
Dengan kasar Anna membanting pintu. Tak henti gadis itu membuang nafas berat, berharap emosi dan perasaannya kembali normal. Diusap dengan kasar air mata yang tiba-tiba saja muncul tanpa ia kehendaki. Berurusan dengan mereka benar-benar menguras habis pikiran dan kesabarannya.
Anna melirik pintu ruangan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, disana terdapat 2 bodyguard yang sedang berjaga. Anna melangkah menghampiri 2 orang yang ada didepannya menunduk hormat dan dibalas dengan senyuman olehnya. Tak perlu waktu lama ia mengetuk lalu masuk kedalamnya dan membuat lelaki muda yang tak lain adalah El memandangnya dengan raut wajah terkejut.
"Nona Anna, kenapa anda bisa disini?"
Tanyanya masih dengan wajah terkejut juga nada suara yang khawatir.
"Kau tak menyangka aku ada di sini, kan? Begitu juga denganku."
Jawab Anna sambil duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Apa jangan-jangan... Mereka..."
Ucap El terbata
"Ya, mereka sudah menemukan ku."
Jawab Anna yang kini semakin membuat wajah terkejut El semakin jelas.
"Apa Anda terluka? Apa yang mereka lakukan padamu?"
Tanya El menghampiri.
"Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja."
Balas gadis itu lagi, berbohong.
Anna bangkit dari duduknya, menatap dalam mata sekretaris pribadi yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Aku sudah tau semuanya."
Ucap Anna yang membuat El terdiam.
El tahu betul apa maksud dari ucapan tuannya.
"El, dengan berat aku akan mengatakannya. Mulai hari ini kau tidak bekerja lagi dengan ku ataupun Lyn Grup, aku memecatmu."
Ucapnya terdengar berat, membuat El membelalakkan matanya.
"Kenapa Nona? Apa karena Anda sudah mengetahui kebenaran tentang saya, Anda jadi membenci saya?"
Tanya El kecewa.
"Aku tidak membencimu. El, kau tahu aku benci jika harus dibohongi. Tapi, aku tak bisa seperti itu padamu, karena selama ini pun aku membohongimu tentang identitasku. Selama bekerja denganku, kau banyak membantuku. Selalu tanggap jika aku memberikan perintah dan dengan cepat menyadari ancaman yang akan datang."
Jelas Anna.
"Lalu kenapa Anda memecat saya? Saya bahkan tidak berniat untuk kembali pada Glover."
Ucap El.
"Felix benar jika kedudukanmu sekarang ada di atasku. Jadi mana bisa aku menjadikan Elvaro Glover sebagai bawahanku? Apa yang akan aku katakan pada kakekmu?"
Jelas Anna kembali, membuat El menunduk kecewa.
__ADS_1
"Dulu aku pernah bertemu dengan Tuan Glover, meskipun agak menyebalkan aku bisa menilai jika dia orang yang cukup bijaksana. Dia menyuruhmu kembali bukan tanpa alasan, El. Temuilah dia, tak menutup kemungkinan jika kau bertemu dengannya akan membuat kondisi Tuan Glover membaik."
Ucap Anna menepuk pundak lelaki muda itu.
"Ayahku mati dengan cara hampir menghancurkan perusahaan kakek yang sudah dia rintis sejak lama. Mana bisa aku menemuinya begitu saja, apalagi jika aku harus menjadi pewaris Glover."
Ucap El lirih. Anna mendekat memeluk hangat lelaki 23 tahun itu.
El terkesiap, terkejut dengan tindakan Anna.
"Itu hanya ketakutan yang muncul dari pikiranmu saja, El. Jika kau berpikir kau tidak pantas mendapatkan hak waris atas Glover, kenapa tidak bicara baik-baik dengan Tuan Glover?"
Ucap Anna lagi, melepaskan pelukannya.
"Apa Nona berpikir anggota keluarga yang lain akan menerimaku?"
Tanya El masih dengan raut wajah khawatirnya.
Ini adalah pertama kalinya Anna melihat wajah khawatir dari El yang biasanya menunjukan wajah tanpa ekspresi dan terkesan kaku. Anna tersenyum dan berpikir, bagaimana pun El adalah pria muda yang masih memiliki banyak rasa khawatir pada dirinya.
Anna meregangkan tubuhnya yang dirasa pegal.
"Aku juga tidak tahu jawabannya. Tapi menurutku, kau akan tahu jika kau mencobanya."
Ucap Anna.
El terdiam sejenak.
"Nona Anna, apa anda juga berpikir untuk kembali kepada Wallis?"
"Aku tidak tahu. Menurutmu sebaiknya bagaimana, El? Wallis yang tersisa sekarang bukan cuma aku, masih ada wanita itu dan Ibunya."
Tutur Anna.
"Anda akan menyerahkannya pada mereka?"
Tanya El memastikan.
"Dari awal aku tidak memiliki minat pada harta keluarga yang sudah membuangku. Jika wanita tua yang gila harta seperti Merry tahu aku masih hidup, menurutmu bagaimana?"
Jawabnya lagi dengan senyum pahit.
"Sudahlah, untuk saat ini aku tidak mau membahas tentang keluarga itu. Karena mereka, beban pada otakku harus bertambah."
Anna membalikan tubuh hendak berlalu.
"Aku berharap kau dapat mempertimbangkan permintaan Felix yang tadi sempat memohon padamu. Dan memenuhi harapan agar kamu bisa membantu para angsa lemah itu yang sekarang sedang kesusahan."
Ucap Anna, tatapannya tertuju pada benda yang sedari tadi sedang menyorotnya. Kali ini kalimatnya penuh dengan penekanan dan ledekan.
Anna tersenyum sinis, merasa puas dengan kekesalan yang sedang menyulut para pewaris itu karena kata-katanya.
"Jaga dirimu baik-baik. Terimakasih sudah membantuku selama ini."
Ucapnya lagi, berlalu meninggalkan ruangan yang kini hanya menyisakan El sendirian.
__ADS_1
Dengan wajah sedih El menatap punggung Anna hingga mantan Tuannya itu benar-benar tak terlihat lagi.
Kini Anna berjalan keluar meninggalkan perusahaan milik keluarga Glover dengan dahi yang terus berkerut. Saat ini didalam kepalanya terdapat banyak masalah yang harus dia selesaikan dengan cepat.
Sekarang tepat dari arah belakang langkahnya, suara gaduh para karyawan Glover mulai terdengar. Dari mulut mereka keluar kalimat yang mengelu-elukan kumpulan pria yang turut berjalan searah dengan gadis itu, yang Anna yakini adalah mereka-mereka yang baru saja turun dari ruangan yang sama dengannya tadi.
'Karena mereka, rencana hari liburku benar-benar hancur.'
Anna tak hentinya menggerutu. Diraihnya handphone yang ia simpan didalam tas. Anna mulai mencari kontak yang ingin dia hubungi sekarang.
"Kumpulkan seluruh staf pribadi Lyn. Dalam waktu 10 menit aku akan sampai disana."
Ucap Anna pada orang yang ada di sebrang sana. Setelah mendapat jawaban, dengan cepat Anna menutup telponnya.
Dalam hati, gadis itu memotivasi dirinya agar lebih cepat untuk sampai kedalam mobil saat didengarnya derap kaki kumpulan para lalat itu semakin terdengar ditelinganya. Tinggal satu gerakan lagi Anna membuka pintu mobilnya, tangan lelaki yang tak lain adalah Hans menutupnya kembali dengan cepat. Kini posisi Hans tepat berada dibelakang Anna.
"Sudah kuduga ini tidak akan mudah."
Hans tersenyum kecil saat Anna berbalik menghadapnya. Wajah gadis itu kini terlihat sangat kesal, namun hal itu tak membuat wajah cantiknya hilang. Malah sekarang dimata Hans hal itu terlihat lumayan menggemaskan, sampai-sampai senyum di bibirnya tak bisa dia hentikan.
"Sepertinya untuk beberapa saat kau akan sedikit kerepotan dengan beberapa pekerjaanmu."
Ucap Hans.
Tidak puas dengan Anna yang hanya diam saja, Hans lebih mendekatkan jarak diantara mereka. Anna waspada, tak ada ruang lagi baginya untuk menghindar. Ini kedua kalinya Hans mengunci tubuh gadis itu dengan tubuhnya.
"Jangan gunakan cara murahan seperti ini untuk mengancam Adikku."
Ucap Anna mengalihkan pandangannya pada Dev yang sudah siap dengan handphone-nya.
Dev yang merasa aksinya disadari, dengan perlahan memasukan kembali handphone-nya kedalam saku.
"Hari ini aku bersyukur dapat melihat kebaikan hati mu Nona Lyn, aku kira kau tidak akan mempertimbangkan kembali keinginan kami."
Ucap Hans kembali membuat Anna menatapnya tajam.
"Begitukah?"
Dengan sekali gerakan Anna menendang keras tepat ditulang kering kaki Hans.
Seketika pria itu meringis dan berjingkrak kesakitan.
"Kau tidak hati-hati Hans."
Ucap Darren tak bisa menyembunyikan tawa gelinya begitupun teman-temannya yang lain.
Dengan cepat Anna masuk kedalam mobil sebelum Hans kembali menerkamnya. Menyalakan mesin mobil andalannya dan melaju meninggalkan perusahaan Glover.
Anna melirik kaca spion mobilnya. Setidaknya saat ini rasa sakit Hans dapat membuat Anna melepaskan tawanya dengan sangat puas, saat dirinya bisa melihat secara langsung wajah kesakitan pria itu. Ya, bagaimana tidak. Anna menendangnya benar-benar menggunakan kekuatan penuh.
"Dan dia berani menyebut dirinya seorang anak dari penguasa terkenal?"
Ucap Anna masih dengan tawa renyahnya.
Memasuki jalan raya, Anna semakin menambah kecepatan laju kendaraannya. Menyalakan musik kesukaannya, berharap suasana hatinya kembali membaik. Bernyanyi dengan kencang, berharap amarahnya yang tersisa bisa mereda.
__ADS_1