Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!

Jatuh Cinta Padamu (Lagi), Tuan!
Daniel Ebba


__ADS_3

Pagi-pagi buta, tepat pukul 02.00 seorang gadis berjalan gontai menyusuri lantai apartemennya. Hari ini benar-benar melelahkan baginya karena dia harus bulak balik melakukan jadwal operasi yang begitu padat.


Sambil memijat kecil tengkuknya yang pegal, dia susuri lorong panjang itu. Sampai langkahnya terhenti, sedikit terkejut karena melihat cahaya lampu yang keluar dari celah pintu apartemennya yang tidak tertutup sempurna. Dia lanjutnya langkahnya sedikit mengendap, rasa penasaran bercampur lelah mengalahkan rasa waspadanya. Hey, apa gadis itu tidak takut jika ada penjahat yang berhasil menyelinap kedalam apartemennya?


Perlahan dia mulai membuka lebar pintu itu, menyusuri ruang tengah yang terlihat masih baik-baik saja, benda-benda berharga masih terlihat jelas di sana. Kemudian di susurinya dapur, kamar mandi bawah, dibalik tirai, sampai saat dia akan beranjak menuju lantai 2 kamarnya terdengar suara benda terjatuh. Cepat-cepat dia berlari menghampiri, takut-takut sang maling yang dipikirnya keburu kabur.


Dengan sekali tendangan, gadis itu membuka pintu kamar dengan kasar. Namun sedetik kemudian tubuhnya mematung, ekspresi wajahnya tercengang. Bukan seorang maling yang dia temukan, tapi seorang wanita yang tak lain adalah kakak yang akhir-akhir ini selalu membuatnya khawatir.


"Wanita ini benar-benar."


Ucapnya sambil berkacak pinggang.


"Air... Air..."


Ucap sang kakak dengan suara khas orang mabuk.


"Ya tuhan, Anna! Kau kenapa lagi sih? Membuat kesal saja."


Ucap gadis itu yang tak lain adalah Jean.


Berjalan mendekat lalu menyimpan tas dengan kasar. Diambilnya botol minum yang sudah kosong dari tangan kakaknya.


Dengan kesadaran yang entah dimana, Anna hanya tersenyum bodoh. Merangkak keatas kasur dan merebahkan tubuhnya. Menggerak-gerakan kakinya keatas dan kebawah, berharap sepatu yang ada disana terlepas.


Jean yang melihatnya hanya bisa merotasi kan bola matanya dan membuang nafas kasar. Ingin sekali dia mengomel kepada sang Kakak. Namun percuma, Anna jika sudah mabuk dia tak akan mengingat apapun. Dengan berat dia simpan unek-unek itu untuk ia keluarkan esok hari.


Sekali gerakan Jean tarik kaki Anna yang masih bergerak-gerak, dilepaskannya sepatu itu dan membantu Anna untuk melepas mantel yang masih ia gunakan.


"Ck, benar-benar orang ini! Berapa botol sih yang sudah kau habiskan?"


Ucapnya kembali sambil menutup hidung, berharap bau alkohol yang menyengat tak akan masuk kedalam indra penciumannya.


"Saat ini akan ku biarkan, aku akan mengalah. Tapi lihat saja besok."


Ucap Jean masih dengan kekesalannya.


Diambilnya bantal dan selimut, lalu berjalan menuju sofa dan menaruhnya disana. Ia lanjutkan kembali langkahnya menuju lantai bawah, menutup rapat pintu dan memeriksa semuanya. Was-was, takut benar-benar ada maling yang masuk. Setelahnya dia menaiki anak tangga lagi menuju kamar, melepas mantelnya sendiri dan merebahkan tubuhnya disana. Sama sekali tak ada niat untuk mengganti baju apalagi menyentuh air. Hari ini benar-benar melelahkan, bahkan semenjak Anna tidak di rumah sakit lagi, pekerjaannya bertambah berkali-kali lipat.


☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️☄️


Matahari sudah mulai kembali menampakkan sinarnya, jalanan kota tak henti-hentinya menunjukan kesibukan yang dilakukan oleh pelintasnya. Orang-orang sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, berjualan, pergi kekantor, antar jemput, bahkan para musisi jalanan pun sudah mulai merapihkan peralatan mereka.


Tak terkecuali seorang pria tampan yang sedang berjalan menuju gedung perusahaannya. Berjalan santai dengan pakaian rapih ditemani oleh asisten pribadi. Padahal waktu masih menunjukan pukul 07:20 tapi nyatanya sebagai orang yang memiliki jabatan paling berkuasa di perusahaan tak membuatnya berleha-leha.

__ADS_1


"Apa jadwalku hari ini, Bob?"


Tanya Hans pada asisten pribadi yang senantiasa setia mengekorinya.


"Makan siang dan rapat tertutup mengenai kerjasama yang akan kita jalin dengan tuan Arthur dari Lyn Grup, tuan."


Ucap Bob.


Hans tersenyum menyeringai. Entah kenapa jika mendengar hal yang berkaitan dengan Anna membuat sebagian egonya begitu puas. Menaklukan gadis keras kepala dan berpendirian teguh seperti Anna membuat emosinya begitu terkuras.


Kini pria tampan itu sudah berada didalam lift khusus jajaran eksekutif, menunggu beberapa detik hingga benda itu sudah berhasil membawanya kelantai paling atas gedung bertingkat miliknya.


"Bagaimana dengan orang itu? Kau sudah mendapatkan sesuatu?"


Tanya Hans kembali sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dianggap oleh sebagian karyawan sebagai ruangan eksekusi. Mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya.


"Ya, ada beberapa informasi penting yang saya dapatkan."


Jawab Bob sambil menyerahkan sebuah tablet kepada sang tuan.


Hans mulai mengamatinya.


Terlihat disana sebuah profil yang menunjukan seorang pria bernama Daniel Ebba, seorang pengusaha muda asal negara Awan sekaligus orang yang Hans anggap sebagai musuhnya.


Hans terus menggerak-gerakan jari-jemarinya. Mencari beberapa informasi penting yg dapat menarik perhatiannya. Dan sedetik kemudian, dapat!


Telunjuknya berhenti pada informasi yang membuatnya tersenyum meremehkan.


"Dia berencana bekerjasama dengan Lyn?"


Ulangnya membaca kalimat tersebut.


Berharap Bob bisa menjelaskannya.


"Lyn berencana membangun cabang baru perusahaan mereka dikota X, dan sepertinya tuan Daniel berencana menawarkan kontak kerjasamanya. Namun, jika rapat kita nanti memberikan hasil yang baik. Kemungkinan Lyn akan bermitra dengan Hamilton."


Jelas Bob.


Pria bermata tajam itu bangkit dari duduknya, membalikan tubuh gagahnya, melipat tangan didepan dada sambil mengamati pemandangan kota yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit.


"Beri balasan pada Lyn, aku yang akan langsung menghadiri rapat."


"Baik, tuan."

__ADS_1


"Bagaimana dengan yang lain?"


Tanyanya kembali.


"Tuan muda yang lain juga akan hadir disana, tuan."


"Jadwalkan kembali pertemuanku dengan Clara."


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi."


Pamit Bob pada tuan yang masih setia dengan posisinya.


Sepeninggal Bob, ruangan itu kembali hening. Hans masih asik dengan pikirannya yang sedari tadi sedang berkelana pada kejadian tadi malam.


Seorang pria menyenggol Anna yang sedang berdiri setengah sadar dari mabuknya, menunggu taxi datang di trotoar jalan sebrang club' malam, kemudian saling membungkuk meminta maaf. Namun setelahnya lelaki itu berbalik dan nampak menyeringai pada Hans yang berada didalam mobil tepat disebrang dari posisi Anna dan pria itu berdiri.


"Apa lagi yang orang itu rencanakan?" Ucapnya berdialog dengan pikirannya sendiri.


Hans membuang nafasnya kasar, menekan pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut. Belum juga masalah Victoria selesai, sekarang dia sudah dihadapkan dengan rencana licik yang akan dilancarkan oleh musuhnya.


Dan malam tadi adalah pertemuan perdananya dengan Daniel setelah 3 tahun lamanya.


Sedangkan ditempat lain, dengan susah payah Anna berjalan perlahan meninggalkan kamar milik Jean yang memperlihatkan sang pemilik apartemen masih nyenyak menjelajahi alam mimpinya.


Menutup pintu perlahan, berjalan cepat keluar apartemen melarikan diri dari sang adik yang Anna sudah bisa tebak akan marah besar padanya.


"Sial, bukankah dia sudah jarang menempati bangunan ini?"


Ucapnya sambil sesekali merapihkan penampilannya yang sangat berantakan.


Bagaimana tidak, setelah berhasil membuka mata walaupun masih sangat berat dan melihat Jean ada diruangan yang sama dengannya. Otak cerdasnya langsung berpikir jika Jean bangun sudah dipastikan omelan adiknya itu akan langsung hinggap di telinganya.


"Benar-benar sial!"


Umpatnya lagi saat dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 10.00.


Diraihnya benda pipih yang sedari tadi terus berbunyi, sambil menunggu lift turun menuju lobi.


Nada suara khawatir terdengar disebrang panggilan, bemberitahu sang bos bahwa ada sedikit masalah yang terjadi di salah satu kantor cabang mereka. Juga tak lupa sedikit nada suara kesal karena orang yang bersangkutan begitu sulit mengangkat panggilan darinya, walaupun tak sampai hati dia ungkapkan. Bunuh diri jika sampai dia memaki bosnya sendiri.


"Jemput aku sekarang, alamat akan aku kirimkan."


Ucap Anna saat mereka akan mengakhiri obrolannya.

__ADS_1


"Baik nona."


__ADS_2