Jean yang sekarang sedang menatapnya. Sepertinya ini yang ingin Jean katakan sedari tadi pada Anna.
Gadis itu tersenyum, dia baru menyadari jika sekarang kedua adiknya benar-benar sudah tumbuh dewasa. Walaupun orang-orang sering memandang Jean adalah sosok gadis yang mandiri dan sangat pekerja keras, tak sekalipun gadis itu menggunakan nama keluarga Admiral untuk mencapai posisinya sekarang. Seorang dokter muda yang telaten, tak memandang siapa yang terluka pasti dia akan obati. Baik itu orang jahat maupun orang yang tak punya uang, dimatanya semua orang sakit itu sama. Walaupun tak bisa dipungkiri bahwa Anna lah orang yang membuat pribadi Jean seperti sekarang. Jean benar-benar menjadikan Anna sebagai panutannya, jika saja saat itu Anna tak memiliki trauma mendalam tentang kejadian memilukan yang dialaminya, mungkin sekarang Anna sudah bisa menggeser popularitas Dokter Hendry.
"Aku tau."
Ucap Anna lantas kembali membalikan badannya, dia tidak mau adik-adiknya melihat kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Kalian sepertinya terlalu cepat untuk tumbuh dewasa. Lain kali cobalah berkencan dan nikmati masa muda kalian."
Ucap Anna kembali sambil berlalu.
Kini mobil antik yang selalu menjadi andalan Anna sudah terparkir cantik di pelataran perusahaan milik keluarga Glover.
Handphone nya kembali bergetar.
Terlihat pesan masuk dari Hans.
__ADS_1
'Kau dimana? Lama sekali.'
'Cerewet sekali, aku juga butuh berjalan. Aku baru sampai.'
Balas Anna.
'Nanti bilang saja kau pacarku. Aku sudah pegal menunggu kedatanganmu yang seperti siput.'
Pesan Hans kali ini membuat Anna kembali kesal.
'Pacar? Berhentilah bermimpi!'
Balas Anna keberatan.
'Jika kau terus mengoceh, kau akan terlambat. Dan lihat apa yang akan terjadi pada sekretaris pribadimu.'
Tak berniat membalas ancaman dari Hans, Anna kini memasuki gedung mewah itu dengan menggerutu. Para karyawan yang berlalu lalang mulai memandang takjub Anna dengan aura gadis berkelasnya. Tak nyaman dengan bisikan dan tatapan orang-orang itu, Anna semakin mempercepat langkahnya menuju meja resepsionis.
"Aku... "
Dengan tergesa Anna lebih dulu membuka suara sebelum resepsionis itu berbicara, namun Anna tiba-tiba menghentikan ucapannya dan terlihat berpikir sejenak.
"Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Ucap resepsionis yang mendengar Anna menghentikan kalimatnya.
Dengan berat Anna melanjutkan kata-katanya.
"Aku kekasihnya Hans."
Ucap Anna malu sendiri.
"Mari saya antarkan."
Tak melepas senyumnya, resepsionis itu mengerti akan instruksi selanjutnya.
"Bos dan para Tuan muda sudah menunggu anda, Nona."
Ucap orang itu lagi saat mereka sudah memasuki lift.
"Siapa nama bos kalian?"
Tanya Anna saat tak bisa mengingat nama pewaris Glover.
"Tuan Felix, Nona."
Jawabnya. Anna hanya membalas dengan anggukan.
Kini dirinya sudah berdiri tepat didepan pintu ruangan yang sudah dia tebak didalamnya terdapat orang-orang b*jing*n itu. Anna masih mematung sendirian, jika saja Hans tidak mengancamnya mungkin dia tidak mau lagi untuk bertemu dengan mereka.
Dengan hati yang berat Anna mengetuk pintu lalu masuk. Benar saja, orang-orang yang sama kini sedang menatapnya puas, tak terkecuali Hans yang sedang tersenyum lebar. Mendekati Anna yang ekspresi wajahnya entah kenapa membuat Hans selalu ingin menggodanya. Pria itu berjalan santai mendekati Anna, membelai rambutnya dan menatap lekat wanita yang sedang memalingkan muka darinya.
"Jika kau sudah disini berarti kamu benar-benar mengatakan kalau kau kekasihku."
Ucap Hans masih dengan senyum puasnya.
"Jika kau hanya ingin mengejekku, aku bisa pergi dari sini sekarang juga."
Balas Anna tak suka.
Hans mundur beberapa langkah dan berbalik menatap teman-temannya penuh kemenangan. Dilihat dari tingkahnya, sepertinya mereka sedang bertaruh.
"Mana orangku?"
Tanya Anna.
"Orangmu? Ah iya, dia sekarang ada ditempat lain."
Saut Dev yang langsung mendapat tatapan dari Anna.
"Kau tak perlu terburu-buru. Dia baik-baik saja, jangan takut dia akan terluka. Lagipula kami mana berani melukai target berharga kami."
Ucap Dean.
Anna menatap Dean yang terlihat tidak asing. Anna mengingat-ingat. Dan yah, sekarang dia ingat, Dean adalah pria yang fotonya sempat dilihatkan oleh Flo.
"Jadi dia yang membuat Flo menangis saat di bar?"
Matanya memicing, lalu berjalan menghampiri Dean yang sedang duduk dibalik meja berbentuk V-shape oblong table style.
Semalam sebelum Anna masuk menghancurkan monitor besar, dia sempat bertemu dengan Flo yang keluar ruangan sambil menangis. Lalu bercerita singkat bahwa dia habis bertengkar dengan pacarnya dan sempat memperingatkannya untuk tidak masuk kedalam. Karna terlalu fokus dengan Hans yang baru dia lihat lagi, Anna sampai tak sempat mencari lelaki mana yang berhasil membuat sahabat lamanya menangis.
Kini Hans menunggu apa yang akan dilakukan Anna kali ini.
"Jadi Flo bisa menangis seperti semalam itu ulahmu? Waah... Aku tak percaya, Flo yang tidak pernah menangis karena masalah percintaan bisa kau buat menangis seperti itu juga."
Ucap Anna.
Dean terkejut mendengar penuturan Anna sekaligus kesal dengan kelancangan Anna yang menuduhnya.
"Hei! Kau, aku undang kesini bukan untuk menjadi komentator hubungan orang lain!"
Ucap Hans saat dilihatnya Dean mulai tersinggung.
"Lalu apa? Dari tadi kalian hanya duduk melihatku, tersenyum sendiri, dan tidak kunjung mengatakan apapun. Kalian mempermainkan ku lagi?"
"Kita ingin bernegosiasi. Semalam kau menawarkannya pada kami."
Ucap Edgar.
"Aku tidak mau! Jumlah dan wajah kalian masih sama. Masih ada wajah yang belum aku lihat. Ditambah kalian menahan orangku."
Balas Anna mencari alasan.
Hans mulai kesal dengan sifat Anna yang dinilainya terlalu bertele-tele. Dengan kasar Hans menarik tangan Anna, lalu berniat ingin mendorongnya untuk duduk. Namun naas, gerakan Hans terbaca oleh Anna, gadis itu memutarkan tubuhnya hingga kini Hans lah yang terduduk dengan kasar dikursi. Hans meringis atas tindakan tiba-tiba Anna, kini posisi Anna hampir menindih Hans. Tangannya menekan dada bidang Hans agar tidak membuat dirinya terjatuh.
Anna menyeringai.
"Kau terlalu lamban tuan muda."
Ucapnya. Hans membelalakkan mata tak percaya, teman-temannya terkekeh geli melihat Hans yang dengan mudahnya dikalahkan oleh Anna.
Anna bangkit dan berjalan menuju tempat duduk Hans yang berada tepat ditengah-tengah.
"Kutanyakan sekali lagi. Dimana orangku?"
Pertanyaan Anna kini terdengar serius.
Menatap mereka satu per satu, gesturnya kini terlihat mirip seperti orang-orang itu.
Hans tersenyum meremehkan. Dia membenarkan duduknya, merapihkan jas yang sedikit berantakan.
"Dia ada di sebelah, sedang bersiap-siap untuk dieksekusi."
Ucap Hans dengan wajah menyebalkannya.
Anna menatap Hans tak suka.
"Dia ingin aku mengamuk menghancurkan monitornya lagi? Kali ini dia ingin aku melemparkan apa? Kursi?"
"Negosiasi kita gagal jika dalam waktu 5 menit kalian tak membebaskan orangku."
Wajah dinginnya kini semakin terlihat.
"Kamu ingin melihat wajah salah satu dari kami yang belum kamu lihat, kan? Dengan data kami yang sudah kamu baca mungkin kamu sudah tahu namanya, dia adalah Felix Glover, pewaris bayangan Glover grup. Sekarang dia yang akan mengeksekusi orangmu itu. Silahkan untuk menikmati kejutan yang akan kamu lihat."
Ucap Hans sambil menghidupkan layar besar yang sama persis seperti yang ada di bar.
"Pewaris bayangan? Dia mengarang? Aku bahkan baru pertama kali mendengarnya."
"Anna, sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Bagaimana kau mempercayai El untuk menjadi sekretaris pribadimu?"
Tanya Glen saat layar itu belum benar-benar menampilkan apa yang akan diperlihatkan pada Anna.
"Aku tidak mau menjawab."
Jawab Anna ketus.
"Jawab saja cepat!"
Kesal Glen
"Tidak mau. Kalian terlalu banyak bertanya."
Balasnya lagi.
"Kau ingin aku untuk memberitahu Felix agar menebas lehernya?"
Lagi, ancaman Hans selalu berhasil membuat Anna tak bisa berkata-kata lagi.
Anna mendesis kesal.
"Dia yang datang padaku. Memintaku untuk menjadikannya sebagai anak buah. Awalnya aku menolak, tapi dia terus memaksa. Dia bilang jika dia bersamaku orang-orang yang sedang mengejarnya tidak akan bisa menemukannya."
Jelas Anna.
Para tuan muda itu tersenyum kecut. Bocah itu benar-benar pintar dalam memilih orang untuk jadi perisainya.
"Begitu saja kamu percaya pada orang asing?"
Tanya Hans menyepelekan.
"Tidak juga."
Jawab Anna sekenanya.
"Berapa lama dia bekerja denganmu?"
Tanya Ernest.
"Mungkin 2 tahun."
Jawab Anna.
"Kamu tak berniat memeriksa kembali latar belakangnya?
Tanya Hans.
__ADS_1
"Selama tindakannya tidak membahayakan Lyn Grup, untuk apa aku selidiki kembali? Lagi pula kenapa aku tidak bisa memberikan kepercayaanku padanya saat dia sendiri sangat mempercayaiku?"
Tutur Anna dengan wajah yang bisa dikatakan cukup songong.
"Pola pikirmu benar-benar terlalu pendek dan naif, Nona."
Ucap Ernest tak habis pikir.
"Itulah alasan kenapa kalian harus bersusah payah untuk mendapatkan apa yang kalian mau dariku."
Saut Anna membalas cibiran Ernest.
"Gadis ini benar-benar membuatku kesal, ingin sekali aku memotong mulutnya."
Gumam Hans yang geram dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Anna.
"Sampai kapan kalian ingin mengulur waktu? Jangan bilang jika ancaman kalian hanya kebohongan agar aku bisa datang kemari!"
Kesal Anna.
"Tidak juga."
Ucap Hans menyeringai sambil menampilkan layar yang menunjukan 2 orang pria sedang berbincang.
Anna mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Silahkan menikmati."
Ucap lelaki itu kembali.
Kali ini mulai terdengar kalimat 'tidak' yang penuh penekanan dari mulut El.
"Kakek sedang sakit. Jika kau tidak kembali, keadaannya bisa semakin parah."
Ucap Felix masih berusaha membujuk orang yang ada di depannya.
"Sudah ku bilang aku tidak mau, urus saja masalah kalian sendiri. Jangan pernah libatkan aku lagi."
Jawab orang itu yang tak lain adalah El.
"Apanya yang eksekusi. Bahkan kelihatannya orang itu sedang memohon pada El. Tapi mana mungkin, diakan Felix dari Glover Grup."
"Kau yakin dia adalah orang yang ingin aku lihat? Kenapa memohon seperti itu pada El?"
Tanya Anna yang tidak mengerti.
"Tonton saja, akan lebih menarik jika kau mendapatkan penjelasan dari obrolan mereka secara langsung."
Jawab Hans membuat Anna mengerutkan keningnya kesal dan kembali fokus pada layar.
"Ayahku sudah banyak membuat kekacauan dan paman Rio lah yang sudah berjasa membereskan kekacauan yang sudah ayah perbuat. Untuk apa kakek masih mengharapkan ku? Sebagai anak dari paman Rio, kaulah yang seharusnya pantas menjadi pewaris tetap Glover Grup, bukannya aku. Aku bahkan sudah tak memiliki muka jika harus kembali."
Ucap El lirih, Felix menatapnya sendu.
Anna terhenyak. Dia benar-benar kaget atas penuturan yang keluar dari mulut El yang ternyata adalah orang yang berasal dari keluarga Glover, tapi bagaimana bisa?
"Itu masalah ayahmu dan kau tidak ada kaitan dengan masalahnya! Berhentilah menyalahkan dirimu karna masalah paman Gio! Mau berapa lama lagi kamu bersembunyi? Susah payah aku menemukanmu, dan sekarang kau mau menyusahkan aku lagi?"
Kesal Felix pada sepupu yang umurnya berbeda 5 tahun darinya.
"Aku sudah nyaman dengan kehidupanku saat ini. Aku tidak pernah menyuruh Kakak untuk mencariku. Dan aku tidak pernah berpikir untuk kembali pada keluarga Glover."
Ucap El sinis.
"Kau tidak sadar sudah merendahakan keluarga Glover dengan bekerja pada orang yang kedudukannya lebih rendah darimu? Menjadi bawahan dari Tuan yang asal usulnya sendiri bahkan tidak jelas?"
Bentak Felix kesal.
"Kau menyelidiki sampai ke pekerjaanku? Sudah kubilang aku bukan lagi bagian dari kalian. Tak usah kau turut ikut campur dalam masalah pribadiku. Siapapun Tuanku, aku yang lebih tau dia daripada kau."
Kesal El yang sekarang menarik kasar kerah baju lawan bicaranya.
"Jaringanku lebih banyak, jadi bukan hal yang sulit bagiku mencari kau dimana dan apa yang kau lakukan. Pikirkan lagi baik-baik, sebelum aku bertindak lebih jauh, El."
Ucap Felix tak kalah sinis, menyingkirkan tangan El dengan kasar dari bajunya. Berjalan berlalu meninggalkan sepupunya yang sekarang tampak kesal dan frustasi.
Dalam dirinya, Felix benar-benar tidak ingin menyakiti El sedikitpun, namun keadaan mendesak yang memaksanya untuk membawa El sesegera mungkin kedalam keluarga Glover. Ditambah dengan keadaan 10 Perusahaan Penguasa yang sedang bersiaga menghadapi ancaman dari pihak luar akhir-akhir ini.
Hans membalikan kursinya menghadap Anna yang terlihat masih terkejut akan kebenaran yang baru saja dia dengar.
"Bagaimana Nona? Sedikit menyakitkan bukan mendengar kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh orang yang sangat kamu percayai?"
Sinis Hans pada Anna yang masih berusaha mencerna setiap kata yang dia dengar dari layar monitor.
Anna memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut.
"Berani-beraninya El membohongi aku."
Beberapa saat kemudian pintu terdengar terbuka, Felix berjalan masuk dan kini sudah berdiri dihadapan Anna.
"Aku ingin bernegosiasi denganmu."
Anna membuang nafas dan menatap orang yang sempat beradu mulut dengan El tadi.
"Baru bertemu dan ingin bernegosiasi langsung denganku? Cara berbisnis kalian benar-benar tidak sopan."
Ucap Anna tak suka.
"Syarat yang kau berikan pada kami sudah kami penuhi, sekarang apa lagi yang harus kami tunggu? Kau mencoba mencari alasan?"
Tanya Darren tak habis pikir.
Anna terdiam sejenak, dia berusaha memutar otak, mencari cara untuk bisa terhindar dari negosiasi yang hasilnya pasti akan menyusahkan dirinya.
Dengan kesal Hans bangkit dari duduknya menghampiri Anna, berdiri disisi gadis itu lalu duduk meyender pada meja dan menyilangkan tangan tepat didada. Mengamati Anna yang sedang berpikir dengan kesal.
"Gadis ini benar-benar tak ada rasa takut sedikit pun pada kami, bahkan pada Hans sekalipun."
Gumam Felix yang baru pertama kali bertemu dengan Anna.
"Kesabaranku sudah hampir mencapai batasnya, Nona. Jangan pernah berpikir bahwa kamu bisa lari dariku lagi!"
Desis Hans dengan kasar menarik dagu gadis itu.
Anna terkejut dan balik menatap Hans. Kini mereka saling melempar tatapan saling membunuh. Lalu, dengan cepat menepis tangan Hans saat tiba-tiba degup jantungnya berdetak dengan cepat. Sesekali Anna menatap layar yang masih menyoroti ruangan tempat Felix dan El bertengkar, memperlihatkan El yang masih ada disana dengan raut wajah penuh amarah dan frustasi. Anna mendorong kursinya dan berdiri menjauh dari Hans.
"Apa yang kalian mau?"
Akhirnya Anna menyerah akan pendiriannya.
Para Tuan muda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Ada 3 hal yang ingin kami pinta darimu."
Ucap Glen.
"Terlalu banyak. Aku tidak mau."
Ucap Anna ketus.
"Bagiku cukup mudah untuk menyebarkan informasi pribadi seseorang."
Ucap Hans santai namun kalimatnya penuh dengan makna. Membuat Anna jengah mendengarnya.
"Kudengar akhir-akhir ini banyak pihak luar yang menyerang 10 Perusahaan Penguasa, kan? Aku penasaran bagaimana jika negosiasi kalian denganku gagal."
Balas Anna membuat Hans dan teman-temannya geram.
"Kau berani mengancam ku?"
Tanya Hans mendekati Anna.
"Kau anggap itu ancaman? Hahaha, lihatlah dirimu kali ini Tuan muda. Dengan tingkahmu yang selalu menggertakku, kau pikir aku tidak tau rencana kalian?"
Balas Anna tak gentar.
"Jika beberapa kalimatku barusan kau anggap ancaman, lalu bagaimana dengan ulah kalian yang selalu mengusikku juga adik-adikku 2 tahun terakhir ini? Sebaiknya aku sebut apa? Bencana? Kutukan? atau Kesialan?"
Lanjutnya lagi saling melempar tatap penuh amarah.
"Jika kamu merasa tidak nyaman, maka jangan banyak bertingkah! Ikuti saja apa yang aku katakan, maka aku tidak akan mengusikmu!"
Jawab Hans semakin marah, mencengkram bahu Anna kuat. Namun tak terlihat sedikit pun rasa takut di sorot mata gadis itu.
"Kau menyuruh ku untuk menurut padamu, begitu? Aku bukan orang yang mudah tunduk pada sekumpulan orang-orang seperti kalian. Aku lebih memilih hidupku dalam bahaya daripada harus tunduk pada kalian."
Ucap Anna dengan senyum meremehkan. Menyingkirkan tangan Hans yang sudah beberapa kali menyentuhnya.
"Kau bersikeras ingin bernegosiasi dengan ku, salah satunya untuk membawa Victoria kembali, kan? Kau pikir aku mau melakukannya?"
Lanjut Anna dengan sorot mata yang sama-sama penuh dengan amarah, mendorong tubuh Hans agar menjauh darinya.
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Anna membuang nafas berat. Mencoba menenangkan detak jantungnya juga emosinya yang belum sepenuhnya meledak.
"Menjadikan Lyn Grup sebagai pihak pendukung, menyerahkan El pada Glover Grup, juga mengorbankan diriku sebagai senjata agar bisa menyelamatkan Wallis, saudara juga ibu tiri yang tidak tau diri. Itu kan 3 hal yang ingin kalian bicarakan denganku?"
Dengan tepat sasaran Anna membuat mereka terkejut dengan tebakannya yang akurat.
Tidak terkecuali Hans yang masih bergelut dengan emosi yang masih menyelimutinya, menatap Anna dengan sangat sinis.
"Bagaimana kau..."
Tanya Glen tak percaya.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Lain kali jika ingin mengundangku, lakukanlah seperti kita sedang berbisnis."
Ucap Anna menatap mereka tak suka, berjalan melewati Hans dan menatapnya sekilas.
Sekarang tubuh gadis itu sudah hilang meninggalkan ruangan rapat yang harusnya membuat para Tuan muda itu mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.
Dengan marah Hans menonjok dinding yang ada di sebelahnya. Nafasnya terdengar tak beraturan, kekesalannya pada Anna benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun.
"Aku tak segan membuatnya menderita jika dia bersikeras tidak mau bekerjasama denganku."
Ucap Hans penuh penekanan.
Mereka saling tatap, jika sudah begini tidak ada yang bisa menghentikan apa yang akan Hans lakukan selanjutnya.
__ADS_1