
Sudah 3 hari berlalu semenjak Anna 'mengusir' El dari perusahaannya dan 3 hari berlalu juga semenjak dia bertemu dengan para Tuan muda itu. Pikirannya tidak pernah sedikitpun dapat berhenti mencari tahu apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan.
Dimulai dari mencari asal-usul pimpinan Lyn Grup, perusahaan yang bisa dibilang dengan waktu yang singkat berkembang sangat maju. Bahkan mereka, para pesaing bisnis yang pernah meremehkan Lyn pun merasa takjub akan perkembangan perusahaan yang luar biasa.
Maklum, semenjak tuan besar Albert Lyn ayah dari Ny. Charlotte meninggal dunia 4 tahun lalu, perusahaan itu seperti kehilangan separuh nyawanya. Ny. Charlotte, putri satu-satunya dari keluarga Lyn yang sangat terpukul akan kehilangan ayahnya yang begitu mendadak tidak bisa berpikir jernih untuk menyelamatkan perusahaan yang saat itu sedang siap diterkam oleh lawan bisnisnya.
Jika saja tuan Hendry tak cepat menyadari kondisi itu, mungkin saat ini Lyn sudah benar-benar hancur. Dengan keras selama 2 tahun awal kematian mertuanya, dia secara terpaksa menyuruh Arthur mengurus Lyn. Walaupun saat itu putranya menolak dengan keras, tapi berkat Jean dan Anna yang turut membujuk Arthur, akhirnya dia menyerah dan bersedia mempertahankan perusahaan kakeknya.
Sampai dimana 2 tahun lalu Anna bergabung kedalam Lyn grup dibalik nama Arthur, dia bisa membuat keadaan Lyn menjadi jauh lebih baik. Gadis itu lebih memilih menjadi bayang-bayang adiknya ketimbang harus mengambil alih pimpinan Lyn. Hingga kini, Lyn adalah perusahaan besar yang dikenal orang-orang sebagai perusahaan dalam bidang industri dan ritel.
Belum lagi pelacakan Elvaro untuk kembali mengisi posisi pimpinan Glover Grup yang saat itu ternyata dipimpin oleh pewaris bayangan atau pewaris pengganti. Setidaknya membuat Anna berpikir itu sedikit janggal, kejadian itu menurutnya terlalu memiliki timing yang bersamaan.
Ditambah, semenjak pertemuan yang sudah direncanakan Tuan Hendry dengan seseorang yang memberikan beberapa fakta tentang kematian keluarga kandungnya. Menggiring naluri dalam diri Anna untuk mengulik misteri apa yang menyelimuti pembantaian itu. Sejak pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Aiden, adik kandung yang baru dia temui di penghujung hidupnya. Kata-kata darinya seolah-olah meruntuhkan dunia yang baik-baik saja yang sedang Anna jalani. Membuat dirinya menolak keras kebenaran tentang perlakuan Jonas dan Alice selama ini padanya.
Anna memejamkan mata mencoba menenangkan perasaanya, merasakan kesunyi yang sedari tadi menyelimuti ruangannya. Pikiran-pikiran itu membuat kepalanya pusing, perasaannya tiba-tiba saja hampa dan dadanya sakit. Ingin sekali dia menangis namun entah kenapa air matanya seolah-olah enggan untuk keluar.
Tok... Tok... Tok
Terdengar ketukan dari pintu ruangannya. Terlihat Clara, staf pribadi pengganti El untuk sementara waktu masuk menghadap Anna.
"Ada apa?"
Tanya Anna pada Clara yang saat ini sedang meyakinkan dirinya bahwa bos yang ada dihadapannya sedang dalam kondisi hati tidak baik-baik saja.
"Tuan muda Loud ingin bertemu dengan Anda, Nona. Saat ini Tuan Loud sedang menunggu di waiting room lantai 2."
Ucap Clara membuat Anna sedikit terkejut.
"Hans Loud?"
Tanya Anna memastikan, lalu Clara meng-iya-kan.
Anna membuang nafas resah. Baru saja dirinya berucap syukur karena Hans sudah tidak mengganggunya lagi, baik itu secara langsung ataupun tidak langsung.
"Bagaimana Nona?"
Tanya Clara saat Anna tak kunjung memberi jawaban.
"Aku akan menemuinya sendiri."
Jawab Anna yakin, membuat Clara sedikit khawatir.
"Nona, apa tidak apa-apa? Perlukah saya menemani anda?"
Tanya Clara.
Khawatiran Clara sebenarnya bukan tanpa alasan. Sebagai staf pribadi Lyn Grup, Clara tau betul pihak mana saja yang masuk dalam daftar orang yang harus mereka hindari. Ya, daftar yang mendadak Artur buat dan umumkan kepada para staf sejak peristiwa Anna jatuh kedalam jebakan mereka.
"Dia tidak akan berani menyakitiku, jangan khawatir. Tolong kosongkan jadwalku untuk 2 jam kedepan."
Tutur Anna dan mendapat anggukan ragu dari Clara.
"Ah iya. Jangan sampai Arthur atau Jean mengetahuinya, aku malas menghadapi omelan mereka. Jika informasi ini bocor, bonus untuk kalian tidak akan cair. Mengerti?"
Lanjutnya lagi sedikit mengancam.
Clara tertegun.
"Me... Mengerti Bos."
"Bagus."
Jawab Anna puas.
Hans tampak sedikit kesal karena harus menunggu lama Anna yang tak kunjung datang. Ini adalah kali pertama dia harus menunggu kedatangan seseorang. Selama ini tidak ada seorangpun yang berani membuatnya menunggu seperti ini. Anna adalah orang pertama yang berhasil membuat Hans mencoba segala sesuatu untuk pertama kali.
__ADS_1
Sudah 2 kali Hans duduk lalu berdiri agar rasa kesalnya bisa berkurang. Dari balik kaca besar yang menghadap langsung kelantai dasar, saat ini sorot matanya mengitari keadaan perusahaan yang dulu pernah ia dengar hampir bangkrut karena tak bisa lagi bersaing dengan perusahaan lawan.
Namun kini dengan mata kepalanya sendiri, Hans merasa takjub dengan kondisi Lyn yang posisinya hampir setara dengan perusahaan besar lainnya. Para pegawai yang sibuk berlalu lalang di lantai dasar dengan berbagai berkas yang mereka bawa, tapi tak sedikitpun Hans melihat beban dari wajah mereka. Sepertinya Lyn benar-benar menjamin kesejahteraan karyawannya bukan hanya soal penghasilan, tapi juga lingkungan kerja yang nyaman. Sudut bibirnya terangkat saat mengingat kondisi ini diciptakan tak lain berkat keberadaan gadis itu ditengah-tengah krisis Lyn.
Beberapa detik kemudian tubuhnya refleks berbalik saat mendengar suara pintu otomatis terbuka. Dari ambang pintu Hans bisa melihat Anna yang selalu memasang wajah tak suka jika bertemu dengannya. Hans menatap Anna dari atas sampai bawah, dari awal bertemu saat di bar sebenarnya tidak ada yang spesial dari wanita ini. Tapi entah mengapa, Hans menilai Anna memiliki daya tarik yang membuat dirinya selalu penasaran. Pakaian biasa yang Anna gunakan, entah mengapa selalu pas dengan seleranya. Hanya saja rambut pendek yang sudah melewati bahu itu yang tidak dia sukai.
Anna berjalan mendekati tamunya itu, dalam hatinya dia merasa sedikit tidak enak. Bagaimana pun ini adalah pertama kali Anna membuat tamunya menunggu lama, walaupun hanya 10 menit.
"Kau ingin menggangguku lagi?"
Tanya Anna tanpa basa-basi.
"Tidak ingin meminta maaf setelah membuatku menunggu lama?"
Tanya balik Hans yang membuat Anna malu.
"Maaf Tuan karna sudah membuatmu menunggu."
Ucap Anna akhirnya, walaupun masih terdengar dingin. Hans yang mendengarnya hanya tersenyum sinis dan kembali membalikan tubuhnya.
"Sebenarnya apa tujuannya datang kesini? hanya ingin mendengar permintaan maaf ku saja?"
"Setelah melihatnya langsung, aku merasa sedikit takjub dengan kondisi Lyn saat ini. Aku tak percaya kau yang membuatnya seperti ini."
Ucap Hans, kembali menatap lalu-lalang orang-orang dibawah sana.
Anna mensejajarkan posisinya dengan Hans.
"Arthur yang membuatnya begini, aku hanya mengerjakan sisanya."
Jawab Anna.
"Aku tau segala kebenaran tentang dirimu."
Ucap Hans tak setuju dengan penuturan Anna.
Ucap Anna tak suka.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
Tanya Anna menatap pria yang dulu sempat membuatnya kagum.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Jawab Hans.
"Jika sesuatu yang tidak penting, aku tidak mau mendengarnya. Ini sudah kesekian kalinya kau mengganggu waktu berhargaku, Hans."
"Kau pikir waktuku tidak berharga? Ikut aku sekarang. Aku tidak mau jika tiba-tiba adik mu datang mengganggu."
Ucap Hans sambil berjalan mendahului Anna.
"Kamu tidak memiliki niat menculikku kan?"
Tanya Anna curiga.
"Jika aku berniat begitu, aku tak perlu datang kemari menjemputmu."
Jawab Hans.
Anna berpikir sejenak, menimang-nimang ajakan Hans. Tapi jika dilihat dari kedatangannya yang hanya seorang diri, tanpa kehadiran Bob maupun salah satu dari para Tuan muda. Sepertinya ini sesuatu yang cukup menarik.
"Kau menolak?"
Tanya Hans kesal.
__ADS_1
"Cerewet sekali!"
Balas Anna ketus.
Sekarang gadis itu berjalan beriringan dengan Hans, melangkah meninggalkan sarangnya. Diiringi dengan bisikan dan tatapan penuh gosip diantara karyawannya. Inilah yang Anna tak suka, hal seperti ini akan cepat sampai ke telinga Arthur jika terus dibiarkan.
"Kamu terlihat gelisah, Nona."
Goda Hans pada Anna yang sedang risih karena tingkah para karyawannya.
"Jika ingin bertemu, lain kali tak perlu datang langsung kemari. Kedatanganmu membuatku semakin pusing saja."
Jawab Anna.
"Begitukah? Kalau begitu aku akan sering-sering berkunjung."
Ucap Hans yang mendapat delikan tajam dari Anna.
Dalam hati Anna terus mengumpat, tak pernah mengerti akan jalan pikiran pria ini. Kesan yang dikeluarkan oleh Hans yang sekarang benar-benar berbeda dengan Hans yang ia kenal beberapa tahun lalu. Sejak dipertemukan kembali dengannya, Anna hanya merasakan aura diktator yang sangat dominan pada diri Hans.
Jika tanpa keberanian yang besar, mungkin malam itu Anna sudah kehilangan harga dirinya. Apa hal ini berkaitan dengan menghilangnya Victoria? Pertanyaan itu tidak pernah Anna hilangkan jika menatap mata tajam Hans.
"Silahkan masuk."
Kesadaran Anna seketika kembali saat suara Hans memecahkan lamunannya, dengan gagah membukakan pintu mobil yang akan dimasuki oleh Anna.
"Tak perlu bertingkah berlebihan seperti itu."
Ucap Anna ketus, masuk kedalam mobil mewah jenis Ferrary Spider milik Hans.
Hans berdecak kesal, lagi-lagi hanya Anna wanita yang dengan kasar membalas perlakuan manisnya. Ini kesekian kali Anna menjatuhkan martabat seorang Hans Loud, penakluk harga diri seorang wanita.
Setelah dirinya turut masuk kedalam mobil. Sesegera mungkin Hans menyalakan mesin kendaraanya, melaju meninggalkan Perusahaan Lyn sebelum gadis yang ada di sebelahnya berubah pikiran.
Sepanjang perjalanan baik Hans maupun Anna tak ada seorangpun yang ingin membuka percakapan. Sesekali Anna melirik Hans yang sedang fokus dengan kemudinya. Suasana seperti ini sungguh membuatnya canggung.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Katakan apa yang ingin kau katakan."
Ucap Hans masih menatap lurus ke depan.
Anna yang merasa tertangkap basah dengan berat hati harus memulai topik pembicaraan.
"Aku ingin bertanya padamu."
Ucap Anna.
"Katakan."
"Apa yang kalian pikirkan tentang pembantaian Wallis?"
Tanya Anna membuat Hans sedikit tak menyangka.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Jawab saja. Apa susahnya?"
Ucap Anna sewot.
"Aku masih mengingat beberapa hari yang lalu kau meracau jika kematian mereka tidak ada artinya dimatamu. Tapi sekarang, kenapa kamu ingin tau?"
Ucap sinis Hans.
"Aku hanya bertanya, jika tidak mau menjawab ya sudah. Aku tidak memaksa."
Kali ini ucapan Hans membuatnya kesal.
__ADS_1
Anna mengalihkan pandangannya keluar, tak semestinya dia bertanya hal itu pada Hans. Dipaksa bagaimana pun pria ini tidak akan menjawab, apalagi peristiwa naas itu turut melibatkan wanitanya. Hans melirik Anna yang membuang muka, dari raut wajahnya sekarang Hans merasa Anna sedikit kecewa dengan jawabannya. Namun karena tak berniat iba, Hans mengabaikannya. Pandangannya kembali dia fokuskan pada jalan yang sedang disusurinya.