
Anna kini duduk termenung di dalam mobilnya yang masih berada di kediaman Addison yang berada di Negara Daun. Sesekali Anna membuang nafas, dalam pikirannya masih terngiang obrolannya semalam bersama Gerry. Dengan kasar gadis itu bersandar pada punggung kursi mobilnya, kemudian dengan malas ia ambil beberapa berkas rahasia yang sempat Gerry berikan kepadanya.
"Sisa kebenaran sebagian ada di dalam berkas itu, aku tak bisa mengatakannya secara langsung padamu. Itu adalah hasil dari penyelidikan yang dilakukan secara diam-diam oleh orang-orang Addison."
Begitulah kira-kira ucapan terakhir Garry sebelum pamit untuk kembali ke negara Awan.
Perlahan Anna membuka segel pada amplop coklat besar itu. Anna mulai mengeluarkan isinya, setiap halaman yang ia lihat dan baca hampir membuat matanya membulat sempurna. Bibirnya mengatup tak percaya, tangannya mulai gemetar bersamaan dengan air mata yang menggantung di pelupuk mata. Dengan kasar Anna mengusap wajahnya kemudian kembali melihat halaman demi halanan dari kertas-kertas itu.
Disana terlihat jelas beberapa gambar juga tulisan yang menyebutkan tentang rahasia kematian dari kedua orangtua juga adik lelakinya. Ancaman-ancaman yang sempat diterima oleh keluarga Wallis yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.
Kesibukan Anna menatap beberapa berkas rahasia itu seketika terganggu dengan pesan masuk yang datang dari handphonenya. Terlihat dalam pesan itu jika Dokter Hendry menyuruhnya untuk segera kembali. Entah obrolan serius apa lagi yang akan ayahnya obrolkan kali ini. Ya memang, sejak kematian keluarga Wallis, obrolan yang terjadi diantara Hendry dan Anna bisa terbilang cukup serius dan sedikit canggung.
Setelah terdiam cukup lama, Anna memasukan kembali berkas-berkas itu. Lalu bergegas pulang ke rumah. Ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan pula hal apa saja yang diketahui oleh Dokter Hendry tentang peristiwa mengenaskan itu. Tanpa menunggu lama lagi, Anna menjalankan kendaraannya menuju kediaman Admiral.
"Nona, kebetulan Anda sudah datang. Tuan dan Nyonya sudah menunggu Anda diruang kerja Tuan Hendry."
Ucap salah satu pelayan saat Anna baru tiba dirumah.
"Oke, terimakasih."
Jawab Anna kemudian berjalan menuju ruangan yang dimaksud.
Dari luar pintu yang dilapisi kaca, disana sudah terlihat ayah dan ibunya sedang berbincang. Lalu, tanpa pikir panjang Anna mengetuk dan masuk kedalam.
"Ada apa ayah?"
Tanya Anna dari ambang pintu.
" Kemarilah sayang, duduk disini."
Sambut Nyonya Charlotte seraya menyuruh Anna untuk duduk disisinya.
"Ini lihatlah, tadi pagi Keluarga Loud mengirimkan ini kemari."
Ucap Tuan Hendry menyodorkan sebuah surat kepada Anna.
"Apa ini?"
Tanya Anna dan mengambilnya.
"Keluarga Loud, tepatnya Nyonya Lili mengirimkan surat perjodohan antara kamu dan putra mereka. Ini adalah urusan pribadimu, ayah tidak mau ikut campur sampai ke urusan percintaanmu."
Ucap Tuan Hendry.
Anna masih membaca dengan seksama isi surat itu. Ini benar-benar surat yang dikirim langsung dari kediaman Loud, bukan surat akal-akal Hans agar Anna bersedia menerima tawarannya.
"Sebenarnya aku sudah bertemu dengan Hans, putra mereka, ayah. Hans sudah memintaku secara langsung. Awalnya aku mengira dia hanya bercanda, tapi jika surat ini sudah sampai pada ayah, aku akan mempertimbangkannya."
Ucap Anna sedikit membuat ayah dan ibunya terkejut.
Yah, entah apa yang Anna pikirkan saat ini. Akan mempertimbangkannya? Bukankah sebelumnya dia bersikeras menolak tawaran yang diberikan oleh Hans tersebut?
"Begitukah? Bagaimana orangnya? Apa kamu tertarik dengannya?"
Tanya Tuan Hendry.
"Bagaimana aku bisa tertarik? Pertama kali bertemu saja dia sudah membuat aku jengkel. Dasar laki-laki ber*ngs*k!"
"Sebelum kita membahas hal itu, aku ingin membahas hal lain dulu dengan ayah. Seperti yang sudah ayah ketahui, semalam aku bertemu dan bicara banyak hal dengan paman Gerry."
Ucap Anna membuat Tuan Hendry mengangguk mengerti.
"Aku sudah mendengar kejadian yang sudah terjadi dari sudut pandang keluarga Addison. Jadi sekarang aku ingin mendengar penjelasan dari yang selama ini ayah ketahui. Aku tidak mau ada yang disembunyikan lagi dariku, ayah."
Ucap Anna menunggu jawaban.
Tuan Hendry membuang nafas, Kini dia kembali terlihat gelisah. Dirinya benar-benar bingung harus memulai bercerita darimana dulu.
__ADS_1
"Ayah, aku tidak apa-apa. Katakanlah."
Ucap Anna menggenggam tangan ayahnya, mencoba meyakinkan.
Tuan Hendry menatap Anna. Dilihatnya wajah anak gadis yang selama ini sudah ia urus layaknya anak sendiri. Bahkan rasanya ingin sekali ia menangis haru melihat anak yang dulu begitu tidak berdaya kini sudah beranjak menjadi seorang wanita dewasa yang tidak bisa lagi ia bodohi.
"Kamu ingin mendengarnya mulai darimana?"
Tanya Tuan Hendry.
"Dari awal ayah, dari mulai pertama kali ayah mengetahuinya."
Jawab Anna tanpa keraguan.
"Semua berawal dari peristiwa penculikan putri pertama keluarga Wallis yaitu kamu. Kamu menghilang saat umurmu 5 tahun, segala upaya yang dilakukan Jonas untuk menemukan mu berakhir tak mendapatkan apa-apa. Sampai 2 tahun kemudian kabar pembunuhan mu sampai ke kediaman Wallis. Saat itu Jonas melupakan harga dirinya, dia melupakan segala dendam yang terjadi diantara Wallis dan 9 keluarga penguasa lainnya. Dengan sangat, dia memohon kepada mereka. Usahanya tidak sia-sia, mereka menyetujui untuk membantu Jonas. Jonas memimpin sendiri pencarian putrinya, seluruh penjuru negri ini dia telusuri. Dia bertekad walaupun benar kamu sudah mati, dia harus menemukan mayat mu bagaimana pun caranya. Berbulan-bulan Jonas tidak pernah berhenti melakukan penyelidikan. Tapi, lagi-lagi Jonas tak mendapatkan apapun."
Jelas Tuan Hendry mengenang masa kelam itu.
"Bukankah ayah bilang jika ayah menyelamatkan ku beberapa jam setelah upaya pembunuhan ku? Kenapa mereka tidak tahu jika aku berada di kediaman Admiral?"
Tanya Anna tak mengerti.
"Kamu tebak saja kenapa Jonas tidak menemukan mu walupun sudah melakukan penelusuran secara menyeluruh di seluruh penjuru negara Daun? Sebenarnya saat itu kejadian pembunuhan mu berada di negara Awan. Saat itu ayah dan ibu masih menetap disana. Seseorang dengan tergesa membawamu pada ayah, dengan ketakutan dia memintaku untuk menyelamatkan mu bagaimana pun caranya. Mengatakan bahwa yang dia bawa adalah putri dari keluarga Wallis yang sedang dicari. Walaupun saat itu kemungkinan untuk oprasi menyelamatkan mu sangat kecil, beruntung kamu adalah gadis yang kuat, keajaiban datang dan kamu selamat."
Dengan susah payah Anna menelan ludah. Selalu saja begini, jika sudah mendengar masa lalunya yang kelam itu. Tiba-tiba saja air mata keluar tanpa permisi.
Ny. Charlotte mengelus punggung putrinya dan dibalas dengan senyuman oleh Anna, tanda bahwa dia tidak apa-apa.
"Lalu kenapa saat itu, saat ayah membawaku ke kediaman Wallis. Dengan angkuh, dia ayah kandung ku sendiri malah mengusir ku? Bahkan dengan jelas aku lihat dimatanya tidak ada sorot rindu ingin bertemu lagi dengan putrinya."
"Kamu salah. Aku juga tidak tahu kenapa saat itu Jonas melakukannya. Tapi asal kamu tahu, An. Malam harinya Jonas dan Alice secara rahasia menemui ku, dia memohon untuk menjaga dan melindungi mu. Merahasiakan identitas dan keberadaan mu dari orang-orang. Saat itu Jonas terlihat amat tertekan, walaupun aku mengerti dengan kedudukannya yang sangat disegani oleh banyak lawan bisnisnya. Tapi sungguh malam itu pertama kalinya aku melihat Jonas yang memohon dengan air matanya."
Jelas Tuan Hendry.
Kini dia tidak percaya jika hari ini akan tiba, Anna dengan sendirinya datang untuk meminta penjelasan yang tidak sama sekali ingin ia jelaskan.
Walaupun selama ini Anna tahu sendiri kenapa mereka mau mengurusnya. Tapi hari ini dia benar-benar ingin mengetahui semua alasan yang bisa membuatnya tenang.
Dengan lembut Ny. Charlotte menggenggam tangan Anna.
"Karena kamu anak yang baik dan kuat. Saat itu kamu berumur 7 tahun, Jean berumur 5 tahun dan Arthur baru berumur 3 tahun. Selama kamu koma, adik-adik mu dengan rajin selalu bertanya kapan kakak itu akan bangun, mereka bilang ingin bermain bersama mu. Tak lama kemudian kamu bisa melewati masa itu, setiap harinya keadaanmu berangsur-angsur membaik. Saat mereka tahu kamu akan tinggal bersama kami, diluar dugaan mereka memberikan respon yang baik, terutama Jean yang begitu bahagia saat dia tahu akan memiliki seorang kakak. Dan ibu juga bersyukur dengan keberadaan kamu bersama kami, Arthur yang sangat nakal bisa jadi penurut."
Jelas Ny. Charlotte.
Anna terkekeh, benar apa kata ibunya. Arthur hanya akan menurut pada perintahnya dan hanya akan takut pada amarah Jean. Inilah yang harus Anna syukuri, jika saja dulu Jean dan Arthur tidak selalu ada dan menghiburnya. Anna rasa dia tidak akan pernah bisa melewati masa-masa sulitnya.
Dengan perlahan Anna menghapus air matanya.
"Kapan terakhir kali ayah bertemu dengan mereka?"
"Jonas selalu mengingatkan ku untuk berhati-hati jika aku ingin bertemu untuk memberikan kabar tentang kamu. Dia selalu bilang para ******** itu selalu ada disekitarnya, walaupun aku juga tidak tahu siapa yang dimaksud olehnya. Terakhir kali aku bertemu dengannya sebulan sebelum kejadian itu terjadi dan setelahnya hubungan kami benar-benar terputus. Lalu tak lama dari itu anggota keluarga penguasa menghubungiku bahwa telah terjadi pembataian di keluarga Wallis dan menyuruhku untuk membawa beberapa tenaga medis, berjaga-jaga jika masih ada korban yang bisa diselamatkan. Dan dari kelalaian ku saat itu, aku membuat mu... "
"Ayah sudahlah, itu bukan salah mu. Aku tidak apa-apa."
Ucap Anna menyela ucapan Tuan Hendry.
"Jika kamu tidak apa-apa, kamu tidak akan mungkin berhenti dari pekerjaan mu di rumah sakit. Kamu tidak akan dihantui ketakutan yang selalu menghantui mu."
"Ayah sudahlah."
Jika saja saat itu Tuan Hendry tahu Anna sedang bertugas di bangsal VIP, dia tidak akan gegabah mengirim Aiden ke Rumah Sakit Admiral untuk ditangani. Jika saja hal itu tidak terjadi, Anna pasti saat ini tidak akan menjadi gadis pemurung, tidak akan diselimuti dengan perasaan bersalah yang begitu besar.
"Ayah jangan seperti ini, justru karna hal itu aku bisa bertemu dan melihat wajah adikku secara langsung. Selama ini aku selalu menolak segala informasi yang berhubungan dengan Wallis. Tapi, berkat beberapa kalimat yang aku dengar langsung dari Aiden, setidaknya membuat hati ku sedikit peduli tentang kejadian itu."
Jelas Anna.
Tuan Hendry mengangguk mengerti, walaupun dia tahu Anna sedang berbohong.
__ADS_1
"Kalau begitu kembalilah ke rumah sakit."
Ucap Tuan Hendry kemudian.
"Jika kamu tidak mau kembali ke Wallis, kembalilah bekerja di rumah sakit. Ayah tidak akan memaksa mu lagi, lagi pula jika orang-orang yang selama ini di waspadai Jonas mengetahui jika kamu masih hidup. Ayah khawatir kamu akan dalam bahaya."
Lanjutnya lagi.
"Aku tidak bisa ayah, aku sudah mengambil keputusan. Aku akan menyelidiki sendiri kejadian itu, ini... aku lakukan karna aku sudah berjanji pada Aiden."
Ucap Anna dengan wajah sayu.
"Tapi itu akan berbahaya, An. Kita tidak tahu siapa sebenarnya mereka. Ditambah lagi Merry dan putrinya... Sudah sejak lama ibu menaruh curiga pada mereka."
Terlihat jelas raut wajah khawatir terpancar dari wajah Ny. Charlotte.
"Itulah sebabnya kenapa aku mau mempertimbangkan tawaran dari keluarga Loud, bu. Hans adalah orang yang selalu mempertahankan harga dirinya, jika nanti ada sesuatu terjadi pada ku, aku yakin dia tidak akan tinggal diam."
Ucap Anna menjelaskan.
"An, ayah sudah mendengar desas-desus yang beredar tentang Hans dari orang-orang. Apa kamu tidak menaruh curiga padanya yang dengan mudah menyetujui permintaan orang tuanya untuk menikah dengan kamu? Apalagi semua orang tahu hubungan dia dengan Victoria."
Ucap Taun Hendry khawatir.
"Walaupun memang Hans memiliki motif lain, itu juga akan mempermudah rencanaku, ayah."
Ucap Anna.
"Aku tidak mungkin bilang jika Hans sudah mengatakan semua rencananya padaku bukan? Maafkan aku, ayah, ibu, aku tidak mungkin mengatakan tawaran perjanjian yang diberikan oleh si bodoh itu. Begini saja kalian sudah sangat khawatir, aku tidak boleh membuat ayah dan ibu tahu jika Hans dan teman-temannya sudah mengetahui identitas ku."
"An, ibu tahu sekarang kamu diselimuti rasa bersalah dan marah. Tapi ibu juga tidak mau kamu mempertaruhkan masa depan mu."
Ucap Ny. Charlotte yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya.
"Ayah dan ibu tenang saja. Serahkan sisanya padaku, aku akan baik-baik saja. Juga ayah, apa ayah serius ingin mengusirku dari perusahaan? Apa ayah setega itu padaku?"
Kini nada suara Anna terdengar sedikit memelas.
Tuan Hendry terkekeh dan mengacak sedikit rambut putrinya.
"Dari dulu kamu begitu penurut pada kami. Kamu tidak pernah mengutarakan keinginanmu secara terbuka pada kami. Dan sekarang pertama kalinya kamu mengatakan secara langsung hal yang ingin kamu lakukan. Aku tidak bisa menolaknya, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Tapi jika nanti terjadi sesuatu pada putri ayah, jangan salahkan jika ayah akan ikut campur dalam urusan mu."
"Benarkah?"
Ucap Anna dengan mata yang berbinar.
"Selama ini kamu banyak membantu perusahaan. Berkat kamu posisi Lyn semakin kuat, ayah sedikit merasa bersalah pada Jonas dan Alice karna sudah memanfaatkan putri mereka."
"Aku juga putri ayah, ayah jangan berpikir seperti itu."
Ucap Anna memeluk Tuan Hendry.
"Ya benar, kamu juga putri ayah."
Ucap Tuan Hendry.
"Ayah juga ingin meminta maaf pada mu atas sikap ayah yang akhir-akhir ini sudah menyakiti mu.Ayah dan Jonas sudah berteman lama, saat itu ayah teringat dengan jerih payah yang sudah Jonas lakukan demi mempertahankan perusahaannya, sampai-sampai ayah berani menyakiti mu."
Lanjutnya kembali.
"Aku mengerti, ayah tidak perlu menjelaskannya. Sekarang ayah jangan terlalu banyak berpikir, aku tahu akhir-akhir ini kesehatan ayah sedang tidak baik-baik saja."
Ucap Anna.
"Melihat putri ayah kembali semangat, ku pikir kondisi tubuh ayah akan kembali sehat lagi."
Jawab Tuan Hendry membuat Anna tertawa begitupun Ny. Charlotte.
__ADS_1
"Sekarang mari kita siapkan umpan untuk memancing ikan besar agar muncul ke permukaan"