Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!

Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!
Kekesalan Flo


__ADS_3

BRAK!


Semuanya memandang kesal ke arah pintu, siap-siap mencaci orang yang sudah berani membuat keributan ditengah rapat penting mereka. Namun saat yang mereka lihat adalah seorang wanita yang tak asing lagi. Niat mereka pun kembali ditarik dan disimpan kembali dengan rapih.


"Kamu menyuruhku menunggu sebentar tapi lihat sekarang, Dean. Berapa lama lagi aku harus menunggumu?!"


Ucap wanita itu dengan marah pada kekasihnya yang sekarang memandangnya ngeri.


'Sial! Aku hampir lupa.'


Gumam Dean merutuki kebodohannya.


"Apa?! Kamu mau bilang kalau kamu lupa? Kamu tau? Bahkan saking lamanya aku menunggumu, aku sampai bisa bertemu dan mengobrol banyak hal dengan teman lamaku!"


Lagi, Wanita yang diketahui bernama Flo Lauren itu tak menghentikan ocehannya dihadapan para singa muda itu.


"Bukan begitu sayang, maaf jika kamu menunggu terlalu lama. Tapi kami belum menyelesaikan rapat kami, jadi bisa kah kamu lebih bersabar?"


Kali ini Dean berjalan menghampiri Flo, memeluk dan mencoba meminta pengertian dari wanitanya.


"Nona Lauren, bisakah kamu lebih anggun sedikit? Kamu tidak mau kan jika suatu saat Dean berpaling dan menemukan wanita yang lebih lembut dan polos?"


Tiba-tiba ditengah pertengkaran sepasang kekasih, Darren menimpali dengan omongan yang berhasil mendapat tatapan mematikan dari Flo. Sedangkan yang lain hanya membuang nafas tak habis pikir, geleng-geleng kepala dan menepuk jidat.


"Jika kamu mau menunggu kekasihmu duduklah! Kamu menghalangi pandanganku."


Ucap Hans ketus pada teman wanita yang selalu bertengkar dengannya.


"Cih. Baik Tuan muda!"


Balas Flo kesal.


"Kalian adalah penerus sebuah perusahaan besar, apa kalian tidak memiliki tempat rapat yang layak? Kenapa selalu rapat di Klub malam? Kali ini hal tidak penting apa lagi yang sedang kalian bicarakan sampai aku harus menunggu selama ini?"


Gerutu Flo sambil duduk disebelah Dean yang sudah terlebih dahulu kembali ke sofanya.


"Sayang, aku rasa kamu sudah bekerja cukup lama di Rumah Sakit Admiral, kan? Harusnya kamu mengenal dia."


Ucap Dean kepada sang kekasih sambil menunjuk layar.


Sekali toleh Flo melihat ke arah yang dimaksud Dean, yang lain bersiap menunggu reaksi yang akan ditunjukan olehnya. Butuh beberapa detik bagi Flo mengenali orang yang terpampang di layar dengan kualitas foto yang tidak bagus. Sampai dia terperanjat bahwa orang itu adalah Anna, teman yang dulu pernah satu lingkungan kerja dengannya, teman yang selalu membantu dirinya saat dia membutuhkan apapun.


Masih menatap layar, Flo kaget kenapa orang-orang berbahaya ini memampang foto Anna? Apa yang sedang mereka rencanakan?


"Dia temanku. Apa yang kalian rencanakan? Kalian mau menyakitinya?"


Dengan reflek Flo berkata dengan nada bicara menuduh.


"Kamu selalu saja memandang kami seperti penjahat. Tenang lah, lagi pula belum jelas apa yang akan kami lakukan pada wanita cantik ini."


Ucap Ernest dengan nada menakut-nakuti.


"Kami butuh informasimu nanti Flo. Bob, lanjutkan penjelasanmu."


Baru saja Flo akan membuka mulut lagi. Kalimat Hans secara langsung menyuruhnya untuk diam dan dengarkan saja.


"Lalu foto yang disebelahnya itu siapa, Bob? Darimana kamu mendapatkannya? Kualitas fotonya jelek sekali."


Tanya Edgar.


"Foto yang disebelahnya adalah foto Wanita yang akan dijodohkan dengan tuan Hans. Foto itu saya dapatkan 2 hari yang lalu dari nyonya, nyonya bilang memang sangat sulit mendapatkan foto wanita tersebut dan nyonya menyuruh tuan untuk mencari tahu sendiri informasi tentangnya, karna nyonya juga tidak mengetahui pasti keadaan gadis tersebut saat ini."


Jawab Bob.


"Dia ingin menjodohkanku dengan wanita yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu apa-apa tentangnya?"


Dari nada bicaranya terdengar saat ini Hans benar-benar tidak habis pikir dengan keinginan ibunya yang selalu tidak masuk akal.


"Informasi apa yang kau dapat? Kenapa ibu sangat tertarik dengan wanita itu?"


Ucap Hans lagi, kali ini mencoba menahan rasa kesalnya yang ingin sekali dia ledakan.


"Dan apa hubungannya dengan anak angkat Admiral. Katakan dengan jelas dan jangan bertele-tele!"


Tegasnya lagi tak sabaran.


"Sebenarnya hampir tidak ada data apapun yang saya dapatkan dari wanita tersebut, tuan. Namun saat saya tengah dalam penyelidikan mengenai Nona Admiral, saya secara tidak sengaja menemukan beberapa foto yang sama dengan yang Nyonya berikan pada saya, Tuan."


Jawab Bob lalu mengambil nafas dalam. Berusaha tenang agar tidak membuat tuannya yang tempramen marah.


"Lalu saya berinisiatif mencari latar belakang Nona Admiral sebelum menjadi anak angkat Tuan Hendry. Walau sekarang mereka memiliki identitas yang berbeda, tapi Nona Admiral dan Nona yang dimaksud oleh Nyonya besar adalah orang yang sama."


Lanjutnya.


"APA?"


Tak percaya, semua orang yang mendengarnya sangat terkejut. Mereka masih mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Bob.


"Seperti yang para Tuan lihat dan sudah dengar sebelumnya, foto pertama adalah anak angkat keluarga Admiral bernama Nona Anna. Anehnya saya tidak menemukan berkas resmi yang menyebutkan jika nona Anna menggunakan nama keluarga Admiral ataupun Lyn. Untuk saat ini nama keluarga yang Nona Anna gunakan saya masih belum mengetahuinya."


Jelasnya lagi.


Sebenarnya tidak ada yang aneh jika seseorang tidak memiliki nama keluarga. Tapi melihat latar belakang keluarga Tuan Hendry yang berasal dari keluarga yang tidak sembarangan. Sekalipun anak itu adalah anak angkat, mereka pasti akan memberikan salah satu nama keluarga diantara Nyonya dan Tuan.


"Apa? Itu tidak mungkin! Di Universitas dan di Rumah Sakit, dengan jelas kami mengenalinya sebagai Anna Lyn. Bahkan kami mengetahuinya sebagai putri kandung dari Direktur Rumah Sakit Admiral. Walaupun pada awalnya aku bertanya-tanya kenapa Anna tidak menggunakan nama keluarga Admiral. Tapi akhirnya aku mengerti jika dia menggunakan nama keluarga dari Ibunya, yaitu Nyonya Charlotte. Tidak mungkin Anna membohongiku dengan menyembunyikan identitasnya!"


Ucap Flo yang terkejut mendengar penuturan dari Bob yang menyatakan latar belakang Anna yang sama sekali jauh dari apa yang dia ketahui selama ini.


"Maaf Nona, sebenarnya bukan hal yang sulit bagi keluarga yang memiliki kekuatan yang besar untuk menyembunyikan atau membuat identitas palsu. Tapi informasi yang saya terima menyatakan demikian, juga saya sudah memastikan jika informasi tersebut adalah benar."


Jawab Bob meyakinkan kan.


"Ditambah lagi, sebanyak apapun cara yang saya lakukan untuk mendapatkan informasi legal dari Nona Anna. Semua itu selalu gagal. Data Nona Anna benar-benar sangat dirahasiakan. Bahkan kerahasiaannya pun melebihi dari data para Tuan muda yang ada di sini."


Lanjut Bob.


Dean yang merasa kekasihnya terlihat kecewa mencoba menggenggam dan mencium lembut tangan sang kekasih, berharap Flo sedikit tenang.


Sedangkan Hans, ekspresi dan aura yang keluar terlihat tidak jelas. Dipegangnya kembali gelas yang berisi wine dengan erat, dahinya berkerut tanda dia kesal dan bingung.


"Lanjutkan."


Ucap Hans pada Bob.


Bob mengangguk tanda mengerti.


"Lalu foto yang kedua adalah foto yang saya yakini diambil sekitar 8 tahun lalu. Karna fotonya sedikit tidak jelas dan rusak, saya berusaha untuk membuatnya terlihat agak jelas. Dan hasilnya menunjukan jika Foto Nona ini mirip dengan Nona Anna saat baru lulus dari Universitas."

__ADS_1


Ucap Bob sambil mengubah tampilan yang menunjukan kedua foto yang saling berdampingan.


"Nona Lauren, mungkin sekarang anda mempercayainya."


Flo benar-benar tercengang dengan kemiripan 2 orang yang nampak dilayar.


"Namun, identitas Nona Anna yang saya dapatkan pada foto tersebut menyatakan jika dia bernama Arianne Wallis. Nama yang sama dengan putri pertama Tuan Wallis dengan Nyonya Alice yang hilang dan dinyatakan sudah mati terbunuh oleh para pembunuh bayaran 22 tahun lalu."


Para Tuan muda itu sekarang semakin tak percaya. Fakta besar yang saat ini mereka dapatkan seperti sebuah harta karun yang tidak pernah orang lain temukan.


Flo tercengang, dia menutup mulutnya tak habis pikir. Dirinya kini benar-benar sangat kecewa. Berteman sejak masuk universitas dengan Anna tapi tak mengetahui apapun tentang kawannya tersebut.


PRAAANG!


Dilemparkannya gelas yang dia genggam dengan brutal. Hans, kekesalannya sekarang berubah menjadi amarah. Dalam pikirannya muncul pertanyaan, apakah ini adalah rencana dari ibunya yang sengaja melakukan perjodohan karna dia tak merestui hubungannya dengan Victoria? Apa bedanya jika orang yang ingin dijodohkan dengannya adalah orang yang sama-sama berasal dari keluarga Wallis?


Sedangkan yang lain hanya bisa diam masih terkejut, tak ada yang berniat menenangkan Hans yang sudah marah.


Bob membuang nafas berat, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dengan Tuannya.


Para orang penting itu sekarang percaya bahwa ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran tentang Anna saat ini. Tidak mungkin hanya keluarga Admiral saja yang mengetahui hal ini, pasti ada pihak lain juga yang mengetahuinya. Mengingat bagaimana pun berpengaruhnya keluarga Dokter Hendry di dunia mafia, tapi mereka tidak akan mungkin bisa mengubur informasi penting sesulit ini sendirian.


"Apa Ibu mengetahui semua kebenaran ini?"


Tanya Hans dengan tatapan yang masih dipenuhi dengan amarah.


"Sepertinya tidak tuan. Saya sudah memastikan jika selain keluarga Admiral, tidak ada yang mengetahuinya kecuali para Tuan muda yang ada di ruangan ini."


Jawab Bob dengan tenang.


"Para orang tua itu pun bahkan tidak tahu?"


Tanya Dev memastikan.


"Sebenarnya saya tidak pernah yakin dengan apa yang dipikirkan oleh para Tuan besar. Karna jika sudah berhubungan dengan keluarga Wallis yang hanya tersisa nona Victoria dan Ibunya, mereka seolah-olah bungkam tidak tahu apa-apa."


Jelas Bob.


"Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu."


Tebak Ernest


"Bob sebenarnya kau mendapatkan informasi itu darimana? Mengingat dengan kecanggihan teknologi yang kita miliki saja, kita tidak pernah mendapatkan apapun yang berarti tentang Lyn Grul. Tapi kenapa dalam waktu beberapa hari kau bisa mendapatkan informasi sebesar ini?"


Tanya Glen.


"Saya mendapatkan informasi ini dari lingkungan organisasi elit bawah tanah juga beberapa organisasi pembunuh bayaran. Dan fakta lain menyatakan diantara elit tersebut Nona Arrianne Wallis saat ini masih dalam buruan."


Jawab Bob yang membuat Hans yang tadinya memancarkan amarah besar di wajahnya, tiba-tiba saja tersenyum licik.


"Apa mereka berniat memusnahkan keluarga Wallis?"


Kali ini Edgar yang menebak.


"Tunggu. Bukankah ini sedikit aneh? Bahkan kita pribadi pun tahu jika Arrianne dinyatakan terbunuh oleh para pembunuh bayaran. Walaupun saat itu aku masih kecil, tapi aku ingat jika kematian Arrianne membuat orang tua kita memperketat pengawalan pada keluarga masing-masing. Tapi mengapa sekarang mereka masih memburu kematian Arrianne?"


Tanya Darren.


"Kau benar, foto jasadnya saja mereka kirim ke para penguasa mafia. Bahkan saat itu ketika 10 perusahaan besar masih bermusuhan, mereka turut membantu Wallis menyelidiki kematian Arriane dan membantai pihak elit yang dicurigai menjadi dalang dari insiden itu. Berkat kejadian itulah, permusuhan dapat diredam."


Timpal Dean.


Ucap Eric yang membuat orang-orang itu kembali berpikir.


"Dan karna kematiannya yang gagal. Keberadaannya sekarang berhasil membuat keluarganya punah. Bahkan nyawa wanita ku saja ikut terancam."


Ucap Hans sangat dingin sambil menyilangkan tangan didada dengan tampang arogannya.


Mendengar kata-kata Hans yang meremehkan temannya. Seketika membuat amarah Flo tersulut keluar.


"Kamu terlalu meremehkan kehidupan orang lain Hans. Apa dalam otak dangkalmu hanya ada wanita itu?"


Tak mau kalah, Flo membalas ucapan Hans yang sudah keterlaluan.


"Kamu marah? Bahkan dia tidak pernah jujur tentang dirinya sendiri padamu kan?"


Ucap Hans sinis.


Tak bisa berkata, Flo hanya membalas dengan delikan tak suka.


"Bob, temukan dia sesegera mungkin dan langsung bawa dia kehadapanku. Aku benar-benar ingin berkenalan dengan Nona misterius ini. Setidaknya jika dia ada digenggaman ku sampah-sampah itu akan muncul, dan firasat ku mengatakan jika Victoria ada ditangan mereka."


Ucap Hans dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


"Tuan muda Loud memang selalu jenius."


Puji Ernest setuju dengan keputusan yang diambil Hans.


Begitupun dengan Tuan muda yang lainnya. Mereka sangat setuju dengan rencana Hans. Bahkan rencana kedepannya pun sudah mereka bayangkan, orang-orang yang ingin memanfaatkan kondisi 10 penguasa yang sedang tidak stabil saat ini karna kecacatan Wallis yang tidak memiliki pimpinan akan segera berakhir. Bayangan terkejut orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai organisasi mafia elit sudah para tuan muda itu bayangkan. Kartu pembalik keadaan sekarang ada ditangan mereka.


"Saya rasa tidak perlu waktu lama untuk membawa Nona Anna kemari, Tuan."


Ucap Bob sambil mengubah tampilan layar besar untuk menunjukan keadaan klub saat ini.


Bob kembali memfokuskan layar pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian, menatap orang-orang didepannya yang sedang asik berdansa mengikuti irama lagu. Sesekali gadis itu meminum minumannya, walaupun kenyataannya gadis itu tak kuat untuk terlalu banyak meminum alkohol. Tapi entah mengapa hari ini 1 botol wiski hampir habis diteguknya.


Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang membuat pikiran dan tubuh Anna sangat lelah. Terutama masalah kematian keluarga kandungnya dan belum lagi masalah perusahaan Wallis yang akhir-akhir ini selalu membuatnya tiba-tiba penasaran. Namun kekesalan Anna pada orang tuanya membuatnya selalu menekan rasa penasaran itu. Dia meyakinkan bahwa kematian mereka memang sudah waktunya, sekali pun mereka dibantai, Anna selalu berpikir itu adalah sesuatu yang wajar karena bagaimana pun Wallis adalah perusahaan besar yang musuhnya ada dimana-mana.


"Nona Anna."


Seseorang memanggil namanya, Anna menoleh, menatap lekat orang yang sekarang ada di depannya.


"*Dia seperti seorang ajudan*."


Gumam Anna dalam hati


"Siapa?"


Tanya Anna hati-hati. Berpikir sejenak, bagaimana orang ini mengetahui namanya?


"Nona bisa memanggil saya, Bob. Tuan muda ingin bertemu dengan anda. Saya harap Nona bisa menemuinya."


Jawab Bob.


"Dugaanku tak pernah salah."


Gumamnya lagi.

__ADS_1


"Aku bukan wanita panggilan dan juga aku tidak memiliki janji dengan siapapun untuk bertemu. Sepertinya Anda salah orang."


Ucap Anna kembali dengan posisi duduk semulanya.


"Maaf Nona, Tuan menyuruh saya untuk memanggil Nona."


Ucap Bob kembali.


"Bilang pada Tuanmu untuk mencari wanita lain."


"Kamu menggangguku, perintah Tuanmu semakin membuat suasana hatiku tidak baik."


Ucap Anna ketus, posisinya sekarang bersiap hendak pergi. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi jika dia tidak segera pergi meninggalkan tempat ini.


Baru beberapa langkah Anna meninggalkan mejanya, dengan sekali gerakan mata Bob memberikan isyarat kepada dua orang bodyguard untuk membawa gadis itu secara paksa. Dipegangnya tangan Anna secara kasar saat gadis itu mulai berontak.


"Sialan! Siapa mereka? Berani-beraninya memperlakukan aku seperti ini**!"


"Maaf Nona saya bertindak kasar. Perintah dari para Tuan muda tidak bisa dibantah."


Ucap Bob sebelum Anna membuka mulutnya dan melontarkan kata-kata kekesalan.


"Dia bilang para Tuan muda? Jangan-jangan para keparat itu? Mana mungkin mereka bisa bergerak secepat ini? Bahkan mereka belum mendapatkan data apapun tentang aku maupun Arthur. Bagaimana mereka mengetahui aku?"


"Dari gelagat Anda sepertinya Nona sudah tahu tentang 'mereka' yang saya maksud."


Tebak Bob saat dirasanya ekspresi Anna sedikit terkejut ketika dia menyebutkan kata 'para Tuan muda'.


"Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri."


Ucap Anna tanpa menghiraukan perkataan Bob.


Dua bodyguard melepaskan cengkeramannya setelah mendapat isyarat dari Bob. Dikibaskannya rambut lebat itu, lalu


dirapihkannya pakaian yang sedikit berantakan karena aksi berontaknya tadi. Posisinya kini berdiri tegak dengan garis wajah angkuhnya yang masih tersirat kekesalan dengan apa yang telah terjadi.


"Mereka ingin bermain denganku?"


Anna menarik nafas lalu membuangnya kasar.


Jika memang 'para Tuan muda' yang dimaksud adalah para ahli waris 10 Perusahaan Penguasa, Ingin kabur disaat seperti ini pun kurang tepat rasanya. Mengingat ini adalah salah satu wilayah dari keluarga Greg, sekalinya bisa keluar dari tempat ini pun belum tentu dapat membuat dirinya bisa selamat pulang kerumah.


"Mari kita lihat seperti apa para ******** itu sekarang."


Ucap Anna kali ini dengan posisi tangan sudah ia silangkan, pertanda ia tidak takut dengan orang yang sudah berani memaksanya untuk datang.


"Saya harap Nona menjaga perkataan Nona dihadapan para Tuan muda."


Ucap Bob lagi memperingati.


"Lalu, kearah mana aku harus berjalan?"


Lagi, Anna tak menghiraukan ucapan Bob.


"Mari ikut saya."


Ucap Bob sambil berjalan menuju ruang VVIP tempat dimana mereka sekarang ada.


"Aku suka pria tampan, aku harap wajah mereka tidak seburuk tingkah laku mereka yang tidak sopan mengobrak-abrik privasi orang lain."


Anna tau jika sekarang bukan kamera pengintai saja yang memperhatikannya, tapi penyadap suara pun mereka sudah mempersiapkannya.


Hans menyeringai, tak sabar untuk bertatap muka dengan singa betina yang sekarang menjadi incarannya. Dalam benaknya dia tau bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan, dia memperingatkan dirinya sendiri untuk berhati-hati jika dia ingin Anna dalam kendalinya.


Sedangkan beberapa orang dari mereka mulai tersinggung dengan kalimat lancang yang keluar dari mulut Anna.


"Kita lihat saja, apa setelah keluar dari sini dia bisa selancang itu?"


Ucap Glen.


"Kita lihat saja, apa setelah ini kalian masih bisa menganggap Anna wanita lemah yang akan tunduk pada permainan kalian?"


Tak henti Flo melontarkan kata-kata kekesalannya pada sekumpulan pria yang kurang kerjaan yang sedari tadi terus-terusan merendahkan teman baiknya.


Lagi, Dean menyentuh pundak Flo untuk menenangkan. Flo mengelak, mendelik kesal dan memunggungi kekasihnya itu.


"Aku marah padamu. Jika setelah ini Anna tidak baik-baik saja, jangan harap hubungan kita akan baik-baik saja."


Ucap Flo ketus.


"Sayang dengarkan aku, Anna adalah kunci utama kami sekarang agar Victoria bisa kembali. Keadaan kubu kita selama 2 tahun ini tidak seimbang karna Victoria menghilang."


Jelas Dean.


"Lalu kamu ingin aku pura-pura tidak tahu saat teman baikku mau dijadikan tumbal oleh kalian untuk wanita itu?"


Penuh penekanan, Flo semakin tidak habis pikir dengan rencana gila teman-temannya ini.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa aku katakan dan kamu tidak mengerti Flo. Tolong pahamilah."


Ucap Dean yang kali ini terdengar seperti memohon.


Flo menatap lekat wajah kekasihnya. Kesal dan kecewa terlihat jelas diwajahnya saat ini. Matanya kini sudah berkaca-kaca.


"Itu yang selalu kamu katakan. Kamu memintaku untuk selalu memahamimu sampai kamu lupa kamu tidak pernah memahami aku, Dean."


Sambil menghapus air matanya, Flo melangkah meninggalkan ruangan yang sangat memuakan itu. Pergi penuh rasa marah sampai teguran Dean padanya untuk mendengar penjelasan sebentar saja pun tak didengarnya. Ruangan pun sempat hening, mereka sedikit merasa bersalah akan pertengkaran yang terjadi diantara kedua sejoli itu barusan.


"Wanita itu akan segera tiba."


Ucap Dev mengingatkan akan rencana mereka.


"Tahan Flo, jangan sampai dia masuk lagi."


Terdengar Dean menghubungi salah satu bawahannya.


"Kau tidak apa-apa? Kau tidak perlu bertindak sampai seperti itu."


Sebagai salah satu teman dekatnya, Hans tau seperti apa perasaan cinta Dean pada Flo.


"Tidak masalah, jika Flo ada disini rencana kita tidak akan berjalan lancar."


Jawab Dean mencoba menenangkan perasaannya sendiri.


"Setelah ini kamu harus berbicara dengannya."


Ucap Edgar.

__ADS_1


Tak lama berselang dari kepergian Flo, pintu mewah itu kembali terbuka. Kali ini orang yang mereka tunggu sudah tiba. Terlihat Bob mempersilahkan seorang Nona untuk masuk, wanita itu berjalan anggun. Pintu pun terdengar sudah tertutup kembali. Dengan tangan menyilang, gadis itu berdiri angkuh menatap tak suka dan was-was orang-orang berbahaya itu.


__ADS_2